Di dalam keluarga, Ibu selalu mengajarkan kami untuk lebih "mengabdi" (aku belum menemukan kata yg lebih tepat untuk menggambarkannya) pada kaum laki-laki. Bukan menghamba, bukan pula menjadi budak bagi mereka. Tapi bersanding untuk menjadi pelengkap yg membawa surga.
Ketika terjadi sebuah masalah yg melibatkan banyak pihak, misal konflik inter atau intra keluarga, Ibu akan meminta kami untuk ikut berpikir mencari solusi. Tapi kemudian mempersilahkan kaum laki-laki untuk mengambil keputusan. Jika keputusannya membutuhkan diskusi, maka di sini lah peran kami berada.

Ibu selalu mengajarkan kami untuk tidak menjadi pengabdi yg bodoh. Ia mengharuskan kami--anak-anaknya--menguasai beberapa keterampilan laki-laki, seperti melepas-pasang regulator pada tabung gas, mengecat dinding rumah, membetulkan/memasang sumbu kompor yg sudah memendek, angkat-pindah barang berat (kursi, meja, ranjang), dan keterampilan lain yg ada dalam rumah tangga. Namun ketika kejadian semacam itu hadir di depan mata, selagi ada laki-laki, maka mereka lah yg harus mengerjakan. Sebagai gantinya, Ibu mengajak kami ke dapur dan membuatkan teh panas atau kopi dan sejumlah cemilan untuk mereka.

Begitu pula saat ada tamu, tentu kami lah yg disuruh menyiapkan sajian. Atau ketika Bapak dan Om baru tiba dari bepergian, sementara waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Ibu pasti akan bilang, "Na, buatkan soto buat Om sama Bapakmu. Panaskan dulu kuahnya." (Kebetulan hari itu Ibu masak soto). Padahal mereka bisa membuat soto sendiri. Tapi ia selalu menyuruh kami untuk melayani.

Ketika kutanya mengapa, Ibu memiliki DUA jawaban berbeda. Pada mulanya berkata, "Agar kamu terbiasa. Jadi nantinya tidak semena-mena memperlakukan suami." Lalu di lain kesempatan Ibu hanya menjawab, "Ini tentang kepemimpinan dan tanggung jawab."
Setelah kucari, mungkin inilah alasannya:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) dari sebagian yg lain (wanita), dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." Q.S 4:34


Pekalongan, 5 Agustus 2014
Kasihan wanita,
Dilahirkan untuk berdarah.
Pada setiap siklusnya harus kehilangan banyak darah

Kasihan wanita,
Berapa banyaknya jika satu lembar pembalut ukuran sedang dapat menampung 20-30 cc darah?
Lalu pada 2 hari pertama perlu berganti 4-5 kali pembalut sehari karena selalu penuh

Kasihan wanita,
Ia rentan terserang anemia
Pada saat hamil harus berbagi darah dengan janinnya
Padahal pasokan untuk dirinya sendiri saja tak lebih dari cukup

Kasihan wanita,
Darah menjadi bagian dari eksistensinya.
Saat melahirkan masih harus mengeluarkan darah. Apalagi jika terjadi robekan pada jalan lahirnya
Pun pada 7 hari pertama masa nifas harus tetap merelakan sebagian darahnya keluar

Kasihan wanita,
Setiap kali berdarah ia "dilarang" beritual kepada Tuhannya, "dilarang" berpuasa, "dilarang" menyentuh kitab suci di dalam lemari bukunya, lebih-lebih lagi membacanya

Kasihan wanita,
Dan sungguh kasihan wanita
Tuhan telah menghadiahkan segudang pahala dibalik setiap tetes darahnya, tapi kebanyakan dari mereka lupa
Hingga ke-lupa-an mereka menjadi penyebab ramainya neraka

Adaptasi dari salah satu puisi karya Mas Don dengan judul "Kasihan NU"

Pekalongan, 22 Juli 2014
Guyuran dihidrogen monoksida itu menembus batas atmosfer, lalu terpecah di kolong langit menjadi jutaan rintik. Kelak, ketika ia turun menyiram gersang di planet biru, bukan hanya basah yang terpeta, tetapi juga imaji-imaji pendek tentang karsa yang melegenda. Hujan selalu mampu menyeret titik paling sensitif manusia menuju lorong-lorong paling mengena di masa lampau. Ia seolah ingin mengabarkan bahwa kenangan harus memiliki tempat. Dan potongan demi potongan peristiwa harus segera disusun membentuk suatu pola, layaknya rasi bintang di gugus timur. Manusia, kita tahu, adalah sistem terhebat dalam merakit sejarah. Tetapi tak semuanya gemilang. Sebagian menetap, sebagian tenggelam. Yang terbaik ialah siapa-siapa yang beranjak, kala rinai mereda.
"Ini untuk bayar sekolah kau, Le." Janda itu menyodorkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Dihindarinya tatap mata anaknya. Lalu bergegas pergi. Langkahnya kaku memasuki dapur.

"Ibu ndak ada di kamar semalam." Bocah laki-laki itu berucap pelan, sambil terus menatap segepok uang yang tak ia sangka akan di tangan.

Ibunya menoleh. "Ah, iya." Katanya tersenyum. "Semalam ibu pergi ke tempat Mak Dayah. Butuh dipijit ibumu ini. Sekali-kali." Ia tersenyum lagi. Menampakkan keriput halus di sekitar matanya.

"Mm.." Janda itu tampak canggung sebentar. "Hari ini ada beras. Ibu sudah nanakkan untukmu. Kau mau lauk apa? Biar ibu belikan." Katanya lembut.

Yang ditanya justru terdiam. Tatap matanya enggan beralih. Tapi nyata benar ia mendengarkan. Dadanya naik turun menahan sesuatu.

"Bayu, Le. Ibu tanya kau."

Masih tak ada tanggapan.

"Bayu.."

"Asu! Ibuku dadi lonte!" Bocah itu berteriak tiba-tiba. Uang yang sedari tadi menjadi fokusnya telah terbanting lunglai di lantai tanah.

Sang ibu tercengang. "Ngomong opo kau, Le?"

"Asu kowe, Bu!"

"Bayu!"

Mungkin benar apa kata orang-orang di kampung. Bahwa ibunya bukan lagi sewujud wanita santun, yang tak pernah keluar rumah kecuali untuk belanja sayur di warung Mak Jum. Yang tak sudi menerima tamu laki-laki saat suaminya tengah pergi, sekalipun hanya seorang suruhan pak kades yang hendak antarkan bantuan beras dari balai desa. Mungkin benar gunjingan-gunjingan para wanita di bawah pohon kerasem itu. Ibunya telah menjelma menjadi kelelawar ayu yang menjajakan kemaluan. Menjadi objek canda rayu laki-laki berhidung belang.

Mungkin benar semua omong kosong itu. Meski Bayu tak tahu betul apa artinya. Mungkin benar.

***

Larut malam.
Wanita itu gelisah di kamarnya. Batinnya tak tenteram. Ia mengubah posisi duduknya berkali-kali. Mencoba menahan isak agar tak luntur pulasan bedak. Bayu sudah tahu, katanya dalam hati. Tapi dari mana dia tahu? Bocah sekecil itu.

Pikirannya bergerak mundur, dan terhenti pada kenangan peristiwa beberapa bulan yang lalu. Saat ia tengah menjemur kasur di pekarangan, dan Mak Jum lewat di depan muka.

"Njemur kasur kau, Sri?" Sapanya enteng.

"Njeh, Mak." Ia menjawab sekedarnya.

"Lama kau tak belanja di warungku." Mak Jum berjalan memasuki pekarangan. Mendekatinya yang kini sibuk memukulkan rotan bersulam ke badan kasur. "Kasihan itu si Bayu kau suruh puasa terus. Bisa kurus dia."

Sri hanya tersenyum simpul.

"Suamimu itu, siapa namanya.."

"Mas Hadi, Mak."

"Ya. Si Hadi itu sudah tak mungkin pulang."

"Mak!" Sri merasa Mak Jum mulai tak sopan.

"Kudengar dia mati terbawa arus sungai."

"Mas Hadi hanya belum ditemukan, Mak. Dia masih hidup."

"Heh, Sri." Mak Jum menepuk pundak wanita muda itu. "Anakmu masih kecil. SD saja belum lulus. Jangan kau bebani dia dengan sifat keras kepalamu itu." Mak Jum mulai memelankan suaranya.

"Aku ndak membebani dia sama sekali."

"Kau ndak kasih dia makan.."

"Aku ngasih dia makan, Mak."

"..kau ndak kasih uang jajan."

Sri terdiam.

"..kau bayar pakai apa keperluan sekolahnya?"

Sri membuang muka, "Nanti kalo ada uang, Mak." Katanya tajam."Nanti. Sekalian belanja lagi di warung Mak Jum."

Mak Jum terkekeh. Paham benar akan watak keras wanita muda di hadapannya. "Terserah kau saja, Sri. Tapi kalau kau mau kerja, kerjalah sana pada Dhe Minah. Kaya si Sumi. Banyak uang dia sekarang. Bisa beli sepeda motor." Mak Jum terus mengoceh sementara langkah kakinya menjauh dari rumah Sri. Meninggalkan Sri yang kini berdiri diam. Ia tahu betul siapa Dhe Minah. Siapa Sumi. Dan hubungan keduanya. Ia hanya tak habis pikir bagaimana mungkin Mak Jum menyuruhnya bekerja pada yang demikian.

Kenangan itu membuyar. Mengembalikan pikiran Sri pada raganya yang sedari tadi duduk gelisah di pojok ruang. Di depan meja kayu dengan cermin seadanya menggantung di dinding berpaku. Ia menghela napas. Dirasainya sesak. Ia tahu sekarang sudah saatnya pergi. Ke tempat yang beberapa bulan lalu ia 'tak habis pikir'-kan. Sri bangkit, sejenak kemudian membungkuk, memonyongkan bibir di depan cermin dan menambah tebal polesan lipstik warna merah hati. Benar apa kata orang, parasnya cantik.

"Semoga Bayu tidak cukup mampu untuk terjaga sampai selarut ini."

Sri melangkah keluar kamar. Biasanya ia akan langsung meraih kunci di samping saklar lampu lalu bergegas keluar rumah dan mengunci pintu. Tapi kali ini ia terhenti. Menatap lekat tirai kamar Bayu yang usang dan banyak tambalan di sana-sini. Perlahan, ia mendekat. Membuka sedikit tirainya untuk memastikan anak semata wayangnya telah pulas. Tak ada pintu kayu, apalagi yg bergagang logam. Hanya selembar kain selendang yg kemudian diubah fungsi jadi pembatas antar ruang. Bayu berbaring memunggungi tirai.

Napasnya teratur berirama. Syukurlah, ia nyenyak, pikir Sri. Dan beberapa detik kemudian pintu depan telah terkunci tanpa timbulkan bunyi.

Bayu membalikkan badan. Matanya merah menahan kantuk. Ia tahu ibunya sudah berangkat. Ia tahu ibunya berdiri cukup lama di depan kamarnya. Dan kini ia bangun. Mengambil sebatang rokok di laci lalu menyalakan korek.

"Rokok itu mengenyangkan, Boy. Tak usah kau makan nasi, sudah penuh isi perutmu." Ucap seorang kawan bermainnya tempo hari. Dan Bayu membenarkan ucapan kawannya itu pada kali ke-tiga mencicipi asap rokok.

Perlahan dihisapnya rokok di tangan.
Bayu beranjak. Menghampiri jendela kamar dan membukanya lebar-lebar. Dua belas tahun usianya. Dan ia sudah dipaksa mengerti, hal-hal yg tak bisa ia pahami. Bahwa hidup tak pernah pasti. Tak pernah..

"Dimana kau, Pak-e?" Bayu bergumam pelan. Bertanya pada udara. Asap rokoknya bergumul dari rongga mulut. "Dimana?" Suaranya nyaris tercekat. Bayu ingat betul kapan terakhir bapaknya di rumah. Kapan terakhir mereka bercengkrama berdua, membicarakan hal-hal yang hanya dibicarakan oleh dua orang laki-laki dewasa.

"Wis gedhe kowe, Le." Bapak menepuk-nepuk pundak Bayu, lalu mencengkeram kedua lengannya, pertanda bangga.

"Soyo ganteng njeh, Pak?" Bayu bertanya.

"Lha ya ganteng. Bapaknya juga ganteng." Keduanya tertawa. Kemudian terdiam  bersamaan.

"Ibumu tambah ayu ya, Le." Bapaknya berkata pelan. Melirik ibu yg tengah sibuk menggoreng kerupuk di pawon.

"Njeh, Pak. Ayu tenan."

"Kowe, Le," Bapak menatap Bayu sekarang, "Harus bisa njaga ibumu. Bocah lanang kuwi ojo mung bisone dolanan layangan."

Bayu tertawa, "Siap, Pak!"

"Ingat, laki-laki itu yg dipegang.."

"..ucapannya." potong Bayu. Dan mereka tertawa lagi.

Lalu gambar berganti. Seperti pergerakan tampilan layar pada pemutaran filem. Menampilkan bapaknya yang berdiri gagah di ambang pintu. Sebuah jeep warna oranye telah terparkir di pekarangan rumah sejak 10 menit sebelum Bayu pulang.

"Panggilan lagi tho, Pak?" Tanyanya sambil berlarian.

Bapaknya tersenyum. "Ada longsor di Wonosobo. Bapak musti bantu-bantu ke sana."

"Aku ikut yo, Pak!"

"Hush! Kowe mau, ibumu diculik juragan genit?"

Bayu buru-buru menggeleng. "Ndak! Ndak mau. Aku ta’ ngawal ibu saja. Bapak hati-hati lah di sana."

"Bapak percaya kowe."

Dan tiga minggu kemudian, kabar itu datang. Ibunya tak tahu. Dan sepertinya Bapak memang tak menginginkannya tahu.

Bayu kembali menghisap rokoknya. Sunyi. Dialog-dialog itu terngiang kembali.

"Kowe, Le. Harus bisa njaga ibumu..."

"Laki-laki itu yg dipegang ucapannya..."

"Kowe mau, ibumu diculik juragan genit?"

"Bapak percaya kowe."

Aaaargh!

Diterjangnya dinding. Dipukulkannya kepalan tangan. Lalu tersungkur di tanah. Menangis. Awalnya terisak. Tapi kemudian meraung sejadi-jadinya.

"Ngapurane, Pak! Ngapurane."

Bayu berdiri. Gontai ia melangkah keluar kamar. Agak berlari menghambur ke pintu depan.
Greg! Pintunya terkunci dari luar.

"Asuuu! Asu!" Dibantingnya rokok. Diinjaknya dengan kaki telanjang hingga hancur.

"Bayu rak biso njagani ibu, Pak. Ngapurane."

"Kau merokok, Nak? Bayu?" Tanya ibunya saat ia melihat sisa abu di dekat pintu.

Bayu tak menjawab.

"Sejak kapan?"

Lagi-lagi tak menjawab.

"Bayu, ibu tanya.."

"Sejak kowe dadi lonte!" Potong Bayu keras.

Dan tamparan itu mendarat keras di pipi kiri Bayu. Keduanya berpandangan singkat. Lalu ibunya menundukkan kepala, raut mukanya menampakkan betapa ia merasa bersalah. Bayu membuang muka.

"Maafkan Ibu.” Ucap Ibunya pelan. “Ibu bukan seperti yg kau kira, Le." Lirih ia melanjutkan.

"Terus opo?!"

"Kau ndak bakal ngerti."

"Karena aku masih SD?! Kowe selalu menganggapku anak kecil. Pak-e ndak begitu!"

"Ibu harus kerja, Le."

"Jual kerupuk kan bisa."

"Uangnya tak seberapa."

"Memang mau buat apa saja?"

"Banyak."

Bayu beranjak dari duduknya. Melenggang menuju pintu.

"Mau kemana, Le?"

"Pergi. Aku ndak mau tinggal sama lonte."

"Bayu!"

Bayu tak mengubris. Langkahnya pelan.

"Setidaknya ibu tidak jual diri!" Seru ibunya tertahan.

Bayu menghentikan langkahnya, menoleh. "Apa kata Bapak kalo pulang nanti."

"Bapakmu sudah mati. Ibu tahu itu. Ibu hanya berpura-pura menganggapnya masih hidup. Setidaknya itu membuat Ibu merasa lebih baik." Ibunya mulai terisak. Bayu terdiam. Dia merasakan getir dalam suara ibunya. Dan ia mulai iba.

"Sak karepmu, Bu." Bayu masih terlalu gengsi untuk memaafkan ibunya begitu saja. Ia tak akan membiarkan tangis wanita melemahkan pendiriannya, seberapapun muda usianya untuk menyikapi hal-hal semacam itu.

"Bayu, kau bakal punya adik." Ibunya kembali bersuara. Kali ini tanpa isak sama sekali.
Angin seperti berhenti menari. Bayu membisu. Dan dirasainya tenggorokannya tercekat. Napasnya memburu cepat.

"Hasil nglonte?" Desisnya, menahan marah.

"Bukan, Le. Ini anak Bapakmu."

"Aku ndak percaya! Ibu lonte!"

"Sini pegang! Pegang!" Ibu menarik tangan Bayu untuk memegang perutnya.

Bayu mengelak. Tapi tenaga ibunya lebih kuat. Bayu menempelkan telapak tangannya ke perut ibu.
"Ini sudah lima bulan. Coba kau hitung-hitung lagi, kapan bapakmu pergi dan kapan ibumu ini mulai nglonte, kalau kau memang bersikeras bahwa ibumu ini lonte." Ibunya menangis. "Melahirkan butuh uang, Bayu. Setelah lahir butuh sandang, butuh pangan. Rumah ini pun belum lunas terbayar. Sekolahmu, beras kita, semua perlu uang."

Pertahanan Bayu runtuh. Air menetes dari pangkal matanya. Dipeluknya ibu. Ia seakan kembali menjadi bocah laki-laki yang ikut menangis saat melihat ibunya menangis. Merasakan pedih yang ibu rasakan.

"Apa yg Ibu kerjakan di tempat itu?" Bayu memberanikan diri bertanya. Melepas tangannya dan menatap wajah ibunya.

"Menemani orang-orang yg sedang karaoke." Jawab ibu pelan, nyaris tak terdengar. "Menyuguhkan minum, sesekali ikut bernyanyi kalau disuruh. Mereka kasih ibu uang karena merasa ditemani. Ibu tahu kau belum mengerti benar. Tapi percayalah, Nak, Le. Ibu ndak pernah hianati Bapakmu."

Jantung Bayu berdegup kencang. Seperti merosot jatuh sampai ke kaki. Ada lega yg tak terpeta saat mendengar kalimat terakhir ibunya. "Tapi apa kata orang-orang, Bu. Bayu ndak mau Ibu dipandang buruk."

"Biarlah nilai kebenaran itu menjadi urusan kita dengan Tuhan, Le." Ibu menatapnya dengan senyum yang tak Bayu pahami betul apa artinya. Seperti getir, namun mengandung lelah yang teramat sangat.

"Orang-orang hanya tahu menuduh, menghakimi, padahal Yang Hakim itu Tuhan."

"Bayu bantu kerja ya, Bu."

"Jangan!"

"Kalau begitu ngamen-ngamen dulu. Setelah ujian nanti Bayu cari kerja. SMP urusan belakangan, Bu. Lanjut sekolah itu bisa kapan saja. Adik Bayu harus lahir selamat."

Tangis ibunya meledak. Ia menggugu memeluk Bayu. Dan Bayu membalas peluknya semakin erat.
Pagi ini, ia belajar sesuatu. Bahwa apa yg dimaksud bapaknya dengan 'menjaga ibu' bukan hanya tentang mengawalnya bepergian, atau menemaninya di dalam rumah. Tapi juga tentang mendengar kesah dari peluh yg menetes setiap geraknya.

"Selamat pagi, Pak-e. Ibu aman kok sama Bayu."

Pekalongan, penghujung Januari 2014