Di dalam keluarga, Ibu selalu mengajarkan kami untuk lebih "mengabdi" (aku belum menemukan kata yg lebih tepat untuk menggambarkannya) pada kaum laki-laki. Bukan menghamba, bukan pula menjadi budak bagi mereka. Tapi bersanding untuk menjadi pelengkap yg membawa surga.
Ketika terjadi sebuah masalah yg melibatkan banyak pihak, misal konflik inter atau intra keluarga, Ibu akan meminta kami untuk ikut berpikir mencari solusi. Tapi kemudian mempersilahkan kaum laki-laki untuk mengambil keputusan. Jika keputusannya membutuhkan diskusi, maka di sini lah peran kami berada.

Ibu selalu mengajarkan kami untuk tidak menjadi pengabdi yg bodoh. Ia mengharuskan kami--anak-anaknya--menguasai beberapa keterampilan laki-laki, seperti melepas-pasang regulator pada tabung gas, mengecat dinding rumah, membetulkan/memasang sumbu kompor yg sudah memendek, angkat-pindah barang berat (kursi, meja, ranjang), dan keterampilan lain yg ada dalam rumah tangga. Namun ketika kejadian semacam itu hadir di depan mata, selagi ada laki-laki, maka mereka lah yg harus mengerjakan. Sebagai gantinya, Ibu mengajak kami ke dapur dan membuatkan teh panas atau kopi dan sejumlah cemilan untuk mereka.

Begitu pula saat ada tamu, tentu kami lah yg disuruh menyiapkan sajian. Atau ketika Bapak dan Om baru tiba dari bepergian, sementara waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Ibu pasti akan bilang, "Na, buatkan soto buat Om sama Bapakmu. Panaskan dulu kuahnya." (Kebetulan hari itu Ibu masak soto). Padahal mereka bisa membuat soto sendiri. Tapi ia selalu menyuruh kami untuk melayani.

Ketika kutanya mengapa, Ibu memiliki DUA jawaban berbeda. Pada mulanya berkata, "Agar kamu terbiasa. Jadi nantinya tidak semena-mena memperlakukan suami." Lalu di lain kesempatan Ibu hanya menjawab, "Ini tentang kepemimpinan dan tanggung jawab."
Setelah kucari, mungkin inilah alasannya:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) dari sebagian yg lain (wanita), dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." Q.S 4:34


Pekalongan, 5 Agustus 2014