Jam pelajaran telah usai. Kelas dibubarkan. Anak-anak usia 4-5 tahun itu berhamburan keluar dari kelas. Khafid, salah satu teman sekelas Aufa, berlari menghampiri ibunya. Dia menarik-narik bagian bawah kaos ibunya tanda minta perhatian, kemudian bertanya penuh semangat, "Buk, Buk, kok doa sholatnya beda sama yang dulu di sekolah PAUD?"

Yang dimaksud doa sholat adalah bacaan iftitah. Anak-anak di kelas B2 baru saja mempraktekkan tata cara sholat fardlu, tentu dengan metode skip-skip di banyak bagian; seperti wadlu dengan air mengalir, pakai mukena (bagi anak perempuan) dan peci plus sarung (bagi anak laki-laki), serta menggelar sajadah. Biarlah itu dilakukan nanti, sebab intisari dari pelajaran siang ini ada pada kerapihan shof, pelafadzan doa, dan gerakan-gerakan. Itu saja.

Mbak Nur, ibu dari bocah bernama Khafid itu melirik saya yang--meskipun tidak ada Mas-Mas Ganteng dan Bapak Muda Harapan Bangsa, tetap bisa--tersenyum. 

"Sama saja." Jawabnya. "Dua-duanya sama. Terserah kamu mau pakai yang mana." Dia menjelaskan pada Khafid dengan gestur keibuan--sesuatu yang bikin saya ngiri. Sampai saat ini saya masih stuck di level kegadisan, bahkan lebih parah lagi, kesendirian. *ngusap mata yang tetiba basah

Khafid manggut-manggut, tanda bahwa dia mendengarkan jawaban ibunya, alih-alih mengerti. Kelak di kemudian hari, Mbak Nur dan saya tahu, Khafid menggunakan dua bacaan iftitah dalam satu kali rokaat sholat.

"Fid, kalau seperti itu ya sholatmu bakalan lama." Mbak Nur menasehati anak sulungnya.

"Pakai salah satu saja, yang kamu sreg." 

Duh, Mbak. Anak TK kok sudah diberitahu tentang konsep "sreg". Saya yang setua ini saja masih ragu mana yang sebenarnya bikin sreg. :'v

"Soalnya aku bingung, Buk." Ujar Khafid agak keras. Saya hanya tersenyum.

Bingung, katanya. Suatu perasaan yang--saya yakin--tidak akan dialami Aufa dalam konteks yang sama. Sebab ke depan, sama seperti saya, Aufa akan diarahkan untuk tidak menemui dua iftitah berbeda.

"Yang bener itu yang mana sih, Buk?" Khafid kembali bertanya.

Kita potong sampai di sini.
Lalu izinkan saya yang menjawab: Dua-duanya benar, Khafid sayang. Kamu pakai yang A, ataukah yang B, sama saja. Yang salah adalah ketika si A mengklaim sebagai yang paling benar, lalu menganggap salah si B, dan memaksa semua orang untuk mengikuti pilihan si A. Juga sebaliknya. Yang terpenting itu bukan lewat jalan mana, tetapi dari mana dan ke mana arah-tujuannya.
Setelah ini, mungkin saya hanya perlu menerbitkan buku, atau minimal, mengunggah video ceramah saya ke yutub, kemudian orang-orang latah itu akan memanggil saya dengan sebutan Ustadzah.

Pekalongan, 15 Desember 2015
Setiap kali mengikuti kegiatan di sekolah, selalu ada moment di mana Aufa akan menunjukkan muka nelangsanya. Dia tampak sangat tidak nyaman, tidak legawa, dan ini--tentu saja--bikin dada saya terasa sesak. Duh, Ndhuk, kamu kenapa? :'|

***

Saya pikir, Aufa akan tumbuh menjadi apa yang selama ini saya ekspektasikan dalam beberapa postingan. Kemampuan bersosialisasinya yang cukup baik di lingkungan rumah, juga perkembangan motorik halus dan motorik kasarnya yang meningkat pesat menjelang usia sekolah, membuat saya mantap melepasnya ke ranah TK meski usianya belum genap di angka lima. Saya percaya diri dan yakin bahwa si mbontot ini akan menjadi--minimal--rembulan di dalam kelas; yang hanya satu, dan cahayanya begitu mendamaikan. *alah

Saya tidak menargetkan Aufa menjadi anak super pintar, yang bisa menjawab semua tanya dengan benar, seperti yang dipropagandakan oleh iklan-iklan susu itchuuu. Tidak, itu bukan tujuan. Lha wong Mbakyunya saja ndak pintar-pintar amat kok, masa mau maksa-maksa adiknya. *ihik!
Saya hanya ingin Aufa belajar mengenali lingkungan barunya, merancang taktik, pelan-pelan mendoktrin teman-teman sekolahnya dengan pemikiran hebat yang sering kami diskusikan berdua, lalu menutup rentetan misi ini dengan satu langkah jitu: menghancurkan sistem pemerintahan pancasilais kafir! Ngoahahahahaha~

Ada yang salah, saya rasa. Awal pertama Aufa mendatangi sekolahnya setengah tahun yang lalu, dia tampak baik-baik saja. Excited dengan hingar-bingar suasana bermain yang ramai dan mengasyikkan. Bahkan pada hari pertama, dia langsung mendapat teman baru saat bermain puzzle di pojok kelas.

Tetapi kemudian.. hari berganti hari, dan dia mulai terlihat loyo.

Sering sekali saya mendapati Aufa keluar dari kelas saat kegiatan belajar (entah itu mewarnai, menggunting, maupun mencocokkan gambar dengan angka) berlangsung, lalu dengan santainya menghampiri ayunan dan duduk anteng-menyayun-ayun di sana. Dia hiraukan gurunya yang memanggil-manggil dari luar kelas. Kalau sudah begini, biasanya beberapa wali murid akan menegur saya, "Mbak Fina, itu Aufanya keluar kelas." Dan saya akan meresponnya dengan senyum dan anggukan sekedarnya. Tanpa aksi apa-apa; tidak berteriak memanggil Aufa, apalagi bergegas bangkit untuk menjewernya. Saya memandanginya saja dari jauh.
Saya tahu.. adik saya itu hanya sedang bosan.

***

Aufa adalah tipe anak yang senang menikmati proses, alih-alih hasil. Dia bisa mengerjakan sesuatu dengan tempo yang sangat lama tanpa merasa terbebani. Saat bermain lego, misalnya. Qea, sepupu kami yang kelas 2 SD, menyusun balok-balok lego menjadi sebuah gerbang istana yang megah, jika dirasa hasilnya kurang memuaskan, dia akan segera memperbaikinya, dan masih akan terus bergerak sampai gerbang itu menjadi sempurna. Lalu, berhenti. Sudah, pekerjaannya selesai. Tetapi, Aufa berbeda. Dia akan membuat kereta api pada mulanya, kemudian--tanpa menilai apakah keretanya sudah terbentuk sempurna atau belum--dibongkarnya susunan lego itu dan membuat mobil, lalu kembali dibongkar dan membuat robot pangeran, dibongkar lagi membuat tempat tidur puteri, dibongkar lagi membuat kursi raja. Begitu seterusnya sampai Rio Dewanto dan Nicholas Saputra ngrebutin saya. *ea

Aufa hampir tidak peduli pada hasil. Dia menikmati jalannya pekerjaan sampai batas waktu yang dia tentukan sendiri. Dan di sinilah, saya kira, titik masalah itu bermula...

Di sekolah, ketika Bu Guru memberi tugas kepada murid-muridnya, tidak bisa tidak, beliau juga memberi tenggat waktu pada mereka untuk segera menyelesaikannya. Aufa, tidak bisa begitu. Dia akan jatuh stress jika terus-menerus mendengar kalimat, "Ayo, anak-anak, siapa yang sudah selesai? Ya! Rizki, pinter. Sini, kumpulkan ke Bu Guru." Tak lama kemudian, "Siapa lagi yang sudah? Zaya, ayo dikerjakan!"

Aufa sering memberi tatapan layu kepada teman-temannya yang berlomba menyelesaikan tugas dari Bu Guru. Barangkali dia sebal, juga kecewa, mengapa semua orang begitu bersemangat dalam ruang-waktu yang serba terbatas, mengapa semua orang senang berkompetisi, lebih dari itu, mengapa pola pengajaran di sekolahnya lebih berorientasi pada capaian-capaian--dan semua orang suka, sementara dirinya tidak.

Aufa mendekat ke jendela. Memberi isyarat pada Mbakyunya untuk mendekat pula. Kemudian dia menangis.

Ah, Ndhuk, Mbak Fina tahu yang kamu rasakan. Mbak Fina tahu. Sebab, Mbak Fina juga begitu. Kalau kamu ndak nyaman, keluarlah.. bermain sesukamu.

***

Jika saya mengikuti jejak Ibuk saya dalam mendidik anak-anaknya, yang keras dan menekan, bisa jadi yang akan muncul pada diri Aufa kemudian ialah Ra'ufina versi kedua; yang payah, serba setengah-setengah, dan sampai setua ini tak menelurkan karya apa-apa. 

Saya tidak mau. Aufa harus tumbuh bersama segenap ambisinya. Sembari nanti belajar untuk membedakan; kapan dia bisa berbuat sesuka hati, kapan perlu mengikuti tata aturan yang berlaku. Karena hidup bukan hanya soal keinginan-keinginan, tapi juga keharusan-keharusan. Bukan melulu soal impian, melainkan juga tuntutan.

Pekalongan, 12 Desember 2015
Tauhid

Bertauhid itu nggak gampang. Dia bukan cuma perkara menunggalkan Tuhan. Lha, buat apa menunggalkan Tuhan? Wong Tuhan memang sudah Tunggal.
Bertauhid itu tentang bagaimana kita mengelola asa, mengatur degup jantung, hela napas, potongan-potongan peristiwa, dan segala sistem hidup yang carut-marut ini, hanya untuk dan menuju Yang Tunggal.
Dan itu--sekali lagi--nggak gampang.

Organ Jantung


Shollu 'alaa Kanjeng Nabi ~
BINA ARIQOH

Tiba-tiba saja Bapak melontarkan kalimat yang membuat pagi ini seketika sendu.
"Kalau (Almh.) Bina masih hidup, pasti rumah bakalan makin rame ya." Katanya, lalu menatap saya dan Mbak Liya bergantian.

Sudah lama sekali kami tidak mengungkitnya, Si Bina itu, setelah hampir tiga belas tahun lamanya dia meninggalkan kami. Dia kejang pada Jum'at pagi, lalu tak sadarkan diri hingga Sabtu sore sebelum saya menjenguknya di rumah sakit. Dokter menyebut-nyebut radang selaput otak, entahlah, kami embuh soal istilah-istilah. Kami hanya ingin bayi di depan kami itu sadar dan menangis, bukan tergeletak lunglai dengan wajah pucat dan mata berair tanpa suara.

Bina membuat saya tidak menginginkan adik perempuan lagi, segera setelah dokter memvonisnya meninggal dunia sore itu. Saya pulang dengan jeritan kehilangan, dengan tekad tidak akan memberikan restu pada Bapak-Ibuk untuk kembali mempunyai anak perempuan. Kalau saya harus punya adik lagi, maka ia harus laki-laki, harus kuat, agar tidak sakit, agar tidak mati.

Sampai kemudian lahirlah Aribi, perempuan, disusul Aufa, perempuan, yang menggenapkan kami menjadi lima. Lalu pagi ini, Bapak mengingatkan kami betapa menyenangkannya jika kami masih berwujud enam perempuan yang utuh. Menyadarkan saya bahwa mati bukanlah soal perempuan atau laki-laki, melainkan bukti kefanaan diri.

***

"Kalau sekarang masih hidup, Bina sudah sebesar apa ya?" Suara Bapak kembali menggema. Matanya berbinar, mungkin membayangkan rupa anak keempatnya yang menggemaskan.
Lalu mendadak saja, perasaan saya dihinggapi rindu.

Pekalongan, 25 November 2015
Suatu ketika dalam rentetan sejarah, beberapa waktu sebelum kaum muslim di bawah kepemimpinan Umar bin Khathab berhasil melahap tuntas Kekaisaran Sassania, mereka telah dulu menaklukkan Bizantium. Melalui sepanjang pantai Laut Tengah, turun ke Mesir, dan masuk ke Afrika Utara, pola itu terbentuk. Kekaisaran Bizantium takluk. Permata di mahkota penaklukan ini adalah Yerusalem, yang satu tingkat di bawah Mekkah dan Madinah sebagai tempat suci bagi umat Islam, sebagian karena Muhammad pernah mengalami visi diangkat ke langit sejenak dari kota ini selama hidupnya.
Ada yang menarik di sini. Cerita tentang Umar--salah satu cerita yang paling terkenal, katanya--terjadi setelah kejatuhan kota ini. Sang Khalifah melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk menerima penyerahannya secara pribadi. Dia bepergian bersama seorang budak, dan karena mereka hanya memiliki satu keledai untuk berdua, mereka lalu bergantian menunggang dan berjalan. Ketika mereka sampai di Yerusalem, kebetulan sang budaklah yang sedang menunggang keledai itu. Orang-orang Yerusalem mengira dialah khalifah dan bergegas untuk memberi hormat di hadapannya. Mereka diberitahu, "Bukan, bukan, itu bukan siapa-siapa; orang yang satunyalah yang harus Anda beri hormat."

Orang-orang Kristen di Yerusalem menyangka khalifah Islam itu ingin melakukan sholat di dalam gereja mereka yang paling suci sebagai tanda kemenangannya, tetapi Umar menolak untuk menginjakkan kaki di sana.

"Jika saya melakukannya," Ia menjelaskan, "Kaum muslim mendatang akan menggunakannya sebagai alasan untuk merebut bangunan itu dan mengubahnya menjadi masjid. Bukan itu tujuan kami datang ke sini. Itu bukan jenis hal yang kami umat Islam lakukan. Teruslah hidup dan beribadah sesuka kalian, namun ketahuilah bahwa mulai sekarang kami akan hidup di antara kalian, beribadah dengan cara kami, dan menetapkan contoh yang lebih baik. Jika kalian menyukai apa yang kalian lihat, bergabunglah dengan kami. Jika tidak, biarkan saja. Allah telah berkata kepada kami: tidak ada paksaan dalam agama." [*]

(Saya bisa saja berhenti di paragraf ini, untuk menunjukkan bagaimana respon saya terhadap apa yang tengah terjadi di belahan bumi barat. Tapi, saya memutuskan untuk melanjutkan.)

Perlakuan Umar terhadap Yerusalem menetapkan pola hubungan antara muslim dan orang-orang taklukan mereka. Orang Kristen mendapati bahwa di bawah kekuasaan Islam mereka akan dikenakan pajak khusus yang disebut jizyah. Itu adalah kabar buruk. Kabar baiknya: jizyah itu umumnya lebih kecil dari pajak yang telah mereka bayarkan kepada Bizantium--yang justru ikut campur tangan dalam praktik keagamaan mereka (karena perbedaan kecil dalam ritual kepercayaan di antara berbagai sekte Kristen penting bagi mereka, sedangkan bagi kaum muslim semua itu hanya Kristen.) Ide tentang pajak yang lebih rendah dan kebebasan beragama yang lebih besar dipandang orang Kristen sebagai kesepakatan yang cukup baik, dan karenanya kaum muslim hanya menghadapi sedikit atau tidak ada perlawanan lokal di bekas teritori Bizantium. Bahkan, terkadang orang Yahudi dan Kristen bergabung dengan mereka dalam melawan Bizantium.

***

Memang benar, Islam adalah ajaran yang multi tafsir. Ia bisa jadi keras, bisa juga lembut, tergantung siapa yang menerjemahkannya.

Saya pernah membaca sebuah riwayat bahwa suatu ketika Umar melayangkan kalimat tegas: "Di manapun bumi tempatmu berpijak, keislamannya adalah tanggung jawabmu." Tentu, bagi mereka yang berhaluan keras, ini akan dijadikan pembenaran untuk melakukan aksi semacam teror, sebab Islam dipandang melulu tentang atribut dan ritual-ritual. Tapi tidak bagi sebagian yang lain. Bukankah secara harfiah Islam berarti keselamatan, Dik? Berarti kedamaian? Maka mereka yang menjunjung nilai ini akan menyikapi kalimat Umar dengan terus-menerus menebar kedamaian juga menanggungjawabi keselamatan di sekitar mereka. Inilah orang-orang yang moderat dan toleran. Dan Umar, lewat kisahnya di hadapan umat Kristen Yerusalem, telah mengokohkan sikap toleran sebagai jalan untuk membawa Islam.
Pertanyaan selanjutnya, apa yang sebenarnya terjadi pada Jum'at 13 November kemarin?

Pekalongan, 16 November 2015
[*] Inti dari sebuah dokumen yang memaparkan deklarasi asli Umar kepada Yerusalem muncul di Hugh Kennedy, The Great Arab Conquest (New York: Da Capo Press, 2007), hlm. 91-92


Kalau ada bencana perang paling berpengaruh, yang memiliki dampak buruk bagi stabilitas pertemanan di Indonesia, dan meninggalkan sisa-sisa pertikaian berkepanjangan, maka Kampanye Pilpres 2014 lah jawabannya.

Kampanye kala itu sukses membagi citra masyarakat Islam dalam dua kubu besar yang berseberangan, katakanlah: Abangan-Liberal melawan Militan. Dan berhasil mempersempit eksistensi perorangan menjadi dua kelompok abstrak: yang suka mainan boneka, dengan yang hobi naik kuda bawa senjata. Heuheu. :3

Sudah beberapa kali akun ini mengalami pemblokiran tanpa izin, juga peng-unfriend-an sepihak yang, ajaibnya, tidak hanya dilakukan oleh "sebatas teman sosmed", tapi juga dia-dia-dia yang adalah teman kongkow semasa SMA. Betapa bangke-nya.

Kenyataan menjadi lebih memilukan ketika tanpa sadar kita berdua (iya, kita) ikut larut dalam gelombang peperangan itu. Sampai lupa diri, sampai tahu-tahu kita sudah berdiri di dua sisi yang berbeda. Ini membuat obrolan mesra kita via sms tak berarti apa-apa ketika kita memilih adu argumen di sosial media. Ah, kamu.. kamu tentu tahu bagaimana sensitifnya periode itu. Begitu sensitif, hingga kita kesulitan membedakan mana kita yang sedang bermusuhan dan mana kita yang sedang ingin mesra-mesraan. Lalu pada suatu khilaf, kita menciptakan atmosfer peperangan itu dalam obrolan pribadi. Dan bom waktu pun meledak.

Kita menjelma menjadi dua pribadi yang asing, juga mengasingkan. Sampai Jokowi resmi dilantik menjadi presiden, sampai kabinetnya mengalami reshuffle kepemimpinan hampir setahun kemudian, bahkan sampai kini semuanya menjadi serba ngambang; penyuka boneka disuruh latihan militer untuk bela negara, dan orang-orang yang katanya liberal justru semakin militan terhadap kelompok yang menjadi basis pergerakannya; kita tak juga baikan.

Sangat disayangkan, meski tak benar-benar menyesali. Lha gimana, wong wis kadung. :v
Perdebatan panjang waktu itu telah membuka tabir pemikiran kita yang paling dasar, dan menyadarkan kita tentang perbedaan yang membentang luas. Dari situ lah, barangkali, kita memaklumi bahwa kita ndak jodoh. Ihik! :v

Sudah lebih satu tahun. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kamu ndak rindu? Saat-saat di mana kita masih bersama, saling sapa, dan selalu ingin menjadi yang lebih dulu mengucapkan "Selamat pagi, kamu!"

Andai besok kita ketemu, ingin sekali rasanya bilang, "Ternyata move on itu nggak sulit-sulit amat." :')

Pekalongan, ditulis dengan sayang.
"Pet, Dodit bilang dia mau nglamar aku." -Liyadini, 27 tahun.

***

Saya sedang asik membalas ribuan chat dari fans di WhatsApp dan LINE petang kemarin, ketika kemudian Mbak Liya masuk ke ruang tengah dan meminta saya ikut nggelosor di sampingnya. Ada yang ingin diceritakan, katanya. Ini hal yang biasa. Wanita selalu ingin ditemani, terutama ketika dia baru saja mengalami sesuatu yang meresahkan hatinya. Dia butuh tempat untuk berbagi. Nah sayangnya, kebanyakan lelaki memiliki kecenderungan untuk terlihat berguna, lalu memandang situasi ini sebagai bentuk permintaan bantuan. Sehingga dengan gegabah mereka menawarkan berbagai solusi pada si wanita, tanpa ingin mendengar lebih jauh. Mereka tidak mengerti, bukan solusi yang wanita cari, melainkan teman berbagi. Heuheu. Ini kenapa ngalirnya jadi ke sini? :3
Saya segera offline dari semua chat, sejenak mengabaikan teriakan para fans, demi mendekat kepada Mbak Liya.

"Piye, Mbak?" Sambil merebahkan tubuh di dekatnya, saya bertanya kalem.

Mbak Liya meletakkan hape yang sedari tadi digenggamnya, lalu menjawab pelan, "Dodit bilang dia mau nglamar aku, Pet."

Lupakan soal Pet. Lupakan bahwa dalam Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Pet bermakna hewan peliharaan. :3

Seharusnya, ini menjadi kabar yang menggembirakan, setidaknya, bagi Mbak Liya. Seorang lelaki yang telah lama dikenal, usia matang, cukup mapan, berniat melamarnya. Apa yang kurang, cuba? Datangnya lelaki yang ingin melamar memang menjadi dambaan bagi kebanyakan wanita di atas 25. Tapi, adalah sesuatu yang menggelisahkan ketika yang berniat melamar adalah mantan. Dan ngomongnya di saat kita sudah punya pacar. *Duh, Mas! Tak sun lho.

Dodit--bukan nama sebenarnya--adalah tetangga kami, sekaligus pacar pertama Mbak Liya, dulu, semasa SMP. Putus entah karena apa, lalu balikan ketika keduanya sudah lulus SMK dan sama-sama kerja. Saya pikir, setelah nyambung lagi mereka bakal langgeng sampai menikah, tapi ternyata kembali putus oleh sesuatu yang hanya orang dewasa yang tahu. Entahlah. Saya yang masih unyu-unyu ini sering dibuat bingung sendiri karenanya.

Mereka lalu punya pacar masing-masing. Mbak Liya didekati oleh Mas-Mas distributor es batu yang manis dan berambut ikal, sementara Dodit berpacaran dengan banyak wanita yang saya tak peduli siapa mereka. Putus dari si rambut ikal, Mbak Liya terjerat hubungan asmara dengan produsen tempe rumahan, yang cungkring tapi ternyata punya selingkuhan. Dan Dodit, tetap dengan wanita-wanita yang hilir-mudik menemaninya. Dalam rentang waktu itu, saya tahu, Dodit sering mengirim pesan kalimat sayang kepada Mbak Liya. Entah dalam bentuk tanya-tanya perhatian, maupun ungkapan semacam "I Love U, Sayang". Dan Mbak Liya, entah sadar atau tidak, bolak-balik mengenakan kaos pemberian Dodit tanpa risih sama sekali. Tanpa khawatir Dodit akan melihatnya lalu menganggap ini sebagai kode. Aaahhh.. hubungan macam apa sih ini, Tuhan?

***

"Aku sudah berkelana, Ndut." Kata Dodit. Ndut adalah panggilan sayangnya kepada Mbak Liya. 

"Aku sudah ketemu banyak wanita. Yang cantik, yang kaya. Aku sudah lelah. Sekarang mau mencoba untuk serius. Dan wanita yang mau aku seriusin, ya cuma kamu." --> Perlu kalian tahu, Dik, inilah jurus andalan yang biasa dipakai lelaki untuk mendapatkan simpati wanita. Dia beberkan dulu di awal betapa dia memiliki banyak kesempatan dan pilihan, tapi keputusannya tetap jatuh ke satu: si 'kamu' itu. Ini namanya teknik mengistimewakan. Heuu.. *lelah.

"Kenapa aku?" Tanya Mbak Liya. --> Ini juga pertanyaan klasik khas wanita. Tujuannya hanya satu: diistimewakan. Karena pada hakikatnya, wanita memang senang diistimewakan. Cocok! :3

"Karena aku nyaman sama kamu, Ndut. Aku juga lihat kamu gini-gini aja. Punya pacar tapi pacarmu nggak buruan ngelamar. Makanya aku berani maju." Jawab Dodit cepat, tanpa ragu. Duh. Kok jadi saya yang ngilu. "Aku tunggu sampai akhir tahun. Kalo kamu 'yes', aku bawa Bapak-Enyak ke rumahmu." Dodit menutup dialog kala itu dengan senyuman.

***

Saya tidak berani menjamin, apakah Mbak Liya akan setia pada pacarnya, atau justru lari memutar ke pelukan sang mantan. Hati manusia siapa yang tahu, Dik. Kamu tampak mencintai seseorang tapi sebenarnya mengharapkan yang lain, itu sah-sah saja. Yang kelihatannya cuek tapi sebenarnya sayang juga banyak kok. Maka ketika Mbak Liya menanyakan pendapat saya tentang kegundahannya, saya hanya menjawab, "Kamu yang lebih tahu hatimu, Mbak."

Dan kini saya mengerti, lebih tepatnya dipaksa mengerti, betapa misterinya kerja hati.

Pekalongan, 15 Oktober 2015
Saya menduga, menjadi pemimpin adalah sebuah kutukan--setidaknya, bagi keluarga kami. Sudah terlampau sering Mbak Liya terpilih menjadi ketua kelas baik di SMP maupun SMK. Arizka, adik pas saya, tak tanggung-tanggung lagi, menjadi ketua organisasi semasa SMA. Dan beberapa minggu yang lalu, dia melapor bahwa dirinya ditunjuk sebagai koordinator umum dalam kepanitiaan suatu program KKN angkatannya. Saya sendiri, ehem, pernah sekali menjadi ketua kelas, dan sekali menjadi ketua organisasi--meskipun payah. Heuheu :3
Mbak Liya, saya, dan Rizka sudah mendapatkan bagiannya: melakoni peran kutukan sebagai pemimpin. Bisa jadi, setelah ini adalah giliran Aribi.
Dan.. memang inilah giliran Aribi.

***

Pada kenaikan kelas sekitar sebulan yang lalu, saya dapat laporan dari Bapak bahwa Aribi Haqori--adik saya yang berat badannya sama dengan berat badan saya--terpilih jadi ketua kelas. Saya syok. Aribi, manusia paling pantas dibully sejagad semesta itu, yang menghabiskan sebungkus soffell untuk dirinya sendiri setiap malam--saking lebarnya badan, jadi ketua di Kelas 3 Madina! Oho!
Tentu saya tidak begitu saja percaya. Zaman sekarang lho, musti teliti, jangan mudah termakan media. *eh 

Maka ketika ada kesempatan, segera saya tabayyun ke sekolah Ribi. Saya interview teman-teman sekelasnya. Kemudian tahu, adik saya itu memang jadi orang nomor satu. Duh, saya terharu.
Ribi terpilih menjadi ketua kelas melalui jalur voting. Namanya muncul dalam usulan daftar calon setelah (ternyata) pada periode sebelumnya dia menjabat sebagai wakil ketua kelas. Wew. Dia mengalahkan tiga calon lain dengan kemenangan telak: 22 suara diraihnya. Sementara Danu, mantan ketua kelas pada periode sebelumnya, hanya mendapat 10 suara, Akbar 9 suara, dan Salwa 3 suara. 

Kan, gila! Apa yang membuat Ribi begitu digandrungi para pengikutnya?

Kalau kalian pernah bertemu langsung dengan Ribi, barangkali akan sependapat dengan saya. Bahwa anak itu sama sekali tidak memiliki kharisma seorang pemimpin. Dia tumbuh menjadi pribadi yang cuek, tampak tidak mampu mendominasi kelompok, dan, tentu saja, gendut. Di kelas pun, sependek yang saya amati, dia lebih sering jadi korban bully-an dari pada disegani. Auranya adalah aura untuk dibully. Saya pribadi, jujur saja, setiap kali melihat wajahnya selalu ingin menghina.

"Aku milihnya Aribi, Mbak!" Teriak seorang anak laki-laki bernama Sinji. Dia adalah teman sekelas Ribi yang paling iseng yang saya tahu.

"Kenapa kok milih Ribi?" Tanya saya kalem. Saya mah gitu, kalo sama anak cowok pasti jadi kalem.

"Soalnya biar Aribi jadi kurus." Jawabnya keras. "Kan, Aribi itu gendut. Paling gendut di sekolah. Nah, kalo jadi ketua kelas kan capek. Mondar-mandir, disuruh ini disuruh itu, capek. Trus, jadi kurus deh." Selorohnya, lalu tertawa puas. "Hahahahha..."

Di sampingnya, Ribi merengek, "Tuh kan Mbaaak. Temen-temen itu senengnya ngeledekin aku." Katanya manyun.

Saya mendekati Sinji, lalu bertanya pelan, "Heh, Sinji, kamu sama temen-temenmu itu kok doyan sekali sih ngeledekin Aribi?"

Sinji, bocah tengil yang sebenarnya manis itu, menjawab dengan setengah berbisik, seakan-akan takut suaranya didengar Ribi.

"Soalnya, Aribi itu nggak pernah marah. Nggak kayak yang lain, diledek dikit langsung ngambek. Gak asik. Aribi juga nggak suka maksa-maksa orang, makanya banyak yang seneng temenan sama dia. Trus milih dia jadi ketua deh." Sinji mengakhiri ocehannya dengan senyum lebar yang menampakkan deret panjang gigi jagungnya.

Saya termangu. 

Di balik segala macam kalimat bully-an yang dilontarkan kepadanya, Ribi telah menentukan sikap: stay calm, satu sikap yang--kelak--justru menjadi kekuatannya untuk merangkul setiap golongan. Dan sore ini, saya kembali belajar.

Saya kira kepemimpinan dengan otot pada satu masa sangat berarti, tetapi kini yang berarti adalah merangkul orang.  - Mohands K. Gandhi


Pekalongan, Agustus 2015
Di antara sekian banyak profesi yang saya cita-citakan sejak kecil, menjadi guru TK adalah satu yang paling awet saya pendam. Profesi itulah yang saya sebut ketika pertama kali ditanya, "Cita-citamu apa?" dulu, pas lagi unyu-unyunya. Kalo sekarang sih, jadi ibuknya anak-anakmu sajalah, Mas.
Sampai menginjak usia SD, hingga SMP, bahkan menjelang kelulusan SMA, menjadi guru TK tetap masuk ke daftar impian, bersanding dengan ragam mimpi lain seperti jurnalis, designer, dan kryptografer. 

Tapi sayang, saya gagal melakoninya.

"Gapapa, Up, yang penting kamu nggak gagal mendapatkan cinta saya."
Eh, Mas! Kamu kok.. :*

Saya mengikuti UM-PTN di jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia melalui jalur bidik misi tahun 2010, dan failed. Di titik inilah, saya mulai menata kembali hati yang telah remuk-lebur oleh pupusnya asa. Sebab, kamu tahu, seringkali kita perlu mengesampingkan ambisi untuk sekedar berdamai dengan realita. *halah

Sejak saat itu, entah bagaimana, saya nyaris lupa bahwa saya pernah begitu ingin menjadi guru TK.
Sampai bertahun-tahun kemudian, lahirlah Aufa, dan tiba waktunya dia masuk TK. Duh, Mas. Setiap mengantar Aufa, setiap melihat guru-guru dari adik mbontot saya itu, saya selalu merasakan getaran CLBK. Seakan-akan dia adalah gebetan masa lalu yang gagal saya pacari, tapi masih meninggalkan jejak penasaran hingga kini. Eheu.

Bagi saya, guru TK adalah manusia-manusia pilihan. Sebab tidak sembarang orang bisa melakoni itu. Jika wanita, maka dia adalah wanita yang penyabar--atau minimal, terlatih untuk bersabar--lembut perangainya, dan penuh kasih sayang. Betapa sempurnanya. Andai saya jadi guru TK dengan segala sifat malaikatnya itu, mungkin saya hanya perlu melatih skill bergaul saya dan membumbuinya dengan keterampilan menggombal, lalu, uh! Lelaki mana yang tak kendor hatinya? Huahahahahaa
Tapi, Tuhan memang Maha Cantik. Alih-alih meridloi saya untuk tampil sebagai guru TK, Dia malah menjadikan saya seorang--ehem--bidan. Yang tanpa saya pernah duga sebelumnya, justru profesi inilah yang digandrungi para calon mertua di Indonesia. Ngoahahahahaa! :v

Wis, ah. Kayaknya saya perlu banyak-banyak istighfar dan nyolawat, biar sadar. :3 :v

Pekalongan, 10 Agustus 2015

"Pak, Bapak pernah gak sih merasa bosan dengan rutinitas? Dengan hal-hal yang sama setiap harinya?" Saya bertanya pada Bapak, ketika pagi ini kami kembali dipertemukan dalam hening yang mengoyak pikiran. *heleh

Sudah lebih satu bulan kami tidak intens berinteraksi. Tutupnya warung pecel Ibuk selama Romadlon membuat kami kehilangan momen-momen mesra yang selalu tercipta di pawon rumah. Tidak adanya kompor yang menyala, juga bunyi letupan minyak yang mendidih dalam penggorengan, sama artinya dengan tidak ada obrolan, dan petuah-petuah menyejukkan dari seorang bapak yang tampan. Sepanjang Romadlon, bapak akan selalu tampak sibuk dengan mesin jahitnya, sementara saya tidak menemukan aktivitas lain selain asik nggombalin jomblo di sosial media. Jadi wajar jika kami jarang bersua, lalu jiwa saya ini mengering karenanya.

Tapi tapi tapi, Syawal bersambut, segala sesuatunya telah kembali. Kami berdua kini ngobrol lagi, dan namamu, Mas, sudah tersemat dalam hati. *eh

"Yo mestine bosen." Jawab Bapak kalem. Sejenak menatap saya, untuk kemudian memalingkan pandangan ke satu titik di atas tumpukan cucian kotor. "Tapi piye maneh. Wis dadi syarat." Lanjutnya lugas.
"Hm?" Saya merespon dengan agak bingung. "Syarat?"
"Syarat urip, Nduk." Tegasnya. Dan jawaban Bapak itu membuat saya kembali menghening. "Wong urip iku nduweni beban, nduweni tanggungan. Dan itu sudah syarat. Saben dino Bapak tangi isuk, nemenin Ibukmu ke pasar, ngumbahi, kadang mbecak, lanjut njahit sampe larut, tangi isuk maneh, pasar maneh. Bosen? Yo bosen. Tapi nek orak ngunu, sing arep nguripi adhi-adhimu iku sopo?"

Saya menelan ludah.
Saat itu juga saya merasa Bapak semakin tampan, hingga ingin sekali rasanya saya menyanyikan lagu 'Titip Rindu buat Ayah' di depan doi. Meski hanya satu baris:
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa ~
Tapi saya sadar betapa falesnya suara saya, maka itu saya memilih bungkam.

"Pak.."

"Hmm?"

"Kalo sama Ibuk, Bapak pernah bosen gak?"

Bapak mendongak, seperti kaget mendapat pertanyaan semacam itu, lalu menatap saya agak lama. Doi pun tersenyum simpul. Bibirnya bergerak hendak menjawab tepat ketika--mendadak--Ibuk muncul dari balik pintu dapur. Gleg! Kami pun membisu seketika.

"Habis ini nggoreng tempe ya, Na." Ibuk berkata pada saya.

"Nggih, Buk."

Saya melirik Bapak, yang juga masih menatap saya. Kami tersenyum bersamaan. Menyadari bahwa jawaban dari pertanyaan terakhir masih misteri. Mungkin sama misterinya dengan akhir hubungan cinta dua remaja. :v
Bertauhid itu nggak gampang. Dia bukan cuma perkara menunggalkan Tuhan. Lha, buat apa menunggalkan Tuhan? Wong Tuhan memang sudah Tunggal.

Bertauhid itu tentang bagaimana kita mengelola asa, mengatur degup jantung, hela napas, potongan-potongan peristiwa, dan segala sistem hidup yang carut-marut ini, hanya untuk dan menuju Yang Tunggal.

Dan itu--sekali lagi--nggak gampang.
Shollu 'alaa Kanjeng Nabi ~
Islam Nusantara, ya?

Saya sedang khusyuk nggelosor di bangku panjang di teras rumah Embah, ketika orang-orang itu mulai geger soal Islam Nusantara. Ada yang nyinyir, ada yang membela. Ada yang beristri, ada pula yang masih jaka. Saya jadi bingung mau pilih yang mana. Akhirnya saya memutuskan untuk berpuasa dulu sementara waktu. *eh

Sebenarnya, istilah Islam Nusantara ini sudah ada sejak lama, bertahun-tahun silam. Tapi menjadi sangat heboh diperbincangkan ketika My Lovely President Jokowi--yang sering kalian sindir itu--mengucapkannya pada pembukaan Munas Ulama PBNU, seminggu yang lalu. Dan menjadi semakin seru untuk diperdebatkan setelah NU terang-terangan menjadikan wacana "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia" sebagai tema pada Muktamar ke-33 di Jombang nanti.

Sebagai generasi moderat garis lucu, tentu saya menganggap ide ini keren sekali. Wah, Islam Nusantara. Easy listening banget, ya! Apalagi kalo bisa mendunia.

Tapi, tentu saja, moderat bukanlah satu-satunya faham yang tertancap di tanah ini. Dan saya bukanlah satu-satunya manusia yang hidup di negeri yang gemah-ripah-loh-jinawi ini. Maka seandainya ada dari kita yang protes soal penamaan Islam Nusantara, tak sependapat dengan pengusungan ide ini ke ranah global, itu wajar.

Selama ini, sependek jumlah artikel yang saya baca--guna mengusir kegalauan akibat njomblo--di media onlen, kampanye Islam Nusantara hanya ngobrolin soal Islam ala Nusantara; ialah Islam yang ramah, yang toleran, yang mengakar pada kebudayaan-kebudayaan lokal (khas Walisongo); tanpa menunjukkan Walisongo itu ngikut siapa. Padahal, kalo dirunut ke belakang, sumbernya dari Arab juga. Menurut risalahnya K. H. Hasyim Asyari, NU itu fiqhnya ikut 4 madzhab, aqidahnya ikut Imam Asyari dan al-Maturidi, tasawufnya ikut Imam Ghazali dan Junaidi al-Baghdadi. Nah, ini yang juga diikuti Walisongo, kan? Dari Arab semua, kan?

Seharusnya mereka bisa menunjukkan, bahwa dulu, di Arab sana juga ada Islam yang ramah itu, yang inklusif itu. Hanya saja, Arab yang sekarang lebih menganut islamnya Ibnu Taimiyah - Ibnu Wahab - Abdullah bin Baz - Hasan Albana - Taqiyyuddin, yang setelah melewati beberapa generasi menjadi semakin 'keras' dan intoleran. Sayang sekali kampanye tentang Islam Nusantara tidak menyinggung soal itu. Jadi wajar jika yang islamnya PKS--eh IM, HTI, dan Wahabi gak bisa terima. Malah bisa meng-counter dengan mudah--meski tidak masuk akal; bahwa ini adalah agenda 'devide et impera' ala Mamarika, propaganda Wahyudi, dan sebagainya. Bahkan ada yang sibuk menuduh Islam Nusantara ini sebagai wacana yang membuat 'Islam' dipandang sebagai konflik, bukan solusi. Duh, duh. Saya kok jadi laper, Mas.

***

Tulisan kali ini tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Saya memang sedang tidak ingin menyimpulkan apa-apa. Apakah saya full-pro, atau mid-kontra, biarlah itu menjadi rahasia antara saya dengan Tuhan. *dialog khas sinetron reliji
Lha wong hubungan antardua insan saja kadang ada yang nggantung tak berkesimpulan, apalagi cuma analisis kelas kroco macam ini. Ya, kan, Mas?

Pekalongan, 22 Juni 2015
Saya sedang membaca kumpulan tulisan Cak Nun dalam buku "Sedang Tuhan pun Cemburu", ketika kemudian saya ingin melamun.

Pernahkah kamu merasa cemburu, Dik? Pada manusia-manusia di sana, mungkin? Atau pada paku yang tertancap di tembok rumahmu, tempat kamu menggantungkan bingkai foto keluarga dan rupa-rupa hiasan? Juga paku yang dipukul-pukul palu demi menguatkan kursi yang akan kamu duduki? Pernahkah?

Cemburu, kamu tahu, adalah semacam ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dirasa dimilikinya. Saya tidak mengatakan cemburu adalah manusiawi, jika itu hanya akan menggiring opini publik ke satu anggapan bahwa saya sedang menggugat pihak penerbit yang--melalui judul buku ini--berusaha menautkan sifat-sifat makhluk di belakang nama Tuhan. Harrah! Berat, Dik. Otak saya nggak nyampe ke situ.

Saya hanya ingin mengatakan, ini buku bagus. Cak Nun, saya kira, sedang mencoba menyampaikan bahwa akhir-akhir ini Tuhan sering dibuat cemburu oleh manusia. Sebab banyak di antara kita, sadar atau tidak, telah menyekutukan-Nya dengan berlomba-lomba menjadi tuhan atas sesama.

Pekalongan, 11 Juni 2015

Nak, di sini di rumah sakit, kamu akan melihat bahwa keromantisan bukan hanya milik sepasang kekasih, tetapi juga milik bapak mertua yang sabar merawat mantu wedoknya saat sang suami tengah pergi mencari biaya.

Nak, di sini di rumah sakit, kamu bisa melihat bahwa keindahan juga ada pada raut muka lelah seorang lelaki tua yang duduk menunggu di dekat ranjang istrinya, dalam lara yang mengiringi pasca operasi pengangkatan rahim.

Nak, di sini di rumah sakit, kamu akan tahu bahwa kriminalis, pelacur, anak yang durhaka pada orang tuanya; golongan-golongan yang kamu anggap hina itu, termasuk bayi-bayi yang lahir dari perbuatan zina sekalipun, berhak hidup.

Karena, Nak, di sini di rumah sakit, Tuhan dan manusia sungguh begitu dekat.

~

*dibuat sepulang shift malam, terilhami dari salah satu setatus Gus Haibani Ebidzar
"Ribi, kenopo Ribi pingin ngagem kerudung terus, Nduk?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut saya, setelah beberapa kali saya memotret paras manisnya secara candid.

Petang tadi, saya ajak Ribi muter-muter Pekalongan untuk sekedar menikmati heningnya malam di penghujung bulan Mei. Ehe. Enggak ding. Sebenarnya saya lagi butuh duit, lalu ngajak Ribi nyari ATM buat mbongkar celengan, tapi karena ATM terdekat sedang bermasalah, saya pun terpaksa muter ke arah Hypermart dekat alun-alun kota dan menyadari betapa macetnya Pekalongan di malam Ahad, eh, Minggu. Endingnya, sebagai pajak lelah bagi si endut Ribi, kami mampir ke warung steak di daerah Pringlangu. Tentu saja, saya yang traktir. :|

Ini kali pertama kami keluar berdua dalam situasi yang memang disengaja tanpa embel-embel hak dan kewajiban seperti "njemput sekolah", atau "nganterin les". Dan mungkin nantinya, momen-momen semacam ini akan sering saya ciptakan bersama adik-adik saya. Ini penting. Agar adik-adik saya--dalam setatus ini diwakili oleh Ribi, setidaknya--tahu, ada perkara-perkara yang jauh lebih mudah dipecahkan di luar rumah; dengan duduk ngobrol sambil ngesteh, misalnya, atau sekedar mlaku alon-alon nyawang wong pacaran.

Mendengar pertanyaan saya, Ribi mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar. Menampilkan gigi-giginya yang kecil-rapih, khas anak usia 8 tahun. Duh, manis sekali adik saya ini. Pantas saja Mbakyunya.. ah~ :)

"Mmph, embuh." Ribi menggeleng-gelengkan kepala, masih tersenyum. Embuh (basa jawa) adalah jawaban paling ambigu. Dia bisa bermakna "ketidaktahuan", tapi juga bisa mengisyaratkan bahwa pengucapnya tahu banyak hal, tapi menolak menjawab karena ditakutkan jawabannya akan menimbulkan multitafsir. Ehem.

"Ribi mau kerudungan sampai kapan?" Saya bertanya lagi. Iseng.

"Sampai tua." Jawabnya. Lagi-lagi, dengan tersenyum.

"Kalo nanti ada temen Ribi yang ngajakin buat lepas kerudung, gimana?"

"Yo ndak mauuu."

"Soalnya kenapa?"

"Mmph, embuh."

Kali ini saya ikut tersenyum. Saya memang tidak mengharapkan munculnya jawaban "masyaaAllah" seperti "karena ini perintah Allah, Mbak," atau, "soalnya pakai kerudung itu hukumnya wajib". Tidak. Masih terlalu kecil baginya untuk paham tentang makna wajib-tidak wajib, dan bias-bias permasalahannya. Saya cukup legawa mendapati Ribi mampu berkomitmen dengan dirinya sendiri tanpa banyak pamrih. Itu cukup. Prinsip embuhnya--jika memang berarti ketidaktahuan--akan memicu rasa ingin tahu, lalu membawanya mengarungi lautan ilmu. Dan jika ia (embuh) bermakna "tahu banyak hal", saya harap, akan mampu mengajarinya untuk lebih bijak. Bahwasanya tumpukan pengetahuan bukanlah senjata untuk menghakimi orang.

Sudah, gitu aja. Pagi-pagi jangan ngobrolin yang berat-berat.

Pekalongan, 31 Mei 2015
Sore itu, di sela-sela tumpukan tugas keperawatan, di antara berisik kertas yang menari-nari minta perhatian, kami bertiga berdialog mesra.

Mbak Mufi bercerita, ada seorang lelaki yang mengajaknya berkenalan via pesan teks, tapi tak ditanggapinya benar-benar. Dia mengaku sedang tidak mood untuk menerima pertemanan baru yang sejak awal sua sudah merujuk ke arah 'sana'. Tahu kan maksud saya?
Mendengar itu, Mbak Risa -yang sudah lebih senior dari kami- angkat suara.

"Jangan gitu, Muf. Dulu aku sama suamiku juga awal kenalannya lewat SMS." Katanya sambil menulis laporan. Kemudian berkisah, beberapa tahun yang lalu ketika usianya masih 24 (ehem, kalo saya sih 23, Mas. Pas kan, pas? :v), sederet nomor asing masuk ke inbox ponselnya. Ketika ditanya, si empunya nomor bilang dia mendapat nomor Mbak Risa dari temannya yang lain. Mbak Risa pun segera mengonfirmasi pernyataan itu pada teman yang bersangkutan. Dan ternyata memang benar.

"Memang temenku itu yang ngasih nomer ke dia." Terang Mbak Risa lugas. "Kalo aku sih mikirnya: oh, berarti orangnya jujur. Dan itu cukup untuk modal awal berkenalan." Lanjutnya.
Sepertinya dia ingin mengatakan pada Mbak Mufi: Muf, gak harus berawal dari tatap muka kok untuk bisa 'serius'. Uhuk! Saya yang batuk.
Kisah berlanjut. Tiga bulan setelah hadirnya nomor asing itu, acara lamaran digelar. Secepat itu, pemirsah! 'O'

"Lho, nunggu apa lagi? Dianya memang mau cari istri, akunya juga pada kondisi yang siap-siap aja, ya udah." Mbak Risa merespon keterkejutan saya dengan santai.

"Apa yang membuat Mbak Risa yakin?" Mbak Mufi bertanya lembut. Tampaknya ia mulai lupa pada lelaki yang mengajaknya berkenalan. Huehue.

"Aku cari tahu soal dia. Dan dari temenku itu aku tahu bahwa dia sudah yatim sejak kecil, terus sejak SMP dia sudah bantu ibunya jualan molen." Jawab Mbak Risa. "Yang aku suka adalah, dia pekerja keras. Terbiasa hidup apa anane. Dan tipe lelaki yang mau diajak mbangun rumah tangga bareng-bareng. Aku memang maunya yang gitu."

Kami manggut-manggut mendengarkan. Merasai hangatnya senja dengan menerka-nerka seperti apa nikmatnya berumah tangga. *alah

"Mungkin memang begitu ya," Suara Mbak Mufi membuyarkan lamunan saya tentang rumah dan tangga. "Setiap orang akan mendapatkan apa yang dicarinya. Mbak Risa yang tipenya seperti itu, ndilalah ketemu suami yang 'sama'. Mbak Wilda (teman nguli kami yang lain) yang begitu 'ngabdi', juga ndilalah dapet laki-laki yang berprinsip bahwa 'suami itu ya kepala keluarga'. Jadi pas." Jelasnya panjang lebar.

Saya terhenyak.
Kalimat Mbak Mufi barusan mengingatkan saya pada salah satu sajak Mawlana Rumi yang berbunyi: What you seek, is seeking you.
Apa yang kamu cari, sejatinya juga sedang mencarimu ~
Dan hidup sendiri sesungguhnya adalah tentang mencari dan menemukan. Maka tak heran jika manusia akan selalu cari-mencari. Temu-menemukan. Mereka, yang mengudara pada satu frekuensi akan lebih mungkin untuk bertemu, merajut dialog, lalu berjalan beriringan menuju titik-titik paling inti di seluruh jagad.

"Kalo kamu carinya yang gimana, Up?"

Gleg. Mbak Mufi iseng melempar pertanyaan itu. Saya pun hanya bisa ngguyu. Dalam hati berkata, "ya yang kayak Mas-Mas itu." *O*

Pekalongan, di kala cerah.
Saya sedang khusyuk ngepoin timeline-mu (ehem, Mas) siang itu, kala adik mbontot saya, Aufa, tiba-tiba nyelonong masuk dan ndusel-ndusel dekat Mbakyu-nya sambil mecucu. Mirip anak kucing yang nggak sabar nyari tetek biyungnya. Saya curiga, jangan-jangan Aufa habis nonton adegan kucing menyusui dan mencoba mempraktekkannya dengan saya. Huah. Nggak sopan!

Saya meliriknya. Tampaknya si princil ini sedang bosan. Mungkin dia lelah. Atau dia mulai menyadari bahwa hidup sudah terlalu menjemukan untuk dijalani seorang diri. (Curhat, curhattt.. :v)

"Aufa kenapa, Nduk?" Saya bertanya layaknya seorang Mbakyu kepada adiknya. Dan saya memang Mbakyu-nya.

Aufa diam saja. Telentang menatap langit-langit kamar. Empat tahun usianya, tapi gurat-gurat di wajahnya seolah menunjukkan betapa dia telah hidup berabad lamanya. Ehe.

"Aufa pingin dolanan balapan." Katanya kemudian.

Balapan yang dimaksud adalah "Rash Motor", satu-satunya aplikasi game yang ada di hape MiTO Afgan -hape milik bersama. Saya pun segera nyetel game itu, lalu menyerahkan si hape pada Aufa. Beberapa detik berlalu, dan Aufa sudah larut dalam riuh-rendah keramaian sirkuit.
Saya kembali fokus ke kamu. Mengira-ngira apakah rindu ini berbalas rindu, atau hanya saya yang terlalu menginginkanmu. *elahh

"Yah, kalah." Aufa mengeluh tiba-tiba.

Saya penasaran, lalu mengintip layar hape di tangannya, dan.. terkejut! Pembalap yang diperankan Aufa melaju sendirian menuju garis finish. Meninggalkan lawan-lawannya di belakang, seperti dia yang tega meninggalkanmu di masa lalu. 

Harusnya, harusnya lho ya, Aufa senang. Karena sedikit lagi jadi pemenang. Namun entah bagaimana, dia memvonis dirinya kalah.

"Itu namanya menang, Nduk. Kok kalah ki piye?" Saya mencoba mengoreksi.

"Soale dewean." Aufa mecucu.

Jujur, saya tertohok mendengar jawaban Aufa. Baginya, melaju sendirian adalah sebuah kekalahan. Ini ganjil. Tentu saja, Aufa akan dianggap sebagai manusia paling dungu jika tampil menawarkan konsep ini di hadapan publik realitas. Bagaimana pun, di planet bernama realita ini, berlaku prinsip; hanya boleh ada satu pemenang. Sebagaimana halnya dengan "satu sperma saja yang diperbolehkan membuahi sel telur", atau, "hanya namamu seorang yang tersemat dalam relung". *tsaah

Saya ingat, pada 2009 yang lalu, ketika si ganteng Ricardo Kaka (pemenang Ballon d'Or 2007) dan si macho Cristiano Ronaldo (pemenang Ballon d'Or 2008)--pada akhirnya--bergabung dalam satu team berjuluk Real Madrid (#halaMadrid), salah satu teman sekelas saya nyeletuk, "Tidak pernah ada sejarahnya, dua bintang bersinar dalam satu lapangan."

"Maksudnya?" Tanya saya waktu itu.

"Salah satu dari mereka harus redup, jika tidak ingin keduanya."

Sampai sebegitunya, orang-orang waras memaknai sebuah kemenangan. Barangkali saya sudah termakan cara pandang mereka, sehingga saya syok dengan apa yang Aufa suguhkan. Aufa, tanpa memedulikan berbagai gemuruh di kepala Mbakyunya, tetap melanjutkan permainan balapan itu--sekali lagi--sambil mecucu. Dia tampak sibuk menekan-nekan layar si MiTO layaknya pemuda over-protektif yang terus menerus mengetik pesan "Kamu dimana? Lagi apa?" ke sang pacar; saking over-nya. Ha.

Sampai kemudian...

"Ye, menang!" Aufa berseru bungah.

Di satu sisi, saya agak miris. Karena ketika saya tengok hapenya, tampak pembalap lain berlari menyusul dari belakang dan menyalip, tepat sebelum jagoan Aufa mencapai garis finish. Lalu muncul atensi 'Game is Over'. Tapi di sisi lain, saya belajar sesuatu.

Ada saatnya, di mana kemenangan bukan lagi soal 'kalah-mengalahkan', melainkan tentang akankah kita mau berdamai dan berjalan beriringan. Mungkin, seperti Kanjeng Nabi yang memenangkan hati orang-orang dzolim dengan perangainya yang menyejukkan, atau seperti dua insan yang berusaha saling mengerti untuk mempertahankan sebuah pernikahan. Ahaha, ujung-ujungnya ke situ juga. Sudah ah, nanti saya dibully lagi.

Dalam perkara-perkara absurd semacam ini, kita tahu, pikiran anak kecil terkadang jauh lebih mendewasakan.

Pekalongan, 29 April 2015
Sebagai anak usia balita, Aufa cenderung tidak memiliki banyak mainan. Tidak seperti anak-anak lain seusianya yang sudah dibanjiri beragam mainan -bahkan- sejak mereka bayi, Aufa bersahaja dengan hanya beberapa jenis saja. Ada untungnya juga, karena dengan begini Aufa jadi sering dolan ke rumah tetangga-tetangga, dan mengasah daya bersosialisasinya agar tidak tumbuh pemalu seperti Mbakyu-nya. Ehem, saya.

Di antara secuil mainan yang dia punya, yang paling sering dijamah -selain Barbie- adalah Lego.
Aufa mengenal Lego pertama kali saat usianya masih 2 tahun. Dia sering meminta Mbakyu-nya yang demen Mas-Mas ini untuk menyusun balok-balok Lego menjadi bebentukan tertentu. Seperti monas, istana (bukan) negara, dan kursi-kursi dewan. Yang terakhir ini tentu saja fiktif. Satu yang belum terpenuhi sampai sekarang adalah permintaannya untuk dibuatkan boneka Barbie dari Lego. Heu. Piye carane coba?

Nah, kemarin, Aufa dengan lincahnya mengambil lima potong Lego dan menyusunnya secara ngasal-bertumpuk-vertikal, lalu enteng mengatakan bahwa itu Barbie. Sesimpel itu! :|
Sekarang Aufa sudah genap 4 tahun. Rabu yang lalu, Bapak meminta saya mengambil "formulir pendaftaran peserta didik baru" di TK ABA ('Aisyiyah Bustanul Athfal) Kraton-Pekalongan. Itu artinya, tak lama lagi Aufa akan mengenal kata sekolah. Memasuki sebuah sistem linear berupa gerak melingkar beraturan.

Saya, tentu tidak kepingin Aufa tumbuh menjadi robot sistem, budak sistem, atau malah asu-nya sistem, tapi bukan berarti saya menghalangi sepenuhnya Aufa untuk nyemplung ke sana. Bagaimana pun, dobrakan terindah ialah yang berasal dari dalam. Maka, dia tetap perlu sekolah, perlu nyistem.
Untuk perkara ini, saya cenderung siap melepas Aufa. Hubungan intens-nya dengan Si Lego akan melatihnya berkembang menjadi manusia-manusia yang doyan ngakali sistem. Dan kecintaannya pada Barbie akan membimbingnya untuk senantiasa "bermain cantik", tidak grusah-grusuh dan asal tuduh kayak kamuh.

Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mengajak Aufa berkelana sesering yang saya bisa. Untuk memperkaya sudut pandang, dan mencegahnya menjadi pribadi-pribadi yang kurang piknik.

Pekalongan, April 2015