Bagi wanita, belanja adalah niscaya. Ia serupa a part of life alias bagian hidup yang tak bisa dihindari. Tapi bukan berarti semua wanita akan 'suka' belanja. Hanya saja, tiap-tiap wanita pasti akan melakukannya.

Pun saya, sebagai semurni-murninya wanita (ehem), saya juga belanja. Apalagi ini sudah akhir bulan. Kebutuhan sehari-hari seperti sabun, odol, shampo, deterjen, sampai pembalut, mulai menipis. Habis. Meski begitu tak perlu khawatir Mas, rindu saya padamu takkan terkikis. *O*
Saya pun memutuskan untuk mengajak Aufa belanja ke mini market terdekat. Ada dua pilihan: Indomaret atau Alfamart. Saya tanya si Aufa, "Aufa pingine pundi, Nduk? Indomaret nopo Alfamart?"
Aufa dengan semangatnya menjawab, "Alfamayet!"
Saya curiga, dia memilih Alfa semata-mata karena mirip dengan namanya. Saya ingin protes. Tapi, apa lah, ini bukan perkara sunni-syiah.

Sesampainya di depan Alfamart, saya disuguhi pemandangan indah berupa poster-poster potongan harga untuk produk tertentu yang ditempel berjejer di kaca dekat pintu. Salah satunya adalah So Klin Softerjen, yang semula harganya Rp 15.100 menjadi Rp 14.500. Tentu ini tidak seberapa, tapi bagi wanita, yang begini ini surga. Meski kadang hanya selisih beberapa ratus saja. Meski kadang juga tidak selisih, tapi lebih ganteng penjualnya. Ha ha.
Saya masuk. Tersenyum manis pada mbak-mbak kasir, mengambil keranjang, dan mulai berkeliling. Ternyata benar, ada potongan harga. Saya bungah. Tapi tentu saja kita tidak boleh gegabah. Zaman sekarang, semua hal harus dilakukan dengan cermat. Termasuk dalam memilih sumber berita dan situs bacaan, agar tidak sesat-menyesatkan. *eh
Saya mengecek satu per satu isi rak deterjen. Dan menemukan fakta: Daia-lah juaranya. Iya Daia. Bayangkan, sama-sama bernetto 900 gram, sama-sama plus softener, sama-sama dapet bonus piring cantik (ini yang terpenting), tapi Daia hanya seharga Rp 13.000. Meski tanpa potongan. Lha yo jelas saya milih Daia!
Ini membuktikan satu hal, bahwa saya adalah wanita yang tidak mudah tergiur promo. Jadi, biarpun banyak lelaki yang menawarkan kebahagiaan Mas, cuma kamu yang bikin saya harap-harap cemas.

Singkat cerita, saya telah selesai berbelanja -dengan perhitungan matang tentunya. Setelah membayar semua belanjaan saya di kasir, dan memastikan mbaknya tidak lupa memasukkan piring cantik ke dalam plastik, saya mengecek struk. Barangkali ada angka yang tidak sesuai dengan harga yang tercantum di rak. Percaya atau tidak, hal ini sering terjadi.

Pada akhirnya, belanja bukan lagi tentang senang-senang nghabisin uang, tapi tentang berpikir keras bagaimana mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang pas.

Selamat malam, Mas. :v
Tepat sebelum malam takbiran kala itu. Ia tergopoh-gopoh menghampiri istrinya yang baru saja melahirkan putri ke-2 mereka. Beberapa detik sebelumnya, ia selesai melantunkan kalimat adzan dan iqomah di telinga sang bayi. Dan kini ia rindu isterinya. Masih bersimbah darah, bermandi peluh dan lelah, wanita itu tersenyum melihat gurat-gurat kekhawatiran di wajah suaminya.

"Zakati dia, Pak." Bisik wanita itu lirih. "Lalu carikan nama."

Seusai mengurus segala keperluan pascapersalinan isterinya, bersamaan dengan digemakannya takbir di seantero negeri,  laki-laki itu pergi membayarkan zakat atas nama si bayi. Gemetar ia melangkah. Hatinya bungah. Sesekali ia berhenti untuk menyapa para karib, sekedar mengabarkan kegembiraan yang ia rasakan atas kelahiran putri ke-2nya. Kemudian bergegas pulang.

"Arep dijenengi sopo, Pak?" Isterinya menyambut dengan tanya.

Ia pun segera menjawab, "Sesok bubar sholat Ied, ta' takone marang Pak Hasan nggeh, Bu."

Maka keesokan paginya, sepulang dari ritual sunnah Aidul Fitri--saat orang-orang tengah sibuk menyantap ketupat opor--berangkatlah ia menuju rumah Pak Hasan, seorang guru agama islam di sebuah SMK negeri, yang juga seorang penggiat organisasi Muhammadiyah.

Entah siapa nama lengkap Pak Hasan itu. Orang-orang mengenalnya sebagai Hasan Debat. Konon katanya beliau pandai berargumen dalam perkara agama. Sampai-sampai tertinggal satu kesan bahwa banyak orang datang padanya hanya untuk mengajak berdebat, adu argumen soal agama. Membongkar lapis-lapis fakta dalam kebenaran yang dipelajari dan diyakini oleh masing-masin. Hal lain yang senantiasa mengendap dalam ingatan masyarakat adalah bahwa beliau ini selalu berangkat ke masjid jami' sebelum adzan sholat jum'at dikumandangkan, lalu duduk bersila di tempat yang sama setiap pekannya. Lalu jika didengarnya ada seorang yang beliau kenal meninggal dunia, sejauh mana pun jarak rumahnya, niscaya beliau akan datang melayat. Mengirim doa dan mengantarkan si mayit menuju proses pemakaman. Selalu begitu. Begitu selalu. Itulah, Pak Hasan.

Laki-laki yang hendak menemui Pak Hasan itu berjalan cepat dengan langkah kecil-kecil. Ia harus bergegas, pikirnya, sebelum banyak tamu berdatangan ke rumah Pak Hasan.

"Assalamu'alaykum." Laki-laki itu sampai di depan pintu rumah yang dituju. Tapi seketika ia terhenyak. Dilihatnya isteri Pak Hasan, Bu Farida, tengah sibuk membawa keluar tas-tas besar dan beberapa kardus bekas mie instan yang telah penuh berisi muatan dan diikat kencang-kencang menggunakan tali rafia warna hijau. Putra-putri Pak Hasan pun nampak berseliweran di dalam rumah, sibuk menata diri. Apakah mereka mau pergi? Batinnya.

"Wa'alaykumussalam warohmatullah." Salam terlanjur terjawab. Bu Farida mendongak, menatap sumber pengucap salam pertama. "Eh, Nak Ras. Sini, masuk. Pak, niki wonten tamu." Bu Farida sedikit mengeraskan suaranya saat memanggil Pak Hasan.

"Nyuwun ngapurane, Ibuk. Maaf lahir-batin." Laki-laki yang dipanggil Ras tadi mencium tangan Bu Farida.

"Ehh.. iyo, podho-podho." Bu Farida tersenyum.

Tak lama kemudian Pak Hasan keluar. Ras segera sungkem pada guru ngajinya itu. Haturkan maaf sedalam-dalamnya atas segala khilaf yang dilakoni. Kemudian dia duduk di kursi dekat pintu, berhadapan dengan gurunya yang duduk di seberang meja.

"Gasik nemen kowe dolane. Tiwas aku arep kabur ndisikan menyang kampung halaman." Pak Hasan tertawa.

Dari situ Ras tahu, Pak Hasan sekeluarga hendak mudik ke Brebes. Ah, bagaimana ya mengatakannya, bahwa ia ingin dicarikan nama untuk putri keduanya?

"Krungu-krungu bojomu wis babaran, Ras." Pak Hasan seolah mengerti apa yang termaksud di hati Ras.

"Nggih, Pak Hasan."

"Alhamdulillah. Sehat kabeh?"

"Alhamdulillah, Pak Hasan."

"Lanang opo wedok?"

"Estri, Pak Hasan."

"Wis dijenengi?"

"Mm.. dereng." Malu-malu ia menjawab.

"Lho, lha ngenteni opo?"

"Badhe nyuwun dipadoske Pak Hasan mawon." Akhirnya, tersampaikan jua niatnya.

"Owalah.. ngono wae ndadak isin." Pak Hasan tersenyum lebar.

"Tapi menawi mboten ngrepoti mawon, Pak. Bapak kalih Ibuk kan badhe tindakan.."

"Wis, rak sah dipikiri. Sik, tak golek kitab-e sik." Pak Hasan beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sejenak, lalu muncul lagi dengan beberapa buku di tangan. "Anak nomer loro, yo?" 

"Nggih."

"Siji, loro. Loro. Ro'. Ro'." Pak Hasan bergumam sambil terus membuka-buka buku yang ia pegang. "Huruf ngarepe Ro' wae yo?" Pak Hasan mengusulkan. Maka ditelusurilah setiap kata yang berawalan huruf Ro' (dalam deret hijaiyyah) untuk disematkan pada sang bayi. "Rahima, Royyan, Rasyidatu, Ra'.. wedok yo anakmu?" Pak Hasan--entah mengapa--kembali memastikan. Menatap laki-laki di hadapannya dengan pandangan kebapakkan.

"Nggih, leres, Pak Hasan."

"Nah, iki wae." Pak Hasan menyodorkan buku di tangannya yang telah terbuka di bagian tengah-tengah. Menuntun mata Ras untuk melihat satu kata yang beliau tunjuk. "Artine santun, rendah hati, penyayang. Kerno anakmu wedok, mburine ta' tambahi Ya' karo Nun. Dadine Ra'ufina. Nek kowe gelem, dinggo-o."

Dan pulanglah ia, dengan hati legawa, dengan satu nama yang akan ia kabarkan pada isterinya.

Kelak, nama itulah yang terus diucapkan untuk melatih si anak saat belajar mengenal dirinya.

Malam tiba.

Dibukanya sebuah buku, lalu dituliskannya di atas lembar kosong: Ra'ufina, Sabtu Pahing, 29 Romadlon 1412 H.

Ditulis pada 27 Maret 2015
"Pak, Fina nek nggoreng ngagem wajan niki kok gorengane dados sae." Saya berkata pada Bapak, sembari tersenyum bungah melihat hasil gorengan tempe yang tampak renyah. Kriuk! Nyam nyam ~
Ada beberapa wajan di pawon kami, tapi entah bagaimana, saya seneng sama yang satu ini. Yang berukuran sedang, dan banyak kerak hitam di bagian pantatnya.

"Nek Bapak senenge nganggo sing sijine." Bapak menimpali singkat, melirik seonggok wajan yang saya gantung di dinding berpaku dekat rak piring.

"Kala wau Fina nggeh ngagem wajan niku, Pak. Tapi hasil gorengane wagu. Gak indah, ngoten lho." Sahut saya dengan tata bahasa yang amburadul. Se-amburadul kamu yang naksir anak orang, tapi nggak berani bilang. *sruputtt

"Oh, yo berarti kowe cocok e karo wajan kuwi," Bapak menyimpulkan. "Nek Bapak karo sing kae." Lanjutnya tampan.

Sampai di sini saya paham. Bahwa perkara wajan pun ada yang namanya cocok-cocokan, atau bahasa unyu-nya: jodoh-jodohan. Bagaimana saya nyaman dengan si wajan, dan wajannya pun luwes ketika saya yang pegang, itu karena kami berjodoh. Sungguh tak ada alasan lain kecuali itu. Bukan hanya tentang wajan, baju dan sandal pun sama. Juga kaos kaki dan kaca mata. Jadi benar bahwa setiap hal diciptakan berjodoh-jodohan.

Nah, wajan yang benda mati saja punya jodohnya. Apalagi kita, yang berbakat dalam mencinta? *O*
Maka janganlah resah, Nduk Ayu, jika saat ini kamu belum kepethuk sama Kang Masmu. Kalem. Semua ada jodohnya.
Kita tinggal lihat, siapa yang akan datang di waktu yang -ndilalah- "tidak memaksa", dan pada kondisi yang "baik-baik saja".

Selamat siang!
Jangan lupa sumringah biar bumi tetap cerah. :D
Di antara kami berlima, Aribi dan Aufa lah yang paling sering bertengkar. Maklum, mereka masih princil. Tapi seprincil-princilnya mereka, mereka bersaudara, kandung pula. Saya pun jadi--terpaksa--mikir, mereka yang sudah saudaraan sejak lahir saja masih sering bertengkar, apalagi kalian Dik, yang baru beberapa bulan jadian? Ehem. Maka benarlah, bahwa pertengkaran itu ada dimana-mana.
Kemarin pagi, keduanya bertengkar lagi. Gara-garanya Aufa kepingin nonton Sofia The First, sedangkan Ribi ngotot untuk nonton Boboiboy. Padahal itu acara sama-sama ada di MNCTV hanya beda jam tayang.

Aufa--yang memang tengil bin jail--sengaja mengambil remot tivi dari tangan Ribi, lalu membawanya berlari keliling rumah. Ribi bangkit mengejar.

"Gowo mene, Fa, remot-e!" Teriak Ribi kesal. Kesal karena dia gendut dan kesulitan mengejar.
Aufa menoleh. Lalu di lemparkannya remot itu ke arah Ribi, dan.. prek! Kena jari kakinya.

"Atoh!" Seru Ribi kesakitan. "Haduh si, Faaa." Haduh adalah sebentuk ekspresi mengeluh yang sering digunakan orang-orang Pekalongan untuk menunjukkan rasa sakit."Ndi haduh? Wong rak metu getihe og." Aufa berkata mengejek, yang artinya: Mana sakit? Wong gak keluar darahnya kok.

Saya terpana mendengar jawaban Aufa. 

Jadi, menurut Aufa, setiap rasa sakit haruslah berdarah. Saya merasa kecolongan. Bagaimana mungkin adik seorang Ra'ufina gagal memahami konsep sakit, sementara Mbakyu-nya sudah terlampau sering merasakannya. *eh

Aufa harus tahu, tidak selamanya begitu. Bahkan terkadang, yang paling menyakitkan justru luka yang tak berdarah. Yah, macam kamu yang baru aja pisah. Ah.

Pagi itu, dalam mendung yang menyelimuti bumi, kami menyadari, setiap manusia bisa saja meninggalkan luka, meski tak bersenjata.

Pekalongan, 12 Maret 2015
"Pak, kenapa lagu-lagu Iwan Fals sekarang ndak sekritis dulu?" Saya bertanya pada Bapak. Empat, atau lima hari yang lalu. Saat kami tengah melakoni rutinitas kepul-kepul di pawon tercinta. "Padahal zamannya sudah demokratis. Bebas berpendapat. Jadi Iwan Fals nggak perlu takut lagi akan dibui, atau lagu-lagunya akan dilenyapkan dari edaran. Tapi kenapa malah loyo?" Saya melanjutkan.
Mungkin, saya termasuk orang-orang yang kecewa dengan melemahnya ketajaman kritik karya-karya Iwan Fals, yang kini justru dibanjiri dengan tema tentang cinta. Ah!

"Lho, justru karena sekarang ini era demokrasi, Nduk." Suara Bapak menyayupkan kebisingan siang itu.

Saya mengernyitkan dahi, "Maksudnya, Pak?"

"Dulu, jaman orde baru, nyanyian Iwan Fals itu laksana lantunan suara hati rakyat. Dia tampil menyampaikan aspirasi masyarakat lewat lagu-lagunya. Sebab pada jaman itu, tidak berlaku kebebasan berpendapat." Jawab Bapak tenang, sembari mencicipi adonan tepung untuk menggoreng tempe. "Nah, sekarang semuanya serba bebas. Setiap orang berhak menyuarakan pendapatnya di mana-mana. Di koran, televisi, rapat-rapat RT, termasuk saat kamu nulis di fesbuk." *eh?

Saya dibuat tertegun.

"Untuk apa lagi Iwan Fals menciptakan lagu-lagu kritis? Baginya, rakyat sudah tidak lagi membutuhkan 'wakil' hanya untuk mengungkapkan kritik. Maka yang perlu dilakukan Iwan Fals sekarang hanyalah menjaga ketenteraman. Biar negaranya tetep damai. Biar ndak kisruh. Lha perkara apa yang paling mungkin mendasari kedamaian?" Bapak memberi jeda pada kalimatnya. Lalu melanjutkan, "Ya cinta itu."

Ah, Bapak ~

Tapi kenapa ya, saya justru rindu pada suara-suara yang meneriakkan keadilan macam lagu-lagunya Bang Iwan? Ah, barangkali benar kata pertapa tua di tepian Maninjau itu, bahwasanya kita seringkali merindukan apa yang seharusnya hilang, saat kita memutuskan untuk berjuang. Seperti dua insan yang merindukan masa-masa pedekate, saat mereka sudah resmi jadian. Hahahaha~

Pekalongan, 2 Maret 2015