WAJAN

Maret 25, 2015, by ranafiu

"Pak, Fina nek nggoreng ngagem wajan niki kok gorengane dados sae." Saya berkata pada Bapak, sembari tersenyum bungah melihat hasil gorengan tempe yang tampak renyah. Kriuk! Nyam nyam ~
Ada beberapa wajan di pawon kami, tapi entah bagaimana, saya seneng sama yang satu ini. Yang berukuran sedang, dan banyak kerak hitam di bagian pantatnya.

"Nek Bapak senenge nganggo sing sijine." Bapak menimpali singkat, melirik seonggok wajan yang saya gantung di dinding berpaku dekat rak piring.

"Kala wau Fina nggeh ngagem wajan niku, Pak. Tapi hasil gorengane wagu. Gak indah, ngoten lho." Sahut saya dengan tata bahasa yang amburadul. Se-amburadul kamu yang naksir anak orang, tapi nggak berani bilang. *sruputtt

"Oh, yo berarti kowe cocok e karo wajan kuwi," Bapak menyimpulkan. "Nek Bapak karo sing kae." Lanjutnya tampan.

Sampai di sini saya paham. Bahwa perkara wajan pun ada yang namanya cocok-cocokan, atau bahasa unyu-nya: jodoh-jodohan. Bagaimana saya nyaman dengan si wajan, dan wajannya pun luwes ketika saya yang pegang, itu karena kami berjodoh. Sungguh tak ada alasan lain kecuali itu. Bukan hanya tentang wajan, baju dan sandal pun sama. Juga kaos kaki dan kaca mata. Jadi benar bahwa setiap hal diciptakan berjodoh-jodohan.

Nah, wajan yang benda mati saja punya jodohnya. Apalagi kita, yang berbakat dalam mencinta? *O*
Maka janganlah resah, Nduk Ayu, jika saat ini kamu belum kepethuk sama Kang Masmu. Kalem. Semua ada jodohnya.
Kita tinggal lihat, siapa yang akan datang di waktu yang -ndilalah- "tidak memaksa", dan pada kondisi yang "baik-baik saja".

Selamat siang!
Jangan lupa sumringah biar bumi tetap cerah. :D

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog