Saya sedang khusyuk ngepoin timeline-mu (ehem, Mas) siang itu, kala adik mbontot saya, Aufa, tiba-tiba nyelonong masuk dan ndusel-ndusel dekat Mbakyu-nya sambil mecucu. Mirip anak kucing yang nggak sabar nyari tetek biyungnya. Saya curiga, jangan-jangan Aufa habis nonton adegan kucing menyusui dan mencoba mempraktekkannya dengan saya. Huah. Nggak sopan!

Saya meliriknya. Tampaknya si princil ini sedang bosan. Mungkin dia lelah. Atau dia mulai menyadari bahwa hidup sudah terlalu menjemukan untuk dijalani seorang diri. (Curhat, curhattt.. :v)

"Aufa kenapa, Nduk?" Saya bertanya layaknya seorang Mbakyu kepada adiknya. Dan saya memang Mbakyu-nya.

Aufa diam saja. Telentang menatap langit-langit kamar. Empat tahun usianya, tapi gurat-gurat di wajahnya seolah menunjukkan betapa dia telah hidup berabad lamanya. Ehe.

"Aufa pingin dolanan balapan." Katanya kemudian.

Balapan yang dimaksud adalah "Rash Motor", satu-satunya aplikasi game yang ada di hape MiTO Afgan -hape milik bersama. Saya pun segera nyetel game itu, lalu menyerahkan si hape pada Aufa. Beberapa detik berlalu, dan Aufa sudah larut dalam riuh-rendah keramaian sirkuit.
Saya kembali fokus ke kamu. Mengira-ngira apakah rindu ini berbalas rindu, atau hanya saya yang terlalu menginginkanmu. *elahh

"Yah, kalah." Aufa mengeluh tiba-tiba.

Saya penasaran, lalu mengintip layar hape di tangannya, dan.. terkejut! Pembalap yang diperankan Aufa melaju sendirian menuju garis finish. Meninggalkan lawan-lawannya di belakang, seperti dia yang tega meninggalkanmu di masa lalu. 

Harusnya, harusnya lho ya, Aufa senang. Karena sedikit lagi jadi pemenang. Namun entah bagaimana, dia memvonis dirinya kalah.

"Itu namanya menang, Nduk. Kok kalah ki piye?" Saya mencoba mengoreksi.

"Soale dewean." Aufa mecucu.

Jujur, saya tertohok mendengar jawaban Aufa. Baginya, melaju sendirian adalah sebuah kekalahan. Ini ganjil. Tentu saja, Aufa akan dianggap sebagai manusia paling dungu jika tampil menawarkan konsep ini di hadapan publik realitas. Bagaimana pun, di planet bernama realita ini, berlaku prinsip; hanya boleh ada satu pemenang. Sebagaimana halnya dengan "satu sperma saja yang diperbolehkan membuahi sel telur", atau, "hanya namamu seorang yang tersemat dalam relung". *tsaah

Saya ingat, pada 2009 yang lalu, ketika si ganteng Ricardo Kaka (pemenang Ballon d'Or 2007) dan si macho Cristiano Ronaldo (pemenang Ballon d'Or 2008)--pada akhirnya--bergabung dalam satu team berjuluk Real Madrid (#halaMadrid), salah satu teman sekelas saya nyeletuk, "Tidak pernah ada sejarahnya, dua bintang bersinar dalam satu lapangan."

"Maksudnya?" Tanya saya waktu itu.

"Salah satu dari mereka harus redup, jika tidak ingin keduanya."

Sampai sebegitunya, orang-orang waras memaknai sebuah kemenangan. Barangkali saya sudah termakan cara pandang mereka, sehingga saya syok dengan apa yang Aufa suguhkan. Aufa, tanpa memedulikan berbagai gemuruh di kepala Mbakyunya, tetap melanjutkan permainan balapan itu--sekali lagi--sambil mecucu. Dia tampak sibuk menekan-nekan layar si MiTO layaknya pemuda over-protektif yang terus menerus mengetik pesan "Kamu dimana? Lagi apa?" ke sang pacar; saking over-nya. Ha.

Sampai kemudian...

"Ye, menang!" Aufa berseru bungah.

Di satu sisi, saya agak miris. Karena ketika saya tengok hapenya, tampak pembalap lain berlari menyusul dari belakang dan menyalip, tepat sebelum jagoan Aufa mencapai garis finish. Lalu muncul atensi 'Game is Over'. Tapi di sisi lain, saya belajar sesuatu.

Ada saatnya, di mana kemenangan bukan lagi soal 'kalah-mengalahkan', melainkan tentang akankah kita mau berdamai dan berjalan beriringan. Mungkin, seperti Kanjeng Nabi yang memenangkan hati orang-orang dzolim dengan perangainya yang menyejukkan, atau seperti dua insan yang berusaha saling mengerti untuk mempertahankan sebuah pernikahan. Ahaha, ujung-ujungnya ke situ juga. Sudah ah, nanti saya dibully lagi.

Dalam perkara-perkara absurd semacam ini, kita tahu, pikiran anak kecil terkadang jauh lebih mendewasakan.

Pekalongan, 29 April 2015
Sebagai anak usia balita, Aufa cenderung tidak memiliki banyak mainan. Tidak seperti anak-anak lain seusianya yang sudah dibanjiri beragam mainan -bahkan- sejak mereka bayi, Aufa bersahaja dengan hanya beberapa jenis saja. Ada untungnya juga, karena dengan begini Aufa jadi sering dolan ke rumah tetangga-tetangga, dan mengasah daya bersosialisasinya agar tidak tumbuh pemalu seperti Mbakyu-nya. Ehem, saya.

Di antara secuil mainan yang dia punya, yang paling sering dijamah -selain Barbie- adalah Lego.
Aufa mengenal Lego pertama kali saat usianya masih 2 tahun. Dia sering meminta Mbakyu-nya yang demen Mas-Mas ini untuk menyusun balok-balok Lego menjadi bebentukan tertentu. Seperti monas, istana (bukan) negara, dan kursi-kursi dewan. Yang terakhir ini tentu saja fiktif. Satu yang belum terpenuhi sampai sekarang adalah permintaannya untuk dibuatkan boneka Barbie dari Lego. Heu. Piye carane coba?

Nah, kemarin, Aufa dengan lincahnya mengambil lima potong Lego dan menyusunnya secara ngasal-bertumpuk-vertikal, lalu enteng mengatakan bahwa itu Barbie. Sesimpel itu! :|
Sekarang Aufa sudah genap 4 tahun. Rabu yang lalu, Bapak meminta saya mengambil "formulir pendaftaran peserta didik baru" di TK ABA ('Aisyiyah Bustanul Athfal) Kraton-Pekalongan. Itu artinya, tak lama lagi Aufa akan mengenal kata sekolah. Memasuki sebuah sistem linear berupa gerak melingkar beraturan.

Saya, tentu tidak kepingin Aufa tumbuh menjadi robot sistem, budak sistem, atau malah asu-nya sistem, tapi bukan berarti saya menghalangi sepenuhnya Aufa untuk nyemplung ke sana. Bagaimana pun, dobrakan terindah ialah yang berasal dari dalam. Maka, dia tetap perlu sekolah, perlu nyistem.
Untuk perkara ini, saya cenderung siap melepas Aufa. Hubungan intens-nya dengan Si Lego akan melatihnya berkembang menjadi manusia-manusia yang doyan ngakali sistem. Dan kecintaannya pada Barbie akan membimbingnya untuk senantiasa "bermain cantik", tidak grusah-grusuh dan asal tuduh kayak kamuh.

Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mengajak Aufa berkelana sesering yang saya bisa. Untuk memperkaya sudut pandang, dan mencegahnya menjadi pribadi-pribadi yang kurang piknik.

Pekalongan, April 2015

"Zaman dulu, orang-orang tua selalu menyuruh anaknya berwudlu, jika mereka ketahuan buang angin saat sedang makan bersama." Bapak mengawali dialog pagi itu. Tatapan matanya menggantung di langit-langit, sejenak, untuk kemudian kembali menekuni timba kecil yg biasa digunakan untuk ngangsu air.

Di luar mendung. Barangkali inilah yg membuat Bapak mengambil satu topik pembelajaran dari masa lapuk. Doi bercerita bagaimana Mbah Muh -embah saya- menerapkan prinsip yang sama; ketika kentut saat makan, berwudlu-lah, atau minimal, wisuh.

"Kenapa Bapak tidak mengajarkannya pada kami?" Protes saya.

Bagaimana pun, saya selalu haus akan nilai-nilai, wejangan-wejangan, bahkan juga kekangan-kekangan. Selama ini bapak membiarkan kami terlalu bebas dalam berpikir dan berpolah. Mau bagaimana kami menyikapi sebuah peristiwa, bapak tak pernah membatasi. Doi benar-benar melepaskan kami untuk berguru pada semesta. Inilah yg -sering kali- justru membuat saya mendambakan aturan dan paksaan, seperti perkara "dijodohkan", misalnya. Meski untuk yg satu itu, saya tak lagi menghendaki karena terlanjur mengenal kamu.

"Lha wong kita jarang makan bersama." Itu jawaban Bapak. Jawaban yg bikin ngilu. Mak-senit di hati. "Ibukmu makan hanya pas warungnya selo. Mbakyumu, kamu, Rizka, pada masa itu selalu makan sepulang sekolah. Sedang jadwal pulang kalian berbeda-beda. Pun ketika malam, Ibukmu terlalu lelah, dan kalian lebih memilih makan tak terjadwal. Asal lapar. Bapak bisa apa?" Sambung doi kalem.

Saya bungkam.

"Memang begitu, Nduk. Orang-orang dulu pun makan bersama satu keluarga bukan karena terjadwal. Tidak seperti priyayi sekarang yg mengutamakan kebersamaan, orang-orang dulu cenderung mempertimbangkan bagaimana porsi masakan yg sedikit itu bisa cukup dibagi untuk banyak perut. Kalau dahulu makanan berlimpah ruah, mungkin kejadiannya akan sama dengan sekarang; makan sendiri-sendiri."

Ah, Bapak.
Mbesuk, Pak, akan saya biasakan makan bersama keluarga, bahkan kalau perlu, sepiring berdua sama Mas-masnya. Biar bisa praktek wudlu.

Pada Jum'at kedua tiap bulannya, ada jadwal posyandu di kampung saya. Dan sebagai--ehem--bidan, saya sering diminta para kader untuk ikut sibuk dalam kegiatan keposyanduan. Entah untuk sekedar nulis-nulis, konseling tumbuh-kembang bayi dan balita, atau malah sebagai pemikat agar bapak-bapak muda yang menyegarkan itu mau mengantar balitanya mampir nimbang. *hagzhagz :v
Jum'at pagi itu, saya ikut mosyandu. Jam sembilan tepat saya berangkat. Pos masih sepi. Sembari menunggu para balita datang, saya dan ibu-ibu kader ngobrol ceria tentang apa saja yang bisa diobrolkan. Tentang keluarga, angan-angan seputar dunia anak, juga tentang kebijakan pemerintah dalam bidang pelayanan kesehatan primer. Sampai pada satu detik, salah seorang kader bertanya pada saya, "Nok Fina, piye ceritane kok biso dadi bidan? Emang keinginan sendiri, po'?"

Kemudian hening.

***

Beberapa tahun silam di awal perkuliahan, pertanyaan serupa sering dilontarkan mayoritas dosen jurusan kebidanan kepada para mahasiswinya. Saat itu, banyak di antara kami yang menjawab bahwa langkah ini "bukan keinginan sendiri", atau istilah lainnya: nyasar jurusan. 

Saya termasuk di dalamnya.

Kini, pertanyaan itu kembali tersaji. Satu sudut ego saya tergelitik untuk memberikan jawaban senada dengan 4 atau 5 tahun yang lalu, bahwa Sastra dan Seni Rupa-lah yang jadi tujuan. Atau kenyataan bahwa saya sempat memendam keinginan kuliah di STSN. Saya bisa saja menjawab demikian. Toh, api itu masih menyala. Tapi, melihat kondisi media belakangan ini, juga dengan status saya yang sudah nguli, rasanya kok tidak elok jika saya mengatakan (bahwa sebenarnya saya) ingin jadi sastrawan. Buat apa juga? Kita tidak pernah tahu, bagaimana berita ini akan sampai di telinga orang-orang lewat mulut yang kadang lepas kendali. Bisa jadi yang akan terdengar justru: "Heh, ternyata anaknya Bu Maelah itu jadi bidan karena terpaksa. Ati-ati kalo periksa sama dia. Bisa mal praktek." *harraahh 

Saya pun belajar, untuk tidak terlalu polos dalam menghadapi dunia yang sudah terlanjur banyak corak.

***

Saya tersenyum, lalu menjawab anggun, "Nggeh, Bulik, kepinginane kulo piyambak."

Dan puluhan balita pun datang berbondong-bondong. Bersama ibu mereka, bukan bapak-bapak muda yang saya nantikan.

Pekalongan, 10 April 2015
Pada malam-malam dimana senyap mulai merambat ke dinding-dinding kamar para jomblo, saya berdiam diri mencumbui sunyi. Merasai "dingin"-nya udara dengan asumsi bahwa ternyata bukan hanya saya yang tak tersentuh cinta, udara juga.

Di saat seperti ini, biasanya Mbak Liya akan bergabung dan menggelosorkan diri di samping saya, lalu entah bagaimana mulanya, dia sudah berceloteh panjang ngomongin hal-hal yang kadang bikin adiknya yang jomblo ini nggerus ati.

Namun, tampaknya malam ini lain. Mbak Liya cukup pengertian untuk menahan diri dari pembahasan seputar indah pacaran, dan sebagai gantinya dia hanya berkomentar singkat, "Yakin ah, mbok ojo ngunu yo," sambil terus menatap layar androidnya. Dia bercerita, di grup BBM ada teman yang pasang iklan untuk jual hape. Ini wajar. Di Fesbuk pun banyak yang demikian. Mungkin termasuk kamu, Dik.

Tapi yang menjadikan janggal adalah sebuah komentar dari teman lain yang tanpa ha-ha-he-he, langsung ngirim: "Beli hape yang harganya mahal pada mampu, tapi beli Qur'an yang lebih terjangkau pada gak mau. Ingat, hape canggih hanya menjauhkan kita dari Islam." Duh, Dik.
Mbak Liya pun ngoceh, "Yo sih bener ngingetke ngunu. Tapi kan, wayahe ora pas. Aku sing awam wae ngrosone ora nyaman lho."

Oke. Ini tentang ke-pas dan tidak pas-an. Kalau boleh saya bilang, mengingatkan orang tentang Qur'an dan Islam di ranah jual-beli hape itu seperti kamu menasehati para jejaka yang lagi njajan helm, bahwasanya "bukan helm yang dipakai untuk sholat, melainkan kopiah." Atau seperti kamu yang bersemangat adzan dzuhur, jam 9 pagi. Kan nggak cucok sih, Dik. Ya kan, nggak cucok, kan?
Dalam bidang kuliner, ada istilah halalan thoyyiban. Udang itu halal, tapi belum tentu thoyyib untuk yang punya alergi. Sebuah nasehat itu mungkin saja "benar", tapi jadi tidak "baik" jika akhirnya hanya bikin ehem di hati.

Pada akhirnya kita sama-sama belajar, Dik, bahwa Kang Masmu itu benar-benar thoyyib. Sayang aja dia belum halal. *ihik

Malam ini, sunyi-senyap menjadi lagu dalam sisa obrolan.

Pekalongan, 2 April 2015
Bak meteor di luasnya angkasa, kamu melesat pongah. Lari kesana kemari dengan gerakan congkak. Kamu lupa, pada satu titik, kita akan berada begitu dekat. Hingga gravitasi menarikmu jatuh ke pelukanku.

_Bumi.
PEKALONGAN. Sulit untuk memisahkan Pekalongan dari deret panjang perjalanan hidup saya. Ialah kota kecil di pesisir Jawa Tengah. Kota dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah saling berhimpit yang hanya berbatas satu lapis tembok. Kau bisa membayangkan bagaimana penuh sesaknya perkampungan di sini. Hingga kau dapat mendengar orang-orang bertengkar, bahkan saat tetangga sebelah rumahmu mendengkur di kamar-kamar. Pekalongan memaksa saya untuk belajar ati-ati dalam tutur kata dan lelaku. Satu saja tampak tabu, maka mati reputasimu. Begitulah kira-kira. Di sini berlaku istilah "serigala berbulu domba", dan dalam beberapa hal, suara tetangga jauh lebih berpengaruh dari nasehat orang tua. Tapi, toh itu sisi negatif yang tak perlu banyak ungkit.

Pekalongan adalah tempat saya ditanam, lalu tumbuh, dan mekar seperti sekarang. Ialah kota yang ramah dan bersahaja. Dimana etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa bisa hidup berdampingan mesra. Bagi generasi islami -bagaimana saya menyebutnya?- di pojok-pojok Indonesia, Pekalongan menarik karena julukan "Kota Santri" dan Habib Luthfi-nya. Bagi para budayawan, Pekalongan nyentrik oleh sejarah per-batik-annya. Dan bagi pencinta kuliner, barangkali, Pekalongan memikat hati dengan sajian khas sego megono-nya.

Pekalongan adalah cerita. Pada satu titik, ia lebih mendewasakan dari petuah-petuah guru dalam kelasmu mengadu ilmu. Di sinilah tempat saya memendam rasa pada seseorang bertahun-tahun lamanya, dari sekolah ke kuliah, dari doa ke cita, hingga saya lupa kapan terakhir rindu itu mampir. Di sini pulalah tempat saya mengagumi seorang teman lelaki, sampai saya tahu bahwa sahabat saya sendiri juga merasai hal yang sama. Dan saya pikir, beginilah cara Tuhan mengajarkan saya tentang berbagi.

Terlalu banyak penggal-penggal hal yang membuat Pekalongan sangat sayang untuk dianggap lalu. Bagaimana pun, ia menjadi saksi lahirnya manusia-manusia solid seperti Gina-Amel-Dian-Depi-Saul-Anis-Dessy-Nung-Olis yang awet menemani saya hingga kini.

Ditulis untuk Pekalongan, di hari jadinya yang ke-109.