MAKAN BERSAMA

April 20, 2015, by ranafiu


"Zaman dulu, orang-orang tua selalu menyuruh anaknya berwudlu, jika mereka ketahuan buang angin saat sedang makan bersama." Bapak mengawali dialog pagi itu. Tatapan matanya menggantung di langit-langit, sejenak, untuk kemudian kembali menekuni timba kecil yg biasa digunakan untuk ngangsu air.

Di luar mendung. Barangkali inilah yg membuat Bapak mengambil satu topik pembelajaran dari masa lapuk. Doi bercerita bagaimana Mbah Muh -embah saya- menerapkan prinsip yang sama; ketika kentut saat makan, berwudlu-lah, atau minimal, wisuh.

"Kenapa Bapak tidak mengajarkannya pada kami?" Protes saya.

Bagaimana pun, saya selalu haus akan nilai-nilai, wejangan-wejangan, bahkan juga kekangan-kekangan. Selama ini bapak membiarkan kami terlalu bebas dalam berpikir dan berpolah. Mau bagaimana kami menyikapi sebuah peristiwa, bapak tak pernah membatasi. Doi benar-benar melepaskan kami untuk berguru pada semesta. Inilah yg -sering kali- justru membuat saya mendambakan aturan dan paksaan, seperti perkara "dijodohkan", misalnya. Meski untuk yg satu itu, saya tak lagi menghendaki karena terlanjur mengenal kamu.

"Lha wong kita jarang makan bersama." Itu jawaban Bapak. Jawaban yg bikin ngilu. Mak-senit di hati. "Ibukmu makan hanya pas warungnya selo. Mbakyumu, kamu, Rizka, pada masa itu selalu makan sepulang sekolah. Sedang jadwal pulang kalian berbeda-beda. Pun ketika malam, Ibukmu terlalu lelah, dan kalian lebih memilih makan tak terjadwal. Asal lapar. Bapak bisa apa?" Sambung doi kalem.

Saya bungkam.

"Memang begitu, Nduk. Orang-orang dulu pun makan bersama satu keluarga bukan karena terjadwal. Tidak seperti priyayi sekarang yg mengutamakan kebersamaan, orang-orang dulu cenderung mempertimbangkan bagaimana porsi masakan yg sedikit itu bisa cukup dibagi untuk banyak perut. Kalau dahulu makanan berlimpah ruah, mungkin kejadiannya akan sama dengan sekarang; makan sendiri-sendiri."

Ah, Bapak.
Mbesuk, Pak, akan saya biasakan makan bersama keluarga, bahkan kalau perlu, sepiring berdua sama Mas-masnya. Biar bisa praktek wudlu.

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog