PEKALONGAN

PEKALONGAN. Sulit untuk memisahkan Pekalongan dari deret panjang perjalanan hidup saya. Ialah kota kecil di pesisir Jawa Tengah. Kota dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah saling berhimpit yang hanya berbatas satu lapis tembok. Kau bisa membayangkan bagaimana penuh sesaknya perkampungan di sini. Hingga kau dapat mendengar orang-orang bertengkar, bahkan saat tetangga sebelah rumahmu mendengkur di kamar-kamar. Pekalongan memaksa saya untuk belajar ati-ati dalam tutur kata dan lelaku. Satu saja tampak tabu, maka mati reputasimu. Begitulah kira-kira. Di sini berlaku istilah "serigala berbulu domba", dan dalam beberapa hal, suara tetangga jauh lebih berpengaruh dari nasehat orang tua. Tapi, toh itu sisi negatif yang tak perlu banyak ungkit.

Pekalongan adalah tempat saya ditanam, lalu tumbuh, dan mekar seperti sekarang. Ialah kota yang ramah dan bersahaja. Dimana etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa bisa hidup berdampingan mesra. Bagi generasi islami -bagaimana saya menyebutnya?- di pojok-pojok Indonesia, Pekalongan menarik karena julukan "Kota Santri" dan Habib Luthfi-nya. Bagi para budayawan, Pekalongan nyentrik oleh sejarah per-batik-annya. Dan bagi pencinta kuliner, barangkali, Pekalongan memikat hati dengan sajian khas sego megono-nya.

Pekalongan adalah cerita. Pada satu titik, ia lebih mendewasakan dari petuah-petuah guru dalam kelasmu mengadu ilmu. Di sinilah tempat saya memendam rasa pada seseorang bertahun-tahun lamanya, dari sekolah ke kuliah, dari doa ke cita, hingga saya lupa kapan terakhir rindu itu mampir. Di sini pulalah tempat saya mengagumi seorang teman lelaki, sampai saya tahu bahwa sahabat saya sendiri juga merasai hal yang sama. Dan saya pikir, beginilah cara Tuhan mengajarkan saya tentang berbagi.

Terlalu banyak penggal-penggal hal yang membuat Pekalongan sangat sayang untuk dianggap lalu. Bagaimana pun, ia menjadi saksi lahirnya manusia-manusia solid seperti Gina-Amel-Dian-Depi-Saul-Anis-Dessy-Nung-Olis yang awet menemani saya hingga kini.

Ditulis untuk Pekalongan, di hari jadinya yang ke-109.

0 comments:

Posting Komentar