"Ribi, kenopo Ribi pingin ngagem kerudung terus, Nduk?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut saya, setelah beberapa kali saya memotret paras manisnya secara candid.

Petang tadi, saya ajak Ribi muter-muter Pekalongan untuk sekedar menikmati heningnya malam di penghujung bulan Mei. Ehe. Enggak ding. Sebenarnya saya lagi butuh duit, lalu ngajak Ribi nyari ATM buat mbongkar celengan, tapi karena ATM terdekat sedang bermasalah, saya pun terpaksa muter ke arah Hypermart dekat alun-alun kota dan menyadari betapa macetnya Pekalongan di malam Ahad, eh, Minggu. Endingnya, sebagai pajak lelah bagi si endut Ribi, kami mampir ke warung steak di daerah Pringlangu. Tentu saja, saya yang traktir. :|

Ini kali pertama kami keluar berdua dalam situasi yang memang disengaja tanpa embel-embel hak dan kewajiban seperti "njemput sekolah", atau "nganterin les". Dan mungkin nantinya, momen-momen semacam ini akan sering saya ciptakan bersama adik-adik saya. Ini penting. Agar adik-adik saya--dalam setatus ini diwakili oleh Ribi, setidaknya--tahu, ada perkara-perkara yang jauh lebih mudah dipecahkan di luar rumah; dengan duduk ngobrol sambil ngesteh, misalnya, atau sekedar mlaku alon-alon nyawang wong pacaran.

Mendengar pertanyaan saya, Ribi mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar. Menampilkan gigi-giginya yang kecil-rapih, khas anak usia 8 tahun. Duh, manis sekali adik saya ini. Pantas saja Mbakyunya.. ah~ :)

"Mmph, embuh." Ribi menggeleng-gelengkan kepala, masih tersenyum. Embuh (basa jawa) adalah jawaban paling ambigu. Dia bisa bermakna "ketidaktahuan", tapi juga bisa mengisyaratkan bahwa pengucapnya tahu banyak hal, tapi menolak menjawab karena ditakutkan jawabannya akan menimbulkan multitafsir. Ehem.

"Ribi mau kerudungan sampai kapan?" Saya bertanya lagi. Iseng.

"Sampai tua." Jawabnya. Lagi-lagi, dengan tersenyum.

"Kalo nanti ada temen Ribi yang ngajakin buat lepas kerudung, gimana?"

"Yo ndak mauuu."

"Soalnya kenapa?"

"Mmph, embuh."

Kali ini saya ikut tersenyum. Saya memang tidak mengharapkan munculnya jawaban "masyaaAllah" seperti "karena ini perintah Allah, Mbak," atau, "soalnya pakai kerudung itu hukumnya wajib". Tidak. Masih terlalu kecil baginya untuk paham tentang makna wajib-tidak wajib, dan bias-bias permasalahannya. Saya cukup legawa mendapati Ribi mampu berkomitmen dengan dirinya sendiri tanpa banyak pamrih. Itu cukup. Prinsip embuhnya--jika memang berarti ketidaktahuan--akan memicu rasa ingin tahu, lalu membawanya mengarungi lautan ilmu. Dan jika ia (embuh) bermakna "tahu banyak hal", saya harap, akan mampu mengajarinya untuk lebih bijak. Bahwasanya tumpukan pengetahuan bukanlah senjata untuk menghakimi orang.

Sudah, gitu aja. Pagi-pagi jangan ngobrolin yang berat-berat.

Pekalongan, 31 Mei 2015
Sore itu, di sela-sela tumpukan tugas keperawatan, di antara berisik kertas yang menari-nari minta perhatian, kami bertiga berdialog mesra.

Mbak Mufi bercerita, ada seorang lelaki yang mengajaknya berkenalan via pesan teks, tapi tak ditanggapinya benar-benar. Dia mengaku sedang tidak mood untuk menerima pertemanan baru yang sejak awal sua sudah merujuk ke arah 'sana'. Tahu kan maksud saya?
Mendengar itu, Mbak Risa -yang sudah lebih senior dari kami- angkat suara.

"Jangan gitu, Muf. Dulu aku sama suamiku juga awal kenalannya lewat SMS." Katanya sambil menulis laporan. Kemudian berkisah, beberapa tahun yang lalu ketika usianya masih 24 (ehem, kalo saya sih 23, Mas. Pas kan, pas? :v), sederet nomor asing masuk ke inbox ponselnya. Ketika ditanya, si empunya nomor bilang dia mendapat nomor Mbak Risa dari temannya yang lain. Mbak Risa pun segera mengonfirmasi pernyataan itu pada teman yang bersangkutan. Dan ternyata memang benar.

"Memang temenku itu yang ngasih nomer ke dia." Terang Mbak Risa lugas. "Kalo aku sih mikirnya: oh, berarti orangnya jujur. Dan itu cukup untuk modal awal berkenalan." Lanjutnya.
Sepertinya dia ingin mengatakan pada Mbak Mufi: Muf, gak harus berawal dari tatap muka kok untuk bisa 'serius'. Uhuk! Saya yang batuk.
Kisah berlanjut. Tiga bulan setelah hadirnya nomor asing itu, acara lamaran digelar. Secepat itu, pemirsah! 'O'

"Lho, nunggu apa lagi? Dianya memang mau cari istri, akunya juga pada kondisi yang siap-siap aja, ya udah." Mbak Risa merespon keterkejutan saya dengan santai.

"Apa yang membuat Mbak Risa yakin?" Mbak Mufi bertanya lembut. Tampaknya ia mulai lupa pada lelaki yang mengajaknya berkenalan. Huehue.

"Aku cari tahu soal dia. Dan dari temenku itu aku tahu bahwa dia sudah yatim sejak kecil, terus sejak SMP dia sudah bantu ibunya jualan molen." Jawab Mbak Risa. "Yang aku suka adalah, dia pekerja keras. Terbiasa hidup apa anane. Dan tipe lelaki yang mau diajak mbangun rumah tangga bareng-bareng. Aku memang maunya yang gitu."

Kami manggut-manggut mendengarkan. Merasai hangatnya senja dengan menerka-nerka seperti apa nikmatnya berumah tangga. *alah

"Mungkin memang begitu ya," Suara Mbak Mufi membuyarkan lamunan saya tentang rumah dan tangga. "Setiap orang akan mendapatkan apa yang dicarinya. Mbak Risa yang tipenya seperti itu, ndilalah ketemu suami yang 'sama'. Mbak Wilda (teman nguli kami yang lain) yang begitu 'ngabdi', juga ndilalah dapet laki-laki yang berprinsip bahwa 'suami itu ya kepala keluarga'. Jadi pas." Jelasnya panjang lebar.

Saya terhenyak.
Kalimat Mbak Mufi barusan mengingatkan saya pada salah satu sajak Mawlana Rumi yang berbunyi: What you seek, is seeking you.
Apa yang kamu cari, sejatinya juga sedang mencarimu ~
Dan hidup sendiri sesungguhnya adalah tentang mencari dan menemukan. Maka tak heran jika manusia akan selalu cari-mencari. Temu-menemukan. Mereka, yang mengudara pada satu frekuensi akan lebih mungkin untuk bertemu, merajut dialog, lalu berjalan beriringan menuju titik-titik paling inti di seluruh jagad.

"Kalo kamu carinya yang gimana, Up?"

Gleg. Mbak Mufi iseng melempar pertanyaan itu. Saya pun hanya bisa ngguyu. Dalam hati berkata, "ya yang kayak Mas-Mas itu." *O*

Pekalongan, di kala cerah.