CARI MENCARI SAJAK RUMI

Mei 12, 2015, by ranafiu

Sore itu, di sela-sela tumpukan tugas keperawatan, di antara berisik kertas yang menari-nari minta perhatian, kami bertiga berdialog mesra.

Mbak Mufi bercerita, ada seorang lelaki yang mengajaknya berkenalan via pesan teks, tapi tak ditanggapinya benar-benar. Dia mengaku sedang tidak mood untuk menerima pertemanan baru yang sejak awal sua sudah merujuk ke arah 'sana'. Tahu kan maksud saya?
Mendengar itu, Mbak Risa -yang sudah lebih senior dari kami- angkat suara.

"Jangan gitu, Muf. Dulu aku sama suamiku juga awal kenalannya lewat SMS." Katanya sambil menulis laporan. Kemudian berkisah, beberapa tahun yang lalu ketika usianya masih 24 (ehem, kalo saya sih 23, Mas. Pas kan, pas? :v), sederet nomor asing masuk ke inbox ponselnya. Ketika ditanya, si empunya nomor bilang dia mendapat nomor Mbak Risa dari temannya yang lain. Mbak Risa pun segera mengonfirmasi pernyataan itu pada teman yang bersangkutan. Dan ternyata memang benar.

"Memang temenku itu yang ngasih nomer ke dia." Terang Mbak Risa lugas. "Kalo aku sih mikirnya: oh, berarti orangnya jujur. Dan itu cukup untuk modal awal berkenalan." Lanjutnya.
Sepertinya dia ingin mengatakan pada Mbak Mufi: Muf, gak harus berawal dari tatap muka kok untuk bisa 'serius'. Uhuk! Saya yang batuk.
Kisah berlanjut. Tiga bulan setelah hadirnya nomor asing itu, acara lamaran digelar. Secepat itu, pemirsah! 'O'

"Lho, nunggu apa lagi? Dianya memang mau cari istri, akunya juga pada kondisi yang siap-siap aja, ya udah." Mbak Risa merespon keterkejutan saya dengan santai.

"Apa yang membuat Mbak Risa yakin?" Mbak Mufi bertanya lembut. Tampaknya ia mulai lupa pada lelaki yang mengajaknya berkenalan. Huehue.

"Aku cari tahu soal dia. Dan dari temenku itu aku tahu bahwa dia sudah yatim sejak kecil, terus sejak SMP dia sudah bantu ibunya jualan molen." Jawab Mbak Risa. "Yang aku suka adalah, dia pekerja keras. Terbiasa hidup apa anane. Dan tipe lelaki yang mau diajak mbangun rumah tangga bareng-bareng. Aku memang maunya yang gitu."

Kami manggut-manggut mendengarkan. Merasai hangatnya senja dengan menerka-nerka seperti apa nikmatnya berumah tangga. *alah

"Mungkin memang begitu ya," Suara Mbak Mufi membuyarkan lamunan saya tentang rumah dan tangga. "Setiap orang akan mendapatkan apa yang dicarinya. Mbak Risa yang tipenya seperti itu, ndilalah ketemu suami yang 'sama'. Mbak Wilda (teman nguli kami yang lain) yang begitu 'ngabdi', juga ndilalah dapet laki-laki yang berprinsip bahwa 'suami itu ya kepala keluarga'. Jadi pas." Jelasnya panjang lebar.

Saya terhenyak.
Kalimat Mbak Mufi barusan mengingatkan saya pada salah satu sajak Mawlana Rumi yang berbunyi: What you seek, is seeking you.
Apa yang kamu cari, sejatinya juga sedang mencarimu ~
Dan hidup sendiri sesungguhnya adalah tentang mencari dan menemukan. Maka tak heran jika manusia akan selalu cari-mencari. Temu-menemukan. Mereka, yang mengudara pada satu frekuensi akan lebih mungkin untuk bertemu, merajut dialog, lalu berjalan beriringan menuju titik-titik paling inti di seluruh jagad.

"Kalo kamu carinya yang gimana, Up?"

Gleg. Mbak Mufi iseng melempar pertanyaan itu. Saya pun hanya bisa ngguyu. Dalam hati berkata, "ya yang kayak Mas-Mas itu." *O*

Pekalongan, di kala cerah.

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog