Bertauhid itu nggak gampang. Dia bukan cuma perkara menunggalkan Tuhan. Lha, buat apa menunggalkan Tuhan? Wong Tuhan memang sudah Tunggal.

Bertauhid itu tentang bagaimana kita mengelola asa, mengatur degup jantung, hela napas, potongan-potongan peristiwa, dan segala sistem hidup yang carut-marut ini, hanya untuk dan menuju Yang Tunggal.

Dan itu--sekali lagi--nggak gampang.
Shollu 'alaa Kanjeng Nabi ~
Islam Nusantara, ya?

Saya sedang khusyuk nggelosor di bangku panjang di teras rumah Embah, ketika orang-orang itu mulai geger soal Islam Nusantara. Ada yang nyinyir, ada yang membela. Ada yang beristri, ada pula yang masih jaka. Saya jadi bingung mau pilih yang mana. Akhirnya saya memutuskan untuk berpuasa dulu sementara waktu. *eh

Sebenarnya, istilah Islam Nusantara ini sudah ada sejak lama, bertahun-tahun silam. Tapi menjadi sangat heboh diperbincangkan ketika My Lovely President Jokowi--yang sering kalian sindir itu--mengucapkannya pada pembukaan Munas Ulama PBNU, seminggu yang lalu. Dan menjadi semakin seru untuk diperdebatkan setelah NU terang-terangan menjadikan wacana "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia" sebagai tema pada Muktamar ke-33 di Jombang nanti.

Sebagai generasi moderat garis lucu, tentu saya menganggap ide ini keren sekali. Wah, Islam Nusantara. Easy listening banget, ya! Apalagi kalo bisa mendunia.

Tapi, tentu saja, moderat bukanlah satu-satunya faham yang tertancap di tanah ini. Dan saya bukanlah satu-satunya manusia yang hidup di negeri yang gemah-ripah-loh-jinawi ini. Maka seandainya ada dari kita yang protes soal penamaan Islam Nusantara, tak sependapat dengan pengusungan ide ini ke ranah global, itu wajar.

Selama ini, sependek jumlah artikel yang saya baca--guna mengusir kegalauan akibat njomblo--di media onlen, kampanye Islam Nusantara hanya ngobrolin soal Islam ala Nusantara; ialah Islam yang ramah, yang toleran, yang mengakar pada kebudayaan-kebudayaan lokal (khas Walisongo); tanpa menunjukkan Walisongo itu ngikut siapa. Padahal, kalo dirunut ke belakang, sumbernya dari Arab juga. Menurut risalahnya K. H. Hasyim Asyari, NU itu fiqhnya ikut 4 madzhab, aqidahnya ikut Imam Asyari dan al-Maturidi, tasawufnya ikut Imam Ghazali dan Junaidi al-Baghdadi. Nah, ini yang juga diikuti Walisongo, kan? Dari Arab semua, kan?

Seharusnya mereka bisa menunjukkan, bahwa dulu, di Arab sana juga ada Islam yang ramah itu, yang inklusif itu. Hanya saja, Arab yang sekarang lebih menganut islamnya Ibnu Taimiyah - Ibnu Wahab - Abdullah bin Baz - Hasan Albana - Taqiyyuddin, yang setelah melewati beberapa generasi menjadi semakin 'keras' dan intoleran. Sayang sekali kampanye tentang Islam Nusantara tidak menyinggung soal itu. Jadi wajar jika yang islamnya PKS--eh IM, HTI, dan Wahabi gak bisa terima. Malah bisa meng-counter dengan mudah--meski tidak masuk akal; bahwa ini adalah agenda 'devide et impera' ala Mamarika, propaganda Wahyudi, dan sebagainya. Bahkan ada yang sibuk menuduh Islam Nusantara ini sebagai wacana yang membuat 'Islam' dipandang sebagai konflik, bukan solusi. Duh, duh. Saya kok jadi laper, Mas.

***

Tulisan kali ini tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Saya memang sedang tidak ingin menyimpulkan apa-apa. Apakah saya full-pro, atau mid-kontra, biarlah itu menjadi rahasia antara saya dengan Tuhan. *dialog khas sinetron reliji
Lha wong hubungan antardua insan saja kadang ada yang nggantung tak berkesimpulan, apalagi cuma analisis kelas kroco macam ini. Ya, kan, Mas?

Pekalongan, 22 Juni 2015
Saya sedang membaca kumpulan tulisan Cak Nun dalam buku "Sedang Tuhan pun Cemburu", ketika kemudian saya ingin melamun.

Pernahkah kamu merasa cemburu, Dik? Pada manusia-manusia di sana, mungkin? Atau pada paku yang tertancap di tembok rumahmu, tempat kamu menggantungkan bingkai foto keluarga dan rupa-rupa hiasan? Juga paku yang dipukul-pukul palu demi menguatkan kursi yang akan kamu duduki? Pernahkah?

Cemburu, kamu tahu, adalah semacam ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dirasa dimilikinya. Saya tidak mengatakan cemburu adalah manusiawi, jika itu hanya akan menggiring opini publik ke satu anggapan bahwa saya sedang menggugat pihak penerbit yang--melalui judul buku ini--berusaha menautkan sifat-sifat makhluk di belakang nama Tuhan. Harrah! Berat, Dik. Otak saya nggak nyampe ke situ.

Saya hanya ingin mengatakan, ini buku bagus. Cak Nun, saya kira, sedang mencoba menyampaikan bahwa akhir-akhir ini Tuhan sering dibuat cemburu oleh manusia. Sebab banyak di antara kita, sadar atau tidak, telah menyekutukan-Nya dengan berlomba-lomba menjadi tuhan atas sesama.

Pekalongan, 11 Juni 2015

Nak, di sini di rumah sakit, kamu akan melihat bahwa keromantisan bukan hanya milik sepasang kekasih, tetapi juga milik bapak mertua yang sabar merawat mantu wedoknya saat sang suami tengah pergi mencari biaya.

Nak, di sini di rumah sakit, kamu bisa melihat bahwa keindahan juga ada pada raut muka lelah seorang lelaki tua yang duduk menunggu di dekat ranjang istrinya, dalam lara yang mengiringi pasca operasi pengangkatan rahim.

Nak, di sini di rumah sakit, kamu akan tahu bahwa kriminalis, pelacur, anak yang durhaka pada orang tuanya; golongan-golongan yang kamu anggap hina itu, termasuk bayi-bayi yang lahir dari perbuatan zina sekalipun, berhak hidup.

Karena, Nak, di sini di rumah sakit, Tuhan dan manusia sungguh begitu dekat.

~

*dibuat sepulang shift malam, terilhami dari salah satu setatus Gus Haibani Ebidzar