Saya menduga, menjadi pemimpin adalah sebuah kutukan--setidaknya, bagi keluarga kami. Sudah terlampau sering Mbak Liya terpilih menjadi ketua kelas baik di SMP maupun SMK. Arizka, adik pas saya, tak tanggung-tanggung lagi, menjadi ketua organisasi semasa SMA. Dan beberapa minggu yang lalu, dia melapor bahwa dirinya ditunjuk sebagai koordinator umum dalam kepanitiaan suatu program KKN angkatannya. Saya sendiri, ehem, pernah sekali menjadi ketua kelas, dan sekali menjadi ketua organisasi--meskipun payah. Heuheu :3
Mbak Liya, saya, dan Rizka sudah mendapatkan bagiannya: melakoni peran kutukan sebagai pemimpin. Bisa jadi, setelah ini adalah giliran Aribi.
Dan.. memang inilah giliran Aribi.

***

Pada kenaikan kelas sekitar sebulan yang lalu, saya dapat laporan dari Bapak bahwa Aribi Haqori--adik saya yang berat badannya sama dengan berat badan saya--terpilih jadi ketua kelas. Saya syok. Aribi, manusia paling pantas dibully sejagad semesta itu, yang menghabiskan sebungkus soffell untuk dirinya sendiri setiap malam--saking lebarnya badan, jadi ketua di Kelas 3 Madina! Oho!
Tentu saya tidak begitu saja percaya. Zaman sekarang lho, musti teliti, jangan mudah termakan media. *eh 

Maka ketika ada kesempatan, segera saya tabayyun ke sekolah Ribi. Saya interview teman-teman sekelasnya. Kemudian tahu, adik saya itu memang jadi orang nomor satu. Duh, saya terharu.
Ribi terpilih menjadi ketua kelas melalui jalur voting. Namanya muncul dalam usulan daftar calon setelah (ternyata) pada periode sebelumnya dia menjabat sebagai wakil ketua kelas. Wew. Dia mengalahkan tiga calon lain dengan kemenangan telak: 22 suara diraihnya. Sementara Danu, mantan ketua kelas pada periode sebelumnya, hanya mendapat 10 suara, Akbar 9 suara, dan Salwa 3 suara. 

Kan, gila! Apa yang membuat Ribi begitu digandrungi para pengikutnya?

Kalau kalian pernah bertemu langsung dengan Ribi, barangkali akan sependapat dengan saya. Bahwa anak itu sama sekali tidak memiliki kharisma seorang pemimpin. Dia tumbuh menjadi pribadi yang cuek, tampak tidak mampu mendominasi kelompok, dan, tentu saja, gendut. Di kelas pun, sependek yang saya amati, dia lebih sering jadi korban bully-an dari pada disegani. Auranya adalah aura untuk dibully. Saya pribadi, jujur saja, setiap kali melihat wajahnya selalu ingin menghina.

"Aku milihnya Aribi, Mbak!" Teriak seorang anak laki-laki bernama Sinji. Dia adalah teman sekelas Ribi yang paling iseng yang saya tahu.

"Kenapa kok milih Ribi?" Tanya saya kalem. Saya mah gitu, kalo sama anak cowok pasti jadi kalem.

"Soalnya biar Aribi jadi kurus." Jawabnya keras. "Kan, Aribi itu gendut. Paling gendut di sekolah. Nah, kalo jadi ketua kelas kan capek. Mondar-mandir, disuruh ini disuruh itu, capek. Trus, jadi kurus deh." Selorohnya, lalu tertawa puas. "Hahahahha..."

Di sampingnya, Ribi merengek, "Tuh kan Mbaaak. Temen-temen itu senengnya ngeledekin aku." Katanya manyun.

Saya mendekati Sinji, lalu bertanya pelan, "Heh, Sinji, kamu sama temen-temenmu itu kok doyan sekali sih ngeledekin Aribi?"

Sinji, bocah tengil yang sebenarnya manis itu, menjawab dengan setengah berbisik, seakan-akan takut suaranya didengar Ribi.

"Soalnya, Aribi itu nggak pernah marah. Nggak kayak yang lain, diledek dikit langsung ngambek. Gak asik. Aribi juga nggak suka maksa-maksa orang, makanya banyak yang seneng temenan sama dia. Trus milih dia jadi ketua deh." Sinji mengakhiri ocehannya dengan senyum lebar yang menampakkan deret panjang gigi jagungnya.

Saya termangu. 

Di balik segala macam kalimat bully-an yang dilontarkan kepadanya, Ribi telah menentukan sikap: stay calm, satu sikap yang--kelak--justru menjadi kekuatannya untuk merangkul setiap golongan. Dan sore ini, saya kembali belajar.

Saya kira kepemimpinan dengan otot pada satu masa sangat berarti, tetapi kini yang berarti adalah merangkul orang.  - Mohands K. Gandhi


Pekalongan, Agustus 2015
Di antara sekian banyak profesi yang saya cita-citakan sejak kecil, menjadi guru TK adalah satu yang paling awet saya pendam. Profesi itulah yang saya sebut ketika pertama kali ditanya, "Cita-citamu apa?" dulu, pas lagi unyu-unyunya. Kalo sekarang sih, jadi ibuknya anak-anakmu sajalah, Mas.
Sampai menginjak usia SD, hingga SMP, bahkan menjelang kelulusan SMA, menjadi guru TK tetap masuk ke daftar impian, bersanding dengan ragam mimpi lain seperti jurnalis, designer, dan kryptografer. 

Tapi sayang, saya gagal melakoninya.

"Gapapa, Up, yang penting kamu nggak gagal mendapatkan cinta saya."
Eh, Mas! Kamu kok.. :*

Saya mengikuti UM-PTN di jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia melalui jalur bidik misi tahun 2010, dan failed. Di titik inilah, saya mulai menata kembali hati yang telah remuk-lebur oleh pupusnya asa. Sebab, kamu tahu, seringkali kita perlu mengesampingkan ambisi untuk sekedar berdamai dengan realita. *halah

Sejak saat itu, entah bagaimana, saya nyaris lupa bahwa saya pernah begitu ingin menjadi guru TK.
Sampai bertahun-tahun kemudian, lahirlah Aufa, dan tiba waktunya dia masuk TK. Duh, Mas. Setiap mengantar Aufa, setiap melihat guru-guru dari adik mbontot saya itu, saya selalu merasakan getaran CLBK. Seakan-akan dia adalah gebetan masa lalu yang gagal saya pacari, tapi masih meninggalkan jejak penasaran hingga kini. Eheu.

Bagi saya, guru TK adalah manusia-manusia pilihan. Sebab tidak sembarang orang bisa melakoni itu. Jika wanita, maka dia adalah wanita yang penyabar--atau minimal, terlatih untuk bersabar--lembut perangainya, dan penuh kasih sayang. Betapa sempurnanya. Andai saya jadi guru TK dengan segala sifat malaikatnya itu, mungkin saya hanya perlu melatih skill bergaul saya dan membumbuinya dengan keterampilan menggombal, lalu, uh! Lelaki mana yang tak kendor hatinya? Huahahahahaa
Tapi, Tuhan memang Maha Cantik. Alih-alih meridloi saya untuk tampil sebagai guru TK, Dia malah menjadikan saya seorang--ehem--bidan. Yang tanpa saya pernah duga sebelumnya, justru profesi inilah yang digandrungi para calon mertua di Indonesia. Ngoahahahahaa! :v

Wis, ah. Kayaknya saya perlu banyak-banyak istighfar dan nyolawat, biar sadar. :3 :v

Pekalongan, 10 Agustus 2015

"Pak, Bapak pernah gak sih merasa bosan dengan rutinitas? Dengan hal-hal yang sama setiap harinya?" Saya bertanya pada Bapak, ketika pagi ini kami kembali dipertemukan dalam hening yang mengoyak pikiran. *heleh

Sudah lebih satu bulan kami tidak intens berinteraksi. Tutupnya warung pecel Ibuk selama Romadlon membuat kami kehilangan momen-momen mesra yang selalu tercipta di pawon rumah. Tidak adanya kompor yang menyala, juga bunyi letupan minyak yang mendidih dalam penggorengan, sama artinya dengan tidak ada obrolan, dan petuah-petuah menyejukkan dari seorang bapak yang tampan. Sepanjang Romadlon, bapak akan selalu tampak sibuk dengan mesin jahitnya, sementara saya tidak menemukan aktivitas lain selain asik nggombalin jomblo di sosial media. Jadi wajar jika kami jarang bersua, lalu jiwa saya ini mengering karenanya.

Tapi tapi tapi, Syawal bersambut, segala sesuatunya telah kembali. Kami berdua kini ngobrol lagi, dan namamu, Mas, sudah tersemat dalam hati. *eh

"Yo mestine bosen." Jawab Bapak kalem. Sejenak menatap saya, untuk kemudian memalingkan pandangan ke satu titik di atas tumpukan cucian kotor. "Tapi piye maneh. Wis dadi syarat." Lanjutnya lugas.
"Hm?" Saya merespon dengan agak bingung. "Syarat?"
"Syarat urip, Nduk." Tegasnya. Dan jawaban Bapak itu membuat saya kembali menghening. "Wong urip iku nduweni beban, nduweni tanggungan. Dan itu sudah syarat. Saben dino Bapak tangi isuk, nemenin Ibukmu ke pasar, ngumbahi, kadang mbecak, lanjut njahit sampe larut, tangi isuk maneh, pasar maneh. Bosen? Yo bosen. Tapi nek orak ngunu, sing arep nguripi adhi-adhimu iku sopo?"

Saya menelan ludah.
Saat itu juga saya merasa Bapak semakin tampan, hingga ingin sekali rasanya saya menyanyikan lagu 'Titip Rindu buat Ayah' di depan doi. Meski hanya satu baris:
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa ~
Tapi saya sadar betapa falesnya suara saya, maka itu saya memilih bungkam.

"Pak.."

"Hmm?"

"Kalo sama Ibuk, Bapak pernah bosen gak?"

Bapak mendongak, seperti kaget mendapat pertanyaan semacam itu, lalu menatap saya agak lama. Doi pun tersenyum simpul. Bibirnya bergerak hendak menjawab tepat ketika--mendadak--Ibuk muncul dari balik pintu dapur. Gleg! Kami pun membisu seketika.

"Habis ini nggoreng tempe ya, Na." Ibuk berkata pada saya.

"Nggih, Buk."

Saya melirik Bapak, yang juga masih menatap saya. Kami tersenyum bersamaan. Menyadari bahwa jawaban dari pertanyaan terakhir masih misteri. Mungkin sama misterinya dengan akhir hubungan cinta dua remaja. :v