BOSAN

Agustus 01, 2015, by ranafiu


"Pak, Bapak pernah gak sih merasa bosan dengan rutinitas? Dengan hal-hal yang sama setiap harinya?" Saya bertanya pada Bapak, ketika pagi ini kami kembali dipertemukan dalam hening yang mengoyak pikiran. *heleh

Sudah lebih satu bulan kami tidak intens berinteraksi. Tutupnya warung pecel Ibuk selama Romadlon membuat kami kehilangan momen-momen mesra yang selalu tercipta di pawon rumah. Tidak adanya kompor yang menyala, juga bunyi letupan minyak yang mendidih dalam penggorengan, sama artinya dengan tidak ada obrolan, dan petuah-petuah menyejukkan dari seorang bapak yang tampan. Sepanjang Romadlon, bapak akan selalu tampak sibuk dengan mesin jahitnya, sementara saya tidak menemukan aktivitas lain selain asik nggombalin jomblo di sosial media. Jadi wajar jika kami jarang bersua, lalu jiwa saya ini mengering karenanya.

Tapi tapi tapi, Syawal bersambut, segala sesuatunya telah kembali. Kami berdua kini ngobrol lagi, dan namamu, Mas, sudah tersemat dalam hati. *eh

"Yo mestine bosen." Jawab Bapak kalem. Sejenak menatap saya, untuk kemudian memalingkan pandangan ke satu titik di atas tumpukan cucian kotor. "Tapi piye maneh. Wis dadi syarat." Lanjutnya lugas.
"Hm?" Saya merespon dengan agak bingung. "Syarat?"
"Syarat urip, Nduk." Tegasnya. Dan jawaban Bapak itu membuat saya kembali menghening. "Wong urip iku nduweni beban, nduweni tanggungan. Dan itu sudah syarat. Saben dino Bapak tangi isuk, nemenin Ibukmu ke pasar, ngumbahi, kadang mbecak, lanjut njahit sampe larut, tangi isuk maneh, pasar maneh. Bosen? Yo bosen. Tapi nek orak ngunu, sing arep nguripi adhi-adhimu iku sopo?"

Saya menelan ludah.
Saat itu juga saya merasa Bapak semakin tampan, hingga ingin sekali rasanya saya menyanyikan lagu 'Titip Rindu buat Ayah' di depan doi. Meski hanya satu baris:
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa ~
Tapi saya sadar betapa falesnya suara saya, maka itu saya memilih bungkam.

"Pak.."

"Hmm?"

"Kalo sama Ibuk, Bapak pernah bosen gak?"

Bapak mendongak, seperti kaget mendapat pertanyaan semacam itu, lalu menatap saya agak lama. Doi pun tersenyum simpul. Bibirnya bergerak hendak menjawab tepat ketika--mendadak--Ibuk muncul dari balik pintu dapur. Gleg! Kami pun membisu seketika.

"Habis ini nggoreng tempe ya, Na." Ibuk berkata pada saya.

"Nggih, Buk."

Saya melirik Bapak, yang juga masih menatap saya. Kami tersenyum bersamaan. Menyadari bahwa jawaban dari pertanyaan terakhir masih misteri. Mungkin sama misterinya dengan akhir hubungan cinta dua remaja. :v

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog