SETAHUN PEMERINTAHAN JOKOWI, SETAHUN LEBIH USIA PERTENGKARAN KITA



Kalau ada bencana perang paling berpengaruh, yang memiliki dampak buruk bagi stabilitas pertemanan di Indonesia, dan meninggalkan sisa-sisa pertikaian berkepanjangan, maka Kampanye Pilpres 2014 lah jawabannya.

Kampanye kala itu sukses membagi citra masyarakat Islam dalam dua kubu besar yang berseberangan, katakanlah: Abangan-Liberal melawan Militan. Dan berhasil mempersempit eksistensi perorangan menjadi dua kelompok abstrak: yang suka mainan boneka, dengan yang hobi naik kuda bawa senjata. Heuheu. :3

Sudah beberapa kali akun ini mengalami pemblokiran tanpa izin, juga peng-unfriend-an sepihak yang, ajaibnya, tidak hanya dilakukan oleh "sebatas teman sosmed", tapi juga dia-dia-dia yang adalah teman kongkow semasa SMA. Betapa bangke-nya.

Kenyataan menjadi lebih memilukan ketika tanpa sadar kita berdua (iya, kita) ikut larut dalam gelombang peperangan itu. Sampai lupa diri, sampai tahu-tahu kita sudah berdiri di dua sisi yang berbeda. Ini membuat obrolan mesra kita via sms tak berarti apa-apa ketika kita memilih adu argumen di sosial media. Ah, kamu.. kamu tentu tahu bagaimana sensitifnya periode itu. Begitu sensitif, hingga kita kesulitan membedakan mana kita yang sedang bermusuhan dan mana kita yang sedang ingin mesra-mesraan. Lalu pada suatu khilaf, kita menciptakan atmosfer peperangan itu dalam obrolan pribadi. Dan bom waktu pun meledak.

Kita menjelma menjadi dua pribadi yang asing, juga mengasingkan. Sampai Jokowi resmi dilantik menjadi presiden, sampai kabinetnya mengalami reshuffle kepemimpinan hampir setahun kemudian, bahkan sampai kini semuanya menjadi serba ngambang; penyuka boneka disuruh latihan militer untuk bela negara, dan orang-orang yang katanya liberal justru semakin militan terhadap kelompok yang menjadi basis pergerakannya; kita tak juga baikan.

Sangat disayangkan, meski tak benar-benar menyesali. Lha gimana, wong wis kadung. :v
Perdebatan panjang waktu itu telah membuka tabir pemikiran kita yang paling dasar, dan menyadarkan kita tentang perbedaan yang membentang luas. Dari situ lah, barangkali, kita memaklumi bahwa kita ndak jodoh. Ihik! :v

Sudah lebih satu tahun. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kamu ndak rindu? Saat-saat di mana kita masih bersama, saling sapa, dan selalu ingin menjadi yang lebih dulu mengucapkan "Selamat pagi, kamu!"

Andai besok kita ketemu, ingin sekali rasanya bilang, "Ternyata move on itu nggak sulit-sulit amat." :')

Pekalongan, ditulis dengan sayang.

0 comments:

Posting Komentar