Jam pelajaran telah usai. Kelas dibubarkan. Anak-anak usia 4-5 tahun itu berhamburan keluar dari kelas. Khafid, salah satu teman sekelas Aufa, berlari menghampiri ibunya. Dia menarik-narik bagian bawah kaos ibunya tanda minta perhatian, kemudian bertanya penuh semangat, "Buk, Buk, kok doa sholatnya beda sama yang dulu di sekolah PAUD?"

Yang dimaksud doa sholat adalah bacaan iftitah. Anak-anak di kelas B2 baru saja mempraktekkan tata cara sholat fardlu, tentu dengan metode skip-skip di banyak bagian; seperti wadlu dengan air mengalir, pakai mukena (bagi anak perempuan) dan peci plus sarung (bagi anak laki-laki), serta menggelar sajadah. Biarlah itu dilakukan nanti, sebab intisari dari pelajaran siang ini ada pada kerapihan shof, pelafadzan doa, dan gerakan-gerakan. Itu saja.

Mbak Nur, ibu dari bocah bernama Khafid itu melirik saya yang--meskipun tidak ada Mas-Mas Ganteng dan Bapak Muda Harapan Bangsa, tetap bisa--tersenyum. 

"Sama saja." Jawabnya. "Dua-duanya sama. Terserah kamu mau pakai yang mana." Dia menjelaskan pada Khafid dengan gestur keibuan--sesuatu yang bikin saya ngiri. Sampai saat ini saya masih stuck di level kegadisan, bahkan lebih parah lagi, kesendirian. *ngusap mata yang tetiba basah

Khafid manggut-manggut, tanda bahwa dia mendengarkan jawaban ibunya, alih-alih mengerti. Kelak di kemudian hari, Mbak Nur dan saya tahu, Khafid menggunakan dua bacaan iftitah dalam satu kali rokaat sholat.

"Fid, kalau seperti itu ya sholatmu bakalan lama." Mbak Nur menasehati anak sulungnya.

"Pakai salah satu saja, yang kamu sreg." 

Duh, Mbak. Anak TK kok sudah diberitahu tentang konsep "sreg". Saya yang setua ini saja masih ragu mana yang sebenarnya bikin sreg. :'v

"Soalnya aku bingung, Buk." Ujar Khafid agak keras. Saya hanya tersenyum.

Bingung, katanya. Suatu perasaan yang--saya yakin--tidak akan dialami Aufa dalam konteks yang sama. Sebab ke depan, sama seperti saya, Aufa akan diarahkan untuk tidak menemui dua iftitah berbeda.

"Yang bener itu yang mana sih, Buk?" Khafid kembali bertanya.

Kita potong sampai di sini.
Lalu izinkan saya yang menjawab: Dua-duanya benar, Khafid sayang. Kamu pakai yang A, ataukah yang B, sama saja. Yang salah adalah ketika si A mengklaim sebagai yang paling benar, lalu menganggap salah si B, dan memaksa semua orang untuk mengikuti pilihan si A. Juga sebaliknya. Yang terpenting itu bukan lewat jalan mana, tetapi dari mana dan ke mana arah-tujuannya.
Setelah ini, mungkin saya hanya perlu menerbitkan buku, atau minimal, mengunggah video ceramah saya ke yutub, kemudian orang-orang latah itu akan memanggil saya dengan sebutan Ustadzah.

Pekalongan, 15 Desember 2015
Setiap kali mengikuti kegiatan di sekolah, selalu ada moment di mana Aufa akan menunjukkan muka nelangsanya. Dia tampak sangat tidak nyaman, tidak legawa, dan ini--tentu saja--bikin dada saya terasa sesak. Duh, Ndhuk, kamu kenapa? :'|

***

Saya pikir, Aufa akan tumbuh menjadi apa yang selama ini saya ekspektasikan dalam beberapa postingan. Kemampuan bersosialisasinya yang cukup baik di lingkungan rumah, juga perkembangan motorik halus dan motorik kasarnya yang meningkat pesat menjelang usia sekolah, membuat saya mantap melepasnya ke ranah TK meski usianya belum genap di angka lima. Saya percaya diri dan yakin bahwa si mbontot ini akan menjadi--minimal--rembulan di dalam kelas; yang hanya satu, dan cahayanya begitu mendamaikan. *alah

Saya tidak menargetkan Aufa menjadi anak super pintar, yang bisa menjawab semua tanya dengan benar, seperti yang dipropagandakan oleh iklan-iklan susu itchuuu. Tidak, itu bukan tujuan. Lha wong Mbakyunya saja ndak pintar-pintar amat kok, masa mau maksa-maksa adiknya. *ihik!
Saya hanya ingin Aufa belajar mengenali lingkungan barunya, merancang taktik, pelan-pelan mendoktrin teman-teman sekolahnya dengan pemikiran hebat yang sering kami diskusikan berdua, lalu menutup rentetan misi ini dengan satu langkah jitu: menghancurkan sistem pemerintahan pancasilais kafir! Ngoahahahahaha~

Ada yang salah, saya rasa. Awal pertama Aufa mendatangi sekolahnya setengah tahun yang lalu, dia tampak baik-baik saja. Excited dengan hingar-bingar suasana bermain yang ramai dan mengasyikkan. Bahkan pada hari pertama, dia langsung mendapat teman baru saat bermain puzzle di pojok kelas.

Tetapi kemudian.. hari berganti hari, dan dia mulai terlihat loyo.

Sering sekali saya mendapati Aufa keluar dari kelas saat kegiatan belajar (entah itu mewarnai, menggunting, maupun mencocokkan gambar dengan angka) berlangsung, lalu dengan santainya menghampiri ayunan dan duduk anteng-menyayun-ayun di sana. Dia hiraukan gurunya yang memanggil-manggil dari luar kelas. Kalau sudah begini, biasanya beberapa wali murid akan menegur saya, "Mbak Fina, itu Aufanya keluar kelas." Dan saya akan meresponnya dengan senyum dan anggukan sekedarnya. Tanpa aksi apa-apa; tidak berteriak memanggil Aufa, apalagi bergegas bangkit untuk menjewernya. Saya memandanginya saja dari jauh.
Saya tahu.. adik saya itu hanya sedang bosan.

***

Aufa adalah tipe anak yang senang menikmati proses, alih-alih hasil. Dia bisa mengerjakan sesuatu dengan tempo yang sangat lama tanpa merasa terbebani. Saat bermain lego, misalnya. Qea, sepupu kami yang kelas 2 SD, menyusun balok-balok lego menjadi sebuah gerbang istana yang megah, jika dirasa hasilnya kurang memuaskan, dia akan segera memperbaikinya, dan masih akan terus bergerak sampai gerbang itu menjadi sempurna. Lalu, berhenti. Sudah, pekerjaannya selesai. Tetapi, Aufa berbeda. Dia akan membuat kereta api pada mulanya, kemudian--tanpa menilai apakah keretanya sudah terbentuk sempurna atau belum--dibongkarnya susunan lego itu dan membuat mobil, lalu kembali dibongkar dan membuat robot pangeran, dibongkar lagi membuat tempat tidur puteri, dibongkar lagi membuat kursi raja. Begitu seterusnya sampai Rio Dewanto dan Nicholas Saputra ngrebutin saya. *ea

Aufa hampir tidak peduli pada hasil. Dia menikmati jalannya pekerjaan sampai batas waktu yang dia tentukan sendiri. Dan di sinilah, saya kira, titik masalah itu bermula...

Di sekolah, ketika Bu Guru memberi tugas kepada murid-muridnya, tidak bisa tidak, beliau juga memberi tenggat waktu pada mereka untuk segera menyelesaikannya. Aufa, tidak bisa begitu. Dia akan jatuh stress jika terus-menerus mendengar kalimat, "Ayo, anak-anak, siapa yang sudah selesai? Ya! Rizki, pinter. Sini, kumpulkan ke Bu Guru." Tak lama kemudian, "Siapa lagi yang sudah? Zaya, ayo dikerjakan!"

Aufa sering memberi tatapan layu kepada teman-temannya yang berlomba menyelesaikan tugas dari Bu Guru. Barangkali dia sebal, juga kecewa, mengapa semua orang begitu bersemangat dalam ruang-waktu yang serba terbatas, mengapa semua orang senang berkompetisi, lebih dari itu, mengapa pola pengajaran di sekolahnya lebih berorientasi pada capaian-capaian--dan semua orang suka, sementara dirinya tidak.

Aufa mendekat ke jendela. Memberi isyarat pada Mbakyunya untuk mendekat pula. Kemudian dia menangis.

Ah, Ndhuk, Mbak Fina tahu yang kamu rasakan. Mbak Fina tahu. Sebab, Mbak Fina juga begitu. Kalau kamu ndak nyaman, keluarlah.. bermain sesukamu.

***

Jika saya mengikuti jejak Ibuk saya dalam mendidik anak-anaknya, yang keras dan menekan, bisa jadi yang akan muncul pada diri Aufa kemudian ialah Ra'ufina versi kedua; yang payah, serba setengah-setengah, dan sampai setua ini tak menelurkan karya apa-apa. 

Saya tidak mau. Aufa harus tumbuh bersama segenap ambisinya. Sembari nanti belajar untuk membedakan; kapan dia bisa berbuat sesuka hati, kapan perlu mengikuti tata aturan yang berlaku. Karena hidup bukan hanya soal keinginan-keinginan, tapi juga keharusan-keharusan. Bukan melulu soal impian, melainkan juga tuntutan.

Pekalongan, 12 Desember 2015
Tauhid

Bertauhid itu nggak gampang. Dia bukan cuma perkara menunggalkan Tuhan. Lha, buat apa menunggalkan Tuhan? Wong Tuhan memang sudah Tunggal.
Bertauhid itu tentang bagaimana kita mengelola asa, mengatur degup jantung, hela napas, potongan-potongan peristiwa, dan segala sistem hidup yang carut-marut ini, hanya untuk dan menuju Yang Tunggal.
Dan itu--sekali lagi--nggak gampang.

Organ Jantung


Shollu 'alaa Kanjeng Nabi ~