Air Ketuban dan Rasa Makanan

Setelah kemarin membahas tentang wanita hamil yang kalap soal makanan (apa saja dimakan asal kenyang), hari ini saya justru ingin mengulas tentang mereka yang pilih-pilih. Mereka yang hanya mau memakan makanan jenis A, tidak mau yang B atau C. Yang hanya doyan daging ayam atau daging sapi, misalnya, tidak selera sama ikan atau seafood lainnya padahal sebelum hamil biasa saja. Yang maunya beli, tidak mau masak sendiri. Yang maunya disuapin suami, kalau suaminya lelah dia ngambek. Ehe. Yang seperti itu.

"Lho, itu kan karena ngidam, Up."

Hsssshhh~ Jangan terbiasa menjadikan ngidam sebagai alasan. Ngidam itu ketika kamu begitu menginginkan sesuatu dan akan terus menuntut itu sampai kamu mendapatkannya. Bukan menyukai satu hal lalu menolak yang lain. Ngidam Rainbow Cake tidak lantas membuatmu membenci Brownies atau Bolu Karamel, Mbakyu. Apalagi sampai ikut-ikutan memboikot Sari Roti padahal sebelumnya itu favoritmu. #eh
Itu bukan ngidam namanya. Itu... Mmmp~ 😌

Tindakan pilih-pilih makanan ini, percaya atau tidak, akan berdampak pada pola makan anak kita nantinya. (Ciyee anak kita 😚) Anak akan cenderung mudah makan ketika--selama hamil--ibunya tidak rewel soal makanan.

Kenapa?

"Selama kehamilan, janin dapat menyerap zat-zat dari lingkungannya. Apa yang dimakan oleh ibu, dalam dosis tertentu, juga diteruskan kepada janin," demikian kata Dr Benoist Schaal dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS) di Vancouver, Kanada, empat tahun silam.

Di dalam kandungan, janin dapat mengetahui rasa makanan yang dimakan ibunya melalui cairan amnion, atau yang sering disebut juga dengan air ketuban. Air ketuban, selain berfungsi sebagai area yang memungkinkan janin bebas bergerak, dan mengatur kestabilan suhu dalam rahim, juga merupakan sarana komunikasi antara ibu dan janin. Air ketuban menyimpan hampir semua informasi yang dibutuhkan--termasuk di dalamnya; aroma dan rasa makanan yang dikonsumsi oleh ibu dalam kadar tertentu. Senyawa dalam air ketuban juga bisa merangsang dan membantu pembentukan sensor di hidung janin.

Pada minggu ke-15, indera perasa dan penciuman janin sudah terbentuk. Itu artinya, dia bisa ikut merasakan dan mencium aroma makanan yang dimakan ibunya lewat air ketuban. Jika dia menyukainya, dia akan menelan lebih banyak, untuk kemudian dikeluarkan lagi melalui ginjal dan saluran uretra. Ingatan janin tentang bau di otaknya juga sudah berkembang. Dalam tahap yang sama, dia menyimpan semua ragam bau itu di dalam otaknya. Ini memungkinkan baginya untuk memilih makanan yang sudah akrab dikenali--sejak dalam kandungan--kelak ketika tiba masanya MP-ASI.

Jadi, jangan salahkan ngana pe bayi jika nantinya dorang susah makan, kalau selama hamil saja ngana rewel nah.

Oh iya, indera penciuman mempengaruhi cara mencicipi makanan secara langsung. Secara umum, ketika janin merasakan makanan yang dikatakan sebagai rasa makanan, sebenarnya yang dirasakan itu adalah bau makanan.

Oke ya, clear ya.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Dengan tetap memperhatikan keseimbangan gizi, cobalah berbagai menu masakan dengan bahan dasar yang berbeda-beda. Sayur, ikan, daging, hati ayam, kerang, tahu, tempe, gandum, coklat, buah, agar-agar, semuanya. Kenalkan sebanyak mungkin rasa dan aroma kepada janin. Buat dia sadar, ada begitu banyak ragam makanan di dunia ini, dengan teknik pengolahan yang berbeda-beda. Sehingga nantinya dia tidak mudah mengklaim bahwa rasa A adalah yang paling enak, maunya yang A saja, sementara ada jutaan rasa lainnya yang belum dia kenal. Kenalkan banyak rasa, agar pengetahuannya tidak sempit layaknya orang-orang yang kurang piknik.

Kenalkan banyak rasa, kecuali beberapa seperti: rasa sakit dihianati.

Ternate, 23 Desember 2016
Sejak saya bisa mengingat, saya memang cenderung lebih dekat kepada Bapak. Beberapa tulisan yang saya posting entah di facebook maupun blog, adalah hasil obrolan kami sehari-hari. Sementara Ibuk jarang sekali mengajak saya bicara, apalagi bercerita tentang hal-hal lucu yang pernah dialaminya. Kalimat-kalimat yang terlontar dari Ibuk seringkali hanya berupa perintah-perintah, atau kalimat tanya tentang letak suatu benda yang tengah dia cari.

Banyak orang bilang, dibandingkan dengan kakak dan adik-adik saya, sayalah yang paling mirip dengan Ibuk. Baik fisik maupun wataknya. Mungkin itu jugalah yang menjadikan kami bagai dua kutub magnet yang sama, yang saling menolak jika didekatkan. Ibuk melihat kekurangan dirinya ada pada saya, dan saya, anaknya yang kurangajar ini, dengan angkuhnya menganggap Ibuk "terlalu begini, terlalu begitu" padahal sejatinya saya sedang menilai diri sendiri.

Hampir tidak ada moment dimana saya dan Ibuk terlihat duduk berdua saja sampai lebih dari lima menit, kecuali salah satu dari kami beranjak lebih dulu. Itu pun hanya duduk, tanpa ada sepatah kata yang keluar. Berbeda ketika ada adik atau kakak saya di sana, yang lebih bisa mencairkan suasana dengan obrolan ngalor-ngidul dan mendapat respon apik dari Ibuk.

Sampai saya lulus kuliah, kecanggungan ini masih terus terpelihara. Bahkan sampai akhirnya saya menikah. Tidak ada petuah-petuah intim antara seorang Ibu dengan anak perempuannya yang sebentar lagi akan menjadi istri. Tidak ada nasehat-nasehat. Tidak ada basa-basi semisal "Apakah kamu gugup?" atau yang lainnya. Ingin rasanya saya bertanya, "Buk, aku harus bagaimana nantinya?" ketika pada satu titik, saya dilanda kebingungan hebat akibat syndrome pranikah. Tapi tidak saya tanyakan. Sebab canggung.

Di hari pernikahan pun, ketika ada prosesi sungkem kepada kedua orang tua, dimana biasanya orang tua akan membisikkan sedikit nasehat atau doa di telinga pengantin, Ibuk tidak melakukannya. Sungguh stay cool sekali Ibuk saya itu.

Tapi semua sikap dingin itu, sikap cuek yang ditampakkannya selama ini, tidak saya lihat pada hari keberangkatan saya ke Ternate. Sepanjang perjalanan sampai di bandara, mata Ibuk sembab. Bapak menyuruh saya mendekati Ibuk (Ya Gusti, mau mendekati Ibuknya sendiri saja kok pake disuruh segala), dan menanyakan keadaannya. Saya manut.

"Ibuk kenapa, Buk?" Tanya saya begitu duduk di samping Ibuk. Sungguh anak yang tidak pandai berbasa-basi.

"Rapopo. Kelilipan." Jawab Ibuk pelan.

"Oh." Saya menanggapi singkat. Padahal saya tahu, semalam Ibuk tidak bisa tidur, dan beberapa hari terakhir Ibuk juga tidak enak badan karena memikirkan anaknya yang mau pergi jauh. Bapak yang mengatakannya pada saya, beberapa saat sebelum dia menyuruh saya mendekati Ibuk.

Satu detik pertama, saya sebal pada Ibuk yang tidak mau jujur bahwa dia kepikiran soal saya. Detik berikutnya, saya yang tidak kuat menahan emosi. Saya memeluk Ibuk. Kemudian menangis.

"Maafin aku ya, Buk. Belum bisa ngasih apa-apa, tapi sudah mau pergi." Saya berbisik sesenggukan.

Tangis Ibuk pun pecah. "Rapopo, rapopo. Sak titahe Gusti Allah. Ibuk ngrestui. Rapopo." Begitu katanya, sambil mengelus lengan saya yang melingkar di bahunya. Sesekali mengusap air mata dengan ujung jilbabnya.

Barangkali itulah kali pertama saya memeluknya dengan sadar. Setelah kemudian kami tidak bertemu lagi hampir lima bulan.


Ternate, 22 Desember 2016




Banyak wanita hamil menjadi kalap soal makanan ketika usia kehamilannya memasuki minggu-minggu tenang--katakanlah, selepas 16 minggu. Pada fase ini, keluhan-keluhan seperti mual, muntah, pusing, loyo, caper sama suami (*eh), biasanya memang mulai menghilang secara perlahan, sehingga mereka berada pada kondisi tubuh yang nyaman senyaman-nyamannya. Nafsu makan yang sebelumnya tercabut dari ingatan, kini kembali bersemayam. Bahkan, seringkali menjadi tak terkondisikan. Rasa lapar terus-menerus menyerang, sekalipun satu jam sebelumnya sudah tuntas menyantap seporsi besar nasi padang lengkap dengan sayur dan rendang. *Ini curhat 😌

Keadaan tubuh yang mendadak mudah lapar inilah, ditambah kebahagiaaan batin, dan adanya anggapan dalam mayoritas masyarakat kita bahwa pada saat hamil seorang wanita harus menambah porsi makan dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan dia dan janinnya, yang membuat mereka--para wanita hamil--menjadi kalap. Apapun akan dimakannya. Nyam-nyam-nyam tanpa mengenal waktu. Nyam-nyam-nyam sampai tidak sadar berat badan sudah naik ke tingkat maksimal.

Akibatnya, mereka jadi mager pada kehamilan tua, mengalami beberapa kesulitan pada proses persalinan, dan buru-buru melakukan diet ketat padahal masa menyusui belumlah usai. Membuat produksi ASI menurun dan target ASI Eksklusif 6 Bulan pun tidak tercapai. Huhuhu 😔 kasihan bayimu~

Kenaikan berat badan pada kehamilan itu wajar. Bahkan diharuskan. Tetapi bukan berarti tidak memiliki batas normal. Pun harus diimbangi dengan kenaikan TBJ (Taksiran Berat Janin). *Soal TBJ, dibahas lain kali ya~

Secara umum, ambang batas normal kenaikan berat badan pada wanita hamil adalah 11-15 Kg. Akan tetapi, para ahli kebidanan dan kedokteran kandungan menganjurkan agar kenaikan berat badan pada kehamilan disesuaikan dengan IMT (Indeks Massa Tubuh) sebelum hamil. Cara menghitung IMT adalah BB (dalam satuan Kilogram) dibagi TB (dalam satuan Meter, dikuadratkan).

Contoh ya!
BB saya 57 Kg dengan TB 161 Cm. Maka IMT saya adalah 57 : (hasil kuadrat dari 1,61) = 21,98.

Nah,

Untuk IMT di bawah 18,5 (berat badan di bawah normal), disarankan menaikkan bobot sekitar 12,7 – 18,1 kg.
Untuk IMT 18,5 – 22,9 (berat badan normal--ehem, saya nih!), disarankan menaikkan bobot sekitar 11,3 – 15,9 kg.
Untuk IMT >= 23 (kelebihan berat badan), disarankan menaikkan bobot sekitar 6,8 – 11,3 kg.
Last but no least, untuk IMT > 25 (obesitas), seorang wanita hamil disarankan menaikkan bobot sekitar 5,0 – 9,1 kg.

Clear ya.

Ada banyak sekali wanita hamil yang akumulasi kenaikan berat badannya mencapai 20 Kg. Ada juga yang lebih. Dan itu, sekali lagi, belum tentu baik.

Lalu, bagaimana cara mengontrol nafsu makan berlebih pada saat hamil? (Mengontrol lho ya, bukan menahan. Bagaimanapun, segala yang terjadi pada masa kehamilan adalah anugerah, maka nikmatilah. Tapi jangan lupa, nikmatilah dengan penuh kesadaran 😘)

Yang pertama, bacalah basmalah. Biar makanannya berkah. 😇

Kedua, makanlah bersama suami, bahkan kalau perlu minta disuapi. Ehe, bercanda ding. Maksud saya, makanlah dengan tenang dan dikunyah dengan baik. Wanita hamil dengan kondisi perut mudah lapar, memiliki kecenderungan makan dengan terburu-buru dan proses mengunyah yang berlangsung singkat. Makanan yang masih keras itu pun terpaksa diterima organ pencernaan dengan tangan terbuka. Hal ini dapat mengakibatkan resistensi insulin. Suatu kondisi dimana insulin, hormon yang mengatur kadar gula darah, menjadi tidak berfungsi. Sehingga gula darah meningkat, dan rasa kenyang datang terlambat. Padahal sudah makan banyak 😌
Belum lagi resiko yang mungkin terjadi pada janin jika gula darah ibunya meningkat. Seperti misalnya, makrosomia (bayi besar), salah satu penyulit dalam proses persalinan.

Ketiga, tepislah anggapan bahwa wanita hamil harus makan dengan porsi dua kali lipat lebih banyak. Itu nilai yang sudah lapuk, Dik. Gizi yang dibutuhkan memang lebih banyak, tapi tidak ngasal. Perbaiki kualitas, bukan semata-mata kuantitas. Bagaimanapun, sepiring nasi uduk, petis tempe kering, telur balado, lengkap dengan ayam goreng sambal lalapan jauh lebih baik daripada tiga porsi indomie goreng yang dimakan jomblo kesepian. Sama halnya dengan; satu suami lebih baik dari ribuan mantan.

***

Dokter kandungan di klinik tempat saya periksa sudah mewanti-wanti sejak awal, "Jangan diet sebelum bayi usia satu tahun, biar kebutuhan bayi akan ASI tidak terdzolimi."

Saya, alih-alih memikirkan bagaimana metode diet pascapersalinan, justru lebih senang untuk mengatur pola gizi dan kenaikan berat badan sejak dini, agar seimbang dengan tumbuh kembang janin serta kelancaran produksi ASI nantinya.

Subhanallah~ sok memotivasi sekali ya saya 😌

Ternate, pertengahan November 2016

Pucuk Merah dan Bagaimana Rasanya Menjadi Orang Tua

Beberapa hari setelah menginjakkan kaki di tanah timur, kami menyempatkan diri mampir ke salah satu lapak penjual tanaman di pinggiran jalan yang saya lupa namanya. (Nanti saya tanyakan ke suami saya deh ya! 😉) Kami membeli beberapa jenis. Salah satunya adalah tanaman pucuk merah.

Suami saya sudah naksir pada tanaman ini sejak kami melihatnya di sepanjang perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng. Di lereng-lereng bukit dekat pemukiman, pucuk merah tumbuh menjulang menjadi pohon yang rindang dan indah dipandang. Kombinasi warna hijau yang lebat dengan sedikit sentuhan merah di bagian pucuk, serta coklat tua pada batang dan rantingnya, membuat tanaman ini tampak eksotis, dan membawa penikmatnya pada baur suasana musim semi. Jika Jepang punya sakura, saya kira bolehlah Indonesia mengklaim pucuk merah sebagai salah satu ikonnya.

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari ibu penjual, pucuk merah merupakan tanaman yang tidak memerlukan perawatan khusus, apalagi perhatian berlebih seperti kamu (eh). Cukup diletakkan di tempat yang terkena panas mentari dan disirami setiap pagi/sore hari. Sudah. Selebihnya, mungkin perlu dilakukan pemangkasan daun yang sudah mati secara berkala, minimal 2 minggu sekali. Itu saja.

"Tidak merepotkan." Kata si ibu.

Saya menoleh ke suami, lalu berkata lirih sambil tersenyum manis, "Kayak aku ya, Mas."

Mendengar itu, suami saya membentuk bibirnya sedemikian rupa, lalu menimbulkan bunyi seperti kentut dari sana. Seolah dengan ekspresi begitu, dia sedang mengucapkan, "Pret!"

Oke, fine~ 😪

Kami pulang dengan pucuk merah dalam gendongan.

Dua minggu berlalu. Pucuk merah kami tumbuh dengan lebatnya, bak seorang gadis yang sedang mekar. Tunas-tunas baru yang berwarna merah selalu tumbuh di ujung-ujung ranting, membesar, dan perlahan berubah warna menjadi hijau muda, lalu hijau tua, untuk kemudian menua dan mati. Ketika itulah daun yang sudah mati perlu dipangkas, agar bekas pangkasnya menjadi tempat bagi tunas-tunas baru untuk tumbuh. Lalu membesar lagi, dan mati.

Begitulah siklus hidup pucuk merah, Dik.

Begitu pulalah siklus hidup manusia. Yang pergi akan terganti. Meski tidak selalu sama. Meski kamu--mungkin--butuh waktu yang tidak sebentar untuk mendapatinya sebagai pengganti yang lebih sempurna. Tidak apa-apa, semua butuh waktu. Iki opo?

Kami menikmati setiap detik pertumbuhan si pucuk merah. Layaknya sepasang orang tua yang menyaksikan perkembangan anaknya. Setiap pagi dan sore, kami menyempatkan ngobrol di teras rumah sembari memerhatikan pucuk merah yang terkadang menari-nari diterpa angin.

Sampai suatu ketika, di sore yang cukup cerah, setelah terbangun dari tidur siang yang menyenangkan, saya mendapati pucuk merah kami rusak entah oleh apa. Banyak daunnya menghilang, dan beberapa di antaranya "krowak" seperti dipetik paksa atau dimakan binatang secara terburu-buru, sehingga patah dengan tidak sempurna.

Saya sedih bukan main. Begitu pun suami saya.

Dan kesedihan kami bertambah ketika beberapa minggu setelahnya, saat daun-daun pucuk merah mulai bangkit dari keterpurukan, mulai move on, dan tumbuh lebat sebagaimana sebelumnya, sesuatu kembali menyerangnya. Kali ini lebih parah. Yang tersisa hanya beberapa helai daun, dengan "krowak" di sana-sini, juga kulit batang yang mengelupas di banyak sisi. Dia jadi lebih mirip tanaman gundul menjelang tandus, daripada pucuk merah yang kami beli dua bulan lalu.

Kami ngomel-ngomel.

Meski tak bisa disamakan dengan merawat anak, tapi kami sepakat bahwa merawat tanaman bisa sedikit merefleksikan itu. Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran, ketelatenan, rasa memiliki, dan curahan kasih sayang yang tulus. Sehingga kami belajar.

Dengan kejadian ini, dengan rusaknya pucuk merah kesayangan kami, saya jadi tahu, bagaimana marahnya-sedihnya-kecewanya-hancurnya menjadi ibu dari anak gadis yang kamu sakiti berkali-kali. Atau dari anak laki yang kamu PHP-in tanpa henti.

Jadi plis, ojo maneh-maneh "dolanan" anake wong! :3

Ternate, 17 Oktober 2016

Kalau ada yang mengatakan bahwa membuka pintu rumah lebar-lebar pada pagi hari akan membawa kelancaran rezeki bagi penghuninya, barangkali itu tidak berlaku di sini.

Membukakan pintu untuk melepas kepergian suami menuju tempatnya bekerja sudah pasti mendatangkan rezeki. Tetapi kalau pintu itu dibiarkan terbuka seterusnya, maka akan kamu dapati tamu-tamu tak diundang yang alih-alih membawa rezeki, justru meminta sedikit bagian darimu.

Kemarin, menjelang siang saat saya tengah asyik berendam bersama cucian, seseorang tiba-tiba saja nyelonong masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam. Saya kaget bukan main. Mungkin saya lupa menutup pintu, mungkin juga tamu itu yang terlampau percaya diri untuk masuk tanpa permisi. Saya segera bangkit dari rendaman, melongok keluar, dan mendapati bocah laki-laki sekitar sebelas tahun, agak lusuh, datang menenteng map merah muda berisi kertas-kertas.

"Kamu kok masuk tanpa permisi sih?" Itulah kalimat pertama yang saya ucapkan setelah menjawab salam. Benar-benar tuan rumah yang ramah, bukan? 😌

"Maaf kaka, pintunya terbuka sedikik, saya..."

Bocah itu tidak melanjutkannya, sebab saya telah lebih dulu memotong kalimatnya dengan sebuah pertanyaan singkat, "Ada apa?"

"Begini kaka, saya mau minta dana."

"Dana?" Saya mengernyitkan dahi. "Dana buat apa?"

Dan jawabannya kemudian membuat saya termangu.

"Balapan, kaka."

Di saat para mainstream peminta-minta di ibu kota mengatasnamakan pembangunan masjid atau pondok pesantren tertentu sebagai kedok mereka dalam menjalankan rutinitasnya, bocah laki-laki di depan saya ini dengan sangat terbuka justru mengatakan ingin meminta dana untuk balapan. Jujur sekali kamu, Dik.

Tapi sayang, saya tidak memandang aktivitas balapannya itu sebagai sesuatu yang bermanfaat. Andaikan, andaikan saja, dia datang dengan permohonan bantuan dana untuk mendirikan sebuah taman baca, misalnya, atau untuk pengadaan obat di balai pengobatan setempat, mungkin saya akan memberikan beberapa lembar rupiah saat itu juga. Sekalipun saya belum meminta izin kepada suami. Tapi, sayang. Amat disayangkan, saya bukan penggemar balapan. Kecuali, balapan memenangkan hati perempuan. Dan lagi-lagi sangat disayangkan, karena hati saya sudah dimenangkan seseorang. Iki jan suwe-suwe ragenah.

Hari berganti...
Tadi pagi, sekitar pukul sembilan Waktu Indonesia begian Ternate, kembali ketika saya tengah khusyuk mencumbui cucian, terdengar seseorang mengucapkan salam di depan rumah. Saya menjawabnya dengan penuh penyesalan karena lupa menutup pintu (lagi-lagi).

Tamu saya hari ini adalah seorang wanita paruh baya--tidak saya sebut sebagai nenek-nenek karena saya tidak tahu apakah dia punya cucu atau tidak--yang berpakaian baik. Saya belum mengatakan apa-apa ketika tiba-tiba dia melepas sandal jepitnya dan naik ke lantai teras rumah. Menciptakan becek coklat yang kotor sebab pagi ini hujan turun agak deras.

Saya akan maklum, jika alasannya naik ke teras tanpa saya persilakan adalah untuk berteduh. Tapi dia datang di saat hujan telah reda, dan langit mulai menampakkan cerahnya. Hujan yang turun sedari pagi hanya menyisakan basah di aspal-aspal jalanan. Tidak lebih. Maka untuk alasan apakah wanita itu merapat ke pintu rumah saya? Itu yang jadi pe-er bersama.

Dia terdengar mengucapkan sesuatu dengan cepat, menggunakan bahasa lokal yang saya tidak tahu apa maksudnya. Saya hanya mendengar satu kata yang saya mengerti: "sapu".

"Sapu?" Saya mengulangi satu kata itu.

Saya pikir, wanita ini datang untuk menawarkan sapu. Tapi saya tidak melihat apapun dari barang bawaanya yang bisa disebut sapu, kecuali tas jinjing berwarna coklat muda yang cukup pantas dibawa ke kondangan mantan.

"Boleh?" Tanyanya. Dan saya masih tidak mengerti mengapa dia bertanya seperti itu.

Seperti membaca raut kebingungan dalam air muka saya, wanita itu mengulangi kembali kalimatnya tentang sapu. Kali ini dengan kata-kata yang lebih mudah dicerna telinga. Dan saya pun mengerti. Dia menawarkan dirinya untuk menyapu pelataran rumah (sepetak tanah terbuka di luar teras yang terdiri dari susunan batako-batako merah selebar dua meter) dengan imbalan uang sepuluh ribu.

Belum pernah saya temui yang model begini di kampung halaman saya. Dan saya takjub.

Tapi lagi-lagi, saya tidak melihat adanya kotoran atau sampah-sampah remeh di pelataran rumah. Jadi saya tidak memandang perlu untuk menerima jasa menyapu. Yang ada hanya basah. Basah. Ingin rasanya saya menawarkan pilihan kepada wanita itu untuk mengeringkannya saja, karena basah, tapi tentu itu humor yang buruk sekali.

Jadi, saya diam saja.

Ini semua terjadi, tak lain dan tak bukan karena kebiasaan saya membiarkan pintu rumah terbuka sepanjang hari. Bukan berarti hal ini tidak baik. Hanya saja di sini, ada banyak tamu yang kelewat menakjubkan untuk ditemui setiap harinya. Dan kamu tahu, menjumpai tamu asing itu tidak selalu mengasyikkan, terutama saat kamu sedang hamil muda. 😌

Sekarang saya tahu, kenapa pintu-pintu di rumah penduduk lokal itu senantiasa tertutup.

Perkara saya jadi memberikan uang sepuluh ribu kepada wanita itu atau tidak, tidak perlu saya ceritakan. Kalau saya mengatakan "iya" nanti terkesan riya', kalau "tidak" pasti terkesan pelit.

Begitulah hidup. Dipenuhi kesan-kesan.

Ternate, 23 September 2016
Ibu mengajarkan pada anak-anaknya untuk selalu membawa uang lebih saat bepergian, sekalipun itu akan tak digunakan. Katanya, selain untuk jaga-jaga bila ada pengeluaran tak terduga, uang di dompetmu juga bisa menjadi modal percaya diri untuk masuk ke dalam toko lalu keluar tanpa membeli sebarang pun. Lho, kalau tidak beli kenapa masuk? Ya kali aja penjaga tokonya ganteng.

Sama halnya dengan buku.

Bacalah ia banyak-banyak, sekalipun tak ada orang yang akan mengajakmu berdebat tentangnya. Bacalah. Selain untuk kesenanganmu sendiri, ia juga akan membuatmu memiliki perbendaharaan kata yang cukup untuk tidak merasa kerdil di muka sesama. Dan pada satu titik, membawamu berteman dengan makin banyak orang.

Selamat membaca.

Ini sketsa rupa suami saya, yang telah menuai benih dalam rahim istrinya...


Hal-hal ngehek memang kerap terjadi di kehidupan kita. Seperti misalnya, belum genap seminggu saya menikah, sudah banyak teman yang melempar pertanyaan bernada sama: Wis hamil durung?

Edan! Belum ada seminggu lho.
Ibarat perokok pemula, ini baru sampai pada isapan pertama. Masih terbatuk-batuk. Belum nemu nikmatnya di mana. Lha kok sudah ditanya: Wis impoten durung? Lha yo wagu. :v

Tapi begitulah, dalam masyarakat kita, pertanyaan semacam itu memang wajar dihujankan kepada pengantin baru. Baik untuk sekedar basa-basi maupun beneran empati. Apalagi, saya dianggap sebagai alumnus kebidanan yang paham akan rumus-rumus menghitung masa subur, juga menguasai macam-macam trik (dan pose) agar cepat hamil. Maka mereka pikir, seharusnya saya sudah tahu apakah saya hamil atau tidak sejak malam pertama pernikahan. Jeng jeng jeng jeng!

Di titik ini, kapasitas saya diuji. Apakah kemampuan saya hanya sebatas teori, atau praktiknya juga. Apakah saya sunguh-sungguh seorang wanita, atau jelmaan bidadari semata. 😌

Kadang saya menjawab dengan candaan. Tapi lebih sering dengan jawaban normatif, seperti, "Mohon doanya saja." Disertai emoticon senyum untuk pemanis mata. Selebihnya, biar waktu yang menjawab. *Wuuuush~

Nanti kalian juga akan merasakan kok, ditanya seperti itu. Tidak perlu mempersiapkan jawabannya dari sekarang. Siapkan saja dulu calon suaminya. Oke, Dik? :v

Ternate, 14 Agustus 2016
Pada masa ketika kekuatan Kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad mulai melemah, kaum muslim membentuk mayoritas di Andalusia, dipimpin oleh seorang bangsawan Umayyah terakhir yang tersisa; Abdul Rahman. Mereka hidup berdampingan dengan dua komunitas besar lain; Yahudi dan Kristen.

Ada satu kisah menarik yang menggambarkan bagaimana ketiga komunitas itu bergaul.
Pada akhir abad ke-10 M, Sancho mewarisi takhta dari Leon, sebuah kerajaan Kristen di utara Spanyol. Karena menderita obesitas, rakyat Sancho segera menyebutnya sebagai Sancho si Gemuk, jenis panggilan yang tidak pernah suka didengar seorang raja manapun untuk digunakan oleh rakyatnya secara bebas. Sancho yang malang itu mungkin lebih tepat dipanggil Sancho yang Kegemukan Secara Medis, tetapi para bangsawannya terlalu sempit dalam memandang masalah. Mereka menganggap ukuran Sancho sebagai bukti kelemahan internal yang membuatnya tidak layak untuk memerintah, sehingga mereka memecatnya.

Sancho kemudian mendengar tentang seorang dokter Yahudi bernama Hisdai ibn Shaprut yang konon tahu cara mengobati obesitas. Hisdai dipekerjakan oleh penguasa muslim di Kordoba, yang merupakan ibu kota sekaligus pusat pemerintahan muslim Andalusia yang kini terletak di Spanyol. Sancho pun segera melakukan perjalanaan ke selatan bersama ibunya untuk mencari perawatan. Penguasa muslim Abdul Rahman III menyambut Sancho sebagai tamu terhormat dan menyuruhnya untuk tinggal di istana kerajaan sampai Hisdai berhasil menurunkan berat badannya. Selang beberapa waktu, Sancho kembali ke Leon. Dia mengklaim kembali takhtanya, dan menandatangani perjanjiaan persahabatan dengan Abdul Rahman. [*]

Seorang raja Kristen menerima perawatan dari dokter Yahudi di istana penguasa muslim. Di situ kita mendapatkan gambaran kisah kaum muslim di Spanyol.

Ketika orang Eropa berbicara tentang Zaman Keemasan Islam, mereka sering berpikir tentang Kekhalifahan Kordoba, karena ini adalah bagian dari dunia muslim yang paling dikenali orang Eropa.
See? Bagi orang-orang di luar Islam, kaum muslim berada pada puncak keemasan ketika Islam dikembalikan pada makna harfiahnya: damai (dan membawa perdamaian).
Sayang sekali, kita di sini lebih senang cek-cok dan memaksakan kebenaran.

[*] Chaim Potok, History of the Jews (New York: Ballantine Books, 1978), h. 346-347
Dua bulan kemudian ...

"Arep melu ora?" Tanyanya.

"Hmm..?" Saya bergumam. Seolah ingin memastikan apa yang baru saja saya dengar.

"Arep melu rene ora?" Ulangnya.

Saya terdiam sejenak.

Sekalipun saya merasa sangat siap untuk mengikuti suami saya--ehem, nanti setelah menikah, maksudnya--ke daerah tempatnya bekerja di Ternate sana, tetap saja ada kegugupan ketika dimintai kepastian seperti itu.

"Mau ikut ke sini, nggak?" Begitu tanyanya.

Saya tahu, (calon) suami saya itu hanya ingin memastikan bahwa saya mantap dan ridlo untuk ikut dengannya, mendampinginya, mengabdi padanya. Tapi pertanyaan itu memaksa saya berpikir ulang, apakah saya benar-benar siap melesat jauh meninggalkan Pekalongan dalam waktu yang tidak sebentar. Ada bimbang yang menyapa. Ada ragu dalam sendu. Dan setitik kegundahan itu nyata menggoyahkan kemantapan yang saya bangun selama ini.

Saya tidak pernah menetap di suatu kota di luar Pekalongan dalam waktu yang cukup lama. Saya terlahir, tumbuh, dan terlanjur mendewasa di kota ini. Akan menjadi situasi yang sulit bagi saya jika tiba-tiba diajak pergi dan tinggal di luar pulau yang berkilo-kilometer jauhnya, sekalipun inilah yang saya idamkan sejak dulu. Bagaimana dengan orang-orang terdekat? Keluarga, teman-teman, partner kerja... Bagaimana jika saya merindukan mereka? Terlebih lagi, bagaimana dengan pekerjaan saya?
Saya bekerja di RSUD Bendan, sebuah rumah sakit milik pemerintah kota Pekalongan yang jaraknya hanya lima menit berkendara dari rumah. Hampir dua tahun lamanya saya menjadi bagian dari rumah sakit ini. Bekerja sama dengan orang-orang hebat, menghadapi berbagai kasus dan pasien baru setiap harinya, belajar, berbagi, untuk kemudian lelah sekaligus bersyukur karenanya.

Bekerja di RSUD Bendan adalah jawaban. Ada dua keyword yang selalu saya sebut ketika mengajukan proposal kerja kepada Tuhan: rumah sakit dan ridlo orang tua. Keinginan saya untuk bekerja di rumah sakit sudah sejak lama saya patenkan. Tidak bisa tidak, setelah lulus kuliah saya harus bisa bekerja di instansi itu. Di manapun tempatnya, yang penting rumah sakit. Maka mulailah surat lamaran saya edarkan ke seluruh penjuru Jawa. Dari utara hingga ke selatan, dari Ibu Kota hingga Daerah Istimewa. Tapi saya lupa, Ibu saya tidak pernah mengizinkan saya bekerja di luar kota. Sampai kemudian saya tergerak memasukkan lamaran ke RSUD Bendan, dan baru saya tahu bahwa rumah sakit inilah yang menjadi titik temu dari dua kata kunci yang saya ajukan pada Tuhan.
Dan sekarang, dalam beberapa bulan ke depan saya akan menikah dan dihadapkan pada opsi untuk meninggalkan pekerjaan demi ngabdi pada suami.

***

"Arep melu rene ora?" Ulangnya.

Saya terdiam sejenak.

Untuk beberapa hal, saya memang ragu. Tapi kepada laki-laki ini, saya tidak pernah memiliki secuil pun keraguan. Saya percaya bahwa dialah masa depan saya. Dan bersamanyalah saya akan menghabiskan sisa hidup saya dengan berbagai macam kebahagiaan.

"Mas pingine pripun?" Tanya saya akhirnya.

"Yo melu lah." Jawab suara di seberang sana, mantap. "Nggo opo adoh-adohan."

Saya tersenyum mendengarnya. Kemudian menjawab, tak kalah mantap, "Nggih mpun, aku melu."


*lanjutan dari Esai berjudul ARTIKEL TENTANG TERNATE
Ophand Albana

(Bentar, bentar, saya kok mendadak gugup ketika mengetik namanya)
Adalah lulusan DIII Akuntansi STAN. Tapi dia lebih senang menyebut dirinya sebagai illustrator atau graphic designer, ketimbang akuntan. Seseorang yang expert di bidangnya. Pecinta komik garis keras. Penggila game, animasi, dan beberapa waktu terakhir tampak asik memperdalam skill-nya di bidang photography. 

Dia mulai menggambar sejak kecil. Di saat anak-anak seumurannya ramai menginginkan hadiah atau oleh-oleh berupa mainan robot dan mobil-mobilan, dia justru rutin meminta satu barang: buku gambar!
Pernah suatu ketika pamannya akan pergi ke luat kota, dan dia, dengan langkah kecilnya berlari dari dalam rumah hanya untuk mengatakan, "Om, jangan lupa pensil sama buku gambarnya, ya!"

Gambar adalah passion-nya. Dan dia konsisten mengembangkan diri di bidang itu. Mungkin karena itulah dia berhasil menjuarai beberapa kontes design di usianya yang relatif muda. Di antara beberapa kontes yang dimenangkannya itu, adalah:

3rd winner in Corel International Design Contest 2013, Student Category (Internasional lho. Internasional! )
1st winner Souvenir Design Contest, National Museum Indonesia
3rd winner Dies Natalis STIS-BPS 2013 Design Contest
2nd winner Interface Design STAN IC
1st winner KPK Poster Contest

Ya Gusti~ 

Dia menyukai banyak hal; sepak bola, musik, film, teknologi, travelling, juga segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah, science-techno, dan art. Rasa ingin tahunya besar. Dan dia senang belajar. Betapa seringnya dia menghabiskan waktu tidurnya untuk mempelajari satu disiplin ilmu baru yang dia anggap penting dan mendukung aktivitasnya, sekalipun bukan hal yang mudah untuk belajar secara otodidak. Saking cintanya pada ilmu pengetahuan, saya menduga dia akan mempelajari setiap hal yang ada di bumi ini andaikan bisa.

Wawasannya luas. Dia bisa berbicara tentang apa saja mulai dari teknik menyeduh kopi sampai issue terbaru konflik keagamaan. Dari analisis kemungkinan terjadinya KKN sampai penemuan-penemuan baru di bidang sains dan teknologi. Dari kabar regional sampai internasional. Dari Naruto sampai Cak Nun. Dan semua itu diutarakannya dengan kharisma seorang dewa. Heuheu :3

Dia adalah seorang laki-laki yang supel dan bertanggung jawab di hadapan rekan kerjanya, jahil sekaligus 'ngemong' di depan adik-adiknya, patuh terhadap ibunya, tapi manja ketika bersama saya. *eh

Dan itu seksi. :*

***

visitternate.com: Ophand Albana

Didekati oleh laki-laki dengan kualitas semacam itu--tidak mungkin tidak--membuat saya minder. Da aku mah apa atuh, hanya seorang perempuan yang gagap teknologi dan ndak ngerti apa-apa soal fashion. Entah apa maksud Tuhan dengan menyatukan kami berdua. Bagaimanapun, saya tidak bisa berhenti bersyukur, dialah kado terindah. Sun sik ah :*

***

Meski memiliki kharisma bak dewa, dia juga manusia. Dan layaknya manusia lain di dunia ini, dia juga memiliki kekurangan. Memutuskan untuk mengenalnya lebih dalam sama artinya dengan siap menerima segala kekurangannya.

Tapi, biarlah. Biarlah kekurangannya menjadi dokumen pribadi saya.
Hanya saya.
Kalian boleh tahu lebihnya saja.


Pekalongan, Mei 2016
Saya menghadapi banyak sekali reaksi dari orang-orang sekitar setelah keputusan besar yang saya ambil beberapa hari lalu, saya umumkan ke hadapan publik. Keterkejutan, ekspresi tidak menyangka, dan anggapan bahwa ini hanyalah bahan candaan merupakan ragam ekspresi yang mereka tunjukkan. Jangankan teman-teman, budhe saya sendiri pun sempat tidak mau percaya bahwa ini berita nyata. Dan saya dimarahinya habis-habisan.

"Kowe ki piye sih, Fina? Kok ngabarine ndadak." Kata Budhe saya, syok, ketika Jum'at pagi kemarin saya bawa seorang laki-laki main ke rumahnya untuk dikenalkan, sekaligus mengabarkan bahwa Sabtu sore keluarganya mau datang melamar.

"Kowe ojo meden-medeni Budhe, Na. Iki dudu dolanan lho. Ojo kesusu."

Budhe terus-menerus menghakimi saya saat kami berada berdua di dapur rumahnya. Dia menganggap acara lamaran yang akan diadakan Sabtu besok terlalu mendadak, sementara si calon baru dikenalkan padanya Jum'at pagi.

Saya bingung, antara takut dan ingin tertawa. Lha ya gimana, Budhe, wong saya sendiri juga masih berasa mimpi.  
*mimpi yang indah sih~

***

doc. pribadi: Ophand Albana

Saya baru bertemu laki-laki ini pada awal Februari kemarin, ketika saya dan dua orang teman yang lain mengajaknya berkumpul untuk bersama-sama mendiskusikan masa depan bumi (?). Biasa saja. Tidak ada keistimewaan yang terjadi hari itu. Saya diam karena memang pendiam, dia banyak bicara karena memang aslinya cerewet. :v

Baru setelah itu, kami bertemu kembali dalam dua kesempatan yang kami ciptakan sendiri. Dan kemudian, semuanya seakan berjalan begitu cepat. Dialog demi dialog mengalir mengantarkan kami pada sebuah kesepakatan agung. Segalanya terasa ringan, mudah, nyaris tanpa hambatan apapun. Sampai-sampai saya tidak sadar, sebuah cincin emas telah melingkar di jari manis tangan kanan. *ra sah iri! :v

Banyak yang bertanya, apa yang membuat kami mantap untuk melangkah bersama. Dan bagaimana mungkin orang tua kami langsung memberi restu padahal kami secara terang-terangan mengatakan bahwa perkenalan ini berlangsung tak sampai dua bulan. Jujur saja, saya tidak memiliki jawaban yang pas, selain, "Yaaah, beginilah ajaibnya cara kerja Tuhan." <3

***

Tadi malam, dia terbang kembali ke kota tempatnya bekerja: Ternate. (Jauh ya, heuheu) Foto ini saya ambil beberapa menit sebelum dia beranjak masuk menuju pintu pengecekan Bandara Ahmad Yani, Semarang. Sembari mengambil beberapa gambar, saya memandanginya diam-diam.

Belum pernah saya mengantar kepergian seorang laki-laki sampai seintim ini, seberat ini...

Tidak heran jika tak sampai lima belas menit, saya sudah kebelet buka WhatsApp dan mengirim chat padanya:

"Belum apa-apa, aku sudah kangen, Mas."

Bwahahahahaha!

*yang mau baper, boleh kok. :v

Pekalongan, 28 Maret 2016
Tentang Lokalisasi

Empat tahun yang lalu, mendekati akhir semester tiga perkuliahan, seorang teman, Yuli namanya, bertanya pada saya, "Uf, kowe setuju rak karo lokalisasi?" (Uf, kamu setuju nggak dengan adanya lokalisasi?)

Lokalisasi yang dimaksud adalah praktik prostitusi dalam batas wilayah tertentu. Saya agak lupa, tapi sepertinya kami tidak sedang mendapat tugas kuliah tentang lokalisasi, pada waktu itu. Saya sendiri agak heran mengapa tiba-tiba Yuli bertanya begitu. Mungkin dia baru membaca semacam artikel atau apa, sehingga menanyakan pendapat teman-temannya.

Saya diam sejenak. Kemudian balik bertanya, "Dari segi apa dulu?" 

"Kesehatan." Jawab Yuli. Dia perempuan, tentu saja. Kampus kami tidak pernah dan tidak akan pernah menerima mahasiswa laki-laki.

"Setuju." Jawab saya kemudian.

Kelopak matanya melebar mendengar jawaban saya, "Alasannya?" 

Saya diam lagi. Saya memang banyak berpikir sebelum menjawab.
"Kamu akan lebih mudah memberikan penkes (Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan) ketika sasaranmu jelas." Ucap saya mengeja. Dan sebelum manusia di hadapan saya itu sempat menimpali, saya melanjutkan, "Sasaran itu bisa dibentuk. Katakanlah sasaranmu ibu rumah tangga, maka datangi saja acara-acara yang diikuti IRT seperti arisan PKK atau pengajian kampung. Jika tidak ada, kamu bisa mengumpulkan mereka dengan undangan. Itu prinsip sasaran. Masalahnya, pekerja seks bukanlah suatu profesi, bukan pula status yang mudah diidentifikasi, apalagi sejenis pekerjaan yang tercatat dengan jelas di KTP, yang orang-orang akan bangga mengakuinya. Mengumpulkan mereka dengan membagikan undangan adalah wagu. Kan nggak mungkin tho, kamu mengetuk pintu rumah orang lalu berkata, "Ini undangan untuk para PSK, nanti datang ya, Mbak." Meskipun yang kamu hadapi itu benar-benar PSK, tapi dia tidak akan begitu saja mengakuinya. Sebab dia ada di lingkungan rumah. Bisa-bisa malah kamu digebuki warga sekampung, karena dianggap mencemarkan nama baik." Saya menutup penjelasan 'ngawur'' ini dengan tawa. Membayangkan betapa wagunya contoh tindakan yang saya paparkan sendiri.
Yuli manggut-manggut mendengarkan. Seolah-olah ikut membenarkan apa yang saya katakan. 

"Lokalisasi mempermudah proses identifikasi, Yul. Setidaknya begitu." Saya berkata lagi. "Kegiatan preventif seperti penkes penggunaan kondom secara benar, penkes bahaya aborsi, dan lain sebagainya, terlebih lagi yang bersifat kuratif dan rehabilitatif, akan lebih mudah dilaksanakan. Sebab kita tahu sasarannya."

"Hm. Iya ya, Uf."

"Tapi ini cuma argumen ngawur ya, Yul. Dan ini baru satu sudut pandang: kesehatan. Pun masih dipersempit hanya seputar sasaran. Kalau kita mau melihatnya dari sudut pandang lain, misal agama, sosial-ekonomi, atau wisata, sangat mungkin kita akan mendapat jawaban berbeda, bahkan bertolak belakang. Karena prostitusi adalah masalah yang kompleks. Melibatkan banyak bidang, dan faktor-faktor yang saling berpengaruh."

Setelah itu, kami tak pernah lagi membahas topik ini. Sampai.. ramai di media soal ditutupnya Dolly pada 2014 yang lalu, disusul penggusuran Kalijodo hampir dua tahun kemudian. Dan entah bagaimana, saya teringat obrolan dengan Yuli, lalu menuliskannya.
Sementara milyaran manusia sibuk dengan segala aktivitas monotonnya, berjubel dalam hingar-bingar panggung beton dan aspal jalanan, sekelompok peri memilih sembunyi di kedalaman hutan. Manusia-manusia yang dalam akalnya hanya dipenuhi misi penaklukkan mungkin tak akan pernah tahu; di titik di belahan bumi mana para peri itu tinggal dan ber-regenerasi. Hingga mereka mengira, kehidupan makhluk-makhluk serupa peri hanyalah selapis dongeng dalam tumpukan realita.

***

Hutan peri, begitu ia dijuluki. Bertabur cahaya dan ditumbuhi banyak sekali bunga yang beraneka warna. Ialah bunga-bunga yang ketika ditanam membuat tanahnya subur-bersih, dan udaranya segar. Semerbak wanginya memenuhi atmosfer hutan, mengisi rongga-rongga yang terselubung belukar. Di daerah tepi hutan, di sepanjang lini yang menjadi pembatas antara kehidupan para peri dengan alam imaji manusia, mengalir sungai kecil dengan airnya yang jernih. Bunyi gemericiknya menghadirkan ketenangan di seluruh penjuru hutan. Nyanyian para peri, kicauan burung-burung di kala pagi, dan desau angin yang bertiup melewati celah dedaunan hanya akan membuat manusia menyadari betapa dunia tempat mereka tinggal seringkali menyisakan kegelisahan; bukan kedamaian.

Terserah bagaimana pikiran manusiamu akan menggambarkan wujud hutan ini. Mungkin kau akan menyebutnya sebagai representasi dari surga. Atau membayangkannya sebagai hunian fiktif seperti apa yang tersaji dalam filem-filem semi-animasi. Terserah. Kau berhak melemparkan imajinasimu ke mana saja. Tapi bagaimana pun, hutan peri tetaplah hutan. Para peri itulah -atau justru aku- yang menjadikannya terdengar cantik dan menyejukkan.

Namanya Nymph. Dalam mitologi Yunani kuno, nymph disebut-sebut sebagai bangsa peri yang hidup dan tinggal di dalam tumbuh-tumbuhan. Dan sebagai pemuja filsafat Socrates --filsuf besar yang lahir di Athena, Yunani sana-- tentu saja aku tak akan banyak mengubah definisi itu. Bahwa nymph di sini memang benar-benar peri hutan, atau persisnya, peri-peri yang tinggal di pepohonan di dalam hutan. Itu definisi. Tentang bagaimana pendeskripsiannya, izinkan aku, sebagai pencipta dongeng, untuk mengembarakan daya khayalku lebih jauh.

Nymph berukuran sebesar boneka barbie, setidaknya, dalam dongeng ini. Mereka tidak berkelamin. Meski dari tampilan fisiknya, kau pasti menduga bahwa mereka masih satu gender dengan Nyai Ontosoroh. Mereka memiliki sepasang mata yang bulat-lebar dan daun telinga yang meruncing ke atas. Bentuk daun telinga yang lancip ini sangat membantu para nymph dalam menangkap semua gelombang suara, baik infrasonic, sonic, maupun ultrasonic. Rambut mereka berwarna putih keperakan, tergerai indah di balik punggung-punggung yang bersayap. Tatkala terbang, sayap-sayap kecil mereka akan mengepak indah, memancarkan bias-bias warna yang saling berbaur berkilauan.
Bukan perkara mudah untuk membedakan satu nymph dengan nymph lainnya. Selain karena bentuk fisik mereka yang sama, wajah mereka pun nyaris serupa. Mereka layaknya peri kembar yang dilahirkan dalam jumlah jutaan. Tapi, seperti kata pertapa tua di bibir goa, setiap jiwa yang hidup memiliki aura. Dan aura para nymph terpancar melalui bola matanya. Masing-masing nymph memiliki warna mata yang berbeda-beda. Dan mereka dapat membedakannya. Meski yang terlihat oleh mata manusiamu adalah tiga pasang bola mata berwarna ungu, para nymph akan mengatakan bahwa salah satu dari ketiganya berwarna nila, dan satu lagi bersemburat biru di bagian tepinya. Kau tahu, itu mungkin saja terjadi. Sebab mereka adalah makhluk tetrakromatik, yang memiliki kepekaan sensorik di atas rata-rata sehingga mampu melihat ratusan juta warna dalam satu kali kedip.
Di pusat hutan peri, tertanam sembilan buah Pohon Dylona. Konon, pohon inilah yang sesungguhnya dijadikan tempat tinggal oleh para nymph.

Tumbuh dalam balutan sihir, Dylona memiliki ukuran yang sangat besar. Batangnya membentuk tabung raksasa dengan tinggi mencapai 100 kaki. Daunnya rindang dan teduh, bertujuan melindungi para nymph dari segala ancaman. Saat malam menjelang, daun Dylona akan bercahaya seperti ribuan lampion dalam perayaan tahun baru cina. Lalu menerangi seisi hutan bak bumi yang benderang oleh sinar rembulan. Para nymph membangun tempat berlindung di dalam batang dan cabang Pohon Dylona. Mereka membuat rongga-rongga yang dapat ditinggali, di sisi manapun di kesembilan pohon itu. Kenapa sembilan? Orang-orang bilang, angka sembilan merupakan angka petualangan dan persaudaraan. Jadi kupikir, akan cocok bila digunakan dalam dongeng-dongeng semacam ini.
Ah ya, sembilan Dylona ini saling berpindah tempat setiap waktunya. Jika kau adalah salah satu nymph di situ, kau tak perlu kaget saat mendapati Dylona tempatmu merebahkan tubuh tiba-tiba tak lagi berada di dekat sungai, misalnya, atau tak lagi berdiri di samping Dylona kediaman Sang Ratu. Itu hal biasa. Dylona bergerak secara periodik; bergeser, bahkan bertukar tempat dengan Dylona lain. Dalam kehidupan para peri, ini adalah satu bentuk proteksi yang memungkinkan musuh kesulitan mencari kediaman Ratu, atau pun tempat tinggal nymph tertentu yang -beberapa di antaranya- menyimpan kekuatan istimewa. Lalu bagaimana cara nymph-nymph itu menemukan rumahnya kembali jika Dylona selalu bergerak?

Ada jalinan hidi di sana. Hidi adalah serangkaian akar yang melilit-berputar-melayang mengelilingi setiap jengkal bagian Dylona. Melewati sisi depan rongga-rongga yang dihuni para nymph. Hidi itulah yang akan mengantar mereka pulang ke rumah, atau pergi ke rongga manapun yang menjadi tujuan mereka. Mereka hanya perlu duduk di atasnya, mengatakan apa yang mereka cari, dan si hidi akan merespon suara para nymph dengan getaran halus, lalu bergerak cepat mengantarkan penumpangnya menuju destinasi. Hidi bukan jalinan akar yang hanya bisa berjalan satu atau dua arah saja; seperti lintasan kereta. Bukan, dia bergerak sesuai kebutuhan tuannya. Meliuk-liuk, menyabang, naik-turun mencari rute tercepat. Sehingga jutaan peri mungil itu tak perlu takut, tatkala mereka beramai-ramai pulang dan duduk berjejer di atas hidi yang sama, karena hidi tak akan membiarkan nymph di atasnya bertabrakan dengan nymph lain.

***

Pagi ini, sesosok nymph bermata magenta tampak terbang pelan menghampiri hidi. Enelly namanya, bertugas sebagai mediator antara nymph pelayan ratu, nymph yang menjaga hutan, dan nymph yang dilahirkan untuk menjaga anak manusia. Enelly duduk di atas hidi yang paling dekat yang dapat dijangkaunya, lalu berbisik lembut, "Ratu Floria."

Hidi di bawahnya mengeluarkan getaran halus, sedetik kemudian melesat cepat menuju Dylona singgahsana Ratu. 

"Terima kasih, Hidi sayang." Katanya pada jalinan akar yang mengantarnya. Enelly mengepakkan sayapnya mendekati pintu masuk kediaman Ratu. Tak berapa lama kemudian terdengar ia berkata, "Ratu, flameri mekar lagi."

***

Dahulu, beratus tahun yang lalu, saat segerombol manusia tengah sibuk menyampaikan kebenaran di suatu negeri, para peri dari bangsa fairy membuat geger seisi Kolong Langit. Dia mengajukan permohonan yang sulit dikabulkan oleh kedua orang tuanya, yang merupakan Raja dan Ratu di Negeri Kolong Langit, atau manusia jawa biasa mengistilahkannya dengan sebutan "Kahyangan".
Floria, si bungsu dari keluarga Raja itu menyatakan keinginannya untuk turun ke bumi dan melihat aktivitas manusia di sana; satu hal yang terlarang bagi peri seusianya.

"Untuk apa, Floria?" Tanya Sang Ratu.

"Aku ingin menyaksikan kehidupan manusia, Bunda."

"Kau bisa melihatnya di Kolam Cermin."

"Tapi, Ayah, aku ingin melihatnya langsung." Floria beralih menatap Sang Raja. Dia merajuk. "Akan sangat menyenangkan bila aku dapat menyaksikannya dengan kepalaku sendiri. Ayolah Ayah, Bunda, izinkan aku ke sana. Sebentar saja."

"Usiamu baru empat belas tahun, Floria."

"Memangnya kenapa?" Sergahnya. "Hh! Semua orang mengatakan hal yang sama. Aku bosan. Aku hanya ingin pergi ke bumi. Apa aku harus menunggu sampai usiaku genap dua puluh satu, baru kalian akan mengizinkanku seperti kalian mengizinkan Falro?"

Tak ada yang mengubris.

Sudah menjadi peraturan dalam dunia fairy untuk membatasi usia penduduknya yang hendak turun ke bumi. Bukan karena trauma akan kisah Jaka Tarub yang sukses menawan salah seorang Puteri Kahyangan setelah menyembunyikan selendangnya. Bukan. Tak ada sangkut-pautnya dengan itu. Ini murni tentang kewaspadaan. Sebelum berusia 21 tahun, seorang fairy dianggap belum cukup mampu mempertahankan eksistensi di bumi. Kekuatan mereka masih terbilang mentah untuk digunakan dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di bumi nantinya. Lagi pula, fairy bukanlah bangsa peri yang sering bersinggungan dengan manusia layaknya elf. Jadi, bukan suatu keharusan bagi fairy untuk sering-sering berkunjung ke bumi.

Floria pantang menyerah.

Setelah hari itu, dia tidak lantas berhenti begitu saja mendekati kedua orang tuanya. Dia -dengan segala keceriaan yang dimilikinya- terus memohon dan  berusaha meyakinkan mereka bahwa perjalanannya ke bumi nanti akan baik-baik saja.

"Bunda, aku bosan di sini. Aku ingin melihat dunia luar. Aku ingin melihat laut, melihat gunung, melihat bagaimana manusia-manusia itu membangun tempat tinggalnya sendiri, tanpa tongkat sihir. Tanpa sihir, Ayah, Bunda. Tidakkah mereka hebat?" Floria tersenyum manis, matanya berbinar. "Oh iya, Falro bilang, di bumi sedang marak soal kereta api. Manusia membuat kereta-kereta berjalan tanpa tenaga binatang. Yang menjalankan justru sesuatu yang lain, mereka menyebutnya mesin. Bukankah itu menakjubkan, Bunda? Sedang terjadi pembaruan di bumi. Aku ingin sekali menyaksikannya."

Lain waktu berikutnya, dia kembali membujuk, "Ayah, Bunda, apa yang sebenarnya kalian khawatirkan? Aku akan baik-baik saja. Bukankah selama ini aku selalu menjadi anak yang baik, yang penurut? Apakah kalian tak mempercayaiku?"

Raja dan Ratu gagal menemukan cara yang tepat untuk membuat Floria paham, bahwa mereka tidak ingin Floria turun ke bumi. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu yang telah lama mereka khawatirkan. Sesuatu yang sejatinya telah digariskan oleh leluhur.

"Ayah, Bunda.." Floria berkata lirih. Entah bagaimana ia bisa sekeras ini sejak belia.

Raja dan Ratu saling berpandangan. Sejenak kemudian..

"Baiklah, Floria. Hanya sebentar."

Mata Floria terbelalak, "Benarkah?" Ucapnya berbinar.

"Hanya sebentar." Ratu menekankan dua kata itu.

"Bagaimana kalau tujuh hari?"

"Sayang, itu terlalu lama!" Jerit Sang Ratu.

"Baiklah, tiga hari."

"Satu hari!"

"Dua hari."

"Satu jam!"

"Baik, baik. Baiklah, aku ambil satu hari." Floria memanyunkan bibirnya. Antara kesal dan bahagia.

"Tapi dengan satu syarat, Floria." Suara Sang Raja membuyarkan euforia manyunnya.

Floria mendongak, "Apa?"

"Kau turun bersama kakakmu."

"Ah, itu bukan masalah." Floria tersenyum lebar. Tampak lega dengan persyaratan yang sama sekali tak mengganggu tekadnya. "Aku akan mencari Falro sekarang juga."

"Ingat janjimu, Floria. Hanya satu hari."

"Aku tahu." Floria berlalu.

Satu hari terasa begitu lama bagi Sang Ratu. Sedari pagi, ia terus mondar-mandir di depan singgahsananya yang bertahtakan permata. Meremas buku-buku jemari tangannya pertanda cemas.
Menjelang petang, kedua buah hatinya pulang. Ratu langsung memeluk mereka erat. Setelah itu, Falro memminta izin untuk melakukan pekerjaannya yang lain, sedang Floria, dengan cerianya menceritakan perjalanannya berkunjung ke bumi. Tentang bumi yang padat, tentang waktu yang bergulir cepat, dan tentang manusia-manusia yang tak pernah berhenti bergerak. Ia juga menceritakan perihal gunung, lautan, hujan, dan hutan.

Saat itu, Raja masuk dan bergabung bersama mereka.

"Ayah, Bunda, aku ingin tinggal di bumi." Floria memberanikan diri berkata.

"Apa!" 

"Dengar dulu, Ayah, Bunda." Floria buru-buru meredam emosi kedua orang tuanya. Sebelum akhirnya melanjutkan, "Aku menemukan hutan kecil di sana. Dikelilingi laut. Ketika melihatnya, entah mengapa, aku merasa di sanalah masa depanku ada. Aku membayangkan bisa menanam bibit Pohon Dylona, membuat aliran sungai di tepi hutan, dan menumbuhkan bunga-bunga yang cantik."

"Floria!" Raja berseru keras. Di sampingnya, Ratu nyaris pingsan mendengar ocehan puterinya. Raja pun segera membaringkannya di atas dipan panjang di bawah jendela.

Tubuh Floria seketika melemas. Sepertinya usahanya akan berakhir sia-sia. Raja dan Ratu tak akan memberikan izin. Memang, jika dipikir-pikir, keinginannya adalah sesuatu yang mustahil. Tidak pernah ada dalam sejarah, seorang fairy menghuni hutan di bumi.

"Inilah yang sebenarnya kami takutkan, Floria." Dari sudut ruangan, suara Raja terdengar lelah. Floria menoleh perlahan. "Kami sudah diperingatkan oleh Raja dan Ratu sebelum kami, yaitu kakek dan nenekmu, tentang adanya ramalan yang mengatakan bahwa akan tiba masanya dua anak keturunan Raja juga menjadi raja di dua tempat yang berbeda. Ramalan itu tidak menyebutkan siapa persisnya anak raja itu. Tapi leluhur kita mengingatkan agar waspada, sebab waktunya telah dekat. Dan kakekmu mengatakan, kemungkinan besar, Falro dan kau lah yang dimaksud." Raja menarik napas panjang.

"Apa maksudnya, Ayah?"

"Falro akan menjadi raja di sini. Dan kau, Floria, mungkin di bumi."

Floria menekap mulutnya seketika. Tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sungguh, ia tak pernah bermaksud menjadi ratu ataupun membangun sebuah negeri di bumi. Ia hanya ingin tinggal di hutan itu saja. Tak lebih.

"Sekarang kau tahu mengapa Ayah bersikeras melarangmu turun. Karena kami tahu, sepulangmu dari sana, sesuatu yang besar menanti untuk terjadi."

"Ayah.." Floria tercekat. Suaranya tertahan. Ia mencoba mengatakan sesuatu, tapi yang keluar hanya, "Ayah, aku?"

"Iya, Floria."

"Tapi, sejak kapan seorang peri memimpin sekawanan manusia?" Floria bertanya terbata-bata.
"Tidak, Floria. Tidak." Sang Raja menyanggahnya. "Kau tidak akan memimpin manusia. Itu tidak mungkin terjadi. Yang akan kau pimpin adalah bengsa peri yang lain."

Floria terus berusaha mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Ayahnya. Seolah itu adalah dongeng sebelum tidur yang dipaksa-sajikan ke alam nyata.

"Floria." Terdengar suara Ratu dari sudut ruangan. Floria berlari mendekat. Membantu Ibundanya bangkit dari pembaringan. 

"Maafkan Floria, Bunda."

"Kau tidak apa-apa, Sayang?" Raja melangkah ke arah keduanya. Lalu duduk di samping Ratu, yang tersenyum menyambut.

"Bunda.." 

"Floria, Sayang." Ratu menatap Floria lembut. "Bawalah ini." Diambilnya sebuah benda dari bawah dipan, lalu diberikannya benda itu pada Floria. Sebuah kotak emas sebesar genggaman.

"Apa ini?"

"Bibit Flameri." Jawab Sang Raja. "Hanya ada satu. Tanamlah di jantung hutan. Dia akan mekar di waktu-waktu yang tak kau duga pada awalnya. Setiap kali mekar, akan lahir satu demi satu peri kecil yang makin lama makin banyak, dan menjadikanmu ratu di sana."

Begitulah, cerita tentang bagaimana Floria memulai kehidupannya di bumi, di hutan peri. Tinggal di salah satu rongga terbesar di puncak Dylona, tanpa gangguan sekecil apapun.

***

To be continued...
Pernah suatu hari, salah seorang pemuda alim bertuah: "Peganglah teman-temanmu. Biar yang NU tetaplah NU, yang Muhammadiyah tetaplah Muhammadiyah. Jangan lepas dari keduanya."
M. Rojul Mukhlasin namanya. Saat itu, tengah gencar isu tentang masuknya paham-paham radikal ke dalam sanubari para remaja. Sehingga ia mewasiatkan kalimat itu kepada salah satu di antara kami. Kebetulan bukan saya.

Beberapa waktu setelahnya, ketika saya ajak dia duduk santai ngobrolin perkara-perkara embuh yang bergelayut di kepala, dia tersenyum. Lalu di akhir cerita berkata, "NU kuwi opo sih? Muhammadiyah iku opo? Anggap saja keduanya tidak ada, jika hadirnya hanya timbulkan pecah."

Barangkali Bung Rojul ini ingin menyampaikan, bahwa di satu sisi, be a moderat itu penting. Dan identitas kemoderatan terbesar di Indonesia dipegang oleh -setidaknya- NU dan Muhammadiyah. Tetapi jika NU selalu diidentikkan dengan melulu soal qunut, tentang niat yang usholli, sholawatan, yasin-tahlilan, ziarah kubur, dan Muhammadiyah adalah antitesis dari semua itu, lalu diskusi tentang keduanya hanya berujung perang, maka untuk apa moderatmu?

Sampai di sini saya paham; pada tahap tertentu dari sebuah tatanan pendalaman ilmu, kita perlu mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang bersifat dzhahir, saat kemunculannya hanya memicu sikap tidak adil.
Saya termasuk yang mengakui keabsahan metode rukyat untuk penentuan awal bulan dalam kalender hijriyah, yang tentunya juga berpengaruh pada penetapan hari-hari besar Islam; salah satunya Idul Adha.

Ya, saya ikut membenarkan bahwa 10 Dzulhijah 1436 H jatuh pada hari Kamis, tanggal 24 September besok. Tapi bagaimana pun, saya sholat Id pagi ini.

"Lhoh, kok gitu Up?"

Haha. Lha gimana.
Saya memang mengakui keabsahan metode rukyat, tapi saya tidak bisa begitu saja mengesampingkan metode hisab. Lha wong saya berpegang padanya. Kadang-kadang memang gitu, diam-diam kita ikut mengakui kebenaran lain yang dianggap sebagai negasi dari apa yang selama ini kita yakini.
Saya pernah berpikir untuk mencoba merayakan hari lebaran pada tanggal yang ditetapkan dengan rukyat, ketika kebetulan para pelakon hisab menghasilkan keputusan berbeda. Saya pernah mencobanya. Tapi, baru sampai tahap berpikir, saya sudah goyah. Hati ini berontak, Dik. Tak sanggup Kanda melaksanakannya. Ada perasaan tidak nyaman, seperti hendak mengambil barang yang bukan kepunyaan sendiri.

Meski begitu, saya tetap respek pada jiwa-jiwa yang memilih jalan rukyat, dengan segala kemantapan hujjahnya. Hingga ingin sekali saya katakan pada Ribi, adik saya, kemarin sore, "Bi, Mbak Fina sama Mbak Rizka memang lebarannya besok. Tapi Ribi nggak harus kok ikut-ikutan besok. Mau milih yang hari Kamis juga boleh." 

Yah, meskipun pada akhirnya Ribi tetap memilih ikut lebaran hari ini.

Dari sini saya mulai paham, apa yang ada dalam pikiran seorang Pram (Pramoedya Ananta Toer) ketika mengirim calon menantunya untuk belajar agama islam pada tokoh yang merupakan musuh ideologi politiknya; Hamka. Saya juga bisa mengerti, bagaimana Abu Tholib bin Abdul Mutholib menganjurkan puteranya untuk mengikuti jalan hidup Kanjeng Nabi, tapi sendirinya wafat dalam keadaan enggan bersyahadat.

Selamat pagi. Selamat berpuasa. Selamat Idul Adha. :*

Pekalongan, 23 September 2015

 Muhammadiyah dan Tahlilan

"Pak Hasan, Pak Hasan." panggil seorang pemuda, setengah berlari mengejar Pak Hasan yang lebih dulu meninggalkan latar masjid.
Pak Hasan menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan. Dilihatnya tiga orang pemuda tergesa-gesa memghampirinya. "Piye, Le?"
"Ngapurane, Pak Hasan. Sudah dengar kabar?"
"Kabar opo?"
"Kaji Tholani mengadakan upacara tahlilan."

***

Kabar meninggalnya Ibunda dari Haji Tholani--seorang yang disegani karena kedermawanannya--telah tersebar ke seluruh penjuru kota. Orang-orang berbondong datang memenuhi rumahnya. Dari tetangga sebelah rumah, saudara, sahabat karib, sampai kenalan yang tinggal di luar kota, tumpah ruah di pelataran rumah. Beberapa wanita paruh baya--mungkin kawan ngaji ibundanya--berebut memeluknya dengan bersimbah air mata, menceritakan dengan sesenggukan bagaimana dahulu ibundanya memperlakukan mereka dengan sangat baik. Lalu tangan-tangan yang mulai mengeriput itu menyelipkan berlembar amplop ke dalam saku bajunya, meminta izin untuk melihat jenazah, melantunkan yaasiin-tahlil dengan suara pelan, sebelum akhirnya pamit pulang. Tapi tidak semuanya. Dua-tiga di antara mereka memaksa menginap agar bisa membantu segala urusan keluarga si mayit. Dan Haji Tholani mengiyakan. Kehadiran tamu itu tak kunjung berhenti. Para tamu laki-laki, memilih menyalami Haji Tholani dalam senyap, sebagai tanda ucapan bela sungkawa, untuk kemudian duduk lama melafadzkan doa-doa.

Hingga sore menjelang, sampai adzan maghrib dikumandangkan, gelombang arus tamu-tamu dari berbagai daerah itu tak juga surut.

"Bu..." Haji Tholani memberi isyarat pada isterinya untuk mendekat.
"Nggih, Pak?"
"Belanjalah untuk keperluan para tamu. Bapak memperkirakan, orang-orang akan terus berdatangan sampai beberapa hari ke depan."
"Nggih, Pak. Tapi..."
"Insyaa Allah, ini tidak seperti yang Ibu khawatirkan." Potong Haji Tholani, setengah berbisik.
Istrinya tersenyum samar. Lalu dengan anggukan kecil, dia pamit ke belakang rumah.

Pak Hasan ada di sana, di antara bapak-bapak yang bersila, pada hari meninggalnya ibunda Haji Tholani. Tapi ia baru berani menghampiri ketika tamu-tamu lain selesai menyalami.
"Lan..." Panggilnya lirih.
Haji Tholani menoleh. "Pak Hasan." Disalaminya lelaki itu, lalu dipeluknya erat.
"Semoga khusnul khotimah."
"Aamiin. Allahumma aamiin." Terdengar isak yang cukup keras dari jarak lima meter.

Itu terjadi pada hari Selasa, dua hari sebelum para pemuda menegur Pak Hasan di depan masjid.

***

Keesokan siangnya, selepas sholat Jum'at, beberapa pemuda mendesak Pak Hasan untuk menanyakan alasan mengapa Haji Tholani melangsungkan upacara tahlilan di rumahnya. Mereka memaksa Pak Hasan menegur, bahkan kalau perlu, menasehati Haji Tholani.
"Pak Hasan kan pernah memberi khutbah kepada kami, bahwasanya upacara semacam itu ialah bid'ah. Tapi lihat, sekarang salah satu jama'ah masjid ini sedang melangsungkannya."
Suasana memanas ketika tak lama kemudian, sosok yang tengah diperbincangkan bergabung dengan mereka.
"Assalamu'alaykum."
"Wa'alaykumussalam warrohmatullah."
Pemuda-pemuda itu terlihat canggung.
"Lan..."
"Nggih, Pak Hasan."
"Ini hari keempat meninggalnya ibu. Kata anak-anak di sini, sampean nggelar tahlilan. Opo bener?"
Haji Tholani berdeham kecil. Sadar bahwa orang-orang pasti meresahkan hal yang sama dengan isterinya.
"Kalau yang begitu itu disebut nggelar tahlilan, nggih leres, aku izinkan para tamu untuk membacakan yaasiin dan tahlil buat almarhumah ibuku. Aku juga suruh isteriku untuk menyajikan makanan dan minuman. Hari pertama, hari kedua, sampai semalam, alhamdulillah tamu-tamu tetap banyak."
"Tuh, kan. Apa yang kami bilang itu benar, Pak Hasan. Kaji Tholani mengadakan acara bid'ah."
"Hush! Jaga omonganmu, Le!" Pak Hasan menghardik.
"Wah, ndak bener ini. Pak Kaji, panjenengan kan orang yang cukup berpengaruh di jama'ah kita, harusnya memberikan contoh yang benar dong. Jangan begini."
Mendengar berbagai tudingan dari pemuda-pemuda itu, tak tampak sedikit pun perubahan pada air muka Haji Tholani. Ia tetap santai. Dan dengan tenangnya berucap:
"Tamu yang datang untuk sekedar silaturrahim saja aku persilahkan duduk. Aku jamu dengan minuman dan makanan yang lezat. Apalagi mereka, yang datang jauh-jauh untuk mendoakan ibuku. Mendoakan orang yang kami cintai."
Lalu, sebelum semuanya sempat menyela, Haji Tholani menambahkan, "Apa Muhammadiyah mengajarkan kita untuk jadi tuan rumah yang kurang ajar?"
Hampir semua orang--dalam tiga hari terakhir--mengeluhkan bertumpuknya daging hewan qurban di freezer kulkasnya, juga aneka masakan rumah yang berbahan dasar serba daging. "Mblenger", katanya. Atau dalam istilah yang lebih umum, artinya "mabok". Mabok daging.

Saya, enjoy aja. Ada sate ya saya santap, ada rendang ya saya lahap, dibikin dendeng juga sedap. Saya gitu sih, lebih memilih untuk menikmati apa yang tersaji di hadapan. Ini kan masih dalam suasana Idul Adha, jadi wajar kalau seisi dunia dipenuhi dengan daging qurban. Nanti, beberapa waktu ke depan, ketika stok daging di kulkasmu sudah habis, kamu akan merindukan hari-hari dimana tumpukan daging itu masih berjejal sempit-sempitan, dimana harum aroma prengus selalu tercium ketika kakimu melangkah memasuki rumah, juga hari dimana kamu mendapati Ibumu sering bingung, lalu bertanya, "Dagingnya mau dibikin apa lagi?"

Dan saya, saya bukan tipe orang yang suka merindukan sesuatu yang sebelumnya saya keluhkan. Saya tidak suka menyesal. Jadi, apa yang ada sekarang ini, saya nikmati. Seperti, misalnya, adanya kamu di sisi.
Saya percaya, bakat manusia yang paling fundamental adalah menghamba. Perjanjian primordialnya dengan Tuhan yang terjadi sebelum manusia dilahirkan, menuntutnya untuk berbakti; (dan) mengakui eksistensi Dia Yang Maha Wujud ini dalam area bawah sadar.

Seperti apa yang tertoreh dalam Kitab Suci di atas lemari, "Wamaa kholaqtu al-jinna wa al-insa illa liya'buduun." (Q.S. 51:56) yang oleh para mubaligh dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk menyembah Tuhan, atau akan lebih tepat jika dimaknai bahwa jin dan manusia diciptakan dengan naluri kepada Tuhan. Naluri ber-Tuhan.

Inilah mengapa banyak atheis yang gagal. Mengaku tidak percaya pada campur tangan Tuhan, tapi diam-diam masih sering berdoa.
Islam Nusantara, ya?
Saya sedang khusyuk nggelosor di bangku panjang di teras rumah Embah, ketika orang-orang itu mulai geger soal Islam Nusantara. Ada yang nyinyir, ada yang membela. Ada yang beristri, ada pula yang masih jaka. Saya jadi bingung mau pilih yang mana. Akhirnya saya memutuskan untuk berpuasa dulu sementara waktu. *eh

Sebenarnya, istilah Islam Nusantara ini sudah ada sejak lama, bertahun-tahun silam. Tapi menjadi sangat heboh diperbincangkan ketika My Lovely President Jokowi--yang sering kalian sindir itu--mengucapkannya pada pembukaan Munas Ulama PBNU, seminggu yang lalu. Dan menjadi semakin seru untuk diperdebatkan setelah NU terang-terangan menjadikan wacana "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia" sebagai tema pada Muktamar ke-33 di Jombang nanti.

Sebagai generasi moderat garis lucu, tentu saya menganggap ide ini keren sekali. Wah, Islam Nusantara. Easy listening banget, ya! Apalagi kalo bisa mendunia.

Tapi, tentu saja, moderat bukanlah satu-satunya faham yang tertancap di tanah ini. Dan saya bukanlah satu-satunya manusia yang hidup di negeri yang gemah-ripah-loh-jinawi ini. Maka seandainya ada dari kita yang protes soal penamaan Islam Nusantara, tak sependapat dengan pengusungan ide ini ke ranah global, itu wajar.

Selama ini, sependek jumlah artikel yang saya baca--guna mengusir kegalauan akibat njomblo--di media onlen, kampanye Islam Nusantara hanya ngobrolin soal Islam ala Nusantara; ialah Islam yang ramah, yang toleran, yang mengakar pada kebudayaan-kebudayaan lokal (khas Walisongo); tanpa menunjukkan Walisongo itu ngikut siapa. Kan, kalo dirunut ke belakang, sumbernya dari Arab juga. Menurut risalahnya K. H. Hasyim Asyari, NU itu fiqhnya ikut 4 madzhab, aqidahnya ikut Imam Asyari dan al-Maturidi, tasawufnya ikut Imam Ghazali dan Junaidi al-Baghdadi. Nah, ini yang juga diikuti Walisongo, kan? Dari Arab semua, kan?

Seharusnya mereka bisa menunjukkan, bahwa dulu, di Arab sana juga ada Islam yang ramah itu, yang inklusif itu. Hanya saja, Arab yang sekarang lebih menganut islamnya Ibnu Taimiyah - Ibnu Wahab - Abdullah bin Baz - Hasan Albana - Taqiyyuddin, yang setelah melewati beberapa generasi menjadi semakin 'keras' dan intoleran. Sayang sekali kampanye tentang Islam Nusantara tidak menyinggung soal itu. Jadi wajar jika yang islamnya PKS--eh IM, HTI, dan Wahabi gak bisa terima. Malah bisa meng-counter dengan mudah--meski tidak masuk akal; bahwa ini adalah agenda 'devide et impera' ala Mamarika, propaganda Wahyudi, dan sebagainya. Bahkan ada yang sibuk menuduh Islam Nusantara ini sebagai wacana yang membuat 'Islam' dipandang sebagai konflik, bukan solusi. Duh, duh. Saya kok jadi laper, Mas.

***

Tulisan kali ini tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Saya memang sedang tidak ingin menyimpulkan apa-apa. Apakah saya full-pro, atau mid-kontra, biarlah itu menjadi rahasia antara saya dengan Tuhan. *dialog khas sinetron reliji
Lha wong hubungan antardua insan saja kadang ada yang nggantung tak berkesimpulan, apalagi cuma analisis kelas kroco macam ini. Ya, kan, Mas?

Seperti biasa, obrolan kami melebar kemana-mana. Bermula dari Ikang Fauzi yang hanya menelurkan tiga album musik, Remy Sylado yang karya-karyanya tidak banyak dikenal orang, tiba-tiba saja kami sampai pada diskusi kecil tentang rezim orde baru; Bapak merindukan masa-masa di mana rejeki mudah sekali diraih, sedang saya mengutuk perilaku doyan ngutang yang dilakukan pemerintah sekaligus menggugat narasi sejarah yang banyak dimanipulasi pada masa itu (biar terlihat pintar dan kekirian, eh, kekinian, hahaha).

"Dulu, zamannya Bapak masih semangat-semangatnya mbecak, cari penumpang itu gampang." Katanya, memulai cerita nostalgi tentang masa bertahun silam. "Jalan sebentar, sudah ada yang minta diantar. Selesai mengantar yang satu, calon penumpang yang lain sudah menanti di ujung gang. Serba enak dulu itu, Na. Angkutan umum belum banyak, transportasi pribadi juga masih sangat terbatas. Harga motor mahal sekali. Apalagi mobil. Dan tidak ada sistem kredit. Tidak seperti sekarang. Orang-orang di zaman dulu kalau mau beli motor pasti mikir-mikir dulu. Nabungnya lama." Bapak tertawa sejenak. "Kemana-mana orang lebih memilih naik becak. Pada akhirnya, yang merasa diuntungkan ya tukang becak macam Bapakmu ini. Penumpangnya jadi banyak, rejeki mengalir lancar."

Saya manggut-manggut mendengarkan. "Tapi hutang pemerintahnya kan banyak, Pak." Saya berkomentar.

"Lho hutangnya kan buat kesejahteraan rakyat." Jawab Bapak cepat. "Beras jadi murah, sembako murah, apa-apa serba murah."

"Tapi tidak ada kebebasan berpendapat. Yang sekiranya menunjukkan gelagat kontra, langsung dibungkam. Yang terdengar mengkritik, penjarakan. Lalu karya-karyanya dilarang edar. Yang salah siapa, yang dihukum yang mana. Apaan."

"Ya itulah." Bapak berkata dengan nada kebapakan. Yaiyalah, wong sudah bapak-bapak. Kalo ibu-ibu ya pasti keibuan. Heuheu. "Kalau bicara demokrasi, bicara kebebasan, keadilan hukum, zaman sekarang memang lebih baik. Lebih manusiawi." Katanya. "Tapi kalau kamu bicara soal kemakmuran, percaya deh, Bapak jadi saksinya; zamannya Pak Harto jauh lebih makmur."

Saya diam.

Dilahirkan pada tahun 1992 dan sudah harus berhadapan dengan krisis moneter saat otak belum sepenuhnya mengerti, adalah alasan mengapa saya merasa tidak memiliki perbandingan apa-apa untuk menyanggah argumen Bapak. Jadi saya diam.

Tapi, berkat bapak saya mendapat jawaban, mengapa di bagian belakang truk-truk pengangkut barang dan kaca-kaca mobil angkutan umum itu banyak tertera poster ngehek berbunyi, "Piye, enak jamanku tho?"

Ternyata, diam-diam, banyak orang merindukannya. Iya, merindukan kepemimpinan sosok laki-laki dalam poster itu.

Pekalongan, 6 April 2016
Di tengah menjamurnya kedai kopi dan kafe-kafe modern di Pekalongan yang menyediakan beragam menu kopi dari asal biji sampai teknik penyeduhan, ada satu yang tetap khusyuk berteduh di emperan. Satu olahan kopi yang bertahan menjadi primadona di gerobak angkringan, dan hanya di gerobak angkringan. Kopi ini, kata orang-orang, adalah kopinya Pekalongan. Kamu tentu tidak tahu. Tidak mengapa. Orang-orang yang mendaku penikmat kopi garis keras macam Iqbal Aji Daryono dan Robi "Aobi" Fuzi--yang doyan pamer foto manunggaling kretek lan kopi--juga belum pernah mencobanya kok. Lha wong tahu saja tidak. Nody Arizona, admin @KopiID yang menganggap ngopi setara dengan bernapas dan pengetahuannya soal kopi lebih dalam dari pengalamannya menyelami sanubari wanita itu pun belum pernah mencicipinya. Cih. Kalau begini, kejantanan mereka sebagai pecinta kopi perlu sekali dipertanyakan.

Kopi tahlil bukanlah sejenis kopi yang bijinya dipanen dari perkebunan lokal seperti halnya gayo dan toraja, misalnya. Bukan. Di sini tidak ada perkebunan kopi. Dia berbeda bukan sebab asal-muasal bijinya, melainkan unik cara pengolahannya. Dan lebih dari itu, dia adalah tradisi. Mengulas tentangnya tanpa mengindahkan sejarah dan budaya setempat sama halnya seperti jomblo yang ngobral bualan soal pacar tapi ogah menunjukkan identitas pacarnya. Kosong. Kopi tahlil pada mulanya disajikan sebagai hidangan wajib pada upacara tahlilan. Tahu kan? Ritual perapalan doa-doa dan kalimat Tuhan yang diadakan oleh sebagian umat islam ketika kehilangan sanak saudaranya (Udah deh, udah.. gak usah ribut dulu soal tahlilan-gak tahlilan, apalagi bid'ah-bid'ahan). Kamu perlu tahu, Pekalongan lahir ketika pemerintahan Islam Demak mulai memekarkan kekuasaannya dan berhasil menjangkau sebagian wilayah pantai utara. Pengaruh Walisongo masih begitu kuat pada era ini. Dan siapapun tahu bagaimana perjuangan Walisongo mengenalkan islam di tanah Jawa melalui asimilasi kebudayaan lokal yang saat itu masih kental oleh kepercayaan hindu, budha, bahkan animisme dan dinamisme. Sampai kemudian muncullah tradisi tahlilan yang merupakan upaya pelestarian dari Pinda Pitre Yajna--suatu upacara untuk menghormati roh-roh orang yang sudah mati--dalam ajaran hindu.

Tahlilan kemudian dipelihara oleh orang-orang NU (yang Muhammadiyah tolong jangan berisik dulu). Di Pekalongan, mungkin juga di kota-kota lainnya, upacara ini diadakan dengan ritme nyaris tetap: nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu. Ada juga yang digelar di luar agenda tadi, seperti misalnya, rutin tiap malam Jum'at. Dalam syahdunya acara tahlilan ini, selalu ada saji-sajian yang terhidang, di mana kopi menjadi sebuah keharusan.

Kopi tahlil bukan sekedar bubuk kopi yang diseduh dalam segelas air panas, lalu diberi sedikit gula agar tidak hanya pahit yang terasa. Dia--layaknya ajaran Walisongo yang berbaur dengan kepercayaan masyarakat lokal--menyatu dengan rempah-rempah hasil panen daerah, seperti jahe, kapulaga, kayu manis, pandan, serai, pala, dan gula jawa, untuk menghasilkan cita rasa yang aduhai nikmatnya.

Lambat laun, kopi tahlil bergeser menjadi komoditas yang dijajakan di setiap sudut Pekalongan. Kamu bisa menemukannya di beberapa titik di kota ini, khususnya di warung-warung macam angkringan pinggir jalan yang mencatutkan tulisan "Kopi Tahlil" di depan tenda-tendanya. Ada dua warung kopi tahlil yang berani saya rekomendasikan untuk kamu yang mau bertandang. Satu di wilayah Poncol depan gedung Kospin Jasa, yang kedua di ruas jalan Haji Agus Salim depan gedung PPIP Klego. Dua inilah yang paling populer. Tapi, sini mendekat, saya beri tahu satu hal: Jika tujuanmu adalah murni kopi tahlil, datangi saja warung kedua, warung Pak Eko namanya. Tapi jika kamu punya uang lebih untuk dibuang-buang, dan waktu senggang untuk bersenang-senang, saya sarankan untuk mampir ke warung pertama. Di sini, kamu bisa menemukan seporsi nasi plus kopi yang dijual Rp 5.000 pada siang hari, berubah menjadi Rp 12.000 pada malam harinya. Padahal kamu mengunjungi warung yang sama. Hanya di sini, kamu bisa mendapati mas-mas kurus berkumis tipis yang membuatkanmu kopi di siang hari, berganti menjadi mbak-mbak ayu nan seksi dengan lirikan mata genit saat malam menjelang. Serangan mbak ayu inilah yang membuat Rp 12.000-mu menjadi tak seberapa.

Saya pribadi lebih senang mampir ke warung Pak Eko di depan gedung PPIP. Bukan karena alasan finansial, saya hanya tidak tahan melihat mbak-mbak bohai yang lipstiknya tak luntur dimakan zaman itu tersenyum malu-malu kerbau tatkala para lelaki menggodanya. Ingin sekali saya melemparnya menggunakan bakwan, biar dia tahu rasanya cemburu. Tentu saja ini bohong. Saya syar'i luar dalam kok. Jadi ndak pernah cemburu. Apa hubungannya? Ndak tahu~

Kopi tahlil dapat disajikan dengan tambahan susu kental manis, untuk kamu yang berjiwa lembut. Bisa juga apa adanya. Tentu saya lebih suka yang kedua. Rasa kopi dan rempahnya lebih kuat, hangat jahenya mengalir lewat tenggorokan dan menjalar ke seluruh tubuh. Membuat semangat. Tapi, Dik, kalau kamu perempuan, jangan sekali-kali pesan kopi tahlil tanpa susu di hadapan laki-laki. Percayalah, itu hanya akan membuatmu tampak lebih garang, dan beberapa laki-laki tidak suka saat kegagahannya dibunuh. Pada beberapa kesempatan, seberapapun inginnya saya minum kopi tahlil hitam, saya lebih memilih memesan yang campur susu, atau air mineral sekalian, untuk menunjukkan kepada laki-laki di hadapan saya: aku tak lebih kuat darimu. Dan dari situ kita bisa merebut hatinya pelan-pelan.

Di warung kopi ini, di mana segala permasalahan dari urusan politik, perang, sampai cerita ranjang diperbincangkan, kita akan mengakhiri obrolan. Semoga lewat kopi tahlil ini, kamu akan lebih mengenal Pekalongan, juga orang-orangnya, terutama saya. :*

Selamat ulang tahun, Pekalongan.
Jum'at, 1 April 2016
Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja.

Saya pernah bertemu laki-laki yang ternyata harus pacaran 21 kali dulu untuk--akhirnya--memantapkan pilihan pada 1 wanita, dan menikah. Ada juga yang bahkan sampai pacar ke-27 pun, dia belum mau mengajak sang pujaan hati ke penghulu. Ada yang pacaran-putus-pacaran-putus, ujung-ujungnya balikan sama mantan pertama. Ada yang memegang prinsip: "Kutunggu jandamu!" Ada. Beneran. Dan dia dengan setianya menjomblo sampai Allah kasihan lalu ambil nyawa suami dari wanita yang dicintainya, dan si wanita jadi janda kembang. Yang lain memutuskan untuk tidak menikah selamanya, gegara ditinggal kawin wanita yang sudah 8 tahun dipacarinya (uh kasian >_<), tapi toh pada akhirnya dia menikah juga. Dan bahagia. :|

Banyak yang tidak pacaran. Banyak. Tapi mantap bilang "Ya", saat dilamar seseorang yang belum dikenal. Banyak juga yang tidak pacaran, tidak menikah, tiba-tiba ngidam.
Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja. Ia menakjubkan, tapi juga membuat gila. Sama gilanya dengan dua sejoli yang sampai jam 00 masih telponan, padahal jam 22 tadi baru pulang dari agenda kencan.

Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja. Dan bagaimana perjalanan asmara saya nantinya. Saya hanya berbaik sangka, bukankah Allah lebih tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya? Kalaupun saya bilang saya mau Rio Dewanto, tapi Allah memandang saya lebih membutuhkan figur macam Ust. Wijayanto, saya bisa apa?

Saya tidak pernah tahu bagaimana asmara bekerja. Tapi saya yakin, Allah sendiri yang akan memberi isyarat bila waktunya tiba.

"Kapan itu, Up?"

Saat jodoh sudah di depan mata. *Eaa
Sembari bekerja, sembari menjaga hati kita.
Selamat larut malam!
Salam asmara dan kejombloan.
Besok libuurr! -_-zZZ

***

Tulisan ini dibuat sekaligus diposting pertama kali pada 7 Desember 2014, sekitar dini hari menjelang pukul satu. Pada saat itu, istilah pacaran amat sangat dekat di telinga. Di hati para remaja. Tapi saya tak tertarik untuk menjadi lakonnya, dan tak pernah tertarik bahkan sampai detik di mana seorang laki-laki datang melamar.

Nama saya Ra'ufina. Saya lahir di suatu daerah dekat stasiun kota, tinggal dan menetap di sana sampai tulisan ini dibuat dua puluh tiga tahun kemudian.

Kalau suatu hari nanti kamu pergi menumpangi kereta yang melintas di jalur ganda utara, dan pada satu waktu keretamu transit di Stasiun Kota Pekalongan, turunlah. Mampirlah. Akan saya tunjukkan banyak hal tentang kota ini. Salah satunya berupa bukti betapa istriable dan suamiable-nya pemuda-pemudi kota ini. Seperti saya! :v

Pekalongan. Ialah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah. Kota dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah saling berhimpit yang kadang hanya berbataskan satu lapis tembok. Kamu bisa membayangkan betapa penuh sesaknya perkampungan di sini. Hingga kamu bisa mendengar orang-orang bertengkar, bahkan ketika tetangga sebelah rumahmu mendengkur di kamar-kamar. Mungkin sekali waktu, kamu juga akan mendengar bunyi gaduh diikuti suara seseorang yang mendesah samar-samar, ketika kamu terbangun pada suatu pagi yang terlalu dini. Memaksamu untuk belajar ati-ati, sebab di sini, tak ada tempat yang benar-benar tersembunyi untuk melakukan sesuatu secara sembungi-sembunyi.

Layaknya tipikal manusia yang tinggal di daerah pesisir, masyarakat kota Pekalongan adalah orang-orang yang terbuka. Sebab menurut filosofinya, yang mereka pandangi setiap harinya adalah hamparan laut yang lepas, yang luas bagai tak berbatas, sehingga hati dan pikiran mereka pun menjadi sama luas. Mereka orang-orang yang minim prasangka (tampaknya), sangat welcome, dan pada titik tertentu, kelewat toleran.

Di sini, kita bisa menarik satu simpulan ngawur bahwa sesungguhnya VOC tidaklah pernah menjajah kita, sebab yang terjadi adalah mereka menepi ke daratan Nusantara dan disambut baik oleh masyarakat pesisir. Hahaha ngawur kowe, Up!

Kamu mungkin belum tahu bahwa di sini--di Pekalongan--tidak hanya Jawa yang berkuasa, tapi Tionghoa dan Arab juga. Ketiganya adalah komponen pokok yang membentuk masyarakat. Ada sebuah area yang menjadi titik temu antara garis pemukiman yang satu dengan yang lainnya: Jembatan Kali Loji. Saya sudah pernah menuliskannya di sebuah postingan terpisah. Dari sini, kamu bisa melihat bagaimana Pekalongan berdiri di atas toleransi. Di mana etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa dapat hidup berdampingan dengan mesranya. Di titik ini pula, kamu bebas memandangi kesunyian bangunan gereja kristen di sebelah utara, masjid jami' agak ke timur, gereja katholik yang megah di sisi barat jembatan, dan klentheng bernuansa merah menyala tepat di belakang gereja katholik--sebagai simbol-simbol kerukunan umat beragama. Jangan tanyakan soal aliran-aliran, terlebih lagi dalam islam. Di Pekalongan, sunni dan syiah bukanlah dua raksasa yang perlu diadu domba. Mereka sudah ada dan turut mendewasa bersama waktu. Pun demikian dengan ormasnya. Apakah itu NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Rifa'iyyah, LDII, MTA, HTI, PKS--eh, maksud saya IM, dan lain-lain, termasuk Ahmadiyah, yang konon telah dilabeli "keluar dari Islam", tak peduli seberapa minoritas atau mayoritasnya, ada di sini. Dan mereka mekar pada tangkainya masing-masing tanpa merusak kelopak yang lain.

Kan.. kan.. kelewat toleran kan.
Begitulah~
Dan melihat makin minimnya sikap toleran dalam diri generasi sekarang, rasanya tak berlebihan jika saya mengatakan: belajarlah pada masyarakat Pekalongan.
Tapi jangan saya. Mbok malah jadi ngawur. :'v

Ditulis menjelang hari jadi Pekalongan, 2016

"Bayi-bayi ini terlanjur lahir dengan ketidaksempurnaan fungsi organ. Maka jangan sekali-kali memberinya cacat tambahan, baik karena kesalahan alat maupun keterlambatan penanganan."
-Mbak Lifah, Wakaru Perinatologi RSUD Bendan-

Sebulan sudah saya dipindahtugaskan ke ruang perinatologi, sebuah ruangan di mana bayi-bayi dengan masalah kesehatan dan riwayat kelahiran yang buruk itu dirawat oleh mbak-mbak petugas yang manis seperti saya. Eh, ngetiknya kebablasan.

Jika dulu--saat masih bertugas di ruang nifas--saya banyak menyinggung soal wanita dan perangainya, dan secara tidak langsung ikut menghakimi bagaimana wanita-wanita itu tampak tidak berharga sebagai pihak yang bereproduksi, kini sudut pandang saya mengalami pergeseran. Saya tidak lagi fokus pada problematika para wanita yang begitu rumit dan pisuhable, tidak peduli pada asal-muasal kehadiran bayi, terserah, karena sekarang saya fokusnya cuma ke kamu, Mas. :* Maaf, typo. Maksud saya, saya fokusnya ke bayi.

Ruang perinatologi memaksa saya memandang sama ke semua bayi. Entah bayi yang lahir dari hubungan gelap, bayi yang lahir dari rahim remaja, bayi yang tidak diakui orang tuanya, maupun bayi-bayi yang entah apa pula kisahnya; semua sama. Benar kata Mbak Lifah, mereka terlanjur lahir. Mereka berhak hidup. Tidak sepantasnya seseorang menimpakan kesalahan manusia dewasa kepada bayi-bayi yang masih bersih dari noda khianat, layaknya rezim orba yang seenak wudelnya mengutuk generasi-generasi tertuduh PKI. Ya kalau tuduhannya benar, lha kalau salah? Kan, sapi.
Tapi yowislah, nggak ada hubungannya juga sih. Hahaha

Kabar baiknya, berkat tugas di ruang ini, sedikit demi sedikit sifat keibuan saya muncul dan bersinar terang. Kalian harus percaya itu. Harus.

Pekalongan, 29 Maret 2016
Barangkali, banyaknya kubu yang menyerang dan menekan Ahok dengan dalih agama/keyakinan (baca: mengata-ngatai belio sebagai kafir, dan bla bla bla, sehingga tidak pantas dipilih sebagai pemimpin) membuat segelintir orang merasa simpati, lalu menuliskan,
Untuk sekedar memberi gambaran bahwa tidak semua muslim setuju dengan sikap deskriminatif semacam itu. Sialnya (atau asyiknya?), tindakan tersebut mendapat respon balik, berupa kalimat,

Nah.

Pertanyaannya sekarang, haruskah menggunakan premis "saya muslim"?

Secara harfiah, memang, muslim berarti orang yang berserah diri (kepada Allah), atau lebih sempitnya; penganut agama islam. Dia bisa diartikan secara tunggal. Tapi, pembicaraan tentang muslim juga hampir selalu dimaknai secara jamak, komunitas, karena yang islam ndak cuma kamu. 

Mengatakan "saya muslim" sama artinya dengan mengklaim bahwa "saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang memeluk islam".
Huh, berat lho itu. Berat sekali pertanggungjawabannya. Keyk bawa orang sekampung. Karena mau tidak mau kamu dianggap mewakili ummah (sebutan untuk jama'ah muslim), bukan sekedar personal statement. Hati-hati.

Dukung/tidak dukung, pilih/tidak pilih, cinta/tidak cinta, itu hak masing-masing orang. Tapi ya kalau bisa, mengungkapkannya atas nama diri sendiri. Seperti misalnya,
Itu cukup.

Pekalongan, Maret 2016