Saya hampir tak pernah merasa cemburu. Pada manusia, misalnya, mungkin juga pada burung-burung, paku payung, dan serpih-serpih kayu dari kaki meja yang mulai keropos digerogoti rayap. Para ahli di luaran sana mengatakan cemburu adalah manusiawi, yang sudah dimiliki manusia bahkan sejak usianya baru menginjak sasi kelima, tapi saya tidak percaya. Saya tidak memilikinya.

Ketika menceritakan watak anak-anaknya, Ibuk selalu mengatakan bahwa di masa kecil, saya adalah anak yang keras kepala, penuh ambisi menguasai, dan cenderung tidak mau menerima kekalahan. Saya sering mengamuk setelah gagal melakukan sesuatu, dan ringan tangan pada siapapun yang mengusik konsentrasi saya, sekalipun ia hanya bocah kecil yang masih belajar merangkak. Dalam sebuah permainan anak kampung, saya ingat, saya pernah tersandung jatuh di saat seharusnya saya bisa jadi pemenang. Tentu saja saya tidak terima. Saya ngotot memaksa anak-anak lain untuk mengulang permainan, lalu meminta adik saya menjadi pemain pengganti. Adik saya kalah. Dan saya menangis. Jengkel pada segala.
"Fina ki menengan, tapi atos." Begitu kata Ibuk.

Tapi mau tak mau, Ibuk harus mengakui bahwa anak ke-duanya ini memang bukan tipe pencemburu. Saya tidak pernah merengek minta ikut saat Ibuk lebih memilih adik saya untuk diajak belanja. Dan tidak pula marah ketika tahu Mbak Liya dibelikan sandal, sementara saya tidak.

Cemburu, kalian tahu, adalah semacam ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dirasa dimilikinya.

Saya sering mendengar seorang wanita cemburu ketika kekasihnya, barangkali, terlihat begitu akrab dengan wanita lain yang--mereka--sudah bersahabat sejak kecil. Lalu cemburu itu diekspresikannya dalam aksi ngambek tiga harian, atau ngomel-ngomel di telepon sepanjang malam. Ini tidak logis tentu saja. Maksud saya, ini tidak imut.

Setiap orang memiliki hak atas hubungan timbal-balik yang mereka bangun dengan siapapun dan apapun. Saya merasa memiliki Ibuk saya, tapi beliau juga milik anak-anaknya yang lain, milik bapak saya, milik embah saya, milik para pelanggan di warungnya, dan lebih dari itu, milik Tuhan. Mereka berhak atas sebagian perkara dari dirinya. Katakanlah saya mencintai kamu, Mas, tapi ingat bahwa kamu juga dicintai sahabat-sahabatmu, dicintai komunitasmu, dicintai saudara-saudarimu, orang tuamu, dan lagi-lagi, Tuhan. Kalau cinta membutuhkan fokus, maka bagi fokusmu itu sesuai porsi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang keliru adalah ketika salah satu dari kita melanggar komitmen. Penghianatan atas kesepakatan-kesepakatan bersama. Kesepakatan yang inti dan intim, bukan semata tuntutan buta untuk tidak begini-begitu.

Bedakan.

***

Sementara setatus ini diketik, sebagian orang tetap bersikukuh bahwa cemburu yang begitu adalah tanda cinta. Dan saya menghargainya. Tidak tertutup kemungkinan bagi saya untuk sampai pada definisi itu, saat waktunya tiba. Kita toh terbiasa menjadi tolol untuk hal-hal yang kita suka.

Pekalongan, 8 Januari 2016

Biasanya, orang yang kedatangan tamu dari jauh cenderung akan memperbaiki kondisi rumahnya terlebih dahulu, minimal, agar tamunya kerasan. Tapi tidak demikian dengan adik saya.

Arizkanesia Tsiqah namanya. Dia, tanpa rasa pekewuh--sebab Mbakyu-nya yang dari Pekalongan ini mau bertandang ke Jogja, membiarkan begitu saja meja kamarnya penuh sesak oleh beragam barang yang numpuk berantakan. Debu, laptop, charger, buku-buku, cairan pembersih wajah, sampai cotton buds sekalipun, tumplek jadi satu. Saya sampai heran bercampur haru, adik saya ini perempuan atau laki-laki? Di sini kadang saya merasa merindukan sosok suami. *eh

Melihat keumbrusan semacam itu, entah bagaimana saya tidak marah. Tidak jengkel, apalagi ngamuk-ngamuk. Saya hanya ngomel sedikit, sedikit lho ya, lalu bergerak perlahan membereskan setiap sudut problematika di kamar kost adik saya.

Lalu saya mikir, mungkin beginilah cinta. Entah karena Rizka-nya yang mudah dicintai, atau memang saya-nya yang mudah mencintai (ehem), dengan sendirinya tangan ini cekatan membersihkan dan menata ulang barang-barang, di saat pemiliknya asik nggelosor sambil gadget-an selepas shubuh. Saya bisa saja cuek sebenarnya, pura-pura gak lihat atau apa, tapi hati ini ndak tega je. Saya cinta sama adik saya.

Duh, (lagi-lagi) tentang cinta. Dia membuat banyak orang melakukan hal-hal 'besar' atas kehendak hati. Saya jadi mengerti, cinta memang kadang tak mengenal logika.

Lha ya iya, tho? Kalo cinta pakai logika, mungkin kamu nggak akan ngejar-ngejar dia yang sudah tegas menolakmu. Juga nggak bakalan ada lagi orang-orang yang nikung sahabatnya sendiri. Ihik!

Sudah ah. Dari pada cinta-cintaan, mending ikut Rajaban. *O*
Shollu 'alaa Muhammad.

Yogyakarta, tahun baru 2016 ~

Awalnya, saya pikir, saya tidak merokok karena saya perempuan. Mungkin sama halnya seperti saya belum menikah karena saya lajang. *eh, typo :v

Tapi lambat laun, seiring makin matang dan anggunnya diri ini, saya sadar, merokok itu pilihan. Dia adalah kebebasan bagi tiap-tiap jengkal kehidupan, bukan semata milik kaum lelaki atau banci-banci di trotoar jalanan. Hanya saja, di negeri gemah ripah loh jinawi ini, perempuan yang merokok memang masih dianggap tabu. Saru. Tidak sepantasnya. Juga berbagai istilah lain yang ada. Maka sangat tidak mengherankan jika respon masyarakat menjadi sedemikian mengharukan ketika pada Oktober 2014 yang lalu, di antara deret panjang menteri Jokowi, berdiri Susi Pudjiastuti, perempuan perokok.

Ini bukan sebentuk pembelaan terhadap kaum perokok. Bukan. Jangan suka salah paham gitu lho. Tak sun baru tahu rasa. Saya ini cuma pingin bilang, masing-masing dari kita punya pilihan, alangkah indahnya jika kita bisa bertanggung jawab pada pilihan itu, lalu saling menghargai atasnya.

Saya pernah mencicipi rokok--untuk tidak dikatakan merokok. Dulu, dulu sekali. Pada periode di mana rasa ingin tahu selalu menjadi perkara yang bisa dimaklumi. Pernah mencoba yang filter, pernah juga yang kretek. Dan tentu saja, bagi anak perempuan seumuran saya kala itu, filter lebih dijagokan. Keyk ada manis-manisnya gituh. Tapi apalah daya, baik filter maupun kretek, respon tubuh saya tetaplah sama: terbatuk-batuk. Saya pun langsung memutuskan, "Ah, ora enak." Kemudian berlalu.

Belakangan saya merenung, sikap saya saat itu seolah menjadi pertanda, saya tidak merokok bukan karena saya perempuan, melainkan karena saya tidak doyan. Kalau meminjam istilah dari teman saya: "Saya nggak nemu nikmatnya di mana."

Masalahnya kemudian adalah kita terlalu terdoktrin pada skala hitam-putih, buruk-baik hal dari dua nilai yang saling bertentangan. Bahwa yang tidak merokok itu jauh lebih baik dari yang merokok, lebih bersih, lebih sehat, lebih hemat, lebih sopan, lebih beradab, lebih ngalimi, dan tetek bengek penilaian lain yang sifatnya tidak mutlak. Sementara yang merokok adalah antitsesis dari semua itu. Kan, ngehek. Analoginya jadi semacam: yang ganteng dan kaya itu sudah pasti membahagiakan. 

Ooooora ngandel!

Jal sawang-o, kae lho Mbak-Mbak ayu pacare yo biasa tok. Mas-Mas ganteng sing kae yo pacare biasa tok. Sing biasa karo sing biasa yo akeh. Kenapa? Karena mereka mengejar kenyamanan, lewat komunikasi yang nyambung dan prinsip-prinsip senada, yang seringkali justru tidak terpatok pada fisik dan materi.

*hening sejenak

Iki ngopo dadi mbahas kegantengan? Ngoahahaha~

Ujung-ujungnya--oleh sebab skala hitam-putih itu tadi--kita yang tidak merokok jadi merasa paling benar, lalu memaksakan kehendak pada yang lain. Satu sikap, yang tidak pernah saya dapatkan dari Bapak.

Suatu ketika, Bapak berkata pada saya, "Rokok itu haram bagi yang mengharamkan." Kemudian melanjutkannya setelah diam beberapa saat, "Menurutmu, kenapa Muhammadiyah mengharamkan merokok? Sebab merokok diyakini dapat membahayakan diri sendiri dan orang banyak, juga termasuk ke dalam perbuatan bunuh diri pelan-pelan, yang mana itu melanggar isi Qur'an. (Sungkem dulu sama Pak Haedar Nashir.) Kata 'bahaya' di sini lebih menitikberatkan pada unsur kesehatan, seperti kandungan nikotin dan ribuan zat beracun lainnya. Tapi, coba kamu lihat, Nduk. Orang-orang yang merokok itu kebanyakan adalah orang-orang legawa yang berumur panjang. Karena mereka gemar berbagi dan menjalin pertemanan. Kalau kamu perhatikan, ketika ingin merokok, mereka pasti akan menawarkan rokoknya pada orang di sebelahnya, tak peduli siapapun dia, tak peduli apakah perokok atau bukan. Lalu dari situ terciptalah obrolan. Itu, menurut Bapak, adalah keahlian yang naluriah. Dan diakui atau tidak, itu menyehatkan, dalam pengertian yang lain."

Bapak saya termasuk orang yang mengharamkan rokok bagi dirinya sendiri, tapi tidak kepada yang lain. Sering saya lihat lelaki paruh baya itu menyuguhkan sebungkus-dua bungkus rokok pada kawan yang bertandang. Lalu jika tersisa, sisanya diberikan untuk mereka bawa pulang. "Nggo sangu neng ndalan," kata Bapak.

Kan, jadi kangen Bapak kan. :')

Kalau kalian--eh, kita--adalah orang-orang yang mempermasalahkan perkara seperti, "Giliran beli beras aja pake ngutang, tapi rokoknya gak pernah mandeg," dan menganggap bahwa salah satu penyelesaiannya adalah dengan menutup semua akses pendistribusian--bahkan kalau perlu ditutup itu pabrik--rokok di negeri ini, mungkin kita hanya sedang lupa, bahwa: 1. Mengumpulkan uang yang seharusnya dipakai untuk membeli rokok itu tidak lantas menjadikan seseorang mampu membeli beras berkarung-karung dalam sekali angkut. Kamu tahu, uang rokok itu keyk tiba-tiba saja ada, gitu lho. Keyk, dipake nggak dipake pun pasti habis, gitu. Ngerti, kan? 2. Melarang akses distribusi rokok, bahkan menutup perusahan-perusahannya bukanlah jaminan orang-orang itu akan berhenti merokok, apalagi untuk mereka yang sudah meletakkan perkara ini pada tataran kebutuhan. Lha bayangin, perkebunan tembakau dan cengkeh kita itu begitu luas je, kita juga nggak butuh insinyur kelas kakap kalau cuma soal nglinthing rokok.

Nah, seperti yang saya katakan di awal, alangkah indahnya jika kita bisa bertanggung jawab dan saling menghargai atas pilihan masing-masing. Saya memilih tidak merokok, bukan berarti saya anti. Kamu, Mas, memilih untuk merokok. Ya, silahkan. Tidak perlu berbangga-bangga sok gagah begitu. Merokok-tidak merokok itu hal biasa. Seperti ngopi dan tidak suka kopi. Yang terpenting saya tahu kenapa saya tidak merokok, setelah itu diam, dan kamu tahu kenapa kamu merokok, lalu konsekuen, beli rokok pakai duit sendiri. Juga ingat, Mas, merokok itu tidak di tempat yang banyak orangnya. Karena, kamu tahu, tidak semua orang suka asap rokok. Tidak semua orang suka gayamu saat merokok. Mereka bukan saya, yang menerima kamu seluruhnya.

Pekalongan, awal Januari 2016