CEMBURU

Januari 08, 2016


Saya hampir tak pernah merasa cemburu. Pada manusia, misalnya, mungkin juga pada burung-burung, paku payung, dan serpih-serpih kayu dari kaki meja yang mulai keropos digerogoti rayap. Para ahli di luaran sana mengatakan cemburu adalah manusiawi, yang sudah dimiliki manusia bahkan sejak usianya baru menginjak sasi kelima, tapi saya tidak percaya. Saya tidak memilikinya.

Ketika menceritakan watak anak-anaknya, Ibuk selalu mengatakan bahwa di masa kecil, saya adalah anak yang keras kepala, penuh ambisi menguasai, dan cenderung tidak mau menerima kekalahan. Saya sering mengamuk setelah gagal melakukan sesuatu, dan ringan tangan pada siapapun yang mengusik konsentrasi saya, sekalipun ia hanya bocah kecil yang masih belajar merangkak. Dalam sebuah permainan anak kampung, saya ingat, saya pernah tersandung jatuh di saat seharusnya saya bisa jadi pemenang. Tentu saja saya tidak terima. Saya ngotot memaksa anak-anak lain untuk mengulang permainan, lalu meminta adik saya menjadi pemain pengganti. Adik saya kalah. Dan saya menangis. Jengkel pada segala.
"Fina ki menengan, tapi atos." Begitu kata Ibuk.

Tapi mau tak mau, Ibuk harus mengakui bahwa anak ke-duanya ini memang bukan tipe pencemburu. Saya tidak pernah merengek minta ikut saat Ibuk lebih memilih adik saya untuk diajak belanja. Dan tidak pula marah ketika tahu Mbak Liya dibelikan sandal, sementara saya tidak.

Cemburu, kalian tahu, adalah semacam ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dirasa dimilikinya.

Saya sering mendengar seorang wanita cemburu ketika kekasihnya, barangkali, terlihat begitu akrab dengan wanita lain yang--mereka--sudah bersahabat sejak kecil. Lalu cemburu itu diekspresikannya dalam aksi ngambek tiga harian, atau ngomel-ngomel di telepon sepanjang malam. Ini tidak logis tentu saja. Maksud saya, ini tidak imut.

Setiap orang memiliki hak atas hubungan timbal-balik yang mereka bangun dengan siapapun dan apapun. Saya merasa memiliki Ibuk saya, tapi beliau juga milik anak-anaknya yang lain, milik bapak saya, milik embah saya, milik para pelanggan di warungnya, dan lebih dari itu, milik Tuhan. Mereka berhak atas sebagian perkara dari dirinya. Katakanlah saya mencintai kamu, Mas, tapi ingat bahwa kamu juga dicintai sahabat-sahabatmu, dicintai komunitasmu, dicintai saudara-saudarimu, orang tuamu, dan lagi-lagi, Tuhan. Kalau cinta membutuhkan fokus, maka bagi fokusmu itu sesuai porsi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang keliru adalah ketika salah satu dari kita melanggar komitmen. Penghianatan atas kesepakatan-kesepakatan bersama. Kesepakatan yang inti dan intim, bukan semata tuntutan buta untuk tidak begini-begitu.

Bedakan.

***

Sementara setatus ini diketik, sebagian orang tetap bersikukuh bahwa cemburu yang begitu adalah tanda cinta. Dan saya menghargainya. Tidak tertutup kemungkinan bagi saya untuk sampai pada definisi itu, saat waktunya tiba. Kita toh terbiasa menjadi tolol untuk hal-hal yang kita suka.

Pekalongan, 8 Januari 2016

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe