Sudah sejak lama saya memilih diam saat datang godaan untuk menghakimi seseorang dengan dalih-dalih agama. Melakukan penilaian tantang benar dan salah dari satu sudut pandang; melulu islam, tapi tak pernah jelas makna islam yang bagaimana yang dimaksud.

Ruang nifas--sebuah ruang perawatan untuk hampir semua jenis diagnosa kebidanan di luar proses bersalin--tempat saya bekerja sejak satu setengah tahun ke belakang, memaksa saya meletakkan sikap 'main hakim' itu di laci paling bawah sendiri. Bukan perkara gampang, tentu saja. Tapi itulah satu-satunya pilihan paling waras untuk tetap menjadi manusia yang berguna. Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna, Mas?

Di ruang ini, bukan lagi hal yang menakjubkan untuk sekedar menemukan seorang janda yang terlambat haid dua bulan, padahal masa iddah baru saja terlewati dan dia tidak disentuh mantan suaminya sejak enam bulan sebelum berpisah. Itu sudah biasa. Saya menempatkan diri sebagai tenaga kesehatan yang peduli mas-mas, dan saya katakan itu hal biasa. Tidak perlu dipusingkan. Berbeda kiranya jika saya memposisikan diri sebagai ustadzah karbitan-online-yang-celalu-ingin-dakwah-dan-mengkampanyekan-menikah lalu bekerja di rumah sakit. Yang mungkin terjadi adalah saya menolak merawat pasien-pasien tertentu karena saya anggap mereka berdosa. Calon penghuni neraka. Sebagaimana janda yang tiba-tiba hamil itu. Bla bla bla... Dan itu wagu. Saking wagunya sampai saya ingin menyudahi saja segala praktik kejombloan ini.

Nifas serupa saksi lanjutan, bagaimana anak perempuan kelas 2 SMP itu agak kaku ketika belajar menyusui bayi hasil bermainnya dengan kakak senior. Juga saksi bagi perempuan cantik yang nyaris mati kehilangan darah sebab kemaluannya robek dimasuki keras-keras oleh senjata pacarnya. Dan dalam waktu yang tak lama berselang, menjadi tempat perawatan sementara bagi perempuan muda dengan keterbelakangan mental yang dihamili oleh adik ibunya, setelah lelaki kurang gawean itu kabur tiga bulan pascamenanam. Perempuan itu, jangankan menyadari keberadaan janin dalam rahimnya, terhadap dirinya sendiri pun dia tidak peduli. Dan dia sudah harus menanggung beban sakit saat rahimnya mulai berkontraksi. Lalu orang tuanya... Ah, jiangkrik, memang. Tega betul takdir ini menyapa mereka. Belum lagi jika yang datang adalah pasien keguguran yang mengaku sudah bersuami tapi buku nikah dan kartu keluarga pun ia tak punya. Ya mau bagaimana? Tetap kami terima. Semua itu bukanlah kekacauan yang harus diselesaikan di rumah sakit. Lebih-lebih lagi di ruang nifas.

Nifas itu tentang bagaimana seorang perempuan mendapatkan perawatan optimal dan pulang dengan seminim-minim keluhan. Membuat saya sadar, ada banyak sekali tindakan yang bisa dilakukan tanpa menempatkan penghakiman moral agama di garda paling depan.
*kemudian hening

***

Pagi tadi, satu SK terbit. Ada rollingan besar-besaran, di mana beberapa petugas dari satu ruangan mendapat giliran pindah ke ruangan lain dalam disiplin ilmu yang sama. Dan saya termasuk yang namanya tercantum dalam daftar.

Per Maret 2016 nanti, saya akan dipindah ke ruang perinatologi: ruangan khusus untuk bayi bermasalah (dengan kegawatan dan atau riwayat kelahiran yang buruk). Saya tidak tahu apa yang nanti bisa saya berikan dan dapatkan di sana. Bisa jadi lebih banyak. Yang jelas, saya akan mempelajari sesuatu yang sama sekali baru. Bukan, bukan. Bukan tentang bagaimana cara membuat bayi. Itu sudah saya kuasai bahkan sebelum lulus kuliah kemarin #Eh
Ini tentang bagaimana mengupayakan agar bayi-bayi di sana bisa bertahan hidup, dan menjadi generasi yang berkualitas di kemudian hari.
*nggayamu, Up!
Hahahahaha~ ngomong tok ki pancen gampang kok.

Pekalongan, 28 Februari 2016
January 19, 2016 (tuesday at 4:22pm) ...

"Kowe gelem rak nulis artikel?" Tanya seorang teman dari Ternate sana.

"Artikel tentang opo?"

"Ternate."

Sulit bagi saya untuk mengiyakannya. Saya bukan sejenis manusia yang bisa menuliskan hal yang belum pernah saya alami. Saya pernah membuat esai tentang Pekalongan, sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah, tapi itu karena saya sudah tinggal di dalamnya dua puluh tiga tahun lamanya. Saya juga pernah menulis catatan tentang Yogyakarta, tetapi itu setelah kunjungan beberapa hari saya ke sana. Akan menjadi usaha yang keras bagi saya untuk menguraikan kata demi kata tentang Ternate, karena sekalipun saya belum pernah bersentuhan dengannya.

Tetapi bukankah sedang musim yang demikian? Orang-orang berbicara dan menulis tentang sesuatu di luar jangkauannya, tentang perkara-perkara yang sebenarnya tidak mereka kuasai, seperti misalnya: tentang Tuhan, dengan pemahaman sebatas lidah.

Kalau tentang Tuhan saja mereka berani umbar asumsi, kenapa Ternate tidak coba saya jabani?
Maka demikianlah, saya mengerahkan segala daya imaji dan kemampuan mengolah kata untuk menyusun anak kalimat demi anak kalimat menjadi sebuah prosa yang--semoga saja--mengena. Dengan meminjam ruh dan sudut pandang dari teman saya yang tengah tertidur dini hari itu, saya menuliskan ini~

TERNATE: Jejak Sejarah, Kemegahan, dan Sedikit Andai-andai

Membahas soal Ternate tak bisa lepas dari pelajaran sejarah pada masa sekolah dulu. Di mana Ternate hampir selalu disebut bersamaan dengan Tidore--layaknya Goa dan Talo--sebagai dua kerajaan islam yang berpengaruh pada pada era-era awal perjuangan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah. Saya tidak tahu pasti, apakah uraian mengenai Ternate (dan Tidore) masih kerap dimunculkan dalam buku-buku sejarah di sekolah menengah, dan apakah masih (saja) disampaikan dengan metode pembelajaran satu arah yang seringkali hanya mencetak generasi 'sekali ujian ya sudahlah'. Hingga kemudian nama kesultanan itu menjadi sebatas istilah yang terlupakan, yang bahkan tidak lebih diingat dari barisan para mantan.

Tapi itu dulu. Makin santernya arus informasi yang membanjiri wawasan anak bangsa dewasa ini membuat kita, setidaknya, bisa dengan mudah bernostalgia dengan pengetahuan-pengetahuan lama yang pernah mampir ke sanubari. Atau sekedar menengok kembali apa yang dulu kita selami, meski tidak melulu tentang kisah heroik sebuah entitas dalam mempertahankan eksistensi, maupun perkara-perkara yang dikaitkan dengan agama.

Kamu tahu, pemandangan di sudut-sudut Ternate lebih indah dari itu semua.

Ibarat gadis, Ternate telah tumbuh menjadi remaja. Dan kita sama-sama tahu, dia remaja yang cantik. Saya selalu membayangkan Ternate sebagai negeri yang subur dan makmur, hijau dengan gunung menjulang, biru oleh laut yang membentang, lalu dikelilingi pulau-pulau kecil bak butiran mutiara di luasnya samudera. Dia laksana gunung berapi yang mencuat dari dasar lautan, dan darinya terbentuk sepetak daratan yang cukup luas untuk ditinggali.

Sejak menginjakkan kaki di tanah Ternate pada Oktober 2015 yang lalu, demi menjalankan tugas negara sebagai salah satu abdi di KPPN setempat, saya tidak dapat menahan diri untuk segera mengeksplor keindahan alam Ternate. DSLR Samsung nx3000, Polygon Shimano, dan sepasang Diadora ukuran 43 hanyalah sekian pernik usaha yang saya kumpulkan satu demi satu untuk menemani petualangan di hari-hari mendatang. Bersepeda mengelilingi gunung, menikmati senja di Benteng Kastela, merekam kesyahduan trio pulau Maluku Utara--Maitara, Ternate, dan Tidore--di sepanjang perjalanan, menikmati aura mistis yang melegenda di Danau Tolire, merasai jernihnya air laut di Jikomalamo, dan memacu adrenalin untuk menyelam menyapa karang-karang di laut Sulamadaha adalah contoh betapa berhasratnya diri ini akan wisata alam di Ternate. Terus menerus menjelajah setiap kali datang kesempatan. Hingga pada satu titik di kemudian hari, saya meyakini, semua keindahan ini merupakan serpihan surga yang jatuh ke bumi. Silakan kunjungi album Visite Ternate di akun pribadi Facebook saya, Ophand Albana, dan buktikan kalimat di atas. Hahaha.

Ternate bukan lagi sekedar tanah peninggalan kerajaan bersejarah yang didominasi situs-situs kuno lalu menjadi membosankan karenanya, dia--tanpa banyak disadari para raksasa Jawa--telah menjelma menjadi sebuah kota yang tertata. Dengan penerangan dan tebal aspal yang membentang menghubungkan titik-titik strategis kota ini, jalanan utama Kota Ternate terlalu sayang untuk dilewatkan di atas kendaraan begitu saja. Cobalah berjalan kaki di malam hari, nikmati binar-binar cahaya dari lalu-lalang lampu kendaraan yang membaur dengan pendar remang lampu jalanan, niscaya bias-bias warnanya mampu mengobatimu dari lara tentang seorang wanita. Atau berjalanlah di kala siang, mampir sejenak di bangku panjang dekat Benteng Oranye (Fort Oranje) yang berdiri gagah di tengah-tengah kota, duduk di sana, dan lihat, Indonesia Timur jauh lebih perkasa dari yang kita kira. Di sini, di Ternate, kamu bebas meresapi fajar, menanti detik-detik terbitnya sang mentari di Pantai Falajawa dengan keromantisan yang intim seolah pantai itu adalah milikmu sendiri. Sembari mengagumi kemegahan Halmahera dan Tidore yang masih tertidur di seberang mata. Di sini, di Ternate, kamu dipersilakan membunuh waktu, menguliti luka demi luka yang membusuk bertahun lamanya dengan bercengkerama di bawah syahdu nuansa jingga yang melingkup di sepanjang pantai sebelah utara Jatiland Mall menuju arah Hypermart Ternate. Jangankan Korea Selatan, Eropa pun lewat. Mungkin hanya di sini, kalian bisa menikmati komposisi indah dari sebuah landscape jalanan: laut di sebelah kiri, gunung di sebelah kanan, dan tengah-tengahnya jalan raya. Mungkin juga hanya di sini, kalian bisa merasai serbuan angin segar khas pantai, berbalut kesejukan khas dataran tinggi, dengan panorama gedung-gedung menjulang di pusat kota. Kombinasi yang menarik, bukan?

***

Sore itu, saya tengah membaca sejarah negara Eropa bekas Soviet, ketika tiba-tiba satu pikiran melintas di kepala: "Indonesia juga berpotensi pecah." Saya segera menceritakannya pada salah seorang teman di Jawa.

"O ya? Ditandai dengan...?" Teman saya itu, Ra'ufina namanya, bertanya.

"Indonesia bagian timur berkembang pesat. Berontak. Lalu mengalahkan adidaya Indonesia bagian barat yang sekian lama berkuasa."

"Itu sebabnya kamu berkontribusi terhadap kemungkinan itu, dengan terus-menerus mempromosikan Ternate? Kamu ingin memecah-belah tanah air kita?" Dia tertawa.

"Bisa jadi." Saya ikut tertawa. "Tapi pecah tidaknya negara ini bukan tergantung pada majunya suatu daerah, melainkan sistem buatan manusia. Termasuk juga para penguasanya."

"Jadi?"

"Mari majukan timur!" :D
"Rau, operan pasien ya." 

Salah satu rekan kerja dari ruang bersalin menghampiri saya pagi itu. Mbak Tya namanya. Tangannya memegang satu map penuh berisi data pasien. Diletakkannya map itu terbuka di atas meja saya, kemudian mengeja, "Pasien 2 jam post partum, Ny. A, 18 tahun, dengan..."

"He? 18 tahun? Lagi?" Saya reflek memotong kalimat Mbak Tya. Kemudian nyengir, "Hehe, maaf, Mbak. Monggo dilanjut operannya."

***

Dalam seminggu ini, sudah ada belasan pasien persalinan yang kisaran usianya di bawah dua puluh. Kebanyakan dari mereka memang baru pertama kali melahirkan, tapi tidak sedikit pula yang sudah melahirkan anak kedua, bahkan ketiga. Beberapa hari yang lalu, misalnya, datang pasien sembilan belas tahun hendak melahirkan anak kedua, dengan satu kali riwayat keguguran. Artinya, dia sudah tiga kali hamil--dalam usia sebelia dan seunyu itu. Ketika saya telusuri datanya, ternyata dia menikah pada usia enam belas tahun. Usia di mana saya masih asik nongkrong di bangku kantin sambil ngerumpiin kakak kelas yang wajahnya seimut Bondan Prakoso.

Adalah pasal 7 ayat 1 UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, yang berbunyi: "Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun." Yang kemudian menjadi dasar diperbolehkannya pernikahan usia belia di masyarakat. Saya yakin, ada banyak pertimbangan mengapa pemerintah masih saja mempertahankan kebijakan yang sudah melewati masa 40 tahun itu. Saya juga yakin selalu ada alasan dibalik sikap pemerintah yang keukeuh memegang aturan bahwa remaja perempuan yang belum genap tujuh belas tahun dan merasakan bahagianya punya E-KTP itu sudah boleh dinikahkan. Seperti, misalnya, MK yang menolak menaikkannya menjadi delapan belas dengan alasan kebijakan tersebut dianggap tidak menjamin turunnya angka perceraian, permasalahan kesehatan, maupun sosial. Ya, selalu ada alasan dan pertimbangan tertentu--sekalipun itu wagu. Mungkin MK menunggu datangnya tahun di mana Angka Kematian Ibu (AKI) menembus digit 1000 per 100.000 kelahiran hidup, dan lebih dari 50 persennya masuk ke dalam klasifikasi usia di bawah dua puluh, atau Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 500 per 1.000 kelahiran hidup, baru kemudian MK akan menyadari bahwa usia calon ibu ikut berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan anak. (Astaghfirullah, astaghfirullah.)

Berlandaskan teori kebidanan dan kedokteran kandungan, usia yang baik untuk bereproduksi adalah antara 20-35 tahun. Pada usia dua puluh, perempuan dianggap siap bereproduksi bukan semata karena semua organnya telah matang untuk dibuahi, tetapi juga mempertimbangkan kedewasaan mental. Lho, kedewasaan kan tidak mesti diukur berdasarkan umur, Bu Rau? Ya itu kan alibimu saja biar bisa pacaran sama om-om. Maaf, maksud saya, dewasa yang bagaimana dulu? Usia memang tidak bisa menjadi faktor yang berdiri sendiri untuk menentukan kedewasaan seseorang, tapi kestabilan emosi, kematangan pikir, dan cara dia mengambil sikap secara bijak terhadap permasalahan yang timbul, memiliki tahap. Dan tahapan-tahapan itu bisa diklasifikasikan dalam satuan waktu. Mbok pikir, kenapa pembuatan SIM (A, C, dan D) harus dibatasi, hanya diperbolehkan bagi mereka yang sudah berada di atas garis tujuh belas? Sementara untuk perkara naik-nyetater-ngegas-ngerem-belok-berhenti, anak yang baru lulus SD pun bisa. Kenapa coba? Ya karena pada usia tersebut, seseorang dinilai telah memiliki kesadaran dan kemampuan untuk memegang kendali atas dirinya sendiri, kendali atas stang motor dan setir mobilnya, juga kesadaran akan rambu-rambu lalu lintas serta emosi-emosi yang mungkin muncul di tengah jalan--misal, sepuluh meter di depan mata ada nenek-nenek menyebrang jalan tanpa zebra cross, mau ngerem apa terjang nih?
Yah, begitulah hidup dalam tata aturan negara. Hal-hal paling abstrak sekalipun, seperti kesadaran manusia, dipaksakan memiliki ukuran yang dapat diterjemahkan dalam teks.

Menurut penuturan awam, alasan terbanyak yang mendorong seorang perempuan menikah lalu hamil di usia belia adalah faktor ekonomi. Tahu sendiri lah ya bagaimana kondisi perekonomian negara kita. Di luar begitu anggun dengan menjadi salah satu negara asal jamaah haji terbesar di dunia, tapi dari dalam korupsi menggerogotinya pelan-pelan. Hihihi. Agak goncang-goncang gimana gitu. Keyk-keyk naik angkot yang ban kanan belakangnya bocor. Maka menikahkan anak perempuannya sesegera mungkin dianggap para orang tua sebagai kunci penyelesaian masalah sandang-pangan-papan. Prinsipnya, dengan menikahkan, beban keluarga berkurang, dan dengan begitu diharapkan setatus perekonomian naik tingkat dari "kurang" menjadi "cukup". Kalau kita sepakat untuk berhenti di sini, maka kamu akan mendapati bahwa satu masalah telah terselesaikan. Tapi, cobalah untuk lebih visioner. Memandang jauh ke depan. Kamu akan tahu bahwa itu bukan solusi yang tepat.


Ibu Hamil dan Janin dalam Kandungan
 
Memaksakan organ reproduksi bekerja sebelum mereka siap menanggung beban hasil pembuahan itu ibarat membuat batu bata, yang seharusnya dijemur dan dibakar terlebih dahulu, dia langsung digunakan untuk mendirikan bangunan. Ya rapuh lah. Kayak hatimu itu lho.

Perempuan adalah makhluk paling kompleks sejagad semesta, terlebih lagi saat masih remaja. Mereka memiliki kadar emosi lebih besar daripada logika, dan menggunakan keistimewaan itu di hampir setiap persoalan. Mayoritas mereka tumbuh dalam satu gengsi yang mendarah daging; tidak senang terlihat gendut. Sebab, barbie adalah simbol kesempurnaan, dan tidak ada barbie yang gendut. Maka untuk tampil sempurna, menjadi sekurus barbie adalah sebuah keharusan. Fatalnya, kebanyakan mereka menginginkan cara dan hasil yang instan. Alih-alih rutin olahraga dan menjaga pola makan sehat, mereka justru mengonsumsi obat pelangsing, yang mirip-mirip obat pelancar BAB. Atau jika uang sakunya tak cukup untuk membeli produk mahal semacam itu, mereka akan menggunakan cara ini: mengharamkan sarapan pagi, makan siang dengan seporsi siomay atau semangkuk bakso tanpa lontong, sorenya minum air putih saja yang banyak sampai air di bak mandi habis cuma buat cebok setelah bolak-balik kencing. Lalu malamnya menahan lapar, sampai sang nafsu membawa mereka pada gagalnya diet sebab indomie goreng ternyata lebih nikmat dari teleponan sama pacar. (Lho lho lho, kok hapal banget?) Mereka lupa, siomay dan bakso tidak memiliki apa-ala selain karbohidrat dan lemak. Mmph.. ditambah sedikit MSG untuk indomie gorengnya. Lha kalau begini terus, mau dapat gizi dari mana?

Laki-laki dan perempuan itu berbeda, baik secara anatomi maupun fisiologinya. Produksi sel darah merah pada perempuan lebih rendah dari laki-laki. Kadar Hb yang normal pada perempuan adalah 12-16 gr/dl

Perlu kamu tahu, anemia adalah kondisi di mana darah kekurangan zat besi, atau kadar Hb dalam darah berada di bawah batas normal. Teman seangkatan saya di kampus militer dulu, pernah menyusun laporan tentang angka kejadian anemia pada remaja perempuan di suatu sekolah menengah atas. Dan hasilnya, empat puluh satu koma tiga persen remaja perempuan menderita anemia dengan Hb kurang dari 12, bahkan kebanyakan di bawah 11. (Huuuww~ mbok seperti saya, Hb-nya 13,7 :D). Itu prosentase yang besar, tentu saja. Kalau masih remaja saja sudah kurang, bagaimana nantinya setelah hamil? Sementara dalam kehamilan, ada proses hemodilusi, pengenceran darah dengan naiknya volume plasma sampai 40% untuk memperlancar peredaran darah dan meningkatkan aliran nutrisi terutama yang menuju ke plasenta. Proses ini terjadi sejak awal kehamilan, tapi memuncak pada trimester kedua (usia kandungan 4-6 bulan). Sayangnya, peningkatan volume plasma darah ini tidak diikuti dengan kenaikan Hb secara alami. Sehingga kadar Hb di bawah standar adalah perkara yang wajar. Batas minimal Hb selama kehamilan pun akhirnya diturunkan, menjadi 11 gr/dl pada trimester I dan III, dan 10,5 gr/dl pada trimester kedua.

Tapi, betewe, Hb itu apa sih? Hamengkubawono? Hush! Bukan. Bh yang dipakai terbalik? Bukan juga (-_-). Hb adalah singkatan dari hemoglobin, yang bertugas mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh melalui sel darah merah. Kadar Hb yang tidak memenuhi standar akan membuat pasokan oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Jika otak, dia menjadi mudah lelah, mengantuk dan tidak fokus. Bahkan pada taraf tertentu, sampai pingsan. Jika rahim? Nah, ini yang menarik.

Rahim terdiri dari beberapa lapisan. Tiap-tiap lapisan tersusun dari jalinan pembuluh darah yang berfungsi sebagai media penghantar nutrisi. Endometrium, lapisan terdalam rahim, yang menjadi tempat menempelnya bakal janin ketika sel telur berhasil dibuahi kelak, memiliki pembuluh darah yang digunakan untuk memasok oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin melalui plasenta. Dia juga yang mengakomodir aliran oksigen di dalam rahim sebagai modal kontraksi pada saat persalinan. Kontraks rahim sebelum bayi lahir bertujuan untuk melahirkan janin dan plasenta, sedang ketika keduanya sudah lahir, kontraksi dibutuhkan untuk menutup pembuluh darah dan mencegah keluarnya darah lebih banyak. Kekurangan Hb hanya akan membuat rahim tidak memiliki cukup energi untuk berkontraksi (atonia uteri), lalu pembuluh darah enggan menutup, dan darah yang keluar menjadi tidak terkontrol. Inilah salah satu wujud perdarahan pasca persalinan. Dan inilah satu dari tiga penyebab kematian ibu terbanyak di Indonesia.

Perdarahan semacam ini pernah dialami oleh sosok wanita agung bernama R. A. Kartini menjelang akhir hayatnya. Jeng jeng jeng! Kamu ndak tahu tho, Kartini wafat karena perdarahan setelah melahirkan--saya juga baru tahu setelah kuliah di kebidanan. Itulah mengapa tiap tanggal 21 April, yang dipercaya sebagai hari lahirnya Kartini, dosen dan mahasiswi di kampus kami memperingatinya dengan agenda minum tablet tambah darah (Fe) secara massal. Sebagai bentuk perjuangan melawan anemia--cikal bakal perdarahan pasca melahirkan. Untuk kemudian memasang hastag di akun sosmed #kamiMenolakAnemia #ayoMinumFe #kamiTidakTakutFe dan sebagainya.
Itu baru komplikasi pada ibunya, bagaimana dengan janinnya?

Anemia membawa--setidaknya--tiga masalah yang memikiki prosentase kemungkinan tertingi pada janin: abortus (keguguran), IUGR (bayi lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2500 gram), dan prematuritas (persalinan sebelum genap 37 minggu). Ringkasnya, pada kejadian anemia, rahim tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi dari darah sehingga perlindungannya tidak sekokoh seharusnya. Semacam mas pacar yang berusaha melindungimu dari godaan preman pasar, tapi dia belum makan-minum seharian. Keadaan ini membuat rahim sensitif terhadap goncangan. Aktivitas berlebih yang dilakukan ibu saat hamil, kecelakaan seperti jatuh/terpeleset, dan berhubungan seksual terlalu keras adalah contoh hal yang dapat membuat dinding rahim terguncang, dan akhirnya kontraksi. Pada kehamilan muda, ia bisa berujung pada keguguran, sedangkan pada kehamilan tua, ia mengarah kepada kelahiran prematur. Andai kata si janin mampu bertahan sampai sembilan bulan, besar kemungkinan dia IUGR sebab pasokan energi dari ibu melalui darah di plasenta kurang. Bayi prematur, betapapun banyaknya orang yang meyakini bahwa "bayi prematur biasanya lebih pintar", tetaplah merupakan bayi yang lahir dengan organ tubuh belum matang. Otak, paru-paru, jantung, hati, semuanya akan memiliki kecenderungan untuk tidak berfungsi secara optimal. Sedang bayi IUGR, meski ia terlahir matang, memiliki kemampuan bertahan hidup lebih rendah dari bayi yang berat badannya di atas 2500 gram. Imunitas atau daya tahan tubuhnya payah. Stok lemaknya sedikit, sehingga mudah terserang hipotermi. Dalam perjalanannya tumbuh dan bergerak, kedua jenis bayi ini--prematur dan IUGR--rentan terhadap infeksi. Mudah sakit. Dan sangat mungkin itu berpengaruh pada perkembangan motorik-sensoriknya. Dikhawatirkan anak akan mengalami keterlambatan belajar dan gangguan perilaku.

***

Angka kejadian pernikahan kelompok usia di bawah 20 tahun bagi perempuan masih cukup tinggi di Indonesia. Pada tahun 2014, berdasarkan data BKKBN, ia mencapai 48% dari 2,5 juta pernikahan per tahunnya, dengan kisaran usia 15-19. Bisakah kamu bayangkan, bagaimana jika separuh generasi mendatang negeri ini lahir dari pernikahan itu, dan yang muncul kemudian adalah seperti apa yang saya gambarkan di paragraf-paragraf sebelumnya? Belum lagi, kondisi psikis ibu muda--yang sebenarnya masih remaja dan sangat emosional itu--tidak siap untuk bertanggung jawab terhadap perannya sebagai istri dan ibu sekaligus dalam satu waktu. Ini akan menjadi hambatan tersendiri dalam proses mendidik dan pembentukan karakter anak.

Jadi, niat awal pernikahan yang dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan ekonomi keluarga, sebenarnya hanyalah bentuk dari penyelesaian suatu masalah dengan menciptakan masalah yang baru. Semacam pengalihan isu gitulah. Keyk pengalihan isu dari freeport ke si sekseh Nikita Mirzani tempo lalu. Bedanya, pengalihan yang diciptakan melalui pernikahan ini justru memiliki dampak yang lebih besar, karena berkaitan erat dengan masa depan ketahanan nasional bangsa Indonesia.

*hening

Saran saya.. ah, saya ndak pandai ngasih saran ding. Kamu renungkan sendiri saja ya. Seperti saya yang terus-menerus merenung, memikirkan matang-matang setiap langkah sebelum benar-benar memutuskan, terutama soal pernikahan. Sampai terlena, sampai lupa bahwa usia sudah semakin ranum dan pantas diberi mahar.


Pekalongan, pertengahan Februari 2016
"Na, tepungnya terlalu tebal itu." Demikian komentar Ibuk ketika pagi itu doi melihat hasil gorengan saya di dalam wajan.

Namanya sukun, sejenis buah tak berbiji dan memikiki tekstur daging yang empuk bila dimasak. Buah yang namanya mirip dengan salah satu merk rokok tapi bukan rokok ini bisa diolah menjadi beragam menu makanan dari mulai kolak, bolu, sampai keripik. Di lingkungan kami, sukun cukup menjadi favorit, terutama jika digoreng. Ibuk sendiri mengolahnya menjadi gorengan dengan melumurkan adonan tepung encer di seluruh permukaannya, lalu memasukkannya ke dalam minyak panas, untuk kemudian ditiriskan dan dijual bersama gorengan yang lain. Sini, Mas, dibeli selagi hangat. :*

Berulang kali Ibuk mengatakan bahwa adonan tepung untuk sukun itu tidak sama dengan adonan tepung untuk tempe, tahu, apalagi bakwan. Dia harus encer, harus tipis-tipis saja menyelimuti, agar panasnya minyak dapat mendekap erat daging sukun hingga ke relung jiwanya, dan ia pun matang secara sempurna. 

Cih, sempurna. Ibuk lupa, di dunia ini tuh nggak ada yang sempurna, Buk, nggak ada. Yang manis di depan itu biasanya hanya menyisakan pahit untuk dikenang. *bubar! bubar!
Berulang kali Ibuk mengatakannya. Berulang kali pula saya mengerjakannya. Dan selalu salah.
Saya pikir akar permasalahannya ada dua. Pertama, Ibuk mengatakan hal yang sifatnya subjektif: encer dan tipis. Untuk bisa dikatakan encer, sesuatu harus memiliki perbandingan dengan yang lebih kental. Tapi, setelah dibandingkan pun, kesimpulan yang diambil masih subjektif. Encer yang dimaksud Ibuk belum tentu sama dengan encer dalam benak saya. Meski kami sama-sama wanita, meski kami sama-sama meletakkan nama Bapak di urutan pertama Laki-Laki Paling Dicinta.
Akan berbeda kiranya jika Ibuk menjelaskan pengertian encer dengan rumus yang bisa dihitung, misal: 1 ons tepung beras dan 1/2 ons tepung gandum untuk 2 gelas air. Nah!

Sayangnya Ibuk ndak begitu. Karena saya tahu, doi sendiri sebetulnya moody, suka semaunya sendiri.

Yang kedua, saya terlalu egois untuk mau mengikuti aturan Ibuk. Saya bisa saja membuat adonan seencer yang Ibuk buat. Pada tahap tertentu ketika memasukkan satu per satu bahan ke dalam wadah plastik, saya tahu, "Segini nih encernya si Ibuk." Tapi, saya tetap melanjutkan langkah dengan menambahkan secercah gandum.

Owalaaahh.. ternyata podo bae atose hahaha.

Enggak ding. Saya hanya merasa bahwa aktivitas memasak, entah itu menggoreng, menumis, memanggang, memotong, meramu bumbu, dan lain sebagainya, adalah seni. Di mana seorang pencipta bebas mengekspresikan style-nya sendiri. Toh dalam seni, setiap karya akan menemukan penikmatnya masing-masing, maka saya percaya, sukun saya pun akan ada yang beli meski dengan terpaksa.

Dan secara estetika, saya menganggap tingkat keenceran adonan buatan saya--yang sedikit lebih kental dari Ibuk--sudah pas. Coba saja lihat gambar yang saya sertakan. Pas, kan, pas? Dengan balutan tepung yang masih mempertontonkan aurat daging sukun itu saja Ibuk menganggapnya kurang encer dan tipis. Lalu bagaimanakah hasil gorengan Ibu? Kita yang merasa syar'i sampai ke sumsum tulang ini pasti malu, karena sukun goreng buatan Ibuk saya lebih telanjang dari gaun malam yang dikenakan Anindya Kusuma Putri pada ajang Miss Universe 2015 silam.

***

Saya diam saja, tidak membalas komentar Ibuk. Karena kami sama-sama tahu, tidak akan ada yang berubah dengan berbalas-balas komentar. Saya akan tetap bersalah, dan Ibuk akan tetap menyuruh saya menggorengnya lagi meskipun baginya itu salah. Yang terpenting bagi kami adalah; tak sampai satu menit dari diangkatnya sukun goreng ini dari wajan, tetangga-tetangga kampung sudah berbondong membelinya. "Mumpung hangat," kata mereka.

Dan.. selesai.

Ini dunia dagang. Tidak peduli ideologi mana yang mau dipertahankan, asal dagangan itu laku, maka urusan kita kelar.
Mau saya gorengkan sukun, Mas? ;)

Pekalongan, 11 Februari 2016