Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja.

Saya pernah bertemu laki-laki yang ternyata harus pacaran 21 kali dulu untuk--akhirnya--memantapkan pilihan pada 1 wanita, dan menikah. Ada juga yang bahkan sampai pacar ke-27 pun, dia belum mau mengajak sang pujaan hati ke penghulu. Ada yang pacaran-putus-pacaran-putus, ujung-ujungnya balikan sama mantan pertama. Ada yang memegang prinsip: "Kutunggu jandamu!" Ada. Beneran. Dan dia dengan setianya menjomblo sampai Allah kasihan lalu ambil nyawa suami dari wanita yang dicintainya, dan si wanita jadi janda kembang. Yang lain memutuskan untuk tidak menikah selamanya, gegara ditinggal kawin wanita yang sudah 8 tahun dipacarinya (uh kasian >_<), tapi toh pada akhirnya dia menikah juga. Dan bahagia. :|

Banyak yang tidak pacaran. Banyak. Tapi mantap bilang "Ya", saat dilamar seseorang yang belum dikenal. Banyak juga yang tidak pacaran, tidak menikah, tiba-tiba ngidam.
Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja. Ia menakjubkan, tapi juga membuat gila. Sama gilanya dengan dua sejoli yang sampai jam 00 masih telponan, padahal jam 22 tadi baru pulang dari agenda kencan.

Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja. Dan bagaimana perjalanan asmara saya nantinya. Saya hanya berbaik sangka, bukankah Allah lebih tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya? Kalaupun saya bilang saya mau Rio Dewanto, tapi Allah memandang saya lebih membutuhkan figur macam Ust. Wijayanto, saya bisa apa?

Saya tidak pernah tahu bagaimana asmara bekerja. Tapi saya yakin, Allah sendiri yang akan memberi isyarat bila waktunya tiba.

"Kapan itu, Up?"

Saat jodoh sudah di depan mata. *Eaa
Sembari bekerja, sembari menjaga hati kita.
Selamat larut malam!
Salam asmara dan kejombloan.
Besok libuurr! -_-zZZ

***

Tulisan ini dibuat sekaligus diposting pertama kali pada 7 Desember 2014, sekitar dini hari menjelang pukul satu. Pada saat itu, istilah pacaran amat sangat dekat di telinga. Di hati para remaja. Tapi saya tak tertarik untuk menjadi lakonnya, dan tak pernah tertarik bahkan sampai detik di mana seorang laki-laki datang melamar.

Nama saya Ra'ufina. Saya lahir di suatu daerah dekat stasiun kota, tinggal dan menetap di sana sampai tulisan ini dibuat dua puluh tiga tahun kemudian.

Kalau suatu hari nanti kamu pergi menumpangi kereta yang melintas di jalur ganda utara, dan pada satu waktu keretamu transit di Stasiun Kota Pekalongan, turunlah. Mampirlah. Akan saya tunjukkan banyak hal tentang kota ini. Salah satunya berupa bukti betapa istriable dan suamiable-nya pemuda-pemudi kota ini. Seperti saya! :v

Pekalongan. Ialah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah. Kota dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah saling berhimpit yang kadang hanya berbataskan satu lapis tembok. Kamu bisa membayangkan betapa penuh sesaknya perkampungan di sini. Hingga kamu bisa mendengar orang-orang bertengkar, bahkan ketika tetangga sebelah rumahmu mendengkur di kamar-kamar. Mungkin sekali waktu, kamu juga akan mendengar bunyi gaduh diikuti suara seseorang yang mendesah samar-samar, ketika kamu terbangun pada suatu pagi yang terlalu dini. Memaksamu untuk belajar ati-ati, sebab di sini, tak ada tempat yang benar-benar tersembunyi untuk melakukan sesuatu secara sembungi-sembunyi.

Layaknya tipikal manusia yang tinggal di daerah pesisir, masyarakat kota Pekalongan adalah orang-orang yang terbuka. Sebab menurut filosofinya, yang mereka pandangi setiap harinya adalah hamparan laut yang lepas, yang luas bagai tak berbatas, sehingga hati dan pikiran mereka pun menjadi sama luas. Mereka orang-orang yang minim prasangka (tampaknya), sangat welcome, dan pada titik tertentu, kelewat toleran.

Di sini, kita bisa menarik satu simpulan ngawur bahwa sesungguhnya VOC tidaklah pernah menjajah kita, sebab yang terjadi adalah mereka menepi ke daratan Nusantara dan disambut baik oleh masyarakat pesisir. Hahaha ngawur kowe, Up!

Kamu mungkin belum tahu bahwa di sini--di Pekalongan--tidak hanya Jawa yang berkuasa, tapi Tionghoa dan Arab juga. Ketiganya adalah komponen pokok yang membentuk masyarakat. Ada sebuah area yang menjadi titik temu antara garis pemukiman yang satu dengan yang lainnya: Jembatan Kali Loji. Saya sudah pernah menuliskannya di sebuah postingan terpisah. Dari sini, kamu bisa melihat bagaimana Pekalongan berdiri di atas toleransi. Di mana etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa dapat hidup berdampingan dengan mesranya. Di titik ini pula, kamu bebas memandangi kesunyian bangunan gereja kristen di sebelah utara, masjid jami' agak ke timur, gereja katholik yang megah di sisi barat jembatan, dan klentheng bernuansa merah menyala tepat di belakang gereja katholik--sebagai simbol-simbol kerukunan umat beragama. Jangan tanyakan soal aliran-aliran, terlebih lagi dalam islam. Di Pekalongan, sunni dan syiah bukanlah dua raksasa yang perlu diadu domba. Mereka sudah ada dan turut mendewasa bersama waktu. Pun demikian dengan ormasnya. Apakah itu NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Rifa'iyyah, LDII, MTA, HTI, PKS--eh, maksud saya IM, dan lain-lain, termasuk Ahmadiyah, yang konon telah dilabeli "keluar dari Islam", tak peduli seberapa minoritas atau mayoritasnya, ada di sini. Dan mereka mekar pada tangkainya masing-masing tanpa merusak kelopak yang lain.

Kan.. kan.. kelewat toleran kan.
Begitulah~
Dan melihat makin minimnya sikap toleran dalam diri generasi sekarang, rasanya tak berlebihan jika saya mengatakan: belajarlah pada masyarakat Pekalongan.
Tapi jangan saya. Mbok malah jadi ngawur. :'v

Ditulis menjelang hari jadi Pekalongan, 2016

"Bayi-bayi ini terlanjur lahir dengan ketidaksempurnaan fungsi organ. Maka jangan sekali-kali memberinya cacat tambahan, baik karena kesalahan alat maupun keterlambatan penanganan."
-Mbak Lifah, Wakaru Perinatologi RSUD Bendan-

Sebulan sudah saya dipindahtugaskan ke ruang perinatologi, sebuah ruangan di mana bayi-bayi dengan masalah kesehatan dan riwayat kelahiran yang buruk itu dirawat oleh mbak-mbak petugas yang manis seperti saya. Eh, ngetiknya kebablasan.

Jika dulu--saat masih bertugas di ruang nifas--saya banyak menyinggung soal wanita dan perangainya, dan secara tidak langsung ikut menghakimi bagaimana wanita-wanita itu tampak tidak berharga sebagai pihak yang bereproduksi, kini sudut pandang saya mengalami pergeseran. Saya tidak lagi fokus pada problematika para wanita yang begitu rumit dan pisuhable, tidak peduli pada asal-muasal kehadiran bayi, terserah, karena sekarang saya fokusnya cuma ke kamu, Mas. :* Maaf, typo. Maksud saya, saya fokusnya ke bayi.

Ruang perinatologi memaksa saya memandang sama ke semua bayi. Entah bayi yang lahir dari hubungan gelap, bayi yang lahir dari rahim remaja, bayi yang tidak diakui orang tuanya, maupun bayi-bayi yang entah apa pula kisahnya; semua sama. Benar kata Mbak Lifah, mereka terlanjur lahir. Mereka berhak hidup. Tidak sepantasnya seseorang menimpakan kesalahan manusia dewasa kepada bayi-bayi yang masih bersih dari noda khianat, layaknya rezim orba yang seenak wudelnya mengutuk generasi-generasi tertuduh PKI. Ya kalau tuduhannya benar, lha kalau salah? Kan, sapi.
Tapi yowislah, nggak ada hubungannya juga sih. Hahaha

Kabar baiknya, berkat tugas di ruang ini, sedikit demi sedikit sifat keibuan saya muncul dan bersinar terang. Kalian harus percaya itu. Harus.

Pekalongan, 29 Maret 2016
Barangkali, banyaknya kubu yang menyerang dan menekan Ahok dengan dalih agama/keyakinan (baca: mengata-ngatai belio sebagai kafir, dan bla bla bla, sehingga tidak pantas dipilih sebagai pemimpin) membuat segelintir orang merasa simpati, lalu menuliskan,
Untuk sekedar memberi gambaran bahwa tidak semua muslim setuju dengan sikap deskriminatif semacam itu. Sialnya (atau asyiknya?), tindakan tersebut mendapat respon balik, berupa kalimat,

Nah.

Pertanyaannya sekarang, haruskah menggunakan premis "saya muslim"?

Secara harfiah, memang, muslim berarti orang yang berserah diri (kepada Allah), atau lebih sempitnya; penganut agama islam. Dia bisa diartikan secara tunggal. Tapi, pembicaraan tentang muslim juga hampir selalu dimaknai secara jamak, komunitas, karena yang islam ndak cuma kamu. 

Mengatakan "saya muslim" sama artinya dengan mengklaim bahwa "saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang memeluk islam".
Huh, berat lho itu. Berat sekali pertanggungjawabannya. Keyk bawa orang sekampung. Karena mau tidak mau kamu dianggap mewakili ummah (sebutan untuk jama'ah muslim), bukan sekedar personal statement. Hati-hati.

Dukung/tidak dukung, pilih/tidak pilih, cinta/tidak cinta, itu hak masing-masing orang. Tapi ya kalau bisa, mengungkapkannya atas nama diri sendiri. Seperti misalnya,
Itu cukup.

Pekalongan, Maret 2016