Tentang Lokalisasi

Empat tahun yang lalu, mendekati akhir semester tiga perkuliahan, seorang teman, Yuli namanya, bertanya pada saya, "Uf, kowe setuju rak karo lokalisasi?" (Uf, kamu setuju nggak dengan adanya lokalisasi?)

Lokalisasi yang dimaksud adalah praktik prostitusi dalam batas wilayah tertentu. Saya agak lupa, tapi sepertinya kami tidak sedang mendapat tugas kuliah tentang lokalisasi, pada waktu itu. Saya sendiri agak heran mengapa tiba-tiba Yuli bertanya begitu. Mungkin dia baru membaca semacam artikel atau apa, sehingga menanyakan pendapat teman-temannya.

Saya diam sejenak. Kemudian balik bertanya, "Dari segi apa dulu?" 

"Kesehatan." Jawab Yuli. Dia perempuan, tentu saja. Kampus kami tidak pernah dan tidak akan pernah menerima mahasiswa laki-laki.

"Setuju." Jawab saya kemudian.

Kelopak matanya melebar mendengar jawaban saya, "Alasannya?" 

Saya diam lagi. Saya memang banyak berpikir sebelum menjawab.
"Kamu akan lebih mudah memberikan penkes (Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan) ketika sasaranmu jelas." Ucap saya mengeja. Dan sebelum manusia di hadapan saya itu sempat menimpali, saya melanjutkan, "Sasaran itu bisa dibentuk. Katakanlah sasaranmu ibu rumah tangga, maka datangi saja acara-acara yang diikuti IRT seperti arisan PKK atau pengajian kampung. Jika tidak ada, kamu bisa mengumpulkan mereka dengan undangan. Itu prinsip sasaran. Masalahnya, pekerja seks bukanlah suatu profesi, bukan pula status yang mudah diidentifikasi, apalagi sejenis pekerjaan yang tercatat dengan jelas di KTP, yang orang-orang akan bangga mengakuinya. Mengumpulkan mereka dengan membagikan undangan adalah wagu. Kan nggak mungkin tho, kamu mengetuk pintu rumah orang lalu berkata, "Ini undangan untuk para PSK, nanti datang ya, Mbak." Meskipun yang kamu hadapi itu benar-benar PSK, tapi dia tidak akan begitu saja mengakuinya. Sebab dia ada di lingkungan rumah. Bisa-bisa malah kamu digebuki warga sekampung, karena dianggap mencemarkan nama baik." Saya menutup penjelasan 'ngawur'' ini dengan tawa. Membayangkan betapa wagunya contoh tindakan yang saya paparkan sendiri.
Yuli manggut-manggut mendengarkan. Seolah-olah ikut membenarkan apa yang saya katakan. 

"Lokalisasi mempermudah proses identifikasi, Yul. Setidaknya begitu." Saya berkata lagi. "Kegiatan preventif seperti penkes penggunaan kondom secara benar, penkes bahaya aborsi, dan lain sebagainya, terlebih lagi yang bersifat kuratif dan rehabilitatif, akan lebih mudah dilaksanakan. Sebab kita tahu sasarannya."

"Hm. Iya ya, Uf."

"Tapi ini cuma argumen ngawur ya, Yul. Dan ini baru satu sudut pandang: kesehatan. Pun masih dipersempit hanya seputar sasaran. Kalau kita mau melihatnya dari sudut pandang lain, misal agama, sosial-ekonomi, atau wisata, sangat mungkin kita akan mendapat jawaban berbeda, bahkan bertolak belakang. Karena prostitusi adalah masalah yang kompleks. Melibatkan banyak bidang, dan faktor-faktor yang saling berpengaruh."

Setelah itu, kami tak pernah lagi membahas topik ini. Sampai.. ramai di media soal ditutupnya Dolly pada 2014 yang lalu, disusul penggusuran Kalijodo hampir dua tahun kemudian. Dan entah bagaimana, saya teringat obrolan dengan Yuli, lalu menuliskannya.
Sementara milyaran manusia sibuk dengan segala aktivitas monotonnya, berjubel dalam hingar-bingar panggung beton dan aspal jalanan, sekelompok peri memilih sembunyi di kedalaman hutan. Manusia-manusia yang dalam akalnya hanya dipenuhi misi penaklukkan mungkin tak akan pernah tahu; di titik di belahan bumi mana para peri itu tinggal dan ber-regenerasi. Hingga mereka mengira, kehidupan makhluk-makhluk serupa peri hanyalah selapis dongeng dalam tumpukan realita.

***

Hutan peri, begitu ia dijuluki. Bertabur cahaya dan ditumbuhi banyak sekali bunga yang beraneka warna. Ialah bunga-bunga yang ketika ditanam membuat tanahnya subur-bersih, dan udaranya segar. Semerbak wanginya memenuhi atmosfer hutan, mengisi rongga-rongga yang terselubung belukar. Di daerah tepi hutan, di sepanjang lini yang menjadi pembatas antara kehidupan para peri dengan alam imaji manusia, mengalir sungai kecil dengan airnya yang jernih. Bunyi gemericiknya menghadirkan ketenangan di seluruh penjuru hutan. Nyanyian para peri, kicauan burung-burung di kala pagi, dan desau angin yang bertiup melewati celah dedaunan hanya akan membuat manusia menyadari betapa dunia tempat mereka tinggal seringkali menyisakan kegelisahan; bukan kedamaian.

Terserah bagaimana pikiran manusiamu akan menggambarkan wujud hutan ini. Mungkin kau akan menyebutnya sebagai representasi dari surga. Atau membayangkannya sebagai hunian fiktif seperti apa yang tersaji dalam filem-filem semi-animasi. Terserah. Kau berhak melemparkan imajinasimu ke mana saja. Tapi bagaimana pun, hutan peri tetaplah hutan. Para peri itulah -atau justru aku- yang menjadikannya terdengar cantik dan menyejukkan.

Namanya Nymph. Dalam mitologi Yunani kuno, nymph disebut-sebut sebagai bangsa peri yang hidup dan tinggal di dalam tumbuh-tumbuhan. Dan sebagai pemuja filsafat Socrates --filsuf besar yang lahir di Athena, Yunani sana-- tentu saja aku tak akan banyak mengubah definisi itu. Bahwa nymph di sini memang benar-benar peri hutan, atau persisnya, peri-peri yang tinggal di pepohonan di dalam hutan. Itu definisi. Tentang bagaimana pendeskripsiannya, izinkan aku, sebagai pencipta dongeng, untuk mengembarakan daya khayalku lebih jauh.

Nymph berukuran sebesar boneka barbie, setidaknya, dalam dongeng ini. Mereka tidak berkelamin. Meski dari tampilan fisiknya, kau pasti menduga bahwa mereka masih satu gender dengan Nyai Ontosoroh. Mereka memiliki sepasang mata yang bulat-lebar dan daun telinga yang meruncing ke atas. Bentuk daun telinga yang lancip ini sangat membantu para nymph dalam menangkap semua gelombang suara, baik infrasonic, sonic, maupun ultrasonic. Rambut mereka berwarna putih keperakan, tergerai indah di balik punggung-punggung yang bersayap. Tatkala terbang, sayap-sayap kecil mereka akan mengepak indah, memancarkan bias-bias warna yang saling berbaur berkilauan.
Bukan perkara mudah untuk membedakan satu nymph dengan nymph lainnya. Selain karena bentuk fisik mereka yang sama, wajah mereka pun nyaris serupa. Mereka layaknya peri kembar yang dilahirkan dalam jumlah jutaan. Tapi, seperti kata pertapa tua di bibir goa, setiap jiwa yang hidup memiliki aura. Dan aura para nymph terpancar melalui bola matanya. Masing-masing nymph memiliki warna mata yang berbeda-beda. Dan mereka dapat membedakannya. Meski yang terlihat oleh mata manusiamu adalah tiga pasang bola mata berwarna ungu, para nymph akan mengatakan bahwa salah satu dari ketiganya berwarna nila, dan satu lagi bersemburat biru di bagian tepinya. Kau tahu, itu mungkin saja terjadi. Sebab mereka adalah makhluk tetrakromatik, yang memiliki kepekaan sensorik di atas rata-rata sehingga mampu melihat ratusan juta warna dalam satu kali kedip.
Di pusat hutan peri, tertanam sembilan buah Pohon Dylona. Konon, pohon inilah yang sesungguhnya dijadikan tempat tinggal oleh para nymph.

Tumbuh dalam balutan sihir, Dylona memiliki ukuran yang sangat besar. Batangnya membentuk tabung raksasa dengan tinggi mencapai 100 kaki. Daunnya rindang dan teduh, bertujuan melindungi para nymph dari segala ancaman. Saat malam menjelang, daun Dylona akan bercahaya seperti ribuan lampion dalam perayaan tahun baru cina. Lalu menerangi seisi hutan bak bumi yang benderang oleh sinar rembulan. Para nymph membangun tempat berlindung di dalam batang dan cabang Pohon Dylona. Mereka membuat rongga-rongga yang dapat ditinggali, di sisi manapun di kesembilan pohon itu. Kenapa sembilan? Orang-orang bilang, angka sembilan merupakan angka petualangan dan persaudaraan. Jadi kupikir, akan cocok bila digunakan dalam dongeng-dongeng semacam ini.
Ah ya, sembilan Dylona ini saling berpindah tempat setiap waktunya. Jika kau adalah salah satu nymph di situ, kau tak perlu kaget saat mendapati Dylona tempatmu merebahkan tubuh tiba-tiba tak lagi berada di dekat sungai, misalnya, atau tak lagi berdiri di samping Dylona kediaman Sang Ratu. Itu hal biasa. Dylona bergerak secara periodik; bergeser, bahkan bertukar tempat dengan Dylona lain. Dalam kehidupan para peri, ini adalah satu bentuk proteksi yang memungkinkan musuh kesulitan mencari kediaman Ratu, atau pun tempat tinggal nymph tertentu yang -beberapa di antaranya- menyimpan kekuatan istimewa. Lalu bagaimana cara nymph-nymph itu menemukan rumahnya kembali jika Dylona selalu bergerak?

Ada jalinan hidi di sana. Hidi adalah serangkaian akar yang melilit-berputar-melayang mengelilingi setiap jengkal bagian Dylona. Melewati sisi depan rongga-rongga yang dihuni para nymph. Hidi itulah yang akan mengantar mereka pulang ke rumah, atau pergi ke rongga manapun yang menjadi tujuan mereka. Mereka hanya perlu duduk di atasnya, mengatakan apa yang mereka cari, dan si hidi akan merespon suara para nymph dengan getaran halus, lalu bergerak cepat mengantarkan penumpangnya menuju destinasi. Hidi bukan jalinan akar yang hanya bisa berjalan satu atau dua arah saja; seperti lintasan kereta. Bukan, dia bergerak sesuai kebutuhan tuannya. Meliuk-liuk, menyabang, naik-turun mencari rute tercepat. Sehingga jutaan peri mungil itu tak perlu takut, tatkala mereka beramai-ramai pulang dan duduk berjejer di atas hidi yang sama, karena hidi tak akan membiarkan nymph di atasnya bertabrakan dengan nymph lain.

***

Pagi ini, sesosok nymph bermata magenta tampak terbang pelan menghampiri hidi. Enelly namanya, bertugas sebagai mediator antara nymph pelayan ratu, nymph yang menjaga hutan, dan nymph yang dilahirkan untuk menjaga anak manusia. Enelly duduk di atas hidi yang paling dekat yang dapat dijangkaunya, lalu berbisik lembut, "Ratu Floria."

Hidi di bawahnya mengeluarkan getaran halus, sedetik kemudian melesat cepat menuju Dylona singgahsana Ratu. 

"Terima kasih, Hidi sayang." Katanya pada jalinan akar yang mengantarnya. Enelly mengepakkan sayapnya mendekati pintu masuk kediaman Ratu. Tak berapa lama kemudian terdengar ia berkata, "Ratu, flameri mekar lagi."

***

Dahulu, beratus tahun yang lalu, saat segerombol manusia tengah sibuk menyampaikan kebenaran di suatu negeri, para peri dari bangsa fairy membuat geger seisi Kolong Langit. Dia mengajukan permohonan yang sulit dikabulkan oleh kedua orang tuanya, yang merupakan Raja dan Ratu di Negeri Kolong Langit, atau manusia jawa biasa mengistilahkannya dengan sebutan "Kahyangan".
Floria, si bungsu dari keluarga Raja itu menyatakan keinginannya untuk turun ke bumi dan melihat aktivitas manusia di sana; satu hal yang terlarang bagi peri seusianya.

"Untuk apa, Floria?" Tanya Sang Ratu.

"Aku ingin menyaksikan kehidupan manusia, Bunda."

"Kau bisa melihatnya di Kolam Cermin."

"Tapi, Ayah, aku ingin melihatnya langsung." Floria beralih menatap Sang Raja. Dia merajuk. "Akan sangat menyenangkan bila aku dapat menyaksikannya dengan kepalaku sendiri. Ayolah Ayah, Bunda, izinkan aku ke sana. Sebentar saja."

"Usiamu baru empat belas tahun, Floria."

"Memangnya kenapa?" Sergahnya. "Hh! Semua orang mengatakan hal yang sama. Aku bosan. Aku hanya ingin pergi ke bumi. Apa aku harus menunggu sampai usiaku genap dua puluh satu, baru kalian akan mengizinkanku seperti kalian mengizinkan Falro?"

Tak ada yang mengubris.

Sudah menjadi peraturan dalam dunia fairy untuk membatasi usia penduduknya yang hendak turun ke bumi. Bukan karena trauma akan kisah Jaka Tarub yang sukses menawan salah seorang Puteri Kahyangan setelah menyembunyikan selendangnya. Bukan. Tak ada sangkut-pautnya dengan itu. Ini murni tentang kewaspadaan. Sebelum berusia 21 tahun, seorang fairy dianggap belum cukup mampu mempertahankan eksistensi di bumi. Kekuatan mereka masih terbilang mentah untuk digunakan dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di bumi nantinya. Lagi pula, fairy bukanlah bangsa peri yang sering bersinggungan dengan manusia layaknya elf. Jadi, bukan suatu keharusan bagi fairy untuk sering-sering berkunjung ke bumi.

Floria pantang menyerah.

Setelah hari itu, dia tidak lantas berhenti begitu saja mendekati kedua orang tuanya. Dia -dengan segala keceriaan yang dimilikinya- terus memohon dan  berusaha meyakinkan mereka bahwa perjalanannya ke bumi nanti akan baik-baik saja.

"Bunda, aku bosan di sini. Aku ingin melihat dunia luar. Aku ingin melihat laut, melihat gunung, melihat bagaimana manusia-manusia itu membangun tempat tinggalnya sendiri, tanpa tongkat sihir. Tanpa sihir, Ayah, Bunda. Tidakkah mereka hebat?" Floria tersenyum manis, matanya berbinar. "Oh iya, Falro bilang, di bumi sedang marak soal kereta api. Manusia membuat kereta-kereta berjalan tanpa tenaga binatang. Yang menjalankan justru sesuatu yang lain, mereka menyebutnya mesin. Bukankah itu menakjubkan, Bunda? Sedang terjadi pembaruan di bumi. Aku ingin sekali menyaksikannya."

Lain waktu berikutnya, dia kembali membujuk, "Ayah, Bunda, apa yang sebenarnya kalian khawatirkan? Aku akan baik-baik saja. Bukankah selama ini aku selalu menjadi anak yang baik, yang penurut? Apakah kalian tak mempercayaiku?"

Raja dan Ratu gagal menemukan cara yang tepat untuk membuat Floria paham, bahwa mereka tidak ingin Floria turun ke bumi. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu yang telah lama mereka khawatirkan. Sesuatu yang sejatinya telah digariskan oleh leluhur.

"Ayah, Bunda.." Floria berkata lirih. Entah bagaimana ia bisa sekeras ini sejak belia.

Raja dan Ratu saling berpandangan. Sejenak kemudian..

"Baiklah, Floria. Hanya sebentar."

Mata Floria terbelalak, "Benarkah?" Ucapnya berbinar.

"Hanya sebentar." Ratu menekankan dua kata itu.

"Bagaimana kalau tujuh hari?"

"Sayang, itu terlalu lama!" Jerit Sang Ratu.

"Baiklah, tiga hari."

"Satu hari!"

"Dua hari."

"Satu jam!"

"Baik, baik. Baiklah, aku ambil satu hari." Floria memanyunkan bibirnya. Antara kesal dan bahagia.

"Tapi dengan satu syarat, Floria." Suara Sang Raja membuyarkan euforia manyunnya.

Floria mendongak, "Apa?"

"Kau turun bersama kakakmu."

"Ah, itu bukan masalah." Floria tersenyum lebar. Tampak lega dengan persyaratan yang sama sekali tak mengganggu tekadnya. "Aku akan mencari Falro sekarang juga."

"Ingat janjimu, Floria. Hanya satu hari."

"Aku tahu." Floria berlalu.

Satu hari terasa begitu lama bagi Sang Ratu. Sedari pagi, ia terus mondar-mandir di depan singgahsananya yang bertahtakan permata. Meremas buku-buku jemari tangannya pertanda cemas.
Menjelang petang, kedua buah hatinya pulang. Ratu langsung memeluk mereka erat. Setelah itu, Falro memminta izin untuk melakukan pekerjaannya yang lain, sedang Floria, dengan cerianya menceritakan perjalanannya berkunjung ke bumi. Tentang bumi yang padat, tentang waktu yang bergulir cepat, dan tentang manusia-manusia yang tak pernah berhenti bergerak. Ia juga menceritakan perihal gunung, lautan, hujan, dan hutan.

Saat itu, Raja masuk dan bergabung bersama mereka.

"Ayah, Bunda, aku ingin tinggal di bumi." Floria memberanikan diri berkata.

"Apa!" 

"Dengar dulu, Ayah, Bunda." Floria buru-buru meredam emosi kedua orang tuanya. Sebelum akhirnya melanjutkan, "Aku menemukan hutan kecil di sana. Dikelilingi laut. Ketika melihatnya, entah mengapa, aku merasa di sanalah masa depanku ada. Aku membayangkan bisa menanam bibit Pohon Dylona, membuat aliran sungai di tepi hutan, dan menumbuhkan bunga-bunga yang cantik."

"Floria!" Raja berseru keras. Di sampingnya, Ratu nyaris pingsan mendengar ocehan puterinya. Raja pun segera membaringkannya di atas dipan panjang di bawah jendela.

Tubuh Floria seketika melemas. Sepertinya usahanya akan berakhir sia-sia. Raja dan Ratu tak akan memberikan izin. Memang, jika dipikir-pikir, keinginannya adalah sesuatu yang mustahil. Tidak pernah ada dalam sejarah, seorang fairy menghuni hutan di bumi.

"Inilah yang sebenarnya kami takutkan, Floria." Dari sudut ruangan, suara Raja terdengar lelah. Floria menoleh perlahan. "Kami sudah diperingatkan oleh Raja dan Ratu sebelum kami, yaitu kakek dan nenekmu, tentang adanya ramalan yang mengatakan bahwa akan tiba masanya dua anak keturunan Raja juga menjadi raja di dua tempat yang berbeda. Ramalan itu tidak menyebutkan siapa persisnya anak raja itu. Tapi leluhur kita mengingatkan agar waspada, sebab waktunya telah dekat. Dan kakekmu mengatakan, kemungkinan besar, Falro dan kau lah yang dimaksud." Raja menarik napas panjang.

"Apa maksudnya, Ayah?"

"Falro akan menjadi raja di sini. Dan kau, Floria, mungkin di bumi."

Floria menekap mulutnya seketika. Tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sungguh, ia tak pernah bermaksud menjadi ratu ataupun membangun sebuah negeri di bumi. Ia hanya ingin tinggal di hutan itu saja. Tak lebih.

"Sekarang kau tahu mengapa Ayah bersikeras melarangmu turun. Karena kami tahu, sepulangmu dari sana, sesuatu yang besar menanti untuk terjadi."

"Ayah.." Floria tercekat. Suaranya tertahan. Ia mencoba mengatakan sesuatu, tapi yang keluar hanya, "Ayah, aku?"

"Iya, Floria."

"Tapi, sejak kapan seorang peri memimpin sekawanan manusia?" Floria bertanya terbata-bata.
"Tidak, Floria. Tidak." Sang Raja menyanggahnya. "Kau tidak akan memimpin manusia. Itu tidak mungkin terjadi. Yang akan kau pimpin adalah bengsa peri yang lain."

Floria terus berusaha mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Ayahnya. Seolah itu adalah dongeng sebelum tidur yang dipaksa-sajikan ke alam nyata.

"Floria." Terdengar suara Ratu dari sudut ruangan. Floria berlari mendekat. Membantu Ibundanya bangkit dari pembaringan. 

"Maafkan Floria, Bunda."

"Kau tidak apa-apa, Sayang?" Raja melangkah ke arah keduanya. Lalu duduk di samping Ratu, yang tersenyum menyambut.

"Bunda.." 

"Floria, Sayang." Ratu menatap Floria lembut. "Bawalah ini." Diambilnya sebuah benda dari bawah dipan, lalu diberikannya benda itu pada Floria. Sebuah kotak emas sebesar genggaman.

"Apa ini?"

"Bibit Flameri." Jawab Sang Raja. "Hanya ada satu. Tanamlah di jantung hutan. Dia akan mekar di waktu-waktu yang tak kau duga pada awalnya. Setiap kali mekar, akan lahir satu demi satu peri kecil yang makin lama makin banyak, dan menjadikanmu ratu di sana."

Begitulah, cerita tentang bagaimana Floria memulai kehidupannya di bumi, di hutan peri. Tinggal di salah satu rongga terbesar di puncak Dylona, tanpa gangguan sekecil apapun.

***

To be continued...
Pernah suatu hari, salah seorang pemuda alim bertuah: "Peganglah teman-temanmu. Biar yang NU tetaplah NU, yang Muhammadiyah tetaplah Muhammadiyah. Jangan lepas dari keduanya."
M. Rojul Mukhlasin namanya. Saat itu, tengah gencar isu tentang masuknya paham-paham radikal ke dalam sanubari para remaja. Sehingga ia mewasiatkan kalimat itu kepada salah satu di antara kami. Kebetulan bukan saya.

Beberapa waktu setelahnya, ketika saya ajak dia duduk santai ngobrolin perkara-perkara embuh yang bergelayut di kepala, dia tersenyum. Lalu di akhir cerita berkata, "NU kuwi opo sih? Muhammadiyah iku opo? Anggap saja keduanya tidak ada, jika hadirnya hanya timbulkan pecah."

Barangkali Bung Rojul ini ingin menyampaikan, bahwa di satu sisi, be a moderat itu penting. Dan identitas kemoderatan terbesar di Indonesia dipegang oleh -setidaknya- NU dan Muhammadiyah. Tetapi jika NU selalu diidentikkan dengan melulu soal qunut, tentang niat yang usholli, sholawatan, yasin-tahlilan, ziarah kubur, dan Muhammadiyah adalah antitesis dari semua itu, lalu diskusi tentang keduanya hanya berujung perang, maka untuk apa moderatmu?

Sampai di sini saya paham; pada tahap tertentu dari sebuah tatanan pendalaman ilmu, kita perlu mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang bersifat dzhahir, saat kemunculannya hanya memicu sikap tidak adil.
Saya termasuk yang mengakui keabsahan metode rukyat untuk penentuan awal bulan dalam kalender hijriyah, yang tentunya juga berpengaruh pada penetapan hari-hari besar Islam; salah satunya Idul Adha.

Ya, saya ikut membenarkan bahwa 10 Dzulhijah 1436 H jatuh pada hari Kamis, tanggal 24 September besok. Tapi bagaimana pun, saya sholat Id pagi ini.

"Lhoh, kok gitu Up?"

Haha. Lha gimana.
Saya memang mengakui keabsahan metode rukyat, tapi saya tidak bisa begitu saja mengesampingkan metode hisab. Lha wong saya berpegang padanya. Kadang-kadang memang gitu, diam-diam kita ikut mengakui kebenaran lain yang dianggap sebagai negasi dari apa yang selama ini kita yakini.
Saya pernah berpikir untuk mencoba merayakan hari lebaran pada tanggal yang ditetapkan dengan rukyat, ketika kebetulan para pelakon hisab menghasilkan keputusan berbeda. Saya pernah mencobanya. Tapi, baru sampai tahap berpikir, saya sudah goyah. Hati ini berontak, Dik. Tak sanggup Kanda melaksanakannya. Ada perasaan tidak nyaman, seperti hendak mengambil barang yang bukan kepunyaan sendiri.

Meski begitu, saya tetap respek pada jiwa-jiwa yang memilih jalan rukyat, dengan segala kemantapan hujjahnya. Hingga ingin sekali saya katakan pada Ribi, adik saya, kemarin sore, "Bi, Mbak Fina sama Mbak Rizka memang lebarannya besok. Tapi Ribi nggak harus kok ikut-ikutan besok. Mau milih yang hari Kamis juga boleh." 

Yah, meskipun pada akhirnya Ribi tetap memilih ikut lebaran hari ini.

Dari sini saya mulai paham, apa yang ada dalam pikiran seorang Pram (Pramoedya Ananta Toer) ketika mengirim calon menantunya untuk belajar agama islam pada tokoh yang merupakan musuh ideologi politiknya; Hamka. Saya juga bisa mengerti, bagaimana Abu Tholib bin Abdul Mutholib menganjurkan puteranya untuk mengikuti jalan hidup Kanjeng Nabi, tapi sendirinya wafat dalam keadaan enggan bersyahadat.

Selamat pagi. Selamat berpuasa. Selamat Idul Adha. :*

Pekalongan, 23 September 2015

 Muhammadiyah dan Tahlilan

"Pak Hasan, Pak Hasan." panggil seorang pemuda, setengah berlari mengejar Pak Hasan yang lebih dulu meninggalkan latar masjid.
Pak Hasan menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan. Dilihatnya tiga orang pemuda tergesa-gesa memghampirinya. "Piye, Le?"
"Ngapurane, Pak Hasan. Sudah dengar kabar?"
"Kabar opo?"
"Kaji Tholani mengadakan upacara tahlilan."

***

Kabar meninggalnya Ibunda dari Haji Tholani--seorang yang disegani karena kedermawanannya--telah tersebar ke seluruh penjuru kota. Orang-orang berbondong datang memenuhi rumahnya. Dari tetangga sebelah rumah, saudara, sahabat karib, sampai kenalan yang tinggal di luar kota, tumpah ruah di pelataran rumah. Beberapa wanita paruh baya--mungkin kawan ngaji ibundanya--berebut memeluknya dengan bersimbah air mata, menceritakan dengan sesenggukan bagaimana dahulu ibundanya memperlakukan mereka dengan sangat baik. Lalu tangan-tangan yang mulai mengeriput itu menyelipkan berlembar amplop ke dalam saku bajunya, meminta izin untuk melihat jenazah, melantunkan yaasiin-tahlil dengan suara pelan, sebelum akhirnya pamit pulang. Tapi tidak semuanya. Dua-tiga di antara mereka memaksa menginap agar bisa membantu segala urusan keluarga si mayit. Dan Haji Tholani mengiyakan. Kehadiran tamu itu tak kunjung berhenti. Para tamu laki-laki, memilih menyalami Haji Tholani dalam senyap, sebagai tanda ucapan bela sungkawa, untuk kemudian duduk lama melafadzkan doa-doa.

Hingga sore menjelang, sampai adzan maghrib dikumandangkan, gelombang arus tamu-tamu dari berbagai daerah itu tak juga surut.

"Bu..." Haji Tholani memberi isyarat pada isterinya untuk mendekat.
"Nggih, Pak?"
"Belanjalah untuk keperluan para tamu. Bapak memperkirakan, orang-orang akan terus berdatangan sampai beberapa hari ke depan."
"Nggih, Pak. Tapi..."
"Insyaa Allah, ini tidak seperti yang Ibu khawatirkan." Potong Haji Tholani, setengah berbisik.
Istrinya tersenyum samar. Lalu dengan anggukan kecil, dia pamit ke belakang rumah.

Pak Hasan ada di sana, di antara bapak-bapak yang bersila, pada hari meninggalnya ibunda Haji Tholani. Tapi ia baru berani menghampiri ketika tamu-tamu lain selesai menyalami.
"Lan..." Panggilnya lirih.
Haji Tholani menoleh. "Pak Hasan." Disalaminya lelaki itu, lalu dipeluknya erat.
"Semoga khusnul khotimah."
"Aamiin. Allahumma aamiin." Terdengar isak yang cukup keras dari jarak lima meter.

Itu terjadi pada hari Selasa, dua hari sebelum para pemuda menegur Pak Hasan di depan masjid.

***

Keesokan siangnya, selepas sholat Jum'at, beberapa pemuda mendesak Pak Hasan untuk menanyakan alasan mengapa Haji Tholani melangsungkan upacara tahlilan di rumahnya. Mereka memaksa Pak Hasan menegur, bahkan kalau perlu, menasehati Haji Tholani.
"Pak Hasan kan pernah memberi khutbah kepada kami, bahwasanya upacara semacam itu ialah bid'ah. Tapi lihat, sekarang salah satu jama'ah masjid ini sedang melangsungkannya."
Suasana memanas ketika tak lama kemudian, sosok yang tengah diperbincangkan bergabung dengan mereka.
"Assalamu'alaykum."
"Wa'alaykumussalam warrohmatullah."
Pemuda-pemuda itu terlihat canggung.
"Lan..."
"Nggih, Pak Hasan."
"Ini hari keempat meninggalnya ibu. Kata anak-anak di sini, sampean nggelar tahlilan. Opo bener?"
Haji Tholani berdeham kecil. Sadar bahwa orang-orang pasti meresahkan hal yang sama dengan isterinya.
"Kalau yang begitu itu disebut nggelar tahlilan, nggih leres, aku izinkan para tamu untuk membacakan yaasiin dan tahlil buat almarhumah ibuku. Aku juga suruh isteriku untuk menyajikan makanan dan minuman. Hari pertama, hari kedua, sampai semalam, alhamdulillah tamu-tamu tetap banyak."
"Tuh, kan. Apa yang kami bilang itu benar, Pak Hasan. Kaji Tholani mengadakan acara bid'ah."
"Hush! Jaga omonganmu, Le!" Pak Hasan menghardik.
"Wah, ndak bener ini. Pak Kaji, panjenengan kan orang yang cukup berpengaruh di jama'ah kita, harusnya memberikan contoh yang benar dong. Jangan begini."
Mendengar berbagai tudingan dari pemuda-pemuda itu, tak tampak sedikit pun perubahan pada air muka Haji Tholani. Ia tetap santai. Dan dengan tenangnya berucap:
"Tamu yang datang untuk sekedar silaturrahim saja aku persilahkan duduk. Aku jamu dengan minuman dan makanan yang lezat. Apalagi mereka, yang datang jauh-jauh untuk mendoakan ibuku. Mendoakan orang yang kami cintai."
Lalu, sebelum semuanya sempat menyela, Haji Tholani menambahkan, "Apa Muhammadiyah mengajarkan kita untuk jadi tuan rumah yang kurang ajar?"
Hampir semua orang--dalam tiga hari terakhir--mengeluhkan bertumpuknya daging hewan qurban di freezer kulkasnya, juga aneka masakan rumah yang berbahan dasar serba daging. "Mblenger", katanya. Atau dalam istilah yang lebih umum, artinya "mabok". Mabok daging.

Saya, enjoy aja. Ada sate ya saya santap, ada rendang ya saya lahap, dibikin dendeng juga sedap. Saya gitu sih, lebih memilih untuk menikmati apa yang tersaji di hadapan. Ini kan masih dalam suasana Idul Adha, jadi wajar kalau seisi dunia dipenuhi dengan daging qurban. Nanti, beberapa waktu ke depan, ketika stok daging di kulkasmu sudah habis, kamu akan merindukan hari-hari dimana tumpukan daging itu masih berjejal sempit-sempitan, dimana harum aroma prengus selalu tercium ketika kakimu melangkah memasuki rumah, juga hari dimana kamu mendapati Ibumu sering bingung, lalu bertanya, "Dagingnya mau dibikin apa lagi?"

Dan saya, saya bukan tipe orang yang suka merindukan sesuatu yang sebelumnya saya keluhkan. Saya tidak suka menyesal. Jadi, apa yang ada sekarang ini, saya nikmati. Seperti, misalnya, adanya kamu di sisi.
Saya percaya, bakat manusia yang paling fundamental adalah menghamba. Perjanjian primordialnya dengan Tuhan yang terjadi sebelum manusia dilahirkan, menuntutnya untuk berbakti; (dan) mengakui eksistensi Dia Yang Maha Wujud ini dalam area bawah sadar.

Seperti apa yang tertoreh dalam Kitab Suci di atas lemari, "Wamaa kholaqtu al-jinna wa al-insa illa liya'buduun." (Q.S. 51:56) yang oleh para mubaligh dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk menyembah Tuhan, atau akan lebih tepat jika dimaknai bahwa jin dan manusia diciptakan dengan naluri kepada Tuhan. Naluri ber-Tuhan.

Inilah mengapa banyak atheis yang gagal. Mengaku tidak percaya pada campur tangan Tuhan, tapi diam-diam masih sering berdoa.
Islam Nusantara, ya?
Saya sedang khusyuk nggelosor di bangku panjang di teras rumah Embah, ketika orang-orang itu mulai geger soal Islam Nusantara. Ada yang nyinyir, ada yang membela. Ada yang beristri, ada pula yang masih jaka. Saya jadi bingung mau pilih yang mana. Akhirnya saya memutuskan untuk berpuasa dulu sementara waktu. *eh

Sebenarnya, istilah Islam Nusantara ini sudah ada sejak lama, bertahun-tahun silam. Tapi menjadi sangat heboh diperbincangkan ketika My Lovely President Jokowi--yang sering kalian sindir itu--mengucapkannya pada pembukaan Munas Ulama PBNU, seminggu yang lalu. Dan menjadi semakin seru untuk diperdebatkan setelah NU terang-terangan menjadikan wacana "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia" sebagai tema pada Muktamar ke-33 di Jombang nanti.

Sebagai generasi moderat garis lucu, tentu saya menganggap ide ini keren sekali. Wah, Islam Nusantara. Easy listening banget, ya! Apalagi kalo bisa mendunia.

Tapi, tentu saja, moderat bukanlah satu-satunya faham yang tertancap di tanah ini. Dan saya bukanlah satu-satunya manusia yang hidup di negeri yang gemah-ripah-loh-jinawi ini. Maka seandainya ada dari kita yang protes soal penamaan Islam Nusantara, tak sependapat dengan pengusungan ide ini ke ranah global, itu wajar.

Selama ini, sependek jumlah artikel yang saya baca--guna mengusir kegalauan akibat njomblo--di media onlen, kampanye Islam Nusantara hanya ngobrolin soal Islam ala Nusantara; ialah Islam yang ramah, yang toleran, yang mengakar pada kebudayaan-kebudayaan lokal (khas Walisongo); tanpa menunjukkan Walisongo itu ngikut siapa. Kan, kalo dirunut ke belakang, sumbernya dari Arab juga. Menurut risalahnya K. H. Hasyim Asyari, NU itu fiqhnya ikut 4 madzhab, aqidahnya ikut Imam Asyari dan al-Maturidi, tasawufnya ikut Imam Ghazali dan Junaidi al-Baghdadi. Nah, ini yang juga diikuti Walisongo, kan? Dari Arab semua, kan?

Seharusnya mereka bisa menunjukkan, bahwa dulu, di Arab sana juga ada Islam yang ramah itu, yang inklusif itu. Hanya saja, Arab yang sekarang lebih menganut islamnya Ibnu Taimiyah - Ibnu Wahab - Abdullah bin Baz - Hasan Albana - Taqiyyuddin, yang setelah melewati beberapa generasi menjadi semakin 'keras' dan intoleran. Sayang sekali kampanye tentang Islam Nusantara tidak menyinggung soal itu. Jadi wajar jika yang islamnya PKS--eh IM, HTI, dan Wahabi gak bisa terima. Malah bisa meng-counter dengan mudah--meski tidak masuk akal; bahwa ini adalah agenda 'devide et impera' ala Mamarika, propaganda Wahyudi, dan sebagainya. Bahkan ada yang sibuk menuduh Islam Nusantara ini sebagai wacana yang membuat 'Islam' dipandang sebagai konflik, bukan solusi. Duh, duh. Saya kok jadi laper, Mas.

***

Tulisan kali ini tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Saya memang sedang tidak ingin menyimpulkan apa-apa. Apakah saya full-pro, atau mid-kontra, biarlah itu menjadi rahasia antara saya dengan Tuhan. *dialog khas sinetron reliji
Lha wong hubungan antardua insan saja kadang ada yang nggantung tak berkesimpulan, apalagi cuma analisis kelas kroco macam ini. Ya, kan, Mas?

Seperti biasa, obrolan kami melebar kemana-mana. Bermula dari Ikang Fauzi yang hanya menelurkan tiga album musik, Remy Sylado yang karya-karyanya tidak banyak dikenal orang, tiba-tiba saja kami sampai pada diskusi kecil tentang rezim orde baru; Bapak merindukan masa-masa di mana rejeki mudah sekali diraih, sedang saya mengutuk perilaku doyan ngutang yang dilakukan pemerintah sekaligus menggugat narasi sejarah yang banyak dimanipulasi pada masa itu (biar terlihat pintar dan kekirian, eh, kekinian, hahaha).

"Dulu, zamannya Bapak masih semangat-semangatnya mbecak, cari penumpang itu gampang." Katanya, memulai cerita nostalgi tentang masa bertahun silam. "Jalan sebentar, sudah ada yang minta diantar. Selesai mengantar yang satu, calon penumpang yang lain sudah menanti di ujung gang. Serba enak dulu itu, Na. Angkutan umum belum banyak, transportasi pribadi juga masih sangat terbatas. Harga motor mahal sekali. Apalagi mobil. Dan tidak ada sistem kredit. Tidak seperti sekarang. Orang-orang di zaman dulu kalau mau beli motor pasti mikir-mikir dulu. Nabungnya lama." Bapak tertawa sejenak. "Kemana-mana orang lebih memilih naik becak. Pada akhirnya, yang merasa diuntungkan ya tukang becak macam Bapakmu ini. Penumpangnya jadi banyak, rejeki mengalir lancar."

Saya manggut-manggut mendengarkan. "Tapi hutang pemerintahnya kan banyak, Pak." Saya berkomentar.

"Lho hutangnya kan buat kesejahteraan rakyat." Jawab Bapak cepat. "Beras jadi murah, sembako murah, apa-apa serba murah."

"Tapi tidak ada kebebasan berpendapat. Yang sekiranya menunjukkan gelagat kontra, langsung dibungkam. Yang terdengar mengkritik, penjarakan. Lalu karya-karyanya dilarang edar. Yang salah siapa, yang dihukum yang mana. Apaan."

"Ya itulah." Bapak berkata dengan nada kebapakan. Yaiyalah, wong sudah bapak-bapak. Kalo ibu-ibu ya pasti keibuan. Heuheu. "Kalau bicara demokrasi, bicara kebebasan, keadilan hukum, zaman sekarang memang lebih baik. Lebih manusiawi." Katanya. "Tapi kalau kamu bicara soal kemakmuran, percaya deh, Bapak jadi saksinya; zamannya Pak Harto jauh lebih makmur."

Saya diam.

Dilahirkan pada tahun 1992 dan sudah harus berhadapan dengan krisis moneter saat otak belum sepenuhnya mengerti, adalah alasan mengapa saya merasa tidak memiliki perbandingan apa-apa untuk menyanggah argumen Bapak. Jadi saya diam.

Tapi, berkat bapak saya mendapat jawaban, mengapa di bagian belakang truk-truk pengangkut barang dan kaca-kaca mobil angkutan umum itu banyak tertera poster ngehek berbunyi, "Piye, enak jamanku tho?"

Ternyata, diam-diam, banyak orang merindukannya. Iya, merindukan kepemimpinan sosok laki-laki dalam poster itu.

Pekalongan, 6 April 2016
Di tengah menjamurnya kedai kopi dan kafe-kafe modern di Pekalongan yang menyediakan beragam menu kopi dari asal biji sampai teknik penyeduhan, ada satu yang tetap khusyuk berteduh di emperan. Satu olahan kopi yang bertahan menjadi primadona di gerobak angkringan, dan hanya di gerobak angkringan. Kopi ini, kata orang-orang, adalah kopinya Pekalongan. Kamu tentu tidak tahu. Tidak mengapa. Orang-orang yang mendaku penikmat kopi garis keras macam Iqbal Aji Daryono dan Robi "Aobi" Fuzi--yang doyan pamer foto manunggaling kretek lan kopi--juga belum pernah mencobanya kok. Lha wong tahu saja tidak. Nody Arizona, admin @KopiID yang menganggap ngopi setara dengan bernapas dan pengetahuannya soal kopi lebih dalam dari pengalamannya menyelami sanubari wanita itu pun belum pernah mencicipinya. Cih. Kalau begini, kejantanan mereka sebagai pecinta kopi perlu sekali dipertanyakan.

Kopi tahlil bukanlah sejenis kopi yang bijinya dipanen dari perkebunan lokal seperti halnya gayo dan toraja, misalnya. Bukan. Di sini tidak ada perkebunan kopi. Dia berbeda bukan sebab asal-muasal bijinya, melainkan unik cara pengolahannya. Dan lebih dari itu, dia adalah tradisi. Mengulas tentangnya tanpa mengindahkan sejarah dan budaya setempat sama halnya seperti jomblo yang ngobral bualan soal pacar tapi ogah menunjukkan identitas pacarnya. Kosong. Kopi tahlil pada mulanya disajikan sebagai hidangan wajib pada upacara tahlilan. Tahu kan? Ritual perapalan doa-doa dan kalimat Tuhan yang diadakan oleh sebagian umat islam ketika kehilangan sanak saudaranya (Udah deh, udah.. gak usah ribut dulu soal tahlilan-gak tahlilan, apalagi bid'ah-bid'ahan). Kamu perlu tahu, Pekalongan lahir ketika pemerintahan Islam Demak mulai memekarkan kekuasaannya dan berhasil menjangkau sebagian wilayah pantai utara. Pengaruh Walisongo masih begitu kuat pada era ini. Dan siapapun tahu bagaimana perjuangan Walisongo mengenalkan islam di tanah Jawa melalui asimilasi kebudayaan lokal yang saat itu masih kental oleh kepercayaan hindu, budha, bahkan animisme dan dinamisme. Sampai kemudian muncullah tradisi tahlilan yang merupakan upaya pelestarian dari Pinda Pitre Yajna--suatu upacara untuk menghormati roh-roh orang yang sudah mati--dalam ajaran hindu.

Tahlilan kemudian dipelihara oleh orang-orang NU (yang Muhammadiyah tolong jangan berisik dulu). Di Pekalongan, mungkin juga di kota-kota lainnya, upacara ini diadakan dengan ritme nyaris tetap: nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu. Ada juga yang digelar di luar agenda tadi, seperti misalnya, rutin tiap malam Jum'at. Dalam syahdunya acara tahlilan ini, selalu ada saji-sajian yang terhidang, di mana kopi menjadi sebuah keharusan.

Kopi tahlil bukan sekedar bubuk kopi yang diseduh dalam segelas air panas, lalu diberi sedikit gula agar tidak hanya pahit yang terasa. Dia--layaknya ajaran Walisongo yang berbaur dengan kepercayaan masyarakat lokal--menyatu dengan rempah-rempah hasil panen daerah, seperti jahe, kapulaga, kayu manis, pandan, serai, pala, dan gula jawa, untuk menghasilkan cita rasa yang aduhai nikmatnya.

Lambat laun, kopi tahlil bergeser menjadi komoditas yang dijajakan di setiap sudut Pekalongan. Kamu bisa menemukannya di beberapa titik di kota ini, khususnya di warung-warung macam angkringan pinggir jalan yang mencatutkan tulisan "Kopi Tahlil" di depan tenda-tendanya. Ada dua warung kopi tahlil yang berani saya rekomendasikan untuk kamu yang mau bertandang. Satu di wilayah Poncol depan gedung Kospin Jasa, yang kedua di ruas jalan Haji Agus Salim depan gedung PPIP Klego. Dua inilah yang paling populer. Tapi, sini mendekat, saya beri tahu satu hal: Jika tujuanmu adalah murni kopi tahlil, datangi saja warung kedua, warung Pak Eko namanya. Tapi jika kamu punya uang lebih untuk dibuang-buang, dan waktu senggang untuk bersenang-senang, saya sarankan untuk mampir ke warung pertama. Di sini, kamu bisa menemukan seporsi nasi plus kopi yang dijual Rp 5.000 pada siang hari, berubah menjadi Rp 12.000 pada malam harinya. Padahal kamu mengunjungi warung yang sama. Hanya di sini, kamu bisa mendapati mas-mas kurus berkumis tipis yang membuatkanmu kopi di siang hari, berganti menjadi mbak-mbak ayu nan seksi dengan lirikan mata genit saat malam menjelang. Serangan mbak ayu inilah yang membuat Rp 12.000-mu menjadi tak seberapa.

Saya pribadi lebih senang mampir ke warung Pak Eko di depan gedung PPIP. Bukan karena alasan finansial, saya hanya tidak tahan melihat mbak-mbak bohai yang lipstiknya tak luntur dimakan zaman itu tersenyum malu-malu kerbau tatkala para lelaki menggodanya. Ingin sekali saya melemparnya menggunakan bakwan, biar dia tahu rasanya cemburu. Tentu saja ini bohong. Saya syar'i luar dalam kok. Jadi ndak pernah cemburu. Apa hubungannya? Ndak tahu~

Kopi tahlil dapat disajikan dengan tambahan susu kental manis, untuk kamu yang berjiwa lembut. Bisa juga apa adanya. Tentu saya lebih suka yang kedua. Rasa kopi dan rempahnya lebih kuat, hangat jahenya mengalir lewat tenggorokan dan menjalar ke seluruh tubuh. Membuat semangat. Tapi, Dik, kalau kamu perempuan, jangan sekali-kali pesan kopi tahlil tanpa susu di hadapan laki-laki. Percayalah, itu hanya akan membuatmu tampak lebih garang, dan beberapa laki-laki tidak suka saat kegagahannya dibunuh. Pada beberapa kesempatan, seberapapun inginnya saya minum kopi tahlil hitam, saya lebih memilih memesan yang campur susu, atau air mineral sekalian, untuk menunjukkan kepada laki-laki di hadapan saya: aku tak lebih kuat darimu. Dan dari situ kita bisa merebut hatinya pelan-pelan.

Di warung kopi ini, di mana segala permasalahan dari urusan politik, perang, sampai cerita ranjang diperbincangkan, kita akan mengakhiri obrolan. Semoga lewat kopi tahlil ini, kamu akan lebih mengenal Pekalongan, juga orang-orangnya, terutama saya. :*

Selamat ulang tahun, Pekalongan.
Jum'at, 1 April 2016