AHOK DAN MUSLIM

Barangkali, banyaknya kubu yang menyerang dan menekan Ahok dengan dalih agama/keyakinan (baca: mengata-ngatai belio sebagai kafir, dan bla bla bla, sehingga tidak pantas dipilih sebagai pemimpin) membuat segelintir orang merasa simpati, lalu menuliskan,
Untuk sekedar memberi gambaran bahwa tidak semua muslim setuju dengan sikap deskriminatif semacam itu. Sialnya (atau asyiknya?), tindakan tersebut mendapat respon balik, berupa kalimat,

Nah.

Pertanyaannya sekarang, haruskah menggunakan premis "saya muslim"?

Secara harfiah, memang, muslim berarti orang yang berserah diri (kepada Allah), atau lebih sempitnya; penganut agama islam. Dia bisa diartikan secara tunggal. Tapi, pembicaraan tentang muslim juga hampir selalu dimaknai secara jamak, komunitas, karena yang islam ndak cuma kamu. 

Mengatakan "saya muslim" sama artinya dengan mengklaim bahwa "saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang memeluk islam".
Huh, berat lho itu. Berat sekali pertanggungjawabannya. Keyk bawa orang sekampung. Karena mau tidak mau kamu dianggap mewakili ummah (sebutan untuk jama'ah muslim), bukan sekedar personal statement. Hati-hati.

Dukung/tidak dukung, pilih/tidak pilih, cinta/tidak cinta, itu hak masing-masing orang. Tapi ya kalau bisa, mengungkapkannya atas nama diri sendiri. Seperti misalnya,
Itu cukup.

Pekalongan, Maret 2016

0 comments:

Posting Komentar