ARIBI DAN SIKAP

"Mbak Fina, aku pingin ngagem kerudung terus." Ribi, adik saya yang gendut nan hitam manis itu berkata dengan nada ceria. Suatu sore, hari Jum'at.

Saya menatapnya singkat. Lalu menanggapi sekedarnya, "Lha wis."

"Tapi bajuku pendek-pendek, Mbak." Keluhnya seperti anak kecil. Dan dia memang masih kecil.

"Yo rapopo. Alon-alon."

Sebenarnya, jawaban saya ini nggak nyambung. Untuk apa juga saya bilang "alon-alon", toh Ribi hanya menyatakan kondisi perbendaharaan bajunya yang kebanyakan berlengan pendek. Tidak lebih. Tapi karena setelah itu Ribi diam, ya saya juga tidak repot-repot melanjutkan.

Tentu saja, saya tidak menganggap "serius" ucapan Ribi sore itu. Bocah kelas 2 SD, tahu apa soal keseriusan, pikir saya. Wong Mbakyu-nya yang sudah setua ini saja masih nggak bisa serius (curhat.. curhat. :v). Terlalu sering Ribi mengatakan ingin melakukan sesuatu, tapi kemudian hilang. Pernah suatu kali dia bilang, "Mbak, besok lari pagi, yuk!" Tapi keesokan paginya malah ngambek saat dibangunkan. Pernah juga -dan ini yang paling mengguncang- dia bilang, "Mbak, aku pingin mondok." (Hoho. Siapa pula yang mengajarinya?) Tapi, seperti yang sudah saya duga, beberapa hari kemudian ketika pulang dari bertengkar dengan teman mainnya, dia spontan mengucap, "Sungkan! Aku moh mondok."
Begitulah. Masih labil dia.

Namun, sepertinya kali ini berbeda.
Sehari setelah mengutarakan niat berkerudungnya itu, tepatnya pada Sabtu siang, Ribi meminta Bapak untuk mengambilkan semua baju muslimnya -yang biasanya hanya dia pakai saat les- termasuk yang sudah tidak muat sekalipun. Lalu dia menyuruh Bapak menumpuknya di lemari bagian pinggir, agar mudah diambil. Pun saya pernah memergoki, Ribi dengan paniknya mencari kerudung saat seorang teman sekolahnya datang ke rumah tiba-tiba.

Tampaknya Ribi bersungguh-sungguh. Dan hampir seminggu ini, saya belum melihat tanda kegoyahan dalam keputusannya.

Aribi Haqori

Barangkali dia belum tahu betul makna jilbab yang sebenarnya. Lebih-lebih asbabun nuzul dari ayat-ayat tentang hijab yang sering didendangkan para penyerunya itu. Saya yakin dia belum tahu. Begitu juga saya. Tapi mungkin, setidaknya, dia mulai paham, bahwa orang hidup itu harus punya sikap. Dan kini dia sudah mengambil sikap.
Saya pun jadi mengerti, mengapa tempo hari saya bilang, "Yo rapopo. Alon-alon."
Sebagai Mbakyu-nya, saya hanya tidak ingin dia mengambil sikap dengan terburu-buru. Kesusu. Memutuskan pilihan hanya karena nafsu. Saya ingin.. dia.. istiqomah.. Ah sudah! Ini terlalu berat untuk anak sekecil dia.
Sama beratnya ketika kemarin salah satu sahabat saya mengatakan, "Ribi butuh panutan, Up. Dan kamu.."
Ah, sudah. Ini berat.

Pekalongan, 12 Februari 2015

0 comments:

Posting Komentar