ASAS BLACK DAN TEORI PERNIKAHAN

Februari 20, 2015

"Roup, kamu nanti pengennya yang selisih berapa tahun?" Mbak Mega, teman nguli saya yang tengah hamil 7 bulan itu bertanya sambil mesem.

Semalam tadi, hujan deras mengguyur bangunan dan aspal-aspal kota. Menciptakan gemuruh dan bising yang saling bersahutan mesra.

Sementara itu, kami bertiga memilih menghangatkan suasana dengan bincang-bincang riang seputar pernikahan. Tuh, kan. Berat lagi topiknya.

"Enaknya berapa tahun ya, Mbak?" Yang ditanya justru nawar.

"Aku sama suamiku beda lima tahun." Jawab Mbak Mega.

"Kalo Mbak Sakinah?"

"Aku seumuran." Mbak Sakinah berujar pelan.

"Oh." Saya manggut-manggut. "Kalo yang bedanya jauh gitu gimana ya, Mbak?" Saya bertanya menerawang.

"Gak masalah sih." Jawab Mbak Sakinah, lalu membenahi posisi duduknya, "Beda berapa pun, baik si wanita maupun laki-lakinya yang lebih tua, pada akhirnya akan sama. Entah yang lebih muda mengikuti yang lebih tua, atau sebaliknya. Itulah pernikahan."

Whuussh ~

Angin berhembus menerpa wajah, tapi yang bergidik justru hati.
Saya jadi ingat, hukum Asas Black tentang prinsip termodinamika yang beberapa hari lalu diributkan oleh Saul dan Anis, konco awet saya.

Yang intinya: Jika dua buah benda yang berbeda suhunya dicampurkan, benda yang panas memberi kalor pada benda yang dingin, benda yang dingin menerima kalor dari benda yang panas, sehingga "suhu akhirnya", sama.


Ingat?

Mungkin Mbak Sakinah benar.
Dalam pernikahan, akan ada penyesuaian-penyesuaian yang kita lakukan untuk saling menyeimbangkan. Baik dalam perkara penampilan, kedewasaan bersosial, maupun kematangan pikir. Sehingga nantinya, yang muncul adalah hasil pembauran dua pribadi. *tsaah omonganmu, Up!

"Tapi, Mbak. Ada juga yang sudah menikah sekian tahun, tapi tetap saja keras kepala dan enggan saling mengalah. Hingga yang tampak hanya beda. Itu gimana?" Saya bertanya dalam hati.

"Ah, mungkin cinta yang sebenarnya belum hadir." Sebuah suara menyahut. Entah suara siapa, atau apa.

Dan hujan masih saja deras sampai kami beranjak pulang.

Pekalongan, 20 Februari 2015

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe