AUFA DAN KONSEP MENANG-KALAH

April 29, 2015

Saya sedang khusyuk ngepoin timeline-mu (ehem, Mas) siang itu, kala adik mbontot saya, Aufa, tiba-tiba nyelonong masuk dan ndusel-ndusel dekat Mbakyu-nya sambil mecucu. Mirip anak kucing yang nggak sabar nyari tetek biyungnya. Saya curiga, jangan-jangan Aufa habis nonton adegan kucing menyusui dan mencoba mempraktekkannya dengan saya. Huah. Nggak sopan!

Saya meliriknya. Tampaknya si princil ini sedang bosan. Mungkin dia lelah. Atau dia mulai menyadari bahwa hidup sudah terlalu menjemukan untuk dijalani seorang diri. (Curhat, curhattt.. :v)

"Aufa kenapa, Nduk?" Saya bertanya layaknya seorang Mbakyu kepada adiknya. Dan saya memang Mbakyu-nya.

Aufa diam saja. Telentang menatap langit-langit kamar. Empat tahun usianya, tapi gurat-gurat di wajahnya seolah menunjukkan betapa dia telah hidup berabad lamanya. Ehe.

"Aufa pingin dolanan balapan." Katanya kemudian.

Balapan yang dimaksud adalah "Rash Motor", satu-satunya aplikasi game yang ada di hape MiTO Afgan -hape milik bersama. Saya pun segera nyetel game itu, lalu menyerahkan si hape pada Aufa. Beberapa detik berlalu, dan Aufa sudah larut dalam riuh-rendah keramaian sirkuit.
Saya kembali fokus ke kamu. Mengira-ngira apakah rindu ini berbalas rindu, atau hanya saya yang terlalu menginginkanmu. *elahh

"Yah, kalah." Aufa mengeluh tiba-tiba.

Saya penasaran, lalu mengintip layar hape di tangannya, dan.. terkejut! Pembalap yang diperankan Aufa melaju sendirian menuju garis finish. Meninggalkan lawan-lawannya di belakang, seperti dia yang tega meninggalkanmu di masa lalu. 

Harusnya, harusnya lho ya, Aufa senang. Karena sedikit lagi jadi pemenang. Namun entah bagaimana, dia memvonis dirinya kalah.

"Itu namanya menang, Nduk. Kok kalah ki piye?" Saya mencoba mengoreksi.

"Soale dewean." Aufa mecucu.

Jujur, saya tertohok mendengar jawaban Aufa. Baginya, melaju sendirian adalah sebuah kekalahan. Ini ganjil. Tentu saja, Aufa akan dianggap sebagai manusia paling dungu jika tampil menawarkan konsep ini di hadapan publik realitas. Bagaimana pun, di planet bernama realita ini, berlaku prinsip; hanya boleh ada satu pemenang. Sebagaimana halnya dengan "satu sperma saja yang diperbolehkan membuahi sel telur", atau, "hanya namamu seorang yang tersemat dalam relung". *tsaah

Saya ingat, pada 2009 yang lalu, ketika si ganteng Ricardo Kaka (pemenang Ballon d'Or 2007) dan si macho Cristiano Ronaldo (pemenang Ballon d'Or 2008)--pada akhirnya--bergabung dalam satu team berjuluk Real Madrid (#halaMadrid), salah satu teman sekelas saya nyeletuk, "Tidak pernah ada sejarahnya, dua bintang bersinar dalam satu lapangan."

"Maksudnya?" Tanya saya waktu itu.

"Salah satu dari mereka harus redup, jika tidak ingin keduanya."

Sampai sebegitunya, orang-orang waras memaknai sebuah kemenangan. Barangkali saya sudah termakan cara pandang mereka, sehingga saya syok dengan apa yang Aufa suguhkan. Aufa, tanpa memedulikan berbagai gemuruh di kepala Mbakyunya, tetap melanjutkan permainan balapan itu--sekali lagi--sambil mecucu. Dia tampak sibuk menekan-nekan layar si MiTO layaknya pemuda over-protektif yang terus menerus mengetik pesan "Kamu dimana? Lagi apa?" ke sang pacar; saking over-nya. Ha.

Sampai kemudian...

"Ye, menang!" Aufa berseru bungah.

Di satu sisi, saya agak miris. Karena ketika saya tengok hapenya, tampak pembalap lain berlari menyusul dari belakang dan menyalip, tepat sebelum jagoan Aufa mencapai garis finish. Lalu muncul atensi 'Game is Over'. Tapi di sisi lain, saya belajar sesuatu.

Ada saatnya, di mana kemenangan bukan lagi soal 'kalah-mengalahkan', melainkan tentang akankah kita mau berdamai dan berjalan beriringan. Mungkin, seperti Kanjeng Nabi yang memenangkan hati orang-orang dzolim dengan perangainya yang menyejukkan, atau seperti dua insan yang berusaha saling mengerti untuk mempertahankan sebuah pernikahan. Ahaha, ujung-ujungnya ke situ juga. Sudah ah, nanti saya dibully lagi.

Dalam perkara-perkara absurd semacam ini, kita tahu, pikiran anak kecil terkadang jauh lebih mendewasakan.

Pekalongan, 29 April 2015

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe