AUFA DAN KONSEP SAKIT

Maret 12, 2015

Di antara kami berlima, Aribi dan Aufa lah yang paling sering bertengkar. Maklum, mereka masih princil. Tapi seprincil-princilnya mereka, mereka bersaudara, kandung pula. Saya pun jadi--terpaksa--mikir, mereka yang sudah saudaraan sejak lahir saja masih sering bertengkar, apalagi kalian Dik, yang baru beberapa bulan jadian? Ehem. Maka benarlah, bahwa pertengkaran itu ada dimana-mana.
Kemarin pagi, keduanya bertengkar lagi. Gara-garanya Aufa kepingin nonton Sofia The First, sedangkan Ribi ngotot untuk nonton Boboiboy. Padahal itu acara sama-sama ada di MNCTV hanya beda jam tayang.

Aufa--yang memang tengil bin jail--sengaja mengambil remot tivi dari tangan Ribi, lalu membawanya berlari keliling rumah. Ribi bangkit mengejar.

"Gowo mene, Fa, remot-e!" Teriak Ribi kesal. Kesal karena dia gendut dan kesulitan mengejar.
Aufa menoleh. Lalu di lemparkannya remot itu ke arah Ribi, dan.. prek! Kena jari kakinya.

"Atoh!" Seru Ribi kesakitan. "Haduh si, Faaa." Haduh adalah sebentuk ekspresi mengeluh yang sering digunakan orang-orang Pekalongan untuk menunjukkan rasa sakit."Ndi haduh? Wong rak metu getihe og." Aufa berkata mengejek, yang artinya: Mana sakit? Wong gak keluar darahnya kok.

Saya terpana mendengar jawaban Aufa. 

Jadi, menurut Aufa, setiap rasa sakit haruslah berdarah. Saya merasa kecolongan. Bagaimana mungkin adik seorang Ra'ufina gagal memahami konsep sakit, sementara Mbakyu-nya sudah terlampau sering merasakannya. *eh

Aufa harus tahu, tidak selamanya begitu. Bahkan terkadang, yang paling menyakitkan justru luka yang tak berdarah. Yah, macam kamu yang baru aja pisah. Ah.

Pagi itu, dalam mendung yang menyelimuti bumi, kami menyadari, setiap manusia bisa saja meninggalkan luka, meski tak bersenjata.

Pekalongan, 12 Maret 2015

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe