AUFA DAN UTAK-ATIK SISTEM

Sebagai anak usia balita, Aufa cenderung tidak memiliki banyak mainan. Tidak seperti anak-anak lain seusianya yang sudah dibanjiri beragam mainan -bahkan- sejak mereka bayi, Aufa bersahaja dengan hanya beberapa jenis saja. Ada untungnya juga, karena dengan begini Aufa jadi sering dolan ke rumah tetangga-tetangga, dan mengasah daya bersosialisasinya agar tidak tumbuh pemalu seperti Mbakyu-nya. Ehem, saya.

Di antara secuil mainan yang dia punya, yang paling sering dijamah -selain Barbie- adalah Lego.
Aufa mengenal Lego pertama kali saat usianya masih 2 tahun. Dia sering meminta Mbakyu-nya yang demen Mas-Mas ini untuk menyusun balok-balok Lego menjadi bebentukan tertentu. Seperti monas, istana (bukan) negara, dan kursi-kursi dewan. Yang terakhir ini tentu saja fiktif. Satu yang belum terpenuhi sampai sekarang adalah permintaannya untuk dibuatkan boneka Barbie dari Lego. Heu. Piye carane coba?

Nah, kemarin, Aufa dengan lincahnya mengambil lima potong Lego dan menyusunnya secara ngasal-bertumpuk-vertikal, lalu enteng mengatakan bahwa itu Barbie. Sesimpel itu! :|
Sekarang Aufa sudah genap 4 tahun. Rabu yang lalu, Bapak meminta saya mengambil "formulir pendaftaran peserta didik baru" di TK ABA ('Aisyiyah Bustanul Athfal) Kraton-Pekalongan. Itu artinya, tak lama lagi Aufa akan mengenal kata sekolah. Memasuki sebuah sistem linear berupa gerak melingkar beraturan.

Saya, tentu tidak kepingin Aufa tumbuh menjadi robot sistem, budak sistem, atau malah asu-nya sistem, tapi bukan berarti saya menghalangi sepenuhnya Aufa untuk nyemplung ke sana. Bagaimana pun, dobrakan terindah ialah yang berasal dari dalam. Maka, dia tetap perlu sekolah, perlu nyistem.
Untuk perkara ini, saya cenderung siap melepas Aufa. Hubungan intens-nya dengan Si Lego akan melatihnya berkembang menjadi manusia-manusia yang doyan ngakali sistem. Dan kecintaannya pada Barbie akan membimbingnya untuk senantiasa "bermain cantik", tidak grusah-grusuh dan asal tuduh kayak kamuh.

Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mengajak Aufa berkelana sesering yang saya bisa. Untuk memperkaya sudut pandang, dan mencegahnya menjadi pribadi-pribadi yang kurang piknik.

Pekalongan, April 2015

0 comments:

Posting Komentar