AUFA, KAMU KENAPA, NDHUK?

Desember 12, 2015

Setiap kali mengikuti kegiatan di sekolah, selalu ada moment di mana Aufa akan menunjukkan muka nelangsanya. Dia tampak sangat tidak nyaman, tidak legawa, dan ini--tentu saja--bikin dada saya terasa sesak. Duh, Ndhuk, kamu kenapa? :'|

***

Saya pikir, Aufa akan tumbuh menjadi apa yang selama ini saya ekspektasikan dalam beberapa postingan. Kemampuan bersosialisasinya yang cukup baik di lingkungan rumah, juga perkembangan motorik halus dan motorik kasarnya yang meningkat pesat menjelang usia sekolah, membuat saya mantap melepasnya ke ranah TK meski usianya belum genap di angka lima. Saya percaya diri dan yakin bahwa si mbontot ini akan menjadi--minimal--rembulan di dalam kelas; yang hanya satu, dan cahayanya begitu mendamaikan. *alah

Saya tidak menargetkan Aufa menjadi anak super pintar, yang bisa menjawab semua tanya dengan benar, seperti yang dipropagandakan oleh iklan-iklan susu itchuuu. Tidak, itu bukan tujuan. Lha wong Mbakyunya saja ndak pintar-pintar amat kok, masa mau maksa-maksa adiknya. *ihik!
Saya hanya ingin Aufa belajar mengenali lingkungan barunya, merancang taktik, pelan-pelan mendoktrin teman-teman sekolahnya dengan pemikiran hebat yang sering kami diskusikan berdua, lalu menutup rentetan misi ini dengan satu langkah jitu: menghancurkan sistem pemerintahan pancasilais kafir! Ngoahahahahaha~

Ada yang salah, saya rasa. Awal pertama Aufa mendatangi sekolahnya setengah tahun yang lalu, dia tampak baik-baik saja. Excited dengan hingar-bingar suasana bermain yang ramai dan mengasyikkan. Bahkan pada hari pertama, dia langsung mendapat teman baru saat bermain puzzle di pojok kelas.

Tetapi kemudian.. hari berganti hari, dan dia mulai terlihat loyo.

Sering sekali saya mendapati Aufa keluar dari kelas saat kegiatan belajar (entah itu mewarnai, menggunting, maupun mencocokkan gambar dengan angka) berlangsung, lalu dengan santainya menghampiri ayunan dan duduk anteng-menyayun-ayun di sana. Dia hiraukan gurunya yang memanggil-manggil dari luar kelas. Kalau sudah begini, biasanya beberapa wali murid akan menegur saya, "Mbak Fina, itu Aufanya keluar kelas." Dan saya akan meresponnya dengan senyum dan anggukan sekedarnya. Tanpa aksi apa-apa; tidak berteriak memanggil Aufa, apalagi bergegas bangkit untuk menjewernya. Saya memandanginya saja dari jauh.
Saya tahu.. adik saya itu hanya sedang bosan.

***

Aufa adalah tipe anak yang senang menikmati proses, alih-alih hasil. Dia bisa mengerjakan sesuatu dengan tempo yang sangat lama tanpa merasa terbebani. Saat bermain lego, misalnya. Qea, sepupu kami yang kelas 2 SD, menyusun balok-balok lego menjadi sebuah gerbang istana yang megah, jika dirasa hasilnya kurang memuaskan, dia akan segera memperbaikinya, dan masih akan terus bergerak sampai gerbang itu menjadi sempurna. Lalu, berhenti. Sudah, pekerjaannya selesai. Tetapi, Aufa berbeda. Dia akan membuat kereta api pada mulanya, kemudian--tanpa menilai apakah keretanya sudah terbentuk sempurna atau belum--dibongkarnya susunan lego itu dan membuat mobil, lalu kembali dibongkar dan membuat robot pangeran, dibongkar lagi membuat tempat tidur puteri, dibongkar lagi membuat kursi raja. Begitu seterusnya sampai Rio Dewanto dan Nicholas Saputra ngrebutin saya. *ea

Aufa hampir tidak peduli pada hasil. Dia menikmati jalannya pekerjaan sampai batas waktu yang dia tentukan sendiri. Dan di sinilah, saya kira, titik masalah itu bermula...

Di sekolah, ketika Bu Guru memberi tugas kepada murid-muridnya, tidak bisa tidak, beliau juga memberi tenggat waktu pada mereka untuk segera menyelesaikannya. Aufa, tidak bisa begitu. Dia akan jatuh stress jika terus-menerus mendengar kalimat, "Ayo, anak-anak, siapa yang sudah selesai? Ya! Rizki, pinter. Sini, kumpulkan ke Bu Guru." Tak lama kemudian, "Siapa lagi yang sudah? Zaya, ayo dikerjakan!"

Aufa sering memberi tatapan layu kepada teman-temannya yang berlomba menyelesaikan tugas dari Bu Guru. Barangkali dia sebal, juga kecewa, mengapa semua orang begitu bersemangat dalam ruang-waktu yang serba terbatas, mengapa semua orang senang berkompetisi, lebih dari itu, mengapa pola pengajaran di sekolahnya lebih berorientasi pada capaian-capaian--dan semua orang suka, sementara dirinya tidak.

Aufa mendekat ke jendela. Memberi isyarat pada Mbakyunya untuk mendekat pula. Kemudian dia menangis.

Ah, Ndhuk, Mbak Fina tahu yang kamu rasakan. Mbak Fina tahu. Sebab, Mbak Fina juga begitu. Kalau kamu ndak nyaman, keluarlah.. bermain sesukamu.

***

Jika saya mengikuti jejak Ibuk saya dalam mendidik anak-anaknya, yang keras dan menekan, bisa jadi yang akan muncul pada diri Aufa kemudian ialah Ra'ufina versi kedua; yang payah, serba setengah-setengah, dan sampai setua ini tak menelurkan karya apa-apa. 

Saya tidak mau. Aufa harus tumbuh bersama segenap ambisinya. Sembari nanti belajar untuk membedakan; kapan dia bisa berbuat sesuka hati, kapan perlu mengikuti tata aturan yang berlaku. Karena hidup bukan hanya soal keinginan-keinginan, tapi juga keharusan-keharusan. Bukan melulu soal impian, melainkan juga tuntutan.

Pekalongan, 12 Desember 2015

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe