BINA ARIQOH : SATU NAMA YANG NYARIS TERLUPA

BINA ARIQOH

Tiba-tiba saja Bapak melontarkan kalimat yang membuat pagi ini seketika sendu.
"Kalau (Almh.) Bina masih hidup, pasti rumah bakalan makin rame ya." Katanya, lalu menatap saya dan Mbak Liya bergantian.

Sudah lama sekali kami tidak mengungkitnya, Si Bina itu, setelah hampir tiga belas tahun lamanya dia meninggalkan kami. Dia kejang pada Jum'at pagi, lalu tak sadarkan diri hingga Sabtu sore sebelum saya menjenguknya di rumah sakit. Dokter menyebut-nyebut radang selaput otak, entahlah, kami embuh soal istilah-istilah. Kami hanya ingin bayi di depan kami itu sadar dan menangis, bukan tergeletak lunglai dengan wajah pucat dan mata berair tanpa suara.

Bina membuat saya tidak menginginkan adik perempuan lagi, segera setelah dokter memvonisnya meninggal dunia sore itu. Saya pulang dengan jeritan kehilangan, dengan tekad tidak akan memberikan restu pada Bapak-Ibuk untuk kembali mempunyai anak perempuan. Kalau saya harus punya adik lagi, maka ia harus laki-laki, harus kuat, agar tidak sakit, agar tidak mati.

Sampai kemudian lahirlah Aribi, perempuan, disusul Aufa, perempuan, yang menggenapkan kami menjadi lima. Lalu pagi ini, Bapak mengingatkan kami betapa menyenangkannya jika kami masih berwujud enam perempuan yang utuh. Menyadarkan saya bahwa mati bukanlah soal perempuan atau laki-laki, melainkan bukti kefanaan diri.

***

"Kalau sekarang masih hidup, Bina sudah sebesar apa ya?" Suara Bapak kembali menggema. Matanya berbinar, mungkin membayangkan rupa anak keempatnya yang menggemaskan.
Lalu mendadak saja, perasaan saya dihinggapi rindu.

Pekalongan, 25 November 2015

0 comments:

Posting Komentar