CINTA, KATA-KATA

Juni 30, 2010, by ranafiu

Aku pulang menjelang petang, dan kutemukan secarik kertas di dekat pintu tak jauh dari tong sampah. Tertulis di atasnya, dengan tinta yang masih basah:

Tamparan itu tak berarti apa-apa
Senyummu menjelma menjadi penawar lara

Aku tergelak. Segera kulangkahkan kaki memasuki rumah. Kupanggil dia. Tak ada sahutan. Kupanggil beberapa kali lagi setelahnya, sembari melangkah ke bagian belakang. Barangkali dia sedang menyiapkan makan malam seperti yang setiap hari dia lakukan. Atau sembahyang? Nihil. Tidak ada siapapun. Aku berbalik menuju kamar tidur depan. Kamar Emi. Kuketuk pintunya. Aku pikir mungkin dia kelelahan lalu tidur lebih awal. Kupanggil lagi namanya. Tak ada suara. Kubuka pintunya. Kamar itu kosong.

Aku sangat menghargai privasi Emi, sekalipun mendiang Ayah dan Ibu memintaku untuk selalu menjaga dan--sebisa mungkin--mengetahui segala aktivitasnya. Tetapi kali ini, entah bagaimana, aku tak mengindahkan statement-ku sendiri. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kamar itu, dan mataku terhenti pada sobekan kertas yang terselip di bawah lemari pakaian berkayu jati. Aku cukup takjub pada 'aku' petang ini, yang mendadak peka terhadap hal-hal kecil macam selipan kertas di lantai--sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi. Aku membungkuk mengambilnya. Di atasnya terdapat tulisan, yang kuyakini ditulis oleh tangan yang sama dengan tulisan di kertas sebelumnya:

Tak kusesali perasaan ini
Kujaga rasa ini sampai mati

Ini sebuah surat. Surat yang berisi puisi, lebih tepatnya. Menemukannya di dekat tempat sampah dan bawah lemari dalam bentuk potongan tak utuh membuatku yakin Emi telah merobeknya lalu berusaha membuangnya. Sayang, masih tercecer.

Jadilah ratu dalam istana jiwa
Dan duduklah dengan anggun di atas singgahsana permata

Yang satu ini kutemukan dalam laci meja belajar Emi, selembar utuh, meski sudah agak kusam. Masih terbungkus amplop merah jambu lengkap dengan tanggal penulisan. Namun tak mungkin kujabarkan isinya karena intinya akan sama saja. Orang ini mencintai Emi. Aku tak bisa menganalisa lebih jauh hanya dari potongan-potongan surat ini, tapi aku mulai menebak-nebak alur cerita yang sebenarnya.

Wahai, rembulanku
Ijinkan aku menjangkaumu
Aku hanyalah makhluk bumi yang termangu
Setiap malam terduduk menatap indahmu

Aku merasakan getar halus yang dipancarkan oleh kata demi kata dalam puisi entah siapa ini. Ada ketulusan, kejujuran, sekaligus kegetiran dalam cintanya. Aku yakin surat yang terakhir ini adalah surat pertamanya untuk Emi. Dan sobekan pertama yang kutemukan di pintu depan tadi pastilah surat terbarunya. Tapi apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa surat terbaru itu kutemukan dalam bentuk sobekan, sementara yang pertama malah masih tersimpan rapi dalam laci?

Pintu berderit.

Emi melangkah masuk.

Dia tidak kaget sedikitpun menyadari keberadaanku dalam ruang pribadinya. Yang nampak di wajahnya hanyalah ekspresi heran dan tanda tanya sedang.

"Aku mencarimu tadi." Kataku, sedikit merasa bersalah.

"Aku di depan, ngobrol sama tetangga baru yang ngontrak di rumahnya Pakdhe Dikin." Jawabnya pelan, lalu duduk di sampingku. “Sudah mendapatkan apa yang kamu cari di laciku?” 

Aku tersenyum kikuk mendapat pertanyaan itu.

“Er... Ada beberapa yang nampak janggal.” 

“Biar kubantu, kalau begitu.”

Dia mengubah posisi duduknya agar lebih santai, lalu melempar isyarat kepadaku untuk mengajukan pertanyaan. Dia memang selalu begitu, tampak dingin, tapi semua orang tahu bahwa itu hanya tampaknya. Aku mengutarakan rasa penasaranku. Dan dia tertawa kecil. Ditunjuknya surat yang ada di genggaman tanganku dengan satu gerakan kecil.

“Apa?” tanyaku tak paham.

“Lihat, tahun berapa itu ditulis…”

Aku meliriknya.
2005.

“Kita masih SMP waktu itu.”

“Apa yang terjadi?” 

Emi menghembuskan napasnya agak keras, setengah mendengus.

“Seharusnya kamu tahu, aku menyesal menyukainya.”

“Kamu menyukainya?”

“Tentu saja. Bahkan sampai detik ini.”

Aku mengerutkan alis. Masih tak paham.

“Tidakkah kamu lihat betapa mahirnya dia merangkai kata?” Emi memperjelas jawabannya.

“Tapi kamu tidak mengenalnya.” Timpalku.

“Kamu benar." Katanya, kemudian matanya menatap langit-langit kamar. "Tapi peduli apa? Dia datang membawa keindahan.”

“Apakah dia muncul?” Aku bertanya lagi.

Emi mengangguk.

“Bukan hanya muncul. Dia merebut hatiku.”

Aku baru akan membuka mulut untuk bertanya, ketika Emi menjawab, “Adnan.”

Aku melongo. Adnan, mantan kekasih Emi?

"Emm... Biar kuralat. Lebih tepatnya, dia muncul sebagai Adnan." Ujarnya kemudian.

Sejenak kami terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Emi melontarkan pertanyaan.
“Merasa aneh?” Tanyanya. Dan aku mengangguk. “Memang terdengar aneh.” Katanya melanjutkan. “Bayangkan, dia bahkan tidak mengenalku saat SMP. Bagaimana dia menulisnya?”

Adnan adalah kawan kami semasa SMA. Pun Emi baru mengenalnya ketika mereka satu kelas di tahun kedua.

“Bukan dia, kurasa.” Aku mencoba menerka. 

“Itulah yang membuatku menyesal.” Ucapnya singkat.

Aku sering tidak mengerti dengan kalimat adik kembarku ini. Bercengkerama dengannya sama artinya dengan mengolah ekspresi wajah, entah sekedar mengernyitkan dahi, mengerutkan alis, atau nyengir bingung. 

“Dia membantu Adnan mendapatkanku sementara dia sendiri telah lama menyukaiku. Menurutmu itu apa namanya? Menulis puisi untukku, tapi kemudian rela membiarkan orang lain yang muncul dengan puisi itu." 

Aku diam. Mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Dia menunjukkan dirinya saat perpisahan sekolah kemarin. Setelah sekian lamanya, Do. Kamu bisa menebak apa yang terjadi dengan membaca potongan surat yang kamu pegang paling bawah.” Emi beranjak. Kudengar dia menggumam, "Aku pikir semuanya sudah beres kubuang. Hh, aku memang tidak pandai menghilangkan jejak."

Dia melangkah keluar dari kamar.

“Bukalah laci meja paling bawah. Akan kamu temukan semua surat yang dia kirim sebelum kedatangan Adnan. Semuanya utuh. Dan kukira hanya itu yang utuh.” Dia berkata sambil terus berjalan, sampai kemudian menghilang di balik dinding ruang tengah.
Dia meninggalkanku berdiam dengan teka-teki darinya.

Pekalongan, pertengahan 2010

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog