DI ANTARA DUA IFTITAH

Desember 15, 2015, by ranafiu

Jam pelajaran telah usai. Kelas dibubarkan. Anak-anak usia 4-5 tahun itu berhamburan keluar dari kelas. Khafid, salah satu teman sekelas Aufa, berlari menghampiri ibunya. Dia menarik-narik bagian bawah kaos ibunya tanda minta perhatian, kemudian bertanya penuh semangat, "Buk, Buk, kok doa sholatnya beda sama yang dulu di sekolah PAUD?"

Yang dimaksud doa sholat adalah bacaan iftitah. Anak-anak di kelas B2 baru saja mempraktekkan tata cara sholat fardlu, tentu dengan metode skip-skip di banyak bagian; seperti wadlu dengan air mengalir, pakai mukena (bagi anak perempuan) dan peci plus sarung (bagi anak laki-laki), serta menggelar sajadah. Biarlah itu dilakukan nanti, sebab intisari dari pelajaran siang ini ada pada kerapihan shof, pelafadzan doa, dan gerakan-gerakan. Itu saja.

Mbak Nur, ibu dari bocah bernama Khafid itu melirik saya yang--meskipun tidak ada Mas-Mas Ganteng dan Bapak Muda Harapan Bangsa, tetap bisa--tersenyum. 

"Sama saja." Jawabnya. "Dua-duanya sama. Terserah kamu mau pakai yang mana." Dia menjelaskan pada Khafid dengan gestur keibuan--sesuatu yang bikin saya ngiri. Sampai saat ini saya masih stuck di level kegadisan, bahkan lebih parah lagi, kesendirian. *ngusap mata yang tetiba basah

Khafid manggut-manggut, tanda bahwa dia mendengarkan jawaban ibunya, alih-alih mengerti. Kelak di kemudian hari, Mbak Nur dan saya tahu, Khafid menggunakan dua bacaan iftitah dalam satu kali rokaat sholat.

"Fid, kalau seperti itu ya sholatmu bakalan lama." Mbak Nur menasehati anak sulungnya.

"Pakai salah satu saja, yang kamu sreg." 

Duh, Mbak. Anak TK kok sudah diberitahu tentang konsep "sreg". Saya yang setua ini saja masih ragu mana yang sebenarnya bikin sreg. :'v

"Soalnya aku bingung, Buk." Ujar Khafid agak keras. Saya hanya tersenyum.

Bingung, katanya. Suatu perasaan yang--saya yakin--tidak akan dialami Aufa dalam konteks yang sama. Sebab ke depan, sama seperti saya, Aufa akan diarahkan untuk tidak menemui dua iftitah berbeda.

"Yang bener itu yang mana sih, Buk?" Khafid kembali bertanya.

Kita potong sampai di sini.
Lalu izinkan saya yang menjawab: Dua-duanya benar, Khafid sayang. Kamu pakai yang A, ataukah yang B, sama saja. Yang salah adalah ketika si A mengklaim sebagai yang paling benar, lalu menganggap salah si B, dan memaksa semua orang untuk mengikuti pilihan si A. Juga sebaliknya. Yang terpenting itu bukan lewat jalan mana, tetapi dari mana dan ke mana arah-tujuannya.
Setelah ini, mungkin saya hanya perlu menerbitkan buku, atau minimal, mengunggah video ceramah saya ke yutub, kemudian orang-orang latah itu akan memanggil saya dengan sebutan Ustadzah.

Pekalongan, 15 Desember 2015

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog