DOA ANAK WEDHOK

Seumur-umur, saya belum pernah tinggal di kota lain selain Pekalongan. Dari lahir, merangkang, jongkok, kayang, saya selalu di sini. Di saat teman-teman sekolah saya menjadi hebat setelah melihat dunia luar, merasai hingar bingar keragaman budaya di negeri orang, saya tetap di sini. Ngejogrok saja melantunkan tembang-tembang sunyi.

Pun ndilalah, saya kuliah di kampus homogen-semi-militer yang pucat pasi. Isinya perempuan semua, dan tak ada ekskul sama sekali. Hanya organisasi macam BEM dan HMJ saja yang ada. Uh, benar-benar tidak berwarna. :|

Selepas wisuda, saya menyebar surat lamaran ke berbagai instansi di luar kota. Berharap salah satunya nyantol di sana. Jogja, Solo, Purwokerto, Jakarta, Tangerang, semua saya coba. Tapi tak ada yang jodoh. Sampai akhirnya saya ngelamar di Pekalongan, dan keterima. Duh, Gusti! Saya gemes. Apa tidak ada yang lebih ganteng dari Pekalongan?

Saya pun kemudian berdoa, dengan sedikit mengancam Tuhan (hush!), "Yaa Gusti Pengeran, kalau hamba memang ditakdirkan di Pekalongan, oke, fine. Tapi tolong, pertemukanlah hamba-Mu yang unyu ini dengan lebih banyak--dan lebih banyak lagi--orang. Lalu biarkan hamba belajar dari mereka."

Begitu setiap hari, sampai hapal.
Allah, Tuhan saya itu, tentu tahu siapa yang saya maksud sebagai "orang". Dan Dia pun menggerakkan penghuni semesta untuk memenuhi pinta saya. Baik di dunia nyata maupun di jagad-facebook-raya, saya bertemu dan mengenal orang-orang hebat, yang pemikirannya sungguh dahsyat. Macam kalian itu ~
Ada yang wartawan, seniman, penulis, guru, wira usahawan, ibu rumah tangga, sopir, politisi, dokter, relawan, jomblo, sampai mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung berakhir.
Mungkin lain waktu saya akan berdoa lagi, semoga kamu, Mas, ada di antara orang-orang yang saya temui itu. Atau semoga, kamu sendiri yang akan menemui Bapak-Ibu. :*

Oya,
Ada waktu-waktu terbaik untuk berdoa, yang saya favoritkan adalah seusai adzan. Seperti ada begitu banyak pria, tapi cuma kamu yang saya nantikan.
Selamat siang!

Pekalongan, 10 Februari 2015

0 comments:

Posting Komentar