DONGENG HUTAN PERI

Sementara milyaran manusia sibuk dengan segala aktivitas monotonnya, berjubel dalam hingar-bingar panggung beton dan aspal jalanan, sekelompok peri memilih sembunyi di kedalaman hutan. Manusia-manusia yang dalam akalnya hanya dipenuhi misi penaklukkan mungkin tak akan pernah tahu; di titik di belahan bumi mana para peri itu tinggal dan ber-regenerasi. Hingga mereka mengira, kehidupan makhluk-makhluk serupa peri hanyalah selapis dongeng dalam tumpukan realita.

***

Hutan peri, begitu ia dijuluki. Bertabur cahaya dan ditumbuhi banyak sekali bunga yang beraneka warna. Ialah bunga-bunga yang ketika ditanam membuat tanahnya subur-bersih, dan udaranya segar. Semerbak wanginya memenuhi atmosfer hutan, mengisi rongga-rongga yang terselubung belukar. Di daerah tepi hutan, di sepanjang lini yang menjadi pembatas antara kehidupan para peri dengan alam imaji manusia, mengalir sungai kecil dengan airnya yang jernih. Bunyi gemericiknya menghadirkan ketenangan di seluruh penjuru hutan. Nyanyian para peri, kicauan burung-burung di kala pagi, dan desau angin yang bertiup melewati celah dedaunan hanya akan membuat manusia menyadari betapa dunia tempat mereka tinggal seringkali menyisakan kegelisahan; bukan kedamaian.

Terserah bagaimana pikiran manusiamu akan menggambarkan wujud hutan ini. Mungkin kau akan menyebutnya sebagai representasi dari surga. Atau membayangkannya sebagai hunian fiktif seperti apa yang tersaji dalam filem-filem semi-animasi. Terserah. Kau berhak melemparkan imajinasimu ke mana saja. Tapi bagaimana pun, hutan peri tetaplah hutan. Para peri itulah -atau justru aku- yang menjadikannya terdengar cantik dan menyejukkan.

Namanya Nymph. Dalam mitologi Yunani kuno, nymph disebut-sebut sebagai bangsa peri yang hidup dan tinggal di dalam tumbuh-tumbuhan. Dan sebagai pemuja filsafat Socrates --filsuf besar yang lahir di Athena, Yunani sana-- tentu saja aku tak akan banyak mengubah definisi itu. Bahwa nymph di sini memang benar-benar peri hutan, atau persisnya, peri-peri yang tinggal di pepohonan di dalam hutan. Itu definisi. Tentang bagaimana pendeskripsiannya, izinkan aku, sebagai pencipta dongeng, untuk mengembarakan daya khayalku lebih jauh.

Nymph berukuran sebesar boneka barbie, setidaknya, dalam dongeng ini. Mereka tidak berkelamin. Meski dari tampilan fisiknya, kau pasti menduga bahwa mereka masih satu gender dengan Nyai Ontosoroh. Mereka memiliki sepasang mata yang bulat-lebar dan daun telinga yang meruncing ke atas. Bentuk daun telinga yang lancip ini sangat membantu para nymph dalam menangkap semua gelombang suara, baik infrasonic, sonic, maupun ultrasonic. Rambut mereka berwarna putih keperakan, tergerai indah di balik punggung-punggung yang bersayap. Tatkala terbang, sayap-sayap kecil mereka akan mengepak indah, memancarkan bias-bias warna yang saling berbaur berkilauan.
Bukan perkara mudah untuk membedakan satu nymph dengan nymph lainnya. Selain karena bentuk fisik mereka yang sama, wajah mereka pun nyaris serupa. Mereka layaknya peri kembar yang dilahirkan dalam jumlah jutaan. Tapi, seperti kata pertapa tua di bibir goa, setiap jiwa yang hidup memiliki aura. Dan aura para nymph terpancar melalui bola matanya. Masing-masing nymph memiliki warna mata yang berbeda-beda. Dan mereka dapat membedakannya. Meski yang terlihat oleh mata manusiamu adalah tiga pasang bola mata berwarna ungu, para nymph akan mengatakan bahwa salah satu dari ketiganya berwarna nila, dan satu lagi bersemburat biru di bagian tepinya. Kau tahu, itu mungkin saja terjadi. Sebab mereka adalah makhluk tetrakromatik, yang memiliki kepekaan sensorik di atas rata-rata sehingga mampu melihat ratusan juta warna dalam satu kali kedip.
Di pusat hutan peri, tertanam sembilan buah Pohon Dylona. Konon, pohon inilah yang sesungguhnya dijadikan tempat tinggal oleh para nymph.

Tumbuh dalam balutan sihir, Dylona memiliki ukuran yang sangat besar. Batangnya membentuk tabung raksasa dengan tinggi mencapai 100 kaki. Daunnya rindang dan teduh, bertujuan melindungi para nymph dari segala ancaman. Saat malam menjelang, daun Dylona akan bercahaya seperti ribuan lampion dalam perayaan tahun baru cina. Lalu menerangi seisi hutan bak bumi yang benderang oleh sinar rembulan. Para nymph membangun tempat berlindung di dalam batang dan cabang Pohon Dylona. Mereka membuat rongga-rongga yang dapat ditinggali, di sisi manapun di kesembilan pohon itu. Kenapa sembilan? Orang-orang bilang, angka sembilan merupakan angka petualangan dan persaudaraan. Jadi kupikir, akan cocok bila digunakan dalam dongeng-dongeng semacam ini.
Ah ya, sembilan Dylona ini saling berpindah tempat setiap waktunya. Jika kau adalah salah satu nymph di situ, kau tak perlu kaget saat mendapati Dylona tempatmu merebahkan tubuh tiba-tiba tak lagi berada di dekat sungai, misalnya, atau tak lagi berdiri di samping Dylona kediaman Sang Ratu. Itu hal biasa. Dylona bergerak secara periodik; bergeser, bahkan bertukar tempat dengan Dylona lain. Dalam kehidupan para peri, ini adalah satu bentuk proteksi yang memungkinkan musuh kesulitan mencari kediaman Ratu, atau pun tempat tinggal nymph tertentu yang -beberapa di antaranya- menyimpan kekuatan istimewa. Lalu bagaimana cara nymph-nymph itu menemukan rumahnya kembali jika Dylona selalu bergerak?

Ada jalinan hidi di sana. Hidi adalah serangkaian akar yang melilit-berputar-melayang mengelilingi setiap jengkal bagian Dylona. Melewati sisi depan rongga-rongga yang dihuni para nymph. Hidi itulah yang akan mengantar mereka pulang ke rumah, atau pergi ke rongga manapun yang menjadi tujuan mereka. Mereka hanya perlu duduk di atasnya, mengatakan apa yang mereka cari, dan si hidi akan merespon suara para nymph dengan getaran halus, lalu bergerak cepat mengantarkan penumpangnya menuju destinasi. Hidi bukan jalinan akar yang hanya bisa berjalan satu atau dua arah saja; seperti lintasan kereta. Bukan, dia bergerak sesuai kebutuhan tuannya. Meliuk-liuk, menyabang, naik-turun mencari rute tercepat. Sehingga jutaan peri mungil itu tak perlu takut, tatkala mereka beramai-ramai pulang dan duduk berjejer di atas hidi yang sama, karena hidi tak akan membiarkan nymph di atasnya bertabrakan dengan nymph lain.

***

Pagi ini, sesosok nymph bermata magenta tampak terbang pelan menghampiri hidi. Enelly namanya, bertugas sebagai mediator antara nymph pelayan ratu, nymph yang menjaga hutan, dan nymph yang dilahirkan untuk menjaga anak manusia. Enelly duduk di atas hidi yang paling dekat yang dapat dijangkaunya, lalu berbisik lembut, "Ratu Floria."

Hidi di bawahnya mengeluarkan getaran halus, sedetik kemudian melesat cepat menuju Dylona singgahsana Ratu. 

"Terima kasih, Hidi sayang." Katanya pada jalinan akar yang mengantarnya. Enelly mengepakkan sayapnya mendekati pintu masuk kediaman Ratu. Tak berapa lama kemudian terdengar ia berkata, "Ratu, flameri mekar lagi."

***

Dahulu, beratus tahun yang lalu, saat segerombol manusia tengah sibuk menyampaikan kebenaran di suatu negeri, para peri dari bangsa fairy membuat geger seisi Kolong Langit. Dia mengajukan permohonan yang sulit dikabulkan oleh kedua orang tuanya, yang merupakan Raja dan Ratu di Negeri Kolong Langit, atau manusia jawa biasa mengistilahkannya dengan sebutan "Kahyangan".
Floria, si bungsu dari keluarga Raja itu menyatakan keinginannya untuk turun ke bumi dan melihat aktivitas manusia di sana; satu hal yang terlarang bagi peri seusianya.

"Untuk apa, Floria?" Tanya Sang Ratu.

"Aku ingin menyaksikan kehidupan manusia, Bunda."

"Kau bisa melihatnya di Kolam Cermin."

"Tapi, Ayah, aku ingin melihatnya langsung." Floria beralih menatap Sang Raja. Dia merajuk. "Akan sangat menyenangkan bila aku dapat menyaksikannya dengan kepalaku sendiri. Ayolah Ayah, Bunda, izinkan aku ke sana. Sebentar saja."

"Usiamu baru empat belas tahun, Floria."

"Memangnya kenapa?" Sergahnya. "Hh! Semua orang mengatakan hal yang sama. Aku bosan. Aku hanya ingin pergi ke bumi. Apa aku harus menunggu sampai usiaku genap dua puluh satu, baru kalian akan mengizinkanku seperti kalian mengizinkan Falro?"

Tak ada yang mengubris.

Sudah menjadi peraturan dalam dunia fairy untuk membatasi usia penduduknya yang hendak turun ke bumi. Bukan karena trauma akan kisah Jaka Tarub yang sukses menawan salah seorang Puteri Kahyangan setelah menyembunyikan selendangnya. Bukan. Tak ada sangkut-pautnya dengan itu. Ini murni tentang kewaspadaan. Sebelum berusia 21 tahun, seorang fairy dianggap belum cukup mampu mempertahankan eksistensi di bumi. Kekuatan mereka masih terbilang mentah untuk digunakan dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di bumi nantinya. Lagi pula, fairy bukanlah bangsa peri yang sering bersinggungan dengan manusia layaknya elf. Jadi, bukan suatu keharusan bagi fairy untuk sering-sering berkunjung ke bumi.

Floria pantang menyerah.

Setelah hari itu, dia tidak lantas berhenti begitu saja mendekati kedua orang tuanya. Dia -dengan segala keceriaan yang dimilikinya- terus memohon dan  berusaha meyakinkan mereka bahwa perjalanannya ke bumi nanti akan baik-baik saja.

"Bunda, aku bosan di sini. Aku ingin melihat dunia luar. Aku ingin melihat laut, melihat gunung, melihat bagaimana manusia-manusia itu membangun tempat tinggalnya sendiri, tanpa tongkat sihir. Tanpa sihir, Ayah, Bunda. Tidakkah mereka hebat?" Floria tersenyum manis, matanya berbinar. "Oh iya, Falro bilang, di bumi sedang marak soal kereta api. Manusia membuat kereta-kereta berjalan tanpa tenaga binatang. Yang menjalankan justru sesuatu yang lain, mereka menyebutnya mesin. Bukankah itu menakjubkan, Bunda? Sedang terjadi pembaruan di bumi. Aku ingin sekali menyaksikannya."

Lain waktu berikutnya, dia kembali membujuk, "Ayah, Bunda, apa yang sebenarnya kalian khawatirkan? Aku akan baik-baik saja. Bukankah selama ini aku selalu menjadi anak yang baik, yang penurut? Apakah kalian tak mempercayaiku?"

Raja dan Ratu gagal menemukan cara yang tepat untuk membuat Floria paham, bahwa mereka tidak ingin Floria turun ke bumi. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu yang telah lama mereka khawatirkan. Sesuatu yang sejatinya telah digariskan oleh leluhur.

"Ayah, Bunda.." Floria berkata lirih. Entah bagaimana ia bisa sekeras ini sejak belia.

Raja dan Ratu saling berpandangan. Sejenak kemudian..

"Baiklah, Floria. Hanya sebentar."

Mata Floria terbelalak, "Benarkah?" Ucapnya berbinar.

"Hanya sebentar." Ratu menekankan dua kata itu.

"Bagaimana kalau tujuh hari?"

"Sayang, itu terlalu lama!" Jerit Sang Ratu.

"Baiklah, tiga hari."

"Satu hari!"

"Dua hari."

"Satu jam!"

"Baik, baik. Baiklah, aku ambil satu hari." Floria memanyunkan bibirnya. Antara kesal dan bahagia.

"Tapi dengan satu syarat, Floria." Suara Sang Raja membuyarkan euforia manyunnya.

Floria mendongak, "Apa?"

"Kau turun bersama kakakmu."

"Ah, itu bukan masalah." Floria tersenyum lebar. Tampak lega dengan persyaratan yang sama sekali tak mengganggu tekadnya. "Aku akan mencari Falro sekarang juga."

"Ingat janjimu, Floria. Hanya satu hari."

"Aku tahu." Floria berlalu.

Satu hari terasa begitu lama bagi Sang Ratu. Sedari pagi, ia terus mondar-mandir di depan singgahsananya yang bertahtakan permata. Meremas buku-buku jemari tangannya pertanda cemas.
Menjelang petang, kedua buah hatinya pulang. Ratu langsung memeluk mereka erat. Setelah itu, Falro memminta izin untuk melakukan pekerjaannya yang lain, sedang Floria, dengan cerianya menceritakan perjalanannya berkunjung ke bumi. Tentang bumi yang padat, tentang waktu yang bergulir cepat, dan tentang manusia-manusia yang tak pernah berhenti bergerak. Ia juga menceritakan perihal gunung, lautan, hujan, dan hutan.

Saat itu, Raja masuk dan bergabung bersama mereka.

"Ayah, Bunda, aku ingin tinggal di bumi." Floria memberanikan diri berkata.

"Apa!" 

"Dengar dulu, Ayah, Bunda." Floria buru-buru meredam emosi kedua orang tuanya. Sebelum akhirnya melanjutkan, "Aku menemukan hutan kecil di sana. Dikelilingi laut. Ketika melihatnya, entah mengapa, aku merasa di sanalah masa depanku ada. Aku membayangkan bisa menanam bibit Pohon Dylona, membuat aliran sungai di tepi hutan, dan menumbuhkan bunga-bunga yang cantik."

"Floria!" Raja berseru keras. Di sampingnya, Ratu nyaris pingsan mendengar ocehan puterinya. Raja pun segera membaringkannya di atas dipan panjang di bawah jendela.

Tubuh Floria seketika melemas. Sepertinya usahanya akan berakhir sia-sia. Raja dan Ratu tak akan memberikan izin. Memang, jika dipikir-pikir, keinginannya adalah sesuatu yang mustahil. Tidak pernah ada dalam sejarah, seorang fairy menghuni hutan di bumi.

"Inilah yang sebenarnya kami takutkan, Floria." Dari sudut ruangan, suara Raja terdengar lelah. Floria menoleh perlahan. "Kami sudah diperingatkan oleh Raja dan Ratu sebelum kami, yaitu kakek dan nenekmu, tentang adanya ramalan yang mengatakan bahwa akan tiba masanya dua anak keturunan Raja juga menjadi raja di dua tempat yang berbeda. Ramalan itu tidak menyebutkan siapa persisnya anak raja itu. Tapi leluhur kita mengingatkan agar waspada, sebab waktunya telah dekat. Dan kakekmu mengatakan, kemungkinan besar, Falro dan kau lah yang dimaksud." Raja menarik napas panjang.

"Apa maksudnya, Ayah?"

"Falro akan menjadi raja di sini. Dan kau, Floria, mungkin di bumi."

Floria menekap mulutnya seketika. Tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sungguh, ia tak pernah bermaksud menjadi ratu ataupun membangun sebuah negeri di bumi. Ia hanya ingin tinggal di hutan itu saja. Tak lebih.

"Sekarang kau tahu mengapa Ayah bersikeras melarangmu turun. Karena kami tahu, sepulangmu dari sana, sesuatu yang besar menanti untuk terjadi."

"Ayah.." Floria tercekat. Suaranya tertahan. Ia mencoba mengatakan sesuatu, tapi yang keluar hanya, "Ayah, aku?"

"Iya, Floria."

"Tapi, sejak kapan seorang peri memimpin sekawanan manusia?" Floria bertanya terbata-bata.
"Tidak, Floria. Tidak." Sang Raja menyanggahnya. "Kau tidak akan memimpin manusia. Itu tidak mungkin terjadi. Yang akan kau pimpin adalah bengsa peri yang lain."

Floria terus berusaha mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Ayahnya. Seolah itu adalah dongeng sebelum tidur yang dipaksa-sajikan ke alam nyata.

"Floria." Terdengar suara Ratu dari sudut ruangan. Floria berlari mendekat. Membantu Ibundanya bangkit dari pembaringan. 

"Maafkan Floria, Bunda."

"Kau tidak apa-apa, Sayang?" Raja melangkah ke arah keduanya. Lalu duduk di samping Ratu, yang tersenyum menyambut.

"Bunda.." 

"Floria, Sayang." Ratu menatap Floria lembut. "Bawalah ini." Diambilnya sebuah benda dari bawah dipan, lalu diberikannya benda itu pada Floria. Sebuah kotak emas sebesar genggaman.

"Apa ini?"

"Bibit Flameri." Jawab Sang Raja. "Hanya ada satu. Tanamlah di jantung hutan. Dia akan mekar di waktu-waktu yang tak kau duga pada awalnya. Setiap kali mekar, akan lahir satu demi satu peri kecil yang makin lama makin banyak, dan menjadikanmu ratu di sana."

Begitulah, cerita tentang bagaimana Floria memulai kehidupannya di bumi, di hutan peri. Tinggal di salah satu rongga terbesar di puncak Dylona, tanpa gangguan sekecil apapun.

***

To be continued...

0 comments:

Posting Komentar