DUA SAYAP KEMODERATAN

Pernah suatu hari, salah seorang pemuda alim bertuah: "Peganglah teman-temanmu. Biar yang NU tetaplah NU, yang Muhammadiyah tetaplah Muhammadiyah. Jangan lepas dari keduanya."
M. Rojul Mukhlasin namanya. Saat itu, tengah gencar isu tentang masuknya paham-paham radikal ke dalam sanubari para remaja. Sehingga ia mewasiatkan kalimat itu kepada salah satu di antara kami. Kebetulan bukan saya.

Beberapa waktu setelahnya, ketika saya ajak dia duduk santai ngobrolin perkara-perkara embuh yang bergelayut di kepala, dia tersenyum. Lalu di akhir cerita berkata, "NU kuwi opo sih? Muhammadiyah iku opo? Anggap saja keduanya tidak ada, jika hadirnya hanya timbulkan pecah."

Barangkali Bung Rojul ini ingin menyampaikan, bahwa di satu sisi, be a moderat itu penting. Dan identitas kemoderatan terbesar di Indonesia dipegang oleh -setidaknya- NU dan Muhammadiyah. Tetapi jika NU selalu diidentikkan dengan melulu soal qunut, tentang niat yang usholli, sholawatan, yasin-tahlilan, ziarah kubur, dan Muhammadiyah adalah antitesis dari semua itu, lalu diskusi tentang keduanya hanya berujung perang, maka untuk apa moderatmu?

Sampai di sini saya paham; pada tahap tertentu dari sebuah tatanan pendalaman ilmu, kita perlu mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang bersifat dzhahir, saat kemunculannya hanya memicu sikap tidak adil.

0 comments:

Posting Komentar