ESAI HUJAN

April 25, 2014

Guyuran dihidrogen monoksida itu menembus batas atmosfer, lalu terpecah di kolong langit menjadi jutaan rintik. Kelak, ketika ia turun menyiram gersang di planet biru, bukan hanya basah yang terpeta, tetapi juga imaji-imaji pendek tentang karsa yang melegenda. Hujan selalu mampu menyeret titik paling sensitif manusia menuju lorong-lorong paling mengena di masa lampau. Ia seolah ingin mengabarkan bahwa kenangan harus memiliki tempat. Dan potongan demi potongan peristiwa harus segera disusun membentuk suatu pola, layaknya rasi bintang di gugus timur. Manusia, kita tahu, adalah sistem terhebat dalam merakit sejarah. Tetapi tak semuanya gemilang. Sebagian menetap, sebagian tenggelam. Yang terbaik ialah siapa-siapa yang beranjak, kala rinai mereda.

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe