KANKER SERVIKS, TOILET UMUM, DAN SEDIKIT NASEHAT BAPAK

Februari 02, 2015

Di waktu nguli, ada saat-saat dimana saya dan teman-teman kuli saya--yang semuanya perempuan itu--bisa dengan selo nan legowonya ngoceh riang ngobrolin hal-hal "berat", seperti makanan kesukaan suami, atau perihal kelucuan-kelucuan si buah hati. Tentu saja ini bahasan yang "berat", teramat berat, penuh tekanan, dan rentan depresi, bagi saya, mengingat saya adalah satu-satunya yang masih betah menyepi.

Dalam kesenggangan itu, kadang kala kami juga mendiskusikan hal-hal ringan. Terlampau ringan, malah. Seperti kanker serviks. (Ringan rupamu, Up! -_-)

"Sekarang ini, nggak cuma yang sudah coitus (berhubungan seksual) saja yang rentan kanker serviks, yang perawan juga." Mbak Iyza memulai percakapan siang itu. "Bahkan kebanyakan wanita yang terserang kanker serviks justru yang (masih) perawan." Lanjutnya. Tolong yang merasa perawan, jangan panik dulu.

Memang, kalau diperhatikan, sekarang banyak pasien ca cervix yang usianya masih terbilang muda, sekitar 38 tahun atau awal 40-an. Dan itu sudah tahap kanker. Padahal untuk bisa disebut kanker, butuh waktu 10 sampai 20 tahun masa inkubasi. Uh, untuk sebuah penantian, 20 tahun pastilah waktu yang lama. :| Kalau dia sudah kanker di usia 38, maka kapan kemungkinan awal terjadinya infeksi? Kalau saya tidak salah hitung, ya tentu jawabannya adalah 18. Seumuran kamu ini, Dik.

"Kok bisa ya, usia segitu sudah kena infeksi?" Mbak Marindra bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.

"Soalnya anak-anak sekarang pada males untuk menjaga kebersihan daerah kewanitaan. Ganti celana dalam cuma pas mandi, udah gitu habis cebok ga pernah di-lap, padahal kondisi celana dalam yang lembab bisa mengundang bakteri jahat." Mbak Anis menjelaskan. "Awalnya cuma keputihan, tapi keputihan yang dibiarkan terlalu lama juga bahaya, kan? Makanya dr. Wedo pernah bilang: Ganti celana dalammu setiap selesai buang air. Berapa sih harga celana dalam wanita? Palingan yo sepuluh ribu dapet tiga. Mbok yo jangan pelit." Mbak Anis menirukan gaya bicara dokter spesialis kandungan itu.

Sejenak kami terdiam.

Sampai kemudian Mbak Iyza kembali bersuara, "Itu lho, mall." Katanya.

Mall? Saya pikir, awalnya, Mbak Iyza ini ngelantur atau apa, kok tiba-tiba ngucap "Mall". Tapi ternyata tidak.

"Di mall itu pasti kan ada toiletnya, toilet umum. Termasuk di pom bensin juga. Digunakan oleh ribuan orang yang berbeda setiap harinya. Kita tidak tahu, mana di antara orang-orang itu yang membawa virus HPV (virus yang menjadi penyebab paling banyak kasus kanker serviks), atau paling tidak, membawa bakteri ke dalam toilet, terutama toilet duduk." Kata Mbak Iyza panjang lebar.

Bayangan WC duduk langsung berkelebat dalam pikiran saya. Diduduki oleh beragam pantat yang bergantian tanpa terlebih dahulu dibersihkan ulang. Andai pantat pertama meninggalkan jejak virus, maka yang selanjutnya pastilah membawanya pulang. Hiiii~

Saya juga pernah membaca sebuah artikel kesehatan yang mengatakan bahwa air yang tergenang dalam ember atau bak di toilet umum mengandung setidaknya 70% jamur Candida, salah satu jenis fungi yang menjadi penyebab keputihan pada wanita.

"Sebersih apapun toilet umum, tampaknya," Kata Mbak Iyza. "Tetap lebih aman toilet sendiri. Karena bagaimanapun, pengguna toilet rumah kita adalah keluarga kita sendiri, yang kita kenal betul perangainya." Mbak Iyza menutup dialognya.

Mungkin itulah sebab kenapa dr, Boyke, Sp.OG., dokter spesialis kandungan yang juga seorang seksolog, selalu menasehati anak perempuannya untuk sebisa mungkin tidak menggunakan toilet umum. Katanya: "Saya selalu mewanti-wanti anak saya untuk tidak ikut-ikutan pakai toilet umum di mall. Kalau kebelet pipis, tahan! Kalau sudah ga bisa ditahan, pulang!"

Uh. Ini sejenis dengan nasehat seorang Bapak kepada anaknya tentang pacaran. "Kalau maunya cuma pacaran, tahan! Kalau memang sudah ga tahan, pulang! Bapak nikahkan kamu sama anak Haji Salam."

Ah, tapi Bapak saya nggak begitu kok. *O*

Oke ya. Sekian dulu kanker serviksnya, toilet umumnya, dan Bapak-Bapaknya. Sayang sekali hari ini ga ada kaitan dengan Mas-Masnya. Gapapa, Bapak-Bapak pun saya suka.

Pekalongan, 2 Februari 2015

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe