KHALIFAH UMAR DAN TRAGEDI PARIS 2015

Suatu ketika dalam rentetan sejarah, beberapa waktu sebelum kaum muslim di bawah kepemimpinan Umar bin Khathab berhasil melahap tuntas Kekaisaran Sassania, mereka telah dulu menaklukkan Bizantium. Melalui sepanjang pantai Laut Tengah, turun ke Mesir, dan masuk ke Afrika Utara, pola itu terbentuk. Kekaisaran Bizantium takluk. Permata di mahkota penaklukan ini adalah Yerusalem, yang satu tingkat di bawah Mekkah dan Madinah sebagai tempat suci bagi umat Islam, sebagian karena Muhammad pernah mengalami visi diangkat ke langit sejenak dari kota ini selama hidupnya.
Ada yang menarik di sini. Cerita tentang Umar--salah satu cerita yang paling terkenal, katanya--terjadi setelah kejatuhan kota ini. Sang Khalifah melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk menerima penyerahannya secara pribadi. Dia bepergian bersama seorang budak, dan karena mereka hanya memiliki satu keledai untuk berdua, mereka lalu bergantian menunggang dan berjalan. Ketika mereka sampai di Yerusalem, kebetulan sang budaklah yang sedang menunggang keledai itu. Orang-orang Yerusalem mengira dialah khalifah dan bergegas untuk memberi hormat di hadapannya. Mereka diberitahu, "Bukan, bukan, itu bukan siapa-siapa; orang yang satunyalah yang harus Anda beri hormat."

Orang-orang Kristen di Yerusalem menyangka khalifah Islam itu ingin melakukan sholat di dalam gereja mereka yang paling suci sebagai tanda kemenangannya, tetapi Umar menolak untuk menginjakkan kaki di sana.

"Jika saya melakukannya," Ia menjelaskan, "Kaum muslim mendatang akan menggunakannya sebagai alasan untuk merebut bangunan itu dan mengubahnya menjadi masjid. Bukan itu tujuan kami datang ke sini. Itu bukan jenis hal yang kami umat Islam lakukan. Teruslah hidup dan beribadah sesuka kalian, namun ketahuilah bahwa mulai sekarang kami akan hidup di antara kalian, beribadah dengan cara kami, dan menetapkan contoh yang lebih baik. Jika kalian menyukai apa yang kalian lihat, bergabunglah dengan kami. Jika tidak, biarkan saja. Allah telah berkata kepada kami: tidak ada paksaan dalam agama." [*]

(Saya bisa saja berhenti di paragraf ini, untuk menunjukkan bagaimana respon saya terhadap apa yang tengah terjadi di belahan bumi barat. Tapi, saya memutuskan untuk melanjutkan.)

Perlakuan Umar terhadap Yerusalem menetapkan pola hubungan antara muslim dan orang-orang taklukan mereka. Orang Kristen mendapati bahwa di bawah kekuasaan Islam mereka akan dikenakan pajak khusus yang disebut jizyah. Itu adalah kabar buruk. Kabar baiknya: jizyah itu umumnya lebih kecil dari pajak yang telah mereka bayarkan kepada Bizantium--yang justru ikut campur tangan dalam praktik keagamaan mereka (karena perbedaan kecil dalam ritual kepercayaan di antara berbagai sekte Kristen penting bagi mereka, sedangkan bagi kaum muslim semua itu hanya Kristen.) Ide tentang pajak yang lebih rendah dan kebebasan beragama yang lebih besar dipandang orang Kristen sebagai kesepakatan yang cukup baik, dan karenanya kaum muslim hanya menghadapi sedikit atau tidak ada perlawanan lokal di bekas teritori Bizantium. Bahkan, terkadang orang Yahudi dan Kristen bergabung dengan mereka dalam melawan Bizantium.

***

Memang benar, Islam adalah ajaran yang multi tafsir. Ia bisa jadi keras, bisa juga lembut, tergantung siapa yang menerjemahkannya.

Saya pernah membaca sebuah riwayat bahwa suatu ketika Umar melayangkan kalimat tegas: "Di manapun bumi tempatmu berpijak, keislamannya adalah tanggung jawabmu." Tentu, bagi mereka yang berhaluan keras, ini akan dijadikan pembenaran untuk melakukan aksi semacam teror, sebab Islam dipandang melulu tentang atribut dan ritual-ritual. Tapi tidak bagi sebagian yang lain. Bukankah secara harfiah Islam berarti keselamatan, Dik? Berarti kedamaian? Maka mereka yang menjunjung nilai ini akan menyikapi kalimat Umar dengan terus-menerus menebar kedamaian juga menanggungjawabi keselamatan di sekitar mereka. Inilah orang-orang yang moderat dan toleran. Dan Umar, lewat kisahnya di hadapan umat Kristen Yerusalem, telah mengokohkan sikap toleran sebagai jalan untuk membawa Islam.
Pertanyaan selanjutnya, apa yang sebenarnya terjadi pada Jum'at 13 November kemarin?

Pekalongan, 16 November 2015
[*] Inti dari sebuah dokumen yang memaparkan deklarasi asli Umar kepada Yerusalem muncul di Hugh Kennedy, The Great Arab Conquest (New York: Da Capo Press, 2007), hlm. 91-92

0 comments:

Posting Komentar