KOMITMEN EMBUH

Mei 31, 2015

"Ribi, kenopo Ribi pingin ngagem kerudung terus, Nduk?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut saya, setelah beberapa kali saya memotret paras manisnya secara candid.

Petang tadi, saya ajak Ribi muter-muter Pekalongan untuk sekedar menikmati heningnya malam di penghujung bulan Mei. Ehe. Enggak ding. Sebenarnya saya lagi butuh duit, lalu ngajak Ribi nyari ATM buat mbongkar celengan, tapi karena ATM terdekat sedang bermasalah, saya pun terpaksa muter ke arah Hypermart dekat alun-alun kota dan menyadari betapa macetnya Pekalongan di malam Ahad, eh, Minggu. Endingnya, sebagai pajak lelah bagi si endut Ribi, kami mampir ke warung steak di daerah Pringlangu. Tentu saja, saya yang traktir. :|

Ini kali pertama kami keluar berdua dalam situasi yang memang disengaja tanpa embel-embel hak dan kewajiban seperti "njemput sekolah", atau "nganterin les". Dan mungkin nantinya, momen-momen semacam ini akan sering saya ciptakan bersama adik-adik saya. Ini penting. Agar adik-adik saya--dalam setatus ini diwakili oleh Ribi, setidaknya--tahu, ada perkara-perkara yang jauh lebih mudah dipecahkan di luar rumah; dengan duduk ngobrol sambil ngesteh, misalnya, atau sekedar mlaku alon-alon nyawang wong pacaran.

Mendengar pertanyaan saya, Ribi mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar. Menampilkan gigi-giginya yang kecil-rapih, khas anak usia 8 tahun. Duh, manis sekali adik saya ini. Pantas saja Mbakyunya.. ah~ :)

"Mmph, embuh." Ribi menggeleng-gelengkan kepala, masih tersenyum. Embuh (basa jawa) adalah jawaban paling ambigu. Dia bisa bermakna "ketidaktahuan", tapi juga bisa mengisyaratkan bahwa pengucapnya tahu banyak hal, tapi menolak menjawab karena ditakutkan jawabannya akan menimbulkan multitafsir. Ehem.

"Ribi mau kerudungan sampai kapan?" Saya bertanya lagi. Iseng.

"Sampai tua." Jawabnya. Lagi-lagi, dengan tersenyum.

"Kalo nanti ada temen Ribi yang ngajakin buat lepas kerudung, gimana?"

"Yo ndak mauuu."

"Soalnya kenapa?"

"Mmph, embuh."

Kali ini saya ikut tersenyum. Saya memang tidak mengharapkan munculnya jawaban "masyaaAllah" seperti "karena ini perintah Allah, Mbak," atau, "soalnya pakai kerudung itu hukumnya wajib". Tidak. Masih terlalu kecil baginya untuk paham tentang makna wajib-tidak wajib, dan bias-bias permasalahannya. Saya cukup legawa mendapati Ribi mampu berkomitmen dengan dirinya sendiri tanpa banyak pamrih. Itu cukup. Prinsip embuhnya--jika memang berarti ketidaktahuan--akan memicu rasa ingin tahu, lalu membawanya mengarungi lautan ilmu. Dan jika ia (embuh) bermakna "tahu banyak hal", saya harap, akan mampu mengajarinya untuk lebih bijak. Bahwasanya tumpukan pengetahuan bukanlah senjata untuk menghakimi orang.

Sudah, gitu aja. Pagi-pagi jangan ngobrolin yang berat-berat.

Pekalongan, 31 Mei 2015

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe