LAGU CINTA BANG IWAN

"Pak, kenapa lagu-lagu Iwan Fals sekarang ndak sekritis dulu?" Saya bertanya pada Bapak. Empat, atau lima hari yang lalu. Saat kami tengah melakoni rutinitas kepul-kepul di pawon tercinta. "Padahal zamannya sudah demokratis. Bebas berpendapat. Jadi Iwan Fals nggak perlu takut lagi akan dibui, atau lagu-lagunya akan dilenyapkan dari edaran. Tapi kenapa malah loyo?" Saya melanjutkan.
Mungkin, saya termasuk orang-orang yang kecewa dengan melemahnya ketajaman kritik karya-karya Iwan Fals, yang kini justru dibanjiri dengan tema tentang cinta. Ah!

"Lho, justru karena sekarang ini era demokrasi, Nduk." Suara Bapak menyayupkan kebisingan siang itu.

Saya mengernyitkan dahi, "Maksudnya, Pak?"

"Dulu, jaman orde baru, nyanyian Iwan Fals itu laksana lantunan suara hati rakyat. Dia tampil menyampaikan aspirasi masyarakat lewat lagu-lagunya. Sebab pada jaman itu, tidak berlaku kebebasan berpendapat." Jawab Bapak tenang, sembari mencicipi adonan tepung untuk menggoreng tempe. "Nah, sekarang semuanya serba bebas. Setiap orang berhak menyuarakan pendapatnya di mana-mana. Di koran, televisi, rapat-rapat RT, termasuk saat kamu nulis di fesbuk." *eh?

Saya dibuat tertegun.

"Untuk apa lagi Iwan Fals menciptakan lagu-lagu kritis? Baginya, rakyat sudah tidak lagi membutuhkan 'wakil' hanya untuk mengungkapkan kritik. Maka yang perlu dilakukan Iwan Fals sekarang hanyalah menjaga ketenteraman. Biar negaranya tetep damai. Biar ndak kisruh. Lha perkara apa yang paling mungkin mendasari kedamaian?" Bapak memberi jeda pada kalimatnya. Lalu melanjutkan, "Ya cinta itu."

Ah, Bapak ~

Tapi kenapa ya, saya justru rindu pada suara-suara yang meneriakkan keadilan macam lagu-lagunya Bang Iwan? Ah, barangkali benar kata pertapa tua di tepian Maninjau itu, bahwasanya kita seringkali merindukan apa yang seharusnya hilang, saat kita memutuskan untuk berjuang. Seperti dua insan yang merindukan masa-masa pedekate, saat mereka sudah resmi jadian. Hahahaha~

Pekalongan, 2 Maret 2015

0 comments:

Posting Komentar