LOKALISASI: PILIH PRO ATAU KONTRA?

April 30, 2016, by ranafiu

Tentang Lokalisasi

Empat tahun yang lalu, mendekati akhir semester tiga perkuliahan, seorang teman, Yuli namanya, bertanya pada saya, "Uf, kowe setuju rak karo lokalisasi?" (Uf, kamu setuju nggak dengan adanya lokalisasi?)

Lokalisasi yang dimaksud adalah praktik prostitusi dalam batas wilayah tertentu. Saya agak lupa, tapi sepertinya kami tidak sedang mendapat tugas kuliah tentang lokalisasi, pada waktu itu. Saya sendiri agak heran mengapa tiba-tiba Yuli bertanya begitu. Mungkin dia baru membaca semacam artikel atau apa, sehingga menanyakan pendapat teman-temannya.

Saya diam sejenak. Kemudian balik bertanya, "Dari segi apa dulu?" 

"Kesehatan." Jawab Yuli. Dia perempuan, tentu saja. Kampus kami tidak pernah dan tidak akan pernah menerima mahasiswa laki-laki.

"Setuju." Jawab saya kemudian.

Kelopak matanya melebar mendengar jawaban saya, "Alasannya?" 

Saya diam lagi. Saya memang banyak berpikir sebelum menjawab.
"Kamu akan lebih mudah memberikan penkes (Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan) ketika sasaranmu jelas." Ucap saya mengeja. Dan sebelum manusia di hadapan saya itu sempat menimpali, saya melanjutkan, "Sasaran itu bisa dibentuk. Katakanlah sasaranmu ibu rumah tangga, maka datangi saja acara-acara yang diikuti IRT seperti arisan PKK atau pengajian kampung. Jika tidak ada, kamu bisa mengumpulkan mereka dengan undangan. Itu prinsip sasaran. Masalahnya, pekerja seks bukanlah suatu profesi, bukan pula status yang mudah diidentifikasi, apalagi sejenis pekerjaan yang tercatat dengan jelas di KTP, yang orang-orang akan bangga mengakuinya. Mengumpulkan mereka dengan membagikan undangan adalah wagu. Kan nggak mungkin tho, kamu mengetuk pintu rumah orang lalu berkata, "Ini undangan untuk para PSK, nanti datang ya, Mbak." Meskipun yang kamu hadapi itu benar-benar PSK, tapi dia tidak akan begitu saja mengakuinya. Sebab dia ada di lingkungan rumah. Bisa-bisa malah kamu digebuki warga sekampung, karena dianggap mencemarkan nama baik." Saya menutup penjelasan 'ngawur'' ini dengan tawa. Membayangkan betapa wagunya contoh tindakan yang saya paparkan sendiri.
Yuli manggut-manggut mendengarkan. Seolah-olah ikut membenarkan apa yang saya katakan. 

"Lokalisasi mempermudah proses identifikasi, Yul. Setidaknya begitu." Saya berkata lagi. "Kegiatan preventif seperti penkes penggunaan kondom secara benar, penkes bahaya aborsi, dan lain sebagainya, terlebih lagi yang bersifat kuratif dan rehabilitatif, akan lebih mudah dilaksanakan. Sebab kita tahu sasarannya."

"Hm. Iya ya, Uf."

"Tapi ini cuma argumen ngawur ya, Yul. Dan ini baru satu sudut pandang: kesehatan. Pun masih dipersempit hanya seputar sasaran. Kalau kita mau melihatnya dari sudut pandang lain, misal agama, sosial-ekonomi, atau wisata, sangat mungkin kita akan mendapat jawaban berbeda, bahkan bertolak belakang. Karena prostitusi adalah masalah yang kompleks. Melibatkan banyak bidang, dan faktor-faktor yang saling berpengaruh."

Setelah itu, kami tak pernah lagi membahas topik ini. Sampai.. ramai di media soal ditutupnya Dolly pada 2014 yang lalu, disusul penggusuran Kalijodo hampir dua tahun kemudian. Dan entah bagaimana, saya teringat obrolan dengan Yuli, lalu menuliskannya.

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog