MENCATAT TANGGAL MENSTRUASI

Hampir lima tahun ini saya rutin merekam siklus menstruasi saya dalam sebuah coret-coret kecil pada kalender saku. Bukan hanya tanggal keluarnya darah menstruasi, tapi juga tanggal (bahkan jika perlu ditambah dengan jam) berhentinya darah menstruasi, atau kapan kita "mandi".

Buat apa?

Banyak sekali manfaatnya, Dik. Pencatatan ini jauh lebih bermanfaat dibandingkan catatan daftar nama-nama mantanmu itu.

Untuk abege yang baru saja mendapatkan karunia "khas" wanita ini, pencatatan tanggal menstruasi bisa dijadikan sebagai patokan untuk mengetahui siklus menstruasi secara keseluruhan.
Jadi, normalnya siklus menstruasi itu berkisar antara 21-35 hari (rata-rata wanita siklusnya 28 hari). Setiap kali darah keluar, waktunya bisa sampai satu minggu, bahkan lebih (< 15 hari). Pada enam bulan pertama pencatatan, kamu bisa tahu bagaimana siklus mens-mu. Nah, kalau kamu sudah tahu siklus mens-mu, kamu akan lebih mudah mengatur hari-harimu. Kamu juga akan langsung menyadari ketika ada yang tidak beres dengan siklusmu, misal siklusnya memanjang, atau memendek. Atau tiba-tiba merasa sakit perut saat mens, padahal sebelumnya tidak.

"Kalau Mbak Roup siklusnya berapa hari?"

Siklus saya 21 hari. Tiap kali mens paling hanya 5 hari.

"Woh, cepet ya!"

Iya, cepet. Buat apa lama-lama. Nanti keburu diambil orang. (?)

Tapi ingat, tidak semua wanita yang siklusnya di luar 21-35 hari itu berarti mengidap kelainan. Ada beberapa wanita yang menstruasinya setiap 2 atau 3 bulan sekali. Dan itu aman-aman saja, asal dia memang mengalaminya sejak awal. Lagi-lagi, semua tergantung masing-masing pribadi, Dik. Hati tidak bisa dipaksakan. (?)

Untuk teman-teman sebaya yang baru nikah, pencatatan ini lebih penting lagi. Karena berkaitan dengan masa kesuburan. Ehem. Gak usah panjang-panjang lah ya, penjelasan yang bagian ini. Takut kebawa deras hujan.

Untuk Mbak Yu yang sudah cukup lama menikah, pencatatan ini teramat sangat penting, karena menyangkut pada HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) yang merupakan rumus utama dalam penghitungan umur kehamilan. Misal kok Mbak Yu sudah 1 tahun menikah, terus tiba-tiba telat menstruasi, pasti kan curiganya ke arah sana. Nah, kalau Mbak Yu lupa tanggal terakhir mens-nya, bagaimana bisa dihitung umur kehamilannya? Maka, mencatatlah Mbak ~

"Lhoh, sekarang kan ada USG, Up. Gampang."

Mbak, mesin USG itu memperkirakan umur kehamilan seseorang berdasarkan pada kondisi di dalam rahim, meliputi ukuran rahim, taksiran berat janin, jumlah air ketuban, dan lain-lain. Sedangkan siklus menstruasi menghitung umur kehamilan dimulai sejak terjadinya pembuahan. Itu artinya, USG dapat memperkirakan umur kehamilan jika--dan hanya jika--rahim dan janin telah membesar. Kalau masih telat sebulan-dua bulan, menurut hemat saya, ia belum terlalu tepat.

Masih banyak manfaat lain dari pencatatan ini yang -akan menjadi- terlalu panjang untuk dijabarkan di sini, Dik. Seperti manfaat dalam ritual mengganti puasa Romadlon, membantu mencapai target khatam baca Al-Qur'an 3 bulan, dan lain sebagainya yang saya belum paham benar.

Lain-lainnya bisa kita diskusikan di waktu senggang, Dik. Sambil ngopi-ngopi, mungkin. Atau sekedar ngemil gorengan anget sambil 'nyawang' orang-orang berlalu-lalang di jalan.
Siapa tahu ada jodoh kita di antaranya.

Pekalongan, 18 Januari 2015

0 comments:

Posting Komentar