ABOUT ME

Maret 27, 2015, by ranafiu

Tepat sebelum malam takbiran kala itu. Ia tergopoh-gopoh menghampiri istrinya yang baru saja melahirkan putri ke-2 mereka. Beberapa detik sebelumnya, ia selesai melantunkan kalimat adzan dan iqomah di telinga sang bayi. Dan kini ia rindu isterinya. Masih bersimbah darah, bermandi peluh dan lelah, wanita itu tersenyum melihat gurat-gurat kekhawatiran di wajah suaminya.

"Zakati dia, Pak." Bisik wanita itu lirih. "Lalu carikan nama."

Seusai mengurus segala keperluan pascapersalinan isterinya, bersamaan dengan digemakannya takbir di seantero negeri,  laki-laki itu pergi membayarkan zakat atas nama si bayi. Gemetar ia melangkah. Hatinya bungah. Sesekali ia berhenti untuk menyapa para karib, sekedar mengabarkan kegembiraan yang ia rasakan atas kelahiran putri ke-2nya. Kemudian bergegas pulang.

"Arep dijenengi sopo, Pak?" Isterinya menyambut dengan tanya.

Ia pun segera menjawab, "Sesok bubar sholat Ied, ta' takone marang Pak Hasan nggeh, Bu."

Maka keesokan paginya, sepulang dari ritual sunnah Aidul Fitri--saat orang-orang tengah sibuk menyantap ketupat opor--berangkatlah ia menuju rumah Pak Hasan, seorang guru agama islam di sebuah SMK negeri, yang juga seorang penggiat organisasi Muhammadiyah.

Entah siapa nama lengkap Pak Hasan itu. Orang-orang mengenalnya sebagai Hasan Debat. Konon katanya beliau pandai berargumen dalam perkara agama. Sampai-sampai tertinggal satu kesan bahwa banyak orang datang padanya hanya untuk mengajak berdebat, adu argumen soal agama. Membongkar lapis-lapis fakta dalam kebenaran yang dipelajari dan diyakini oleh masing-masin. Hal lain yang senantiasa mengendap dalam ingatan masyarakat adalah bahwa beliau ini selalu berangkat ke masjid jami' sebelum adzan sholat jum'at dikumandangkan, lalu duduk bersila di tempat yang sama setiap pekannya. Lalu jika didengarnya ada seorang yang beliau kenal meninggal dunia, sejauh mana pun jarak rumahnya, niscaya beliau akan datang melayat. Mengirim doa dan mengantarkan si mayit menuju proses pemakaman. Selalu begitu. Begitu selalu. Itulah, Pak Hasan.

Laki-laki yang hendak menemui Pak Hasan itu berjalan cepat dengan langkah kecil-kecil. Ia harus bergegas, pikirnya, sebelum banyak tamu berdatangan ke rumah Pak Hasan.

"Assalamu'alaykum." Laki-laki itu sampai di depan pintu rumah yang dituju. Tapi seketika ia terhenyak. Dilihatnya isteri Pak Hasan, Bu Farida, tengah sibuk membawa keluar tas-tas besar dan beberapa kardus bekas mie instan yang telah penuh berisi muatan dan diikat kencang-kencang menggunakan tali rafia warna hijau. Putra-putri Pak Hasan pun nampak berseliweran di dalam rumah, sibuk menata diri. Apakah mereka mau pergi? Batinnya.

"Wa'alaykumussalam warohmatullah." Salam terlanjur terjawab. Bu Farida mendongak, menatap sumber pengucap salam pertama. "Eh, Nak Ras. Sini, masuk. Pak, niki wonten tamu." Bu Farida sedikit mengeraskan suaranya saat memanggil Pak Hasan.

"Nyuwun ngapurane, Ibuk. Maaf lahir-batin." Laki-laki yang dipanggil Ras tadi mencium tangan Bu Farida.

"Ehh.. iyo, podho-podho." Bu Farida tersenyum.

Tak lama kemudian Pak Hasan keluar. Ras segera sungkem pada guru ngajinya itu. Haturkan maaf sedalam-dalamnya atas segala khilaf yang dilakoni. Kemudian dia duduk di kursi dekat pintu, berhadapan dengan gurunya yang duduk di seberang meja.

"Gasik nemen kowe dolane. Tiwas aku arep kabur ndisikan menyang kampung halaman." Pak Hasan tertawa.

Dari situ Ras tahu, Pak Hasan sekeluarga hendak mudik ke Brebes. Ah, bagaimana ya mengatakannya, bahwa ia ingin dicarikan nama untuk putri keduanya?

"Krungu-krungu bojomu wis babaran, Ras." Pak Hasan seolah mengerti apa yang termaksud di hati Ras.

"Nggih, Pak Hasan."

"Alhamdulillah. Sehat kabeh?"

"Alhamdulillah, Pak Hasan."

"Lanang opo wedok?"

"Estri, Pak Hasan."

"Wis dijenengi?"

"Mm.. dereng." Malu-malu ia menjawab.

"Lho, lha ngenteni opo?"

"Badhe nyuwun dipadoske Pak Hasan mawon." Akhirnya, tersampaikan jua niatnya.

"Owalah.. ngono wae ndadak isin." Pak Hasan tersenyum lebar.

"Tapi menawi mboten ngrepoti mawon, Pak. Bapak kalih Ibuk kan badhe tindakan.."

"Wis, rak sah dipikiri. Sik, tak golek kitab-e sik." Pak Hasan beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sejenak, lalu muncul lagi dengan beberapa buku di tangan. "Anak nomer loro, yo?" 

"Nggih."

"Siji, loro. Loro. Ro'. Ro'." Pak Hasan bergumam sambil terus membuka-buka buku yang ia pegang. "Huruf ngarepe Ro' wae yo?" Pak Hasan mengusulkan. Maka ditelusurilah setiap kata yang berawalan huruf Ro' (dalam deret hijaiyyah) untuk disematkan pada sang bayi. "Rahima, Royyan, Rasyidatu, Ra'.. wedok yo anakmu?" Pak Hasan--entah mengapa--kembali memastikan. Menatap laki-laki di hadapannya dengan pandangan kebapakkan.

"Nggih, leres, Pak Hasan."

"Nah, iki wae." Pak Hasan menyodorkan buku di tangannya yang telah terbuka di bagian tengah-tengah. Menuntun mata Ras untuk melihat satu kata yang beliau tunjuk. "Artine santun, rendah hati, penyayang. Kerno anakmu wedok, mburine ta' tambahi Ya' karo Nun. Dadine Ra'ufina. Nek kowe gelem, dinggo-o."

Dan pulanglah ia, dengan hati legawa, dengan satu nama yang akan ia kabarkan pada isterinya.

Kelak, nama itulah yang terus diucapkan untuk melatih si anak saat belajar mengenal dirinya.

Malam tiba.

Dibukanya sebuah buku, lalu dituliskannya di atas lembar kosong: Ra'ufina, Sabtu Pahing, 29 Romadlon 1412 H.

Ditulis pada 27 Maret 2015

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog