PAK HARTO, DIAM-DIAM KAMI RINDU

April 06, 2016

Seperti biasa, obrolan kami melebar kemana-mana. Bermula dari Ikang Fauzi yang hanya menelurkan tiga album musik, Remy Sylado yang karya-karyanya tidak banyak dikenal orang, tiba-tiba saja kami sampai pada diskusi kecil tentang rezim orde baru; Bapak merindukan masa-masa di mana rejeki mudah sekali diraih, sedang saya mengutuk perilaku doyan ngutang yang dilakukan pemerintah sekaligus menggugat narasi sejarah yang banyak dimanipulasi pada masa itu (biar terlihat pintar dan kekirian, eh, kekinian, hahaha).

"Dulu, zamannya Bapak masih semangat-semangatnya mbecak, cari penumpang itu gampang." Katanya, memulai cerita nostalgi tentang masa bertahun silam. "Jalan sebentar, sudah ada yang minta diantar. Selesai mengantar yang satu, calon penumpang yang lain sudah menanti di ujung gang. Serba enak dulu itu, Na. Angkutan umum belum banyak, transportasi pribadi juga masih sangat terbatas. Harga motor mahal sekali. Apalagi mobil. Dan tidak ada sistem kredit. Tidak seperti sekarang. Orang-orang di zaman dulu kalau mau beli motor pasti mikir-mikir dulu. Nabungnya lama." Bapak tertawa sejenak. "Kemana-mana orang lebih memilih naik becak. Pada akhirnya, yang merasa diuntungkan ya tukang becak macam Bapakmu ini. Penumpangnya jadi banyak, rejeki mengalir lancar."

Saya manggut-manggut mendengarkan. "Tapi hutang pemerintahnya kan banyak, Pak." Saya berkomentar.

"Lho hutangnya kan buat kesejahteraan rakyat." Jawab Bapak cepat. "Beras jadi murah, sembako murah, apa-apa serba murah."

"Tapi tidak ada kebebasan berpendapat. Yang sekiranya menunjukkan gelagat kontra, langsung dibungkam. Yang terdengar mengkritik, penjarakan. Lalu karya-karyanya dilarang edar. Yang salah siapa, yang dihukum yang mana. Apaan."

"Ya itulah." Bapak berkata dengan nada kebapakan. Yaiyalah, wong sudah bapak-bapak. Kalo ibu-ibu ya pasti keibuan. Heuheu. "Kalau bicara demokrasi, bicara kebebasan, keadilan hukum, zaman sekarang memang lebih baik. Lebih manusiawi." Katanya. "Tapi kalau kamu bicara soal kemakmuran, percaya deh, Bapak jadi saksinya; zamannya Pak Harto jauh lebih makmur."

Saya diam.

Dilahirkan pada tahun 1992 dan sudah harus berhadapan dengan krisis moneter saat otak belum sepenuhnya mengerti, adalah alasan mengapa saya merasa tidak memiliki perbandingan apa-apa untuk menyanggah argumen Bapak. Jadi saya diam.

Tapi, berkat bapak saya mendapat jawaban, mengapa di bagian belakang truk-truk pengangkut barang dan kaca-kaca mobil angkutan umum itu banyak tertera poster ngehek berbunyi, "Piye, enak jamanku tho?"

Ternyata, diam-diam, banyak orang merindukannya. Iya, merindukan kepemimpinan sosok laki-laki dalam poster itu.

Pekalongan, 6 April 2016

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe