PERAN KUTUKAN

Agustus 30, 2015

Saya menduga, menjadi pemimpin adalah sebuah kutukan--setidaknya, bagi keluarga kami. Sudah terlampau sering Mbak Liya terpilih menjadi ketua kelas baik di SMP maupun SMK. Arizka, adik pas saya, tak tanggung-tanggung lagi, menjadi ketua organisasi semasa SMA. Dan beberapa minggu yang lalu, dia melapor bahwa dirinya ditunjuk sebagai koordinator umum dalam kepanitiaan suatu program KKN angkatannya. Saya sendiri, ehem, pernah sekali menjadi ketua kelas, dan sekali menjadi ketua organisasi--meskipun payah. Heuheu :3
Mbak Liya, saya, dan Rizka sudah mendapatkan bagiannya: melakoni peran kutukan sebagai pemimpin. Bisa jadi, setelah ini adalah giliran Aribi.
Dan.. memang inilah giliran Aribi.

***

Pada kenaikan kelas sekitar sebulan yang lalu, saya dapat laporan dari Bapak bahwa Aribi Haqori--adik saya yang berat badannya sama dengan berat badan saya--terpilih jadi ketua kelas. Saya syok. Aribi, manusia paling pantas dibully sejagad semesta itu, yang menghabiskan sebungkus soffell untuk dirinya sendiri setiap malam--saking lebarnya badan, jadi ketua di Kelas 3 Madina! Oho!
Tentu saya tidak begitu saja percaya. Zaman sekarang lho, musti teliti, jangan mudah termakan media. *eh 

Maka ketika ada kesempatan, segera saya tabayyun ke sekolah Ribi. Saya interview teman-teman sekelasnya. Kemudian tahu, adik saya itu memang jadi orang nomor satu. Duh, saya terharu.
Ribi terpilih menjadi ketua kelas melalui jalur voting. Namanya muncul dalam usulan daftar calon setelah (ternyata) pada periode sebelumnya dia menjabat sebagai wakil ketua kelas. Wew. Dia mengalahkan tiga calon lain dengan kemenangan telak: 22 suara diraihnya. Sementara Danu, mantan ketua kelas pada periode sebelumnya, hanya mendapat 10 suara, Akbar 9 suara, dan Salwa 3 suara. 

Kan, gila! Apa yang membuat Ribi begitu digandrungi para pengikutnya?

Kalau kalian pernah bertemu langsung dengan Ribi, barangkali akan sependapat dengan saya. Bahwa anak itu sama sekali tidak memiliki kharisma seorang pemimpin. Dia tumbuh menjadi pribadi yang cuek, tampak tidak mampu mendominasi kelompok, dan, tentu saja, gendut. Di kelas pun, sependek yang saya amati, dia lebih sering jadi korban bully-an dari pada disegani. Auranya adalah aura untuk dibully. Saya pribadi, jujur saja, setiap kali melihat wajahnya selalu ingin menghina.

"Aku milihnya Aribi, Mbak!" Teriak seorang anak laki-laki bernama Sinji. Dia adalah teman sekelas Ribi yang paling iseng yang saya tahu.

"Kenapa kok milih Ribi?" Tanya saya kalem. Saya mah gitu, kalo sama anak cowok pasti jadi kalem.

"Soalnya biar Aribi jadi kurus." Jawabnya keras. "Kan, Aribi itu gendut. Paling gendut di sekolah. Nah, kalo jadi ketua kelas kan capek. Mondar-mandir, disuruh ini disuruh itu, capek. Trus, jadi kurus deh." Selorohnya, lalu tertawa puas. "Hahahahha..."

Di sampingnya, Ribi merengek, "Tuh kan Mbaaak. Temen-temen itu senengnya ngeledekin aku." Katanya manyun.

Saya mendekati Sinji, lalu bertanya pelan, "Heh, Sinji, kamu sama temen-temenmu itu kok doyan sekali sih ngeledekin Aribi?"

Sinji, bocah tengil yang sebenarnya manis itu, menjawab dengan setengah berbisik, seakan-akan takut suaranya didengar Ribi.

"Soalnya, Aribi itu nggak pernah marah. Nggak kayak yang lain, diledek dikit langsung ngambek. Gak asik. Aribi juga nggak suka maksa-maksa orang, makanya banyak yang seneng temenan sama dia. Trus milih dia jadi ketua deh." Sinji mengakhiri ocehannya dengan senyum lebar yang menampakkan deret panjang gigi jagungnya.

Saya termangu. 

Di balik segala macam kalimat bully-an yang dilontarkan kepadanya, Ribi telah menentukan sikap: stay calm, satu sikap yang--kelak--justru menjadi kekuatannya untuk merangkul setiap golongan. Dan sore ini, saya kembali belajar.

Saya kira kepemimpinan dengan otot pada satu masa sangat berarti, tetapi kini yang berarti adalah merangkul orang.  - Mohands K. Gandhi


Pekalongan, Agustus 2015

You Might Also Like

2 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe