RASA PENASARAN YANG HILANG

Januari 12, 2015, by ranafiu

Dulu, belasan tahun yang lalu ketika saya masih sangat lucu dan unyu-unyu, saya ingat betul betapa seringnya Bapak mengajak saya -kadang dengan Rizka juga- ikut mengantar Mbak Liya ke sekolah. Melihat puluhan anak berlarian riang dengan seragam merah-putihnya. Lalu dengan kalemnya beliau berkata, "Mbesok nek wes sekolah, Fina biso bla bla bla..". Begitu terus. Hingga saya penasaran bagaimana rasanya sekolah, dan bagaimana rasanya 'ingin sekolah'. Rasa penasaran itu mengendap, lalu terurai menjadi helai-helai semangat.

Nah, apa kabarnya masa kini?
Menjamurnya PAUD, Taman Bermain, dan -bahkan- Tempat Penitipan Bayi dan Balita, mau tak mau diidentikkan sebagai 'sekolah' bagi si anak. Tidak heran kalau sekarang ini banyak anak usia 2 tahun sudah ditodong tanya, "Sekolah dimana?"

Jauuh sebelum anak -seharusnya- dibuat penasaran dengan arti sekolah sebenarnya, mereka telah lebih dulu 'disekolahkan', diakrabkan dengan istilah 'sekolah' sejak awal.

Lalu, dimana letak penasarannya? Kemana perginya rasa penasaran itu?
Mungkin karena itulah, Bapak sering meminta saya untuk mengajak Aufa ikut mengantar Aribi ke sekolah. Agar tumbuh rasa ingin dalam dirinya. Dan saya pun membawanya, lalu menceritakan betapa asiknya belajar tentang banyak hal di dalam kelas; menulis, menghitung, menggambar, punya banyak teman, dan menemukan cinta pertama di sana. #ehh

"Adhimu gek cilik, Up! Eling!"

Ngahahaha.. ya ya. Maapin ya.

Tulisan ini bukan untuk mengkritisi berkembangnya Tempat Penitipan Anak dan sohib-sohibnya itu. Bukan. Itu bukan kerja saya kok. Ini hanya ulasan tentang adik saya Aufa, dan rasa penasaran yang dibuat menghilang.

Pekalongan, Senin siang, 12 Januari 2015
Saat mendung bikin banyak orang ingat mantan, tapi saya malah asik menjemput Aribi pulang.

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog