RUANG BAYI

Maret 29, 2016, by ranafiu


"Bayi-bayi ini terlanjur lahir dengan ketidaksempurnaan fungsi organ. Maka jangan sekali-kali memberinya cacat tambahan, baik karena kesalahan alat maupun keterlambatan penanganan."
-Mbak Lifah, Wakaru Perinatologi RSUD Bendan-

Sebulan sudah saya dipindahtugaskan ke ruang perinatologi, sebuah ruangan di mana bayi-bayi dengan masalah kesehatan dan riwayat kelahiran yang buruk itu dirawat oleh mbak-mbak petugas yang manis seperti saya. Eh, ngetiknya kebablasan.

Jika dulu--saat masih bertugas di ruang nifas--saya banyak menyinggung soal wanita dan perangainya, dan secara tidak langsung ikut menghakimi bagaimana wanita-wanita itu tampak tidak berharga sebagai pihak yang bereproduksi, kini sudut pandang saya mengalami pergeseran. Saya tidak lagi fokus pada problematika para wanita yang begitu rumit dan pisuhable, tidak peduli pada asal-muasal kehadiran bayi, terserah, karena sekarang saya fokusnya cuma ke kamu, Mas. :* Maaf, typo. Maksud saya, saya fokusnya ke bayi.

Ruang perinatologi memaksa saya memandang sama ke semua bayi. Entah bayi yang lahir dari hubungan gelap, bayi yang lahir dari rahim remaja, bayi yang tidak diakui orang tuanya, maupun bayi-bayi yang entah apa pula kisahnya; semua sama. Benar kata Mbak Lifah, mereka terlanjur lahir. Mereka berhak hidup. Tidak sepantasnya seseorang menimpakan kesalahan manusia dewasa kepada bayi-bayi yang masih bersih dari noda khianat, layaknya rezim orba yang seenak wudelnya mengutuk generasi-generasi tertuduh PKI. Ya kalau tuduhannya benar, lha kalau salah? Kan, sapi.
Tapi yowislah, nggak ada hubungannya juga sih. Hahaha

Kabar baiknya, berkat tugas di ruang ini, sedikit demi sedikit sifat keibuan saya muncul dan bersinar terang. Kalian harus percaya itu. Harus.

Pekalongan, 29 Maret 2016

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog