SEDANG TUHAN PUN CEMBURU

Juni 11, 2015

Saya sedang membaca kumpulan tulisan Cak Nun dalam buku "Sedang Tuhan pun Cemburu", ketika kemudian saya ingin melamun.

Pernahkah kamu merasa cemburu, Dik? Pada manusia-manusia di sana, mungkin? Atau pada paku yang tertancap di tembok rumahmu, tempat kamu menggantungkan bingkai foto keluarga dan rupa-rupa hiasan? Juga paku yang dipukul-pukul palu demi menguatkan kursi yang akan kamu duduki? Pernahkah?

Cemburu, kamu tahu, adalah semacam ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dirasa dimilikinya. Saya tidak mengatakan cemburu adalah manusiawi, jika itu hanya akan menggiring opini publik ke satu anggapan bahwa saya sedang menggugat pihak penerbit yang--melalui judul buku ini--berusaha menautkan sifat-sifat makhluk di belakang nama Tuhan. Harrah! Berat, Dik. Otak saya nggak nyampe ke situ.

Saya hanya ingin mengatakan, ini buku bagus. Cak Nun, saya kira, sedang mencoba menyampaikan bahwa akhir-akhir ini Tuhan sering dibuat cemburu oleh manusia. Sebab banyak di antara kita, sadar atau tidak, telah menyekutukan-Nya dengan berlomba-lomba menjadi tuhan atas sesama.

Pekalongan, 11 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe