SUKUN GORENG DAN IDEOLOGI PERDAGANGAN

"Na, tepungnya terlalu tebal itu." Demikian komentar Ibuk ketika pagi itu doi melihat hasil gorengan saya di dalam wajan.

Namanya sukun, sejenis buah tak berbiji dan memikiki tekstur daging yang empuk bila dimasak. Buah yang namanya mirip dengan salah satu merk rokok tapi bukan rokok ini bisa diolah menjadi beragam menu makanan dari mulai kolak, bolu, sampai keripik. Di lingkungan kami, sukun cukup menjadi favorit, terutama jika digoreng. Ibuk sendiri mengolahnya menjadi gorengan dengan melumurkan adonan tepung encer di seluruh permukaannya, lalu memasukkannya ke dalam minyak panas, untuk kemudian ditiriskan dan dijual bersama gorengan yang lain. Sini, Mas, dibeli selagi hangat. :*

Berulang kali Ibuk mengatakan bahwa adonan tepung untuk sukun itu tidak sama dengan adonan tepung untuk tempe, tahu, apalagi bakwan. Dia harus encer, harus tipis-tipis saja menyelimuti, agar panasnya minyak dapat mendekap erat daging sukun hingga ke relung jiwanya, dan ia pun matang secara sempurna. 

Cih, sempurna. Ibuk lupa, di dunia ini tuh nggak ada yang sempurna, Buk, nggak ada. Yang manis di depan itu biasanya hanya menyisakan pahit untuk dikenang. *bubar! bubar!
Berulang kali Ibuk mengatakannya. Berulang kali pula saya mengerjakannya. Dan selalu salah.
Saya pikir akar permasalahannya ada dua. Pertama, Ibuk mengatakan hal yang sifatnya subjektif: encer dan tipis. Untuk bisa dikatakan encer, sesuatu harus memiliki perbandingan dengan yang lebih kental. Tapi, setelah dibandingkan pun, kesimpulan yang diambil masih subjektif. Encer yang dimaksud Ibuk belum tentu sama dengan encer dalam benak saya. Meski kami sama-sama wanita, meski kami sama-sama meletakkan nama Bapak di urutan pertama Laki-Laki Paling Dicinta.
Akan berbeda kiranya jika Ibuk menjelaskan pengertian encer dengan rumus yang bisa dihitung, misal: 1 ons tepung beras dan 1/2 ons tepung gandum untuk 2 gelas air. Nah!

Sayangnya Ibuk ndak begitu. Karena saya tahu, doi sendiri sebetulnya moody, suka semaunya sendiri.

Yang kedua, saya terlalu egois untuk mau mengikuti aturan Ibuk. Saya bisa saja membuat adonan seencer yang Ibuk buat. Pada tahap tertentu ketika memasukkan satu per satu bahan ke dalam wadah plastik, saya tahu, "Segini nih encernya si Ibuk." Tapi, saya tetap melanjutkan langkah dengan menambahkan secercah gandum.

Owalaaahh.. ternyata podo bae atose hahaha.

Enggak ding. Saya hanya merasa bahwa aktivitas memasak, entah itu menggoreng, menumis, memanggang, memotong, meramu bumbu, dan lain sebagainya, adalah seni. Di mana seorang pencipta bebas mengekspresikan style-nya sendiri. Toh dalam seni, setiap karya akan menemukan penikmatnya masing-masing, maka saya percaya, sukun saya pun akan ada yang beli meski dengan terpaksa.

Dan secara estetika, saya menganggap tingkat keenceran adonan buatan saya--yang sedikit lebih kental dari Ibuk--sudah pas. Coba saja lihat gambar yang saya sertakan. Pas, kan, pas? Dengan balutan tepung yang masih mempertontonkan aurat daging sukun itu saja Ibuk menganggapnya kurang encer dan tipis. Lalu bagaimanakah hasil gorengan Ibu? Kita yang merasa syar'i sampai ke sumsum tulang ini pasti malu, karena sukun goreng buatan Ibuk saya lebih telanjang dari gaun malam yang dikenakan Anindya Kusuma Putri pada ajang Miss Universe 2015 silam.

***

Saya diam saja, tidak membalas komentar Ibuk. Karena kami sama-sama tahu, tidak akan ada yang berubah dengan berbalas-balas komentar. Saya akan tetap bersalah, dan Ibuk akan tetap menyuruh saya menggorengnya lagi meskipun baginya itu salah. Yang terpenting bagi kami adalah; tak sampai satu menit dari diangkatnya sukun goreng ini dari wajan, tetangga-tetangga kampung sudah berbondong membelinya. "Mumpung hangat," kata mereka.

Dan.. selesai.

Ini dunia dagang. Tidak peduli ideologi mana yang mau dipertahankan, asal dagangan itu laku, maka urusan kita kelar.
Mau saya gorengkan sukun, Mas? ;)

Pekalongan, 11 Februari 2016

0 comments:

Posting Komentar