Dua bulan kemudian ...

"Arep melu ora?" Tanyanya.

"Hmm..?" Saya bergumam. Seolah ingin memastikan apa yang baru saja saya dengar.

"Arep melu rene ora?" Ulangnya.

Saya terdiam sejenak.

Sekalipun saya merasa sangat siap untuk mengikuti suami saya--ehem, nanti setelah menikah, maksudnya--ke daerah tempatnya bekerja di Ternate sana, tetap saja ada kegugupan ketika dimintai kepastian seperti itu.

"Mau ikut ke sini, nggak?" Begitu tanyanya.

Saya tahu, (calon) suami saya itu hanya ingin memastikan bahwa saya mantap dan ridlo untuk ikut dengannya, mendampinginya, mengabdi padanya. Tapi pertanyaan itu memaksa saya berpikir ulang, apakah saya benar-benar siap melesat jauh meninggalkan Pekalongan dalam waktu yang tidak sebentar. Ada bimbang yang menyapa. Ada ragu dalam sendu. Dan setitik kegundahan itu nyata menggoyahkan kemantapan yang saya bangun selama ini.

Saya tidak pernah menetap di suatu kota di luar Pekalongan dalam waktu yang cukup lama. Saya terlahir, tumbuh, dan terlanjur mendewasa di kota ini. Akan menjadi situasi yang sulit bagi saya jika tiba-tiba diajak pergi dan tinggal di luar pulau yang berkilo-kilometer jauhnya, sekalipun inilah yang saya idamkan sejak dulu. Bagaimana dengan orang-orang terdekat? Keluarga, teman-teman, partner kerja... Bagaimana jika saya merindukan mereka? Terlebih lagi, bagaimana dengan pekerjaan saya?
Saya bekerja di RSUD Bendan, sebuah rumah sakit milik pemerintah kota Pekalongan yang jaraknya hanya lima menit berkendara dari rumah. Hampir dua tahun lamanya saya menjadi bagian dari rumah sakit ini. Bekerja sama dengan orang-orang hebat, menghadapi berbagai kasus dan pasien baru setiap harinya, belajar, berbagi, untuk kemudian lelah sekaligus bersyukur karenanya.

Bekerja di RSUD Bendan adalah jawaban. Ada dua keyword yang selalu saya sebut ketika mengajukan proposal kerja kepada Tuhan: rumah sakit dan ridlo orang tua. Keinginan saya untuk bekerja di rumah sakit sudah sejak lama saya patenkan. Tidak bisa tidak, setelah lulus kuliah saya harus bisa bekerja di instansi itu. Di manapun tempatnya, yang penting rumah sakit. Maka mulailah surat lamaran saya edarkan ke seluruh penjuru Jawa. Dari utara hingga ke selatan, dari Ibu Kota hingga Daerah Istimewa. Tapi saya lupa, Ibu saya tidak pernah mengizinkan saya bekerja di luar kota. Sampai kemudian saya tergerak memasukkan lamaran ke RSUD Bendan, dan baru saya tahu bahwa rumah sakit inilah yang menjadi titik temu dari dua kata kunci yang saya ajukan pada Tuhan.
Dan sekarang, dalam beberapa bulan ke depan saya akan menikah dan dihadapkan pada opsi untuk meninggalkan pekerjaan demi ngabdi pada suami.

***

"Arep melu rene ora?" Ulangnya.

Saya terdiam sejenak.

Untuk beberapa hal, saya memang ragu. Tapi kepada laki-laki ini, saya tidak pernah memiliki secuil pun keraguan. Saya percaya bahwa dialah masa depan saya. Dan bersamanyalah saya akan menghabiskan sisa hidup saya dengan berbagai macam kebahagiaan.

"Mas pingine pripun?" Tanya saya akhirnya.

"Yo melu lah." Jawab suara di seberang sana, mantap. "Nggo opo adoh-adohan."

Saya tersenyum mendengarnya. Kemudian menjawab, tak kalah mantap, "Nggih mpun, aku melu."


*lanjutan dari Esai berjudul ARTIKEL TENTANG TERNATE
Ophand Albana

(Bentar, bentar, saya kok mendadak gugup ketika mengetik namanya)
Adalah lulusan DIII Akuntansi STAN. Tapi dia lebih senang menyebut dirinya sebagai illustrator atau graphic designer, ketimbang akuntan. Seseorang yang expert di bidangnya. Pecinta komik garis keras. Penggila game, animasi, dan beberapa waktu terakhir tampak asik memperdalam skill-nya di bidang photography. 

Dia mulai menggambar sejak kecil. Di saat anak-anak seumurannya ramai menginginkan hadiah atau oleh-oleh berupa mainan robot dan mobil-mobilan, dia justru rutin meminta satu barang: buku gambar!
Pernah suatu ketika pamannya akan pergi ke luat kota, dan dia, dengan langkah kecilnya berlari dari dalam rumah hanya untuk mengatakan, "Om, jangan lupa pensil sama buku gambarnya, ya!"

Gambar adalah passion-nya. Dan dia konsisten mengembangkan diri di bidang itu. Mungkin karena itulah dia berhasil menjuarai beberapa kontes design di usianya yang relatif muda. Di antara beberapa kontes yang dimenangkannya itu, adalah:

3rd winner in Corel International Design Contest 2013, Student Category (Internasional lho. Internasional! )
1st winner Souvenir Design Contest, National Museum Indonesia
3rd winner Dies Natalis STIS-BPS 2013 Design Contest
2nd winner Interface Design STAN IC
1st winner KPK Poster Contest

Ya Gusti~ 

Dia menyukai banyak hal; sepak bola, musik, film, teknologi, travelling, juga segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah, science-techno, dan art. Rasa ingin tahunya besar. Dan dia senang belajar. Betapa seringnya dia menghabiskan waktu tidurnya untuk mempelajari satu disiplin ilmu baru yang dia anggap penting dan mendukung aktivitasnya, sekalipun bukan hal yang mudah untuk belajar secara otodidak. Saking cintanya pada ilmu pengetahuan, saya menduga dia akan mempelajari setiap hal yang ada di bumi ini andaikan bisa.

Wawasannya luas. Dia bisa berbicara tentang apa saja mulai dari teknik menyeduh kopi sampai issue terbaru konflik keagamaan. Dari analisis kemungkinan terjadinya KKN sampai penemuan-penemuan baru di bidang sains dan teknologi. Dari kabar regional sampai internasional. Dari Naruto sampai Cak Nun. Dan semua itu diutarakannya dengan kharisma seorang dewa. Heuheu :3

Dia adalah seorang laki-laki yang supel dan bertanggung jawab di hadapan rekan kerjanya, jahil sekaligus 'ngemong' di depan adik-adiknya, patuh terhadap ibunya, tapi manja ketika bersama saya. *eh

Dan itu seksi. :*

***

visitternate.com: Ophand Albana

Didekati oleh laki-laki dengan kualitas semacam itu--tidak mungkin tidak--membuat saya minder. Da aku mah apa atuh, hanya seorang perempuan yang gagap teknologi dan ndak ngerti apa-apa soal fashion. Entah apa maksud Tuhan dengan menyatukan kami berdua. Bagaimanapun, saya tidak bisa berhenti bersyukur, dialah kado terindah. Sun sik ah :*

***

Meski memiliki kharisma bak dewa, dia juga manusia. Dan layaknya manusia lain di dunia ini, dia juga memiliki kekurangan. Memutuskan untuk mengenalnya lebih dalam sama artinya dengan siap menerima segala kekurangannya.

Tapi, biarlah. Biarlah kekurangannya menjadi dokumen pribadi saya.
Hanya saya.
Kalian boleh tahu lebihnya saja.


Pekalongan, Mei 2016
Saya menghadapi banyak sekali reaksi dari orang-orang sekitar setelah keputusan besar yang saya ambil beberapa hari lalu, saya umumkan ke hadapan publik. Keterkejutan, ekspresi tidak menyangka, dan anggapan bahwa ini hanyalah bahan candaan merupakan ragam ekspresi yang mereka tunjukkan. Jangankan teman-teman, budhe saya sendiri pun sempat tidak mau percaya bahwa ini berita nyata. Dan saya dimarahinya habis-habisan.

"Kowe ki piye sih, Fina? Kok ngabarine ndadak." Kata Budhe saya, syok, ketika Jum'at pagi kemarin saya bawa seorang laki-laki main ke rumahnya untuk dikenalkan, sekaligus mengabarkan bahwa Sabtu sore keluarganya mau datang melamar.

"Kowe ojo meden-medeni Budhe, Na. Iki dudu dolanan lho. Ojo kesusu."

Budhe terus-menerus menghakimi saya saat kami berada berdua di dapur rumahnya. Dia menganggap acara lamaran yang akan diadakan Sabtu besok terlalu mendadak, sementara si calon baru dikenalkan padanya Jum'at pagi.

Saya bingung, antara takut dan ingin tertawa. Lha ya gimana, Budhe, wong saya sendiri juga masih berasa mimpi.  
*mimpi yang indah sih~

***

doc. pribadi: Ophand Albana

Saya baru bertemu laki-laki ini pada awal Februari kemarin, ketika saya dan dua orang teman yang lain mengajaknya berkumpul untuk bersama-sama mendiskusikan masa depan bumi (?). Biasa saja. Tidak ada keistimewaan yang terjadi hari itu. Saya diam karena memang pendiam, dia banyak bicara karena memang aslinya cerewet. :v

Baru setelah itu, kami bertemu kembali dalam dua kesempatan yang kami ciptakan sendiri. Dan kemudian, semuanya seakan berjalan begitu cepat. Dialog demi dialog mengalir mengantarkan kami pada sebuah kesepakatan agung. Segalanya terasa ringan, mudah, nyaris tanpa hambatan apapun. Sampai-sampai saya tidak sadar, sebuah cincin emas telah melingkar di jari manis tangan kanan. *ra sah iri! :v

Banyak yang bertanya, apa yang membuat kami mantap untuk melangkah bersama. Dan bagaimana mungkin orang tua kami langsung memberi restu padahal kami secara terang-terangan mengatakan bahwa perkenalan ini berlangsung tak sampai dua bulan. Jujur saja, saya tidak memiliki jawaban yang pas, selain, "Yaaah, beginilah ajaibnya cara kerja Tuhan." <3

***

Tadi malam, dia terbang kembali ke kota tempatnya bekerja: Ternate. (Jauh ya, heuheu) Foto ini saya ambil beberapa menit sebelum dia beranjak masuk menuju pintu pengecekan Bandara Ahmad Yani, Semarang. Sembari mengambil beberapa gambar, saya memandanginya diam-diam.

Belum pernah saya mengantar kepergian seorang laki-laki sampai seintim ini, seberat ini...

Tidak heran jika tak sampai lima belas menit, saya sudah kebelet buka WhatsApp dan mengirim chat padanya:

"Belum apa-apa, aku sudah kangen, Mas."

Bwahahahahaha!

*yang mau baper, boleh kok. :v

Pekalongan, 28 Maret 2016