SURAT CINTA #1: BARU KENAL LANGSUNG LAMARAN

Mei 14, 2016

Saya menghadapi banyak sekali reaksi dari orang-orang sekitar setelah keputusan besar yang saya ambil beberapa hari lalu, saya umumkan ke hadapan publik. Keterkejutan, ekspresi tidak menyangka, dan anggapan bahwa ini hanyalah bahan candaan merupakan ragam ekspresi yang mereka tunjukkan. Jangankan teman-teman, budhe saya sendiri pun sempat tidak mau percaya bahwa ini berita nyata. Dan saya dimarahinya habis-habisan.

"Kowe ki piye sih, Fina? Kok ngabarine ndadak." Kata Budhe saya, syok, ketika Jum'at pagi kemarin saya bawa seorang laki-laki main ke rumahnya untuk dikenalkan, sekaligus mengabarkan bahwa Sabtu sore keluarganya mau datang melamar.

"Kowe ojo meden-medeni Budhe, Na. Iki dudu dolanan lho. Ojo kesusu."

Budhe terus-menerus menghakimi saya saat kami berada berdua di dapur rumahnya. Dia menganggap acara lamaran yang akan diadakan Sabtu besok terlalu mendadak, sementara si calon baru dikenalkan padanya Jum'at pagi.

Saya bingung, antara takut dan ingin tertawa. Lha ya gimana, Budhe, wong saya sendiri juga masih berasa mimpi.  
*mimpi yang indah sih~

***

doc. pribadi: Ophand Albana

Saya baru bertemu laki-laki ini pada awal Februari kemarin, ketika saya dan dua orang teman yang lain mengajaknya berkumpul untuk bersama-sama mendiskusikan masa depan bumi (?). Biasa saja. Tidak ada keistimewaan yang terjadi hari itu. Saya diam karena memang pendiam, dia banyak bicara karena memang aslinya cerewet. :v

Baru setelah itu, kami bertemu kembali dalam dua kesempatan yang kami ciptakan sendiri. Dan kemudian, semuanya seakan berjalan begitu cepat. Dialog demi dialog mengalir mengantarkan kami pada sebuah kesepakatan agung. Segalanya terasa ringan, mudah, nyaris tanpa hambatan apapun. Sampai-sampai saya tidak sadar, sebuah cincin emas telah melingkar di jari manis tangan kanan. *ra sah iri! :v

Banyak yang bertanya, apa yang membuat kami mantap untuk melangkah bersama. Dan bagaimana mungkin orang tua kami langsung memberi restu padahal kami secara terang-terangan mengatakan bahwa perkenalan ini berlangsung tak sampai dua bulan. Jujur saja, saya tidak memiliki jawaban yang pas, selain, "Yaaah, beginilah ajaibnya cara kerja Tuhan." <3

***

Tadi malam, dia terbang kembali ke kota tempatnya bekerja: Ternate. (Jauh ya, heuheu) Foto ini saya ambil beberapa menit sebelum dia beranjak masuk menuju pintu pengecekan Bandara Ahmad Yani, Semarang. Sembari mengambil beberapa gambar, saya memandanginya diam-diam.

Belum pernah saya mengantar kepergian seorang laki-laki sampai seintim ini, seberat ini...

Tidak heran jika tak sampai lima belas menit, saya sudah kebelet buka WhatsApp dan mengirim chat padanya:

"Belum apa-apa, aku sudah kangen, Mas."

Bwahahahahaha!

*yang mau baper, boleh kok. :v

Pekalongan, 28 Maret 2016

You Might Also Like

3 comments

  1. Tapi sebelumnya Anda sudah kenal mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dia temannya teman saya, mbak. Jadi saya tahu tentang dia sudah lama. Tapi ketemu dan berinteraksi langsung baru Februari kemarin

      Hapus
  2. Kejadian di aku. Tapi aku bener bener belum kenal dia sama sekali, dan tante nya langsung datang ke rumah mau nglamar aku. Gimana nggak kaget tuh

    BalasHapus

Like us on Instagram

Followers

Subscribe